
Waktu istirahat tiba, Pia mengajak Ara untuk ke kantin. Hal yang paling malas Ara lakukan karena harus berjubel dan mengantri hanya untuk makan. Karena Ara tidak membawa bekal dan juga lapar terpaksa Ara mengiyakan ajakan Pia. Saat ditengah jalan mereka dicegat oleh Aluna dan dayang-dayangnya.
''Awas genk rombongan pek**cun lewat.'' goda dayang satu
''Nggak salah lewatnya sini? ini bukan jalan menuju hotel lho!'' ucap dayang yang lainnya. Entah apa yang dayang-dayang itu peroleh dari seorang Alana hingga setia hidup.
''Ck.ck. elu kalau mau buat malu jangan lagi pakai seragam sekolah kita dong!'' ucap Alana dengan nunjuk-nunjuk pundak Pia. ''Atau elu senang karena udah ada kroninya gitu!'' sambung Alana lagi dengan dagunya menunjuk Ara.
''Wajah sih boleh polos tapi mainan Om-om juga.'' sindir Alana dengan mengintari Ara.
Ara berniat abai dengan segala ucapan Alana dan antek-anteknya. Toh dia tidak punya masalah dengan Alana.Tapi tidak dengan Pia. Jika sedari dulu Pia hanya diam saja bahkan cenderung menghindar, dengan segala bulian lesan dari Alana, Kali ini tidak! karena bukan hanya dirinya saja yang dibully tapi Ara juga teman yang baru saja didapat setelah hampir tiga tahun sekolah.
''Masalah buat lo! kita mau jalan kemana? kaki, kaki kita. Yuk! Ra.'' Pia meraih tangan Ara untuk menjauh dari Alana dan dayang-dayangnya bagaimanapun dia tidak ingin ribut di lingkungan sekolah.
''He! elo berdua kalau mau me**la**cur mending jangan sekolah di sini! keluar saja. Timbang bikin malu." teriak Aluna
Pia balik badan meski sempat ditahan Ara agar tak meladeni ucapan Aluna.
"Maksud lo APA! ini sekolah negri bukan swasta yang dibawahi oleh yayasan dimana BOKAP lo yang punya. Yang bisa seenak jidat lo ngatur siapa saja yang boleh sekolah disini. Dan urusan gue mau me**la**cur atau apapun itu bukan urusan elu.''
''Wah... mulai berani ngelawan.'' ucap dayang satu.
''APA LO! gue diam selama ini karena ini sekolah dan gue gak mau ya ribut-ribut.'' Pia agak membentak pada dayang setianya Alana.
''Dan untuk lo Alana! semua yang elu bilang tentang gue gak salah. Gue begini juga gue ada panutannya, elu mau tahu siapa? NYOKAP lo! Elu jangan pura-pura gak tahu ya dengan asal-usul elu yang sudah menjadi rahasia umum. Sebagai cerminannya saja kalau elu selama ini ngehina gue bukankah sama halnya elu ngehina IBU yang membuat lo hadir di dunia ini.''
''Diam! lu jangan bawa-bawa ibu gue.'' Alana mulai tersulut amarah.
''Selama ini gue sudah diam cuma elu saja yang selalu ngebacot. Elu ngehina ibu dan kakak lo sendiri, cuma medianya gue. Nyadar nggak lo! '' jawab enteng Pia
''Elo!'' Alana menarik rambut Pia yang sedang putar badan untuk pergi, Pia yang kesakitan segera membalas sebisa apa yang bisa dia sentuh dari tubuh Alana. Yang didapat wajah Alana maka dengan kuku panjang dan terawat Pia mencakar wajah Alana hingga ada dua garis merah di pipi mulus Alana. Hingga meringis kesakitan.
Mendapati pipinya kena cakar Alana semakin beringas. Ingin juga mencakar wajah Pia, sayang masih bisa ditangkis. Perkelahian terjadi masing-masing saling melayangkan tinju, cakaran dan jambakan.
''Kok pada diam! dipisahin dong temannya.''Ara panik yang pada akhirnya Pia dan Alana jadi berantem.
Dayang-dayang Alana sama sekali tidak ada yang mau memisahkan mereka berdua malah bersorak meneriakkan semangat ke Alana.
perkelahian antara Alana versus Pia jadi tontonan siswa- siswa lainnya. Tanpa ada yang melerai, mereka malah sibuk bertaruh siapa yang menang.
Cuma Ara yang sibuk untuk melerai cuma nihil hasilnya, bahkan dia ikutan kena pukulan yang ditangkis dan meleset dari keduanya.
Sampai ada dorongan yang membuat Ara terpelanting dan jatuh bersamaan dengan suara yang menggelegar seketika menghentikan perkelahian antara Pia dan Alana.
Suara dari Pak Aldi yang mampu menghentikan perkelahian tersebut, sayangnya terlambat karena perkelahian tersebut sudah memakan korban. Yaitu Ara yang sudah terjerembak masuk kedalam got yang membuat dia tidak bisa bangun karena kaki kanannya terkilir. Pia mendekat ke Ara untuk membantunya berdiri walau sia-sia.
''Elo akan menyesal kalau tahu siapa yang elo sakiti.'' suara keras Pia ke Alana.
''Sudah diam! kalian semua ke ruang BP sekarang.'' seru Pak Aldi ke Alana and the genk dan Pia juga. Sementara Pak Aldi mengendong Ara menuju ke UKS.
Kedatangan Pak Aldi ke UKS disambut oleh Mitha, perawat yang bertugas di sekolah.
''Kenapa ini Pak?'' tanya Mitha si perawat sembari menyiapkan tempat tidur untuk Ara.
''Sepertinya terkilir jatuh ke saluran air tadi.'' jawab Pak Aldi sekenanya.
''Kakinya bisa diselonjorkan Ra?'' pinta Pak Aldi setelah membaringkan Ara. Dan Ara meluruskan kakinya yang terkilir. Pak Aldi yang notabene guru olah raga punyalah bekal urusan urut mengurut bagian tubuh yang terkilir.
''Kalau Gatra tahu bisa marah besar ini istri kesayangannya terluka begini'' ucap Pak Aldi sambil terus mengurut kaki Ara. Arapun meringis kesakitan. lebih sakit dari sewaktu jatuh tadi. ''Tahan ya Ra.''
__ADS_1
''Apa Pak? jadi dia ini Ara istri dari Bang Gatra!'' Mitha si perawat alias Selomitha calon tunangan Farel, berteriak kaget. Dia memang sudah mendengar semua tentang Ara dari siapa lagi kalau bukan dari Farel. Bahkan Mitha juga yang menyarankan agar Ara sekolah di tempatnya. Memang dia penasaran juga dengan sosok Ara dan baru kali ini bisa bertemu.
''Hus.... jangan keras-keras bisa runyam urusannya.'' hardik Pak Aldi.
''Sorry Pak, kaget saja saya habis cantik gini Aranya, beruntung bener Bang Gatra.'' Mitha memang sudah Akrab dengan Pak Aldi hingga dalam berbicara mereka tidak menggunakan bahasa formal. Mitha duduk di sisi Ara memberi senyuman ramah ke Ara dan memperkenalkan dirinya.
''Hai Ra? aku Mitha calon teman hidup Bang Farel, ternyata kamu lebih cantik dari yang aku bayangkan.'' Ara menyambut uluran tangan Mitha.
''Kak Mitha berlebihan. Kakak juga cantik kok.'' jawab Ara tulus
''Beruntungnya Bang Gatra.'' lirih Mitha yang terdengar oleh Pak Aldi.
''Kita sepemikiran.'' Pak Aldi dan Mitha tertawa bersama.
Diam-diam Mitha memfoto Ara yang sedang diurut Pak Aldi dan mengirimkannya ke Farel.
''Coba gerakin kakinya?'' pinta Pak Aldi setelah selesai mengurut. Ara menggerakkan kakinya, sudah terasa lumayan gak begitu sakit lagi.
''Sekarang turun coba untuk berjalan.'' pinta Pak Aldi lagi. Walau tertatih Ara mencoba berjalan.
''Sedikit ngilu, Pak.''
''Namanya juga terkilir gak bisa kalau langsung sembuh. Kamu tunggu di sini dulu saya mau urus teman-teman kamu.'' Aldi meninggalkan UKS. Dia memberi kabar melalui pesan singkat ke Gatra.
📩 to Gatra
Tra, lo ke sekolah sekarang! bini lo terlibat masalah. Gelut sama temannya.
Dilain tempat Gatra yang sedang mengawasi jalannya shoting iklan kaget mendapatkan pesan dari Aldi.
Tanpa babibu Gatra langsung meninggalkan pekerjaannya, untuk menyamperi Ara. Bahkan panggilan dari Farel tak dihiraukan. Padahal Farel mau kasih lihat foto yang dikirim oleh Mitha.
Kedatangan Gatra bebarengan dengan Clarita mantannya.
''Gatra!'' panggil Clarita yang memang lebih dulu melihat Gatra.
Gatrapun menoleh karena ada suara yang tak asing memanggilnya. Rita
''Gatra, ngapain kamu ke sini? ada shoting di sini?'' tanya Clarita setelah langkahnya sejajar dengan Gatra.
''Ada perlu.'' jawab Gatra sekenanya karena bukan urusan Clarita Gatra datang ke sekolah.
''Adik gue, Alana buat ulah dia, takut nyokap khawatir makanya gue yang kesini.'' ucap Clarita tanpa ditanya niatnya mengambil simpati Gatra karena yang dia tahu Gatra sangat memanjakan Alana kalau bertemu saat dia masih menyandang kekasih Gatra.
Aldi yang sudah memperkirakan kedatangan Gatra menyambutnya. Tak disangka ternyata bareng dengan mantannya. Aldi menatapnya dengan sinis.
''Dimana Ara?''
''Sabar Bro, tenang dia sudah baik-baik saja. Sekarang sudah ada di ruang BP. Dia tadi jatuh dan terkilir karena berusaha melerai temannya yang berkelahi. Noh salah satunya adek mantan lo.'' dengan menaikkan dagu Aldi menunjyk ke arah Clarita.
''Ara? siapa Ara? dan adek gue kenapa Al?''
''Adek lo jemput saja di ruang BK. Kenapa lo yang datang kemana orang tuanya?'' tanya Aldi sinis
''Sama saja kan? gue juga walinya.'' sewot Clarita yang sedari pacaran dengan Gatra tidak menyukai Aldi. Karena Aldi dengangan begitu jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Clarita berbeda dengan Farel yang masih ada tedeng aling-aling.
Sesampainya di ruang BK pandangan Gatra langsung tertuju ke Ara yang duduk didampingi Mitha. Ara yang sudah baikan disuruh ke ruang BK juga. Hingga Aldi menyenggolnya sebagai kode kalau mereka ada di lingkungan sekolah jangan sampai rahasianya terbongkar.
Mendapati tatapan dari Gatra membuat Ara takut dan menundukkan muka. Baru kali ini Ara sekolah berurusan dengan BK dan harus mendatangkan wali murid. Ara semakin menunduk dan gugup saat Gatra duduk disampingnya. Rasa bersalah dan malu menjalarinya.
__ADS_1
Mitha yang menyadari kegugupan Ara berusaha memberi ketenangan dengan menggenggam tangan Ara.
Masalah terselesaikan Hanya Pia dan Alana yang diberi hukuman karena Ara memang tidak terlibat dalam perkelaian keduanya dia cuma ingin melerai tapi justru yang menjadi korban.
Gatra segera menuntun Ara keluar dari ruang BK. Ingin sekali dia mengendong Ara yang kesulitan berjalan tapi apalah daya ini sekolah dan tatapan horor Aldi terus mengikuti.
''Kenapa sih lo segitunya ke gue Al, tenang gue juga masih sadar ini sekolah.''
''Siapa tahu lo ngilaf.''
''Sialan lo. BTW makasih ya?''
Ara sudah masuk ke mobil Gatra. Dengan dibantu Gatra untuk bisa duduk anteng di kursi penumpang samping Gatra.
''Mas....'' panggil Ara setelah Gatra duduk di kursi kemudi.
''Hemm'' jawab Gatra sambil memasang safety belt
''Ara minta maaf sudah buat Mas repot dan malu karena Ara dipanggil BK.'' lirih Ara.
''Hai... Mas gak pernah repot untuk Rara, dan malu?.... kenapa malu?'' Gatra melepaskan lagi sabuk keselamatan yang telah dipasang menatap lembut ke Ara. ''Malu kenapa?'' ulangnya
''Karena... Ara... ada masuk BK. Tapi sungguh selama sekolah Ara baru kali ini kok, Ara berurusan dengan BK. Beneran Mas.'' Gatra tertawa dengan pejelasan Ara. Bener-bener anak sekolah yang baik istri kecilnya ini.
''Kok Mas ketawa sih?''
''Apa semua yang berurusan dengan BK itu memalukan?'' tanya Gatra setelah menhentikan tawanya.
Ara mengangguk. Dakam pikirnya siswa nakal dan bermasalahlah yang berurusan dengan BK.
''Tadi kan Mas sudah mendengar semua, Rara tidak bersalah karena niatnya ingin melerai. Benar begitu?'' lagi-lagi Ara mengangguk
''Jangan terlalu dipikirkan biarlah menjadi kenangan kelak setelah Rara lulus. Bisa buat cerita, sekarang yang harus dipikirkan bagaimana kaki Rara? masih sakit apa gak? perlu ke dokter? apa sekarang kita ke rumah sakit?''
''Jangan! nggak... sudah gak papa tadi sudah diurut sama Pak Aldi.'' rupanya Ara masih trauma dengan rumah sakit, makanya menjadi takut kalau Gatra sampai membawanya ke rumah sakit.
''APA! Aldi urut Rara?'' Gatra kaget mendengar Ara bilang urut.
''Iya tadi Pak Aldi yang tolongin Ara setelah Ara jatuh dan gak bisa bangun. Pak Aldi yang gendong Ara dan bawa Ara ke UKS terus kaki Ara diurut.Jadi lumayan gak begitu sakit.'' sontak jawaban Ara membuat rahang Gatra mengeras.
Awas saja kamu Aldi! gue yang suaminya saja belum bisa pegang-pegang eh....elo seenaknya saja apa tadi GENDONG huh!
''Mas?...Mas Gatra?''
''Iya?''
''Mas kenapa jadi melamun?'' Ara bingung dengan perubahan sikap Gatra
''Eh.... nggak. Kita kemana nih pulang atau ke rumah sakit?''
''Pulang!"
*
*
*
*
__ADS_1
Semoga belum bosan menanti Upnya .Bab ini lumayan panjang 1750 kata lebih lho.