Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
68 Ara Ada Di Sini


__ADS_3

Setetelah melepas kepergian anak dan menantunya Bunda menunda masuk ke dalam rumah, karena kedatangan tamu. Ditungguinya tamu tersebut turun dari mobil dan mendekat padanya. Bunda cipika cipiki dengan tamunya.


''Ada angin apa nih Dek Mala, sudah lama lho tidak main ke sini.'' sapa Bunda pada tamunya.'' Yuk langsung masuk saja, itu si Ettan kan? kenapa gak turun.'' Bunda mengajak tamunya yang dipanggil Dek Mala untuk masuk ke dalam rumah.


''Sebentar Bun, saya panggil anak saya untuk ikut masuk.'' tamu Bunda kembali ke mobil untuk mengajak anaknya ikut masuk ke rumah Bunda.


Setelah dibujuk akhirnya si anak mau untuk ikut masuk ke rumah Bunda. Awalnya si anak ingin menunggu saja di mobil karena perasaannya yang tiba-tiba saja tidak enak, seperti ada yang meremas-remas hatinya.


Dialah Raga, niatnya akan beristirahat setelah kepulangannya dari Semarang. Tak tega melihat mamanya yang mondar-mandir kayak setrikaan menunggu Ettan yang tak kunjung pulang untuk mengantar sang mama, akhirnya dia yang menawarkan diri untuk mengantar.


''Lho kok bukan Ettan?'' selama ini setiap bertandang ke rumah Bunda atau datang ke arisan selalu diantar oleh anak laki-lakinya yang bernama Ettan dan sesekali diantar anak perempuanya Rissa. Baru kali ini Bunda melihat ada anak Mala yang lain selain Ettan dan Rissa.


''Memang baru kali ini Bun, anak saya yang ini mengantarkan saya. Dan pertama kalinya ke rumah Bunda. Selama ini dia tinggal bersama ayahnya di Magelang.'' terang Mala pada Bunda.


Hanya pada Bunda Mala berani untuk bercerita sedikit-sedikit tentang kehidupannya dan keluarganya. Karena Bunda bisa menjadi ember yang bisa menampung semua keluh kesah Mala tanpa bocor atau tumpah. Itulah yang membuat Mala merasa nyaman berteman dengan Bunda daripada teman-teman Arisannya yang lain. Bahkan Bunda juga tahu kalau Rissa dan Ettan cuma anak sambung Mala.


''Wah gantengnya, mirip sekali denganmu Dek Mala, wajah putramu ini. Siapa namamu, Nak?''


''Raga, Tante.'' Raga menyalim tangan Bunda.


'' Jangan panggil tante dong, panggil saja Bunda. Yuk masuk, yuk!'' Bunda mempersilahkan tamunya langsung ke ruang keluarga, karena bagi bunda Mala sudah dianggap seperti adeknya sendiri.


Setelah menyuruh tamunya untuk duduk Bunda meminta tolong ke ARTnya untuk membuatkan minum dan menyajikan cemilan.


Di ruang keluarga rumah keluarga Sukma, tanpa disengaja Raga duduk di sofa bekas diduduki Ara. Raga merasakan ada aroma Ara disitu.


Dalam fikirnya Raga menghempas-hempaskan bayangan Ara yang berada di rumah yang saat ini sedang dia kunjungi. Tak mungkin, tak mungkin Ara ada di sini. Ara masih ada di Semarang, tapi kenapa hatiku mengatatakan ada Ara di sini.

__ADS_1


Raga terjaga dari lamunan singkatnya karena ada pertanyaan dari Bunda.


''Raga, masih kuliah ya? ngambil jurusan apa?''


''Masih Tan...eh Bun, Ngambil kedokteran Bun.'' jawab Raga.


Raga memilih untuk kuliah di kedokteran Karena Ara.Karena kecelakaan bersamanya, disangkanya waktu itu Ara sudah meninggal karena dia. Makanya dia mengambil kuliah kedokteran agar bisa menyelamatkan nyawa banyak orang terutama korban kecelakaan agar tak bernasib seperti Ara.


''Dek Mala ini beruntung sekali punya dua jagoan pada ganteng dan pinter-pinter semua. Si Ettan bakal jadi arsitek ini Raga bakal jadi dokter.''


''Makasih Bun pujiannya, semoga pujian Bunda ini tetap menjadikan anak-anak saya, makin rendah hati. Tapi Bun, masih ada Rissa anak pertama saya. Yang selalu membuat saya khawatir.''


