Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
107. Selamatkan Ara


__ADS_3

Sudah biasa bagi dokter Iwan kala berjaga kedatangan pasien korban kecelakaan. Yang luar biasa adalah dia kembali kedatangan Ara yang pingsan lagi tapi ini bukan karena ulah Gatra sahabatnya tapi karena kecelakaan. Yang lebih mengejutkan yang membawa bukanlah Gatra melainkan lelaki seumuran Ara yang kelihatan sekali takut kehilangan Ara.


''Dok, tolong dok. tolong Ara dok.'' suara putus asa Raga begitu tiba di klinik. Raga berusaha untuk menerobos ikut masuk UGD.


''Mau apa kamu! tunggu di luar dulu.'' cegah Iwan.


''Saya juga dokter. calon dokter. mahasiswa kedokteran. bisa saya masuk? Tolong saya hanya ingin menyelamatkan Ara.''


Iwan sungguh kesal dengan sikap keluarga pasien yang sok-sokan selalu ingin ikut masuk ruangan seolah tidak percaya dengan tugas seorang dokter. Tapi mau bagaimanapun dia harus ektra sabar menghadapi yang demikian, toh bukan cuma dia yang berhadapan dengan keluarga pasien seperti ini. Banyak rekan seprofesinya yang mengalami kejadian lebih dari dirinya.


''Sabar bro. Kalau Lo juga calon dokter berarti Lo juga tahu apa yang harus Lo lakukan. Jadi biarkan kami berkerja sebagaimana mestinya.'' Iwan berusaha sabar.


''Selamatkan Ara Dok.''


''Pasti! sebagai dokter saya akan berusaha semaksimal mungkin.''


Seperti halnya Aldi, Iwan menepiskan dulu rasa penasarannya fokus ke pasien lebih utama.


Dokter Iwan menangani Ara bersama dokter jaga lain spesialis penyakit dalam.


Raga segera menyerbu dokter Iwan begitu keluar dari UGD.


''Bagaimana Dok, Ara baik-baik saja kan? dia gak papa kan?''berondong Raga.


Iwan bingung harus menyampaikan keaadaan kondisi Ara pada siapa, Ara adalah istri temannya dan lelaki ini juga siapa dia. Iwan melihat ada sahabatnya Aldi yang tak kalah paniknya tapi masih berusaha untuk tenang. Apa penyebab Ara pingsan kali ini kenapa ada tunangan Farel juga.


''Dokter. bagaimana kondisi Ara?'' paksa Raga lagi.


''Kamu siapanya pasien?'' tanya Iwan


''Saya kekasihnya.'' jawaban Raga membuat Iwan dan Aldi yang hendak mendekat ke Iwan juga Mitha tercengang.


DEG.


Gatra yang baru sampai juga dikagetkan dengan jawaban Raga. Kenapa sampai bisa ada lelaki yang mengaku kekasih dari istrinya. Sejak kapan Ara ada kekasih, kenapa dia tidak tahu.


Farel segera menelpon Bunda meminta beliau untuk segera ke klinik Iwan. Karena kalau dilihat dari raut muka Gatra yang tegang dan sama sekali tidak tahu menahu tentang lelaki yang mengaku kekasih Ara tersebut. Barangkali bunda punya penjelasan mengenai masalah ini.

__ADS_1


Pia pun juga segera menelpon Ratih menanyakan perihal kekasih Ara.


''Tra, bini lo.'' Iwan melihat kedatangan Gatra bersama Farel dan Pia. Gatra mengangkat tangannya memberi kode untuk Iwan agar tak menyebut bininya. Sepertinya Iwan paham maksud Gatra.


''Cepat katakan gimana kondisi Ara Wan.'' Aldi yang sedari tadi gregeten harus menunggu bertanya.


''lukanya tidak parah mungkin benturannya ringan dan darah yang keluar akibat adanya robekan. cuma....''


''Cuma apa Wan?'' Gatra menyela Iwan yang menghentikan kata-katanya.


''Cuma.... apa Ara pernah... maksud saya kepalanya pernah terbentur keras atau semacam kecelakaan parah? karena seharusnya untuk luka saat ini dia sudah sadar.'' terang Iwan


''Ara pernah kecelakaan parah dua tahun lalu bersama gue di Magelang.'' lirih Raga penuh penyesalan.


''Apa!'' ucap keras Gatra. Sungguh dia tidak mengetahuinya. Selama menjadi istrinya sama sekali Gatra tak mengetahui kalau istri cantiknya pernah mengalami kecelakaan hebat. Selama ini mengapa tak mencoba untuk mencari tahu tentang masa lalu Ara, kenapa hanya fokus ke perasaan Ara saja. Fokus membangun perasaan Ara agar bisa menerima pernikahannya dan membuka hatinya untuk bisa mencintainya. Masa lalu yang dianggap tidak penting kini justru datang siap membayangi masa depannya. Gatra cuma tahu dua pasang teman Ara di Semarang saja. Dan kini ada yang datang mengaku-aku sebagai kekasih istrinya. Rasa percaya diri Gatra setelah obrolan sengit di mobil bersama Pia dan Farel seketika memudar.


FLASHBACK ON


''Ngapa Lo lihatin teman gue sebegitunya?'' Farel yang duduk di samping kemudi memperhatikan Pia yang memandang sinis pada Gatra.


''Maksud lo?''


''Ya kalau cinta gak mungkinkan istrinya sampai galau dan uring-uringan gak jelas.''


Farel masih belum tahu apa maksud perkataan Pia.


Pia menengok ke Farel sekilas, memberikan senyum sinisnya juga.


