Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
97. Baru Lepas Perjaka


__ADS_3

KREEEKKK....


Pintu terbuka Farel menjedulkan kepalanya masuk ke kamar rawat Ara. Seketika balik badan dan keluar lagi hingga sosok yang berdiri di belakang menabraknya.


Kamvret gue jauh-jauh datang cuma buat lihatin pasangan yang tidur sambil pelukan.


''Paan seh Rel! tambah jenong nih jidat. Kayak emak-emak saja putra balik seenaknya.'' Iwanlah sosok yang menabrak Farel karena gerakan Farel yang tiba-tiba putar balik.


''Ststttt..... Diem napa? berisik Lo dari dulu tak pernah berubah.'' Farel menoyor jidat yang katanya tambah jenong.


''Main toyor saja seh?'' mengikuti Farel duduk di kursi tunggu depan kamar rawat Ara.


''Lo tadi bilang kalau Gatra nikah karena dijodohkan, tapi yang gue lihat Gatra sayang banget sama tuh bocah. Dan kok boleh gitu orang tua si bocah anaknya nikah padahal masih sekolah. Mana suaminya tua lagi.'' Setelah bertemu Bunda di rumah makan depan klinik Farel bertemu Iwan dan sedikit banyak bercerita tentang kenapa Gatra bisa menikahi Ara. Dan Iwan juga menjelaskan kenapa Ara bisa demam tinggi. Awalnya Farel ngakak begitu tahu kalau Ara demam karena ulah Gatra. Membayangkan bagaimana paniknya Gatra sampai membawa Ara ke rumah sakit. Pantas saja Bunda meminta dia datang dengan membawa baju untuk Gatra, ternyata begini ceritanya.


''Kemana saja Lo selama ini Bung! Mentang-mentang jadi dokter lupa sama kita-kita.'' diantara mereka berempat yang berteman sejak SMA hanya Iwan yang misah, mungkin karena kuliah kedokteran lama ketika teman-temannya sudah selesai dan sibuk kerja dia masih sibuk kuliah sendiri.


''Dulu ponselku hilang kontak kalian gak ada yang gue ingat. Dan karena ikatan dinas juga gue kerja di rumah sakit di Sumba. Karena rasa cinta gue ke negara makanya gue betah mengabdi di sana. Baru setahunan Gue balik ke sini buat ambil spesialis dan gabung dengan rumah sakit ini.Makanya gue gak kalah sibuknya dengan kalian.''Iwan membela diri tak mau dianggap melupakan atau sengaja menjauh.


''Cih. sombongnya.''


''Gue kira Gatra bakalan nikah sama model terkenal Claritta. Sempet iri gue, Gatra bisa pacaran dengan model. Gimana tuh kok bisa gak jadi?''


''Tahu dari mana?''


''Apanya?'' Iwan balik tanya tanpa tahu apa yang ditanyakan Farel.


''Gatra pacaran dengan model. Katanya ponsel hilang dan tinggal jauh dari Jakarta. Kepo dari mana? Jangan-jangan selama di daerah Lo ngikuti berita dari lambe titah.'' gemes Farel


''Oooo... dulu waktu liburan. balik ke sini sempat ketemu Gatra jalan sama ceweknya yang model itu. Bah! cantiknya bagai bidadari turun langit.''


''Turun dari langit. Langit kolong Semanggi sana! bidadari dari plastik kali. Wajah saja yang jadi patokan Lo, hati Men. Hati yang penting! percuma cantik tapi hati busuk.'' sengit Farel.


''Benci banget Lo sama mantannya Gatra ada masalah apa Lo? gagal mau nikung.'' ujar Iwan santai tapi tidak bagi Farel.


''Belum tahu saja Lo siapa Claritta. Sori-sori to sai gue nikung cewek gituan. Gatra saja yang waktu itu matanya lagi kelilipan hingga mau pacaran kek model gituan. Sudah ah malas gue balas cewek serigala macam dia, mending gangguin teman yang baru lepas perjaka. Gini hari masih ngekepin bininya.''


Farel sudah memegang hendel hendak membuka pintu.


''Rel, dari tadi masih belum masuk.'' suara bunda yang membuat Farel dan Iwan menoleh bersama.

__ADS_1


''Eh, itu anu... belum Bun.'' gagap Farel.


Bunda nyelonong mendahului Farel dan Iwan untuk masuk. ''Kamu juga Wan sebagai dokter juga malah ada diluar, gak diawasi pasiennya.''


Iwan tergagap juga '' Shif saya sudah habis Bun. Ini juga sedang Nemani Farel yang takut masuk.'' elak Iwan meringis karena tulang keringnya kena tendang Farel.


''Astaga Gatra!'' pekik bunda ketika pintu terbuka. Sungguh pemandangan yang sangat manis saat Gatra dan Ara yang tidur saling berpelukan. Tapi sangat tidak etis karena mereka ada di rumah sakit.


Gatra mengerjabkan matanya, terlihat samar ada Bunda, Farel dan Iwan berdiri disisinya. Gatra yang terkaget segera bangun melepas pelan pelukan Ara.


Seperti orang yang terciduk selingkuh Gatra menatap bergantian tiga insan yang berdiri. ''Ada apa?'' tanyanya tanpa dosa


''Ada apa????'' suara pelan Bunda. ''Kamu sadar gak lagi dimana dan Ara lagi gimana keadaannya!'' geram Bunda.


Farel dan Iwan menahan tawa melihat temannya teraniaya oleh ibunya sendiri.


''Nih mandi dulu.Jangan lupa mandi besar, mandi junub juga kasihan si Otong kegerahan tuh.'' Farel melempar pepper bag berisi pakaian Gatra ketika Gatra bangkit dari brangkar.


Ara kembali bangun dan Gatra tak ada lagi disebelahnya. Dua kali membuka mata kenapa yang ada Bunda seperti de Javu saja. Seketika Ara meraba dahinya, dan tidak panas. Jadi gak mungkin demam lagi.


''Ara, sudah bangun Nak. Masmu sedang mandi.'' terang Bunda tahu kalau Ara pasti mencari Gatra.


''Wan, apa Ara sudah boleh pulang?'' Bunda bertanya pada Iwan.


''Boleh, gak ada yang serius dengan kesehatan Ara, tapi nunggu cairan infusnya habis dulu.''


Gatra keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, penampilannya sudah tidak lusuh lagi.


''Cepet banget Bang mandinya, yakin tuh mandi besar.'' Kembali Farel menggoda Gatra, hingga dia mendapat lemparan handuk basah dari Gatra.


''Sayang, sudah bