Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
73 Jangan Dilepas


__ADS_3

Ara melepaskan pelukannya dari Gatra, ketika tersadar bahwa mereka tidak sendiri. Ada pemilik toko dan karyawannya. Menundukkan mukanya karena malu.


Bahagianya Gatra mendapat pelukan tiba-tiba dari Ara. Sayang waktu dan tempat tidak tepat. Andai tidak ada dua pasang mata lain yang melihat...ahhkk Gatrapun juga sedikit menahan malu.


Pemilik toko perhiasan terkekeh, Ara mengingatkannya akan sosok anak perempuannya yang seusia dengan Ara yang memilih untuk tinggal dan sekolah di Hongkong. Kampung halamannya.


''Tidak apa-apa, kami senang kalau anda menyukai dan mempercayakan apa yang menjadi niat baik kalian pada kami.'' kata pemilik toko untuk memecahkan kecanggungan pelanggannya.


Kalau kotak yang satu miliknya berarti kotak yang satunya pasti untuk Mas Farel. Ara tak ambil pusing. Baginya cincin yang melingkar di jarinya sudah sangat indah dan tak ingin perhiasan yang lain lagi.


Tapi Gatra malah mengambil kotak yang satunya lagi dan membukanya. Ada dua cincin berwarna putih yang satu besar yang satu lebih kecil. Bentuknya sederhana malah seperti lingkaran saja dua-duanya mirip cuma yang lebih kecil ada permatanya.


Gatra mengambil satu yang ukurannya lebih kecil, mengamati dengan teliti.


''Seperti yang Pak Gatra inginkan cincin tersebut dari bahan platinum murni yang mempunyai sifat hipoalergen atau anti alergi bila bersinggungan dengan kulit. Dan juga tahan terhadap korosi, tidak mudah berubah warna bila terkena air, diterjen bahkan minyak wangi yang mengandung alkohol.'' Si pemilik toko menerangkan keunggulan cincin yang sedang diamati Gatra.


''Padahal saya cuma menginginkan cincin yang bisa digunakan sehari-hari untuk saya, dan tidak menyalahi aturan dalam kenyakinan saya. Dan ini sangat sesuai dengan keinginan saya Pak Anton.'' Gatra nampak puas dengan hasil pesanannya yang kedua.


Meletakkan kembali cicin yang baru saja diamati dan meraih tangan Ara yang telah terpasang cincin pemberiannya yang pertama.


Pemilik toko diam-diam bangun dari duduknya dan menghampiri karyawannya yang setelah meletakkan cincin pesanan Gatra berdiri di pojokan sebelah pintu masuk.


Ada satu lagi karyawannya yang hendak masuk untuk memberikan minuman untuk pelanggan VIPnya.


Sssttt....

__ADS_1


Belum juga mengetuk pintu yang terbuka sudah ada peringatan dari bos dan temannya untuk tidak berisik dan mengganggu pasangan yang dengan enaknya menggunakan ruang kerja orang tanpa sungkan.


'' Ndah, tolong kamu foto moment bahagia mereka, dan Embun tolong vidiokan mereka berdua biar jadi kenang-kenangan mereka.'' baiknya Pak Anton si pemilik toko perhiasan. Hal yang tak terfikirkan oleh Gatra teryata diberikan oleh Pak Anton. Dan kedua karyawannya mulai melaksanakan misi yang diberikan sang bos dengan pelan-pelan tanpa menggaggu sedikitpun. Bahkan keberadaan mereka untuk sementara ditiadakan oleh Gatra.


Pak Anton si pemilik toko perhiasan keluar dari ruangannya dan menelpon seseorang. Tanpa menunggu lama telponnya langsung tersambung. Atas permintaan orang yang ditelepon, Pak Anton melakukan vc, bukan dengan orang yang ditelepon tapi dengan melihat Gatra dan Ara.


Ternyata orang yang ditelepon Pak Anton adalah Bunda, yang sudah lama menjadi pelanggannya.


Bundalah yang merekomendasikan toko Pak Anton kepada Gatra, ketika sang putra bercerita dan berniat membeli cincin kawin tapi dengan desain sendiri.


Pak Anton masuk kembali keruangannya dengan mengarahkan kamera ponselnya pada Gatra dan Ara. Tentu saja sembunyi-sembunyi, tanpa harus ketahuan.