''Punya istri cantik kok dianggurin. Padahal sudah pernah dipakai lho! Mana dia rindu berat sama si Otong. Sehebat apa seh si Otong.''Pia bergumam lirih membuat Farel semakin bingung. Siapa Otong ini, pikirnya


''Hah....'' Farel mengerutkan dahi


''Haduh. Om. Itu temannya kok gak ngasih nafkah batin ke istrinya kenapa? sampai istrinya kangen setengah mati menahan hasrat. Gitu aja harus diperjelas.'' jawaban Pia santai tapi membuat Gatra dan Farel tersedak dan terbatuk-batuk.


''Wah Lo kalau ngomong gak ada filternya ya? masih SMA lho.''


'' Udah lulus kali! Gak usah Muna deh. Lo berdua orang dewasa kan? kalian pasti lebih tahu dari aku yang katanya masih anak SMA. Saking dewasanya sampai bisa nyakiti hati anak SMA.'' Pia menyindir Gatra yang dari tadi duduk gelisah di jok belakang.

__ADS_1


''Siapa nyakiti siapa nona muda?'' tanya Farel


''Temen Om itu.'' tunjuk Pia mengarah pada Gatra dengan dagunya melalui kaca tengah ''tega benar dia pergi bareng dengan cewek yang katanya sudah mantan yang hari ini dengan teganya menyerempet istrinya. Kemaren hati Ara sudah sakit berdarah-darah lihat SUAMINYA jalan bareng mantannya eh sekarang si mantan mau nyelakain istrinya.''


Oh jadi benar mobil yang gue lihat kemaren ada Aranya di dalamnya.


Kali ini Farel sependapat dengan Pia, dia juga penasaran kemana kemaren Gatra dan Claritta pergi. Farel melepas seatbelt menghadap ke Gatra


''Kemaren Ara datang ke kantor?'' tanya Gatra terkejut. Kamu lihat mas sama Claritta Ra, kenapa gak tanya ke Mas. yang semalam dan pesan yang tadi pagi itu..... maaf Ra, bukan maksud Mas buat nyakiti hati kamu.


''Iya! dia kangen minta ketemu sama si Otong.'' ketus Pia. ''Bukan kangennya terobati tapi kejutan yang didapat. Kasihan Ara dia itu tipe anak yang hanya diam dan memendam sendiri kesakitannya, apalagi kalau orang yang nyakiti itu orang yang dia sayang akan semakin diam dia, kalau gak kita orang terdekatnya yang mengorek dan peka dengan perubahan sikapnya.''


''Emang Lo kemaren sama Claritta kemana?'' Farel yang semakin penasaran ikutan buka suara.


''Gue...'' Gatra bingung harus jawab apa, masak iya dia harus jawab tentang kondisinya.


''Tuh kan gak bisa jawab. Om Ara tuh cinta sama Om.'' Pia nyolot


''Gue juga cinta Rara istri gue!'' jawab Gatra ikut ngegas.


''Woi sudah. selow bestie jangan saling ngegas.'' sakit telinga Farel mendengar adu suara. ''Tinggal jawab saja Tra Lo kemaren sama Claritta kemana? gitu saja kok repot.''


''Gue mau ketemu Iwan dan Claritta nebeng gue ternyata bokapnya juga dirawat di kliniknya Iwan. Gue juga gak tahu kenapa bisa kebetulan gitu. Dia mohon-mohon kalau bokapnya mau ketemu gue.''


''Karena setujuan dan emang beneran dia gak bawa mobil ya... gue ijinkan dia nebeng. Sekalian juga gue ketemuan sama bokapnya kalau gue sudah nikah dan sangat mencintai istri gue, hingga gak banyak berharap lagi pada gue. Kalau Lo gak percaya ada Iwan kok saksinya.'' akhirnya Gatra cerita semua tentang kemaren minus alasan dia ketemu Iwan.


FLASHBACK END


''Tra bisa ikut gue ke ruangan?'' Iwan meminta Gatra ke ruangannya. Gatra pasti shock mendapati Ara yang kecelakaan dan ada pula lelaki yang mengaku sebagai kekasih istrinya. Dokter Iwan meminta ke temannya untuk melarang siapa saja menjenguk Ara walau kondisi Ara sudah membaik, tentunya dengan bahasa isarat sebelum dia pergi membawa Gatra yang linglung ke ruangannya.


''Minum Tra.'' Iwan memberikan sebotol air mineral ke Gatra. dan Gatra langsung meneguknya hingga tandas.


''Lo tenang saja istri Lo baik-baik saja. Dia cuma pingsan gak koma. Kalau mendengar cerita bocah tadi kemungkinan istri Lo emang pernah koma dan kehilangan sebagian memorinya. Dan semoga saja karena benturan di kepalanya kali ini bisa membuat memori yang hilang itu bisa kembali.''


''Gue sungguh gak tahu kalau Ara pernah kecelakaan parah.Kasihan sekali istri gue, Wan. Gue sudah janji pada papanya buat jagain Dia, tapi apa justru gue yang nyakiti dia.'' kesedihan begitu jelas terpampang dari seorang Gatra. Hal yang tak pernah dilihat oleh Iwan selama menjadi temannya. Sebegitu cintanya Gatra pada istrinya. Untungnya Ara hanya pingsan, bagaimana sahabatnya ini kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.


''Tenangkan diri Lo dulu gue punya kabar baik untuk Lo. Kalau Lo belum tenang gue gak bakal kasih kabar ini ke Lo.''

__ADS_1


__ADS_2