''Kenapa dengan si cantik?'' Bunda memang memanggil Rissa cantik. Sempat juga dulu Bunda ingin menjodohkan anaknya Gatra dengan si cantik Rissa. Itu dulu sebelum Bunda tahu bahwa Rissa seorang workaholic yang jarang berada di rumah. Bagaimana nanti nasib Gatra kalau punya istri tapi jarang di rumah, dan lebih mementingkan pekerjaan.


''Semenjak dia bekerja di stasiun tv yang sekarang jadi tambah jarang pulang. Kadang sampai berhari-hari jauh di pelosok negri, atau di daerah rawan konflik. Membuat saya semakin khawatir Bun, mana dia perempuan.'' Mala mencurhatkan anak perempuannya yang bekerja sebagai reporter berita di salah satu televisi swasta tanah air.


''Iya Bun, tak pernah putus doa saya untuk anak-anak.''


''Ini Bun, saya kemari karena kemaren pas arisan saya tidak bisa datang, jadi ya... saya belum setor. Tapi untunglah yang dapat Bunda, agak lega juga saya. Beberapa hari yang lalu saya ke sini tapi kata pak satpam depan Bunda sekeluarga sedang di Semarang. saya telepon Bunda juga gak aktif. Ada masalah apa, Bun?''


''Tidak ada masalah apa-apa Dek Mala, Kami sekeluarga di Semarang karena untuk menikahkan Gatra.'' hanya Gatra menikah saja yang diceritakan Bunda tak sampai harus kenapa bisa mendadak menikah, dan menantunya yang masih ABG.


''Oh... Mas Gatra sudah menikah? kok saya jadi patah hati gini ya Bun, padahal saya sangat berharap Mas Gatra berjodoh dengan Rissa.'' canda Mala. Hanya berharap berjodoh karena disetiap pertemuan Rissa dan Gatra yang tentu saja dalam rangka mengantar ibu mereka masing-masing disetiap arisan terlihat nyambung dalam setiap obrolan. Untuk menjodohkan anak-anaknya Nurmala tidak berani. Trauma perjodohannya dahulu masih membekas, biarlah anak-anak mencari jodohnya sendiri.


*****


Gatra yang diantarkan oleh sopir ayahnya turun di lobby apartemennya . Segera dia mengajak Ara naik ke unitnya di lantai sepuluh.

__ADS_1


Sampai di pintu masuk unitnya Gatra memberitahukan pada Ara angka sandi yang menjadi kunci pintunya.


Ara terkekeh mengetahui nomer sandinya. Gatra mengerutkan keningnya, kenapa Ara terkekeh apa yang lucu dari nomer sandi pintunya.


''Apa yang lucu Ra?''


''Angka sandi Mas Gatra lucu, masak cuma nol yang dipakai sampai empat lagi. Gak kasihan sama angka yang lain?'' Ara jadi ingat pernah ada drama korea yang dia nonton dimana tokohnya yang kesemuanya laki-laki yang gak mau ribet menggunakan angka sandi yang sama. Dan ini tidak di drama, suaminya malah.


''Biar gak ribet Ra, habis ini kita ganti ya? tapi yang gampang diingat. Gimana kalau tanggal lahir Ara? atau tanggal pernikahan kita?''


Ara menggembungkan kedua pipinya bingung '' kenapa diganti, inikan apartemen Mas Gatra.'' lirih Ara


Gatra gemas dengan wajah Ara yang bingung. ingin rasanya menoel kedua pipinya itu, dan ahh itu bibirnya yang merah jambu mengerucut seperti minta dicium saja. Akhirnya Gatra hanya mengusek-usek surai dipuncak kepala Ara.


'' Kan Mas sudah gak sendiri lagi, sudah ada Ara istri Mas. Dan apartemen ini sekarang jadi milik Ara juga. Gak papa kan kita tinggal di sini?'' sekali lagi Gatra menanyakan kesediaan Ara yang mau tinggal dengannya. Dengan tersentum Ara mengangguk.


''Baiklah selamat datang dan silahkan masuk Nyonya Gatra Rahendra.''


*


*


*


*


Terima kasih untuk kesetiaannya pada karya receh ini, tetap dukung Ara, Raga dan Gatra ya, kesayanganku. Jangan lupa like koment dan bintang limanya.

__ADS_1


__ADS_2