Gatra melepaskan kembali cincin berluan yang terpasang dijari manis tangan kiri Ara dan memindahkannya ke jari manis tangan kanan Ara. Mengambil kembali cincin yang tadi diletakkan dan memasangkannya di jari manis manis tangan kiri Ara.


''Ini cincin kawin kita Rara, karena pernikahan kita kemaren serba mendadak dan mendesak, Mas tidak sempat menyiapkan cincin kawin untuk Ara. Mahar kamu saja Mas dapat dari Bunda.''


''Ada keyakinan kuno yang mengatakan bahwa jari manis tangan kiri wanita adalah satu-satunya jari yang nadinya mengalir ke jantung. Sedan dalam bahasa latin vena jari manis tangan kiri dikenal sebagai vena amoris, 'vena cinta' yang letaknya paling dekat dengan hati.''


''Mas ingin menjadi jantung hatinya Rara. Menjaga Rara bukan karena amanah dari Papa, tapi menjaga Rara dengan seluruh cinta yang Mas punya. Bukan menjadi beban tapi kewajiban dari seorang suami menjaga melindungi dan membahagiakan Rara. Tolong dijaga dan jangan dilepas ya?''


''Bersama kita sama-sama berusaha, Mas sadar Rara masih sangat muda untuk menjalani hubungan yang sudah pasti ikatannya. Mas gak akan memaksa, sebisa mungkin akan tetap Mas usahakan Rara tidak kehilangan masa muda Rara karena pernikahan ini.''


Lancar sekali bagai jalan tol omongan Gatra, mungkin karena dia terbiasa presentasi pada klienya.


Ara speechless laki-laki pilihan papanya yang sekarang menjadi suaminya berbicara panjang sekali. Ara menatap binar mata Gatra dan ada kesungguhan dan niat tulus di sana.

__ADS_1


''Mas boleh Ara pasangkan cincin yang satunya di jari Mas Gatra?'' tanya Ara ragu-ragu.


''Boleh dengan senang hati Mas menerimanya.'' Gatra menyerahkan tangan kanannya kepada Ara.


''Kok kanan?'' tanya Ara dengan tetap memasangkan cincin di jari manis Gatra.


''Iya, biar kalau kita berhadapan dan jari kita bertaut atau kalau kita sedang jalan dan bergandengan kedua cincin bisa ketemu. Cincin kita sepasang, seperti Mas dan Rara sepasang.''


''Maaf Mas, Ara gak punya kata-kata yang indah seperti Mas Gatra, saat memasangkan cincin.'' Ara menundukkan kepalanya malu pada Gatra karena tidak bisa seromantis Gatra.


Gatra tergelak sikap Ara yang demikian sangat lucu menurutnya, dan dia sangat menyukainya.


Di seberang sana Bunda menangis bahagia, anak laki-laki satu-satunya mau berusaha dan dengan ihklas menjalani biduk rumah tangganya, yang awalnya sebuah keterpaksaan. Mau menjaga dan melindungi Ara bukan semata karena amanah dan permintaan terakhir seorang ayah. Bunda segera mematikan sambungan vcnya, takut suara tangisnya ketahuan Gatra ataupun Ara.


Dua pegawai toko yang menjadi saksi dokumentasi ikutan baper dengan kata-kata Gatra.


''Ndah ada gak sih? satu lagi yang seperti Masnya, kalau ada bungkusin satu kasih karet dua biar gak ketuker.'' kata pegawai yang bernama Embun pada temannya yang bernama Indah.


''Kalau ada satu lagi buat aku dulu Mbun. Aku juga mau lah. kata-kata Masnya membuat jiwa jombloku meronta-ronta.''


Ssssttt...


Pak Anton memperingatkan karyawannya untuk tidak berisik takut mengganggu kenyamanan pelanggannya. Sebenarnya dia yang terganggu sampai Bunda memutus sambungan vcpun tidak sadar.


Setelah menyelesaikan segala administrasi, Gatra mengajak Ara untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berbelanja.

__ADS_1


''Kali ini kita beneran belanja kan Mas? gak belok kemana lagi? gitu.''


''Beneran kita belanja. Jangan cemberut dong.'' jadi gemes pengen cium. sambung Gatra dalam hati.


__ADS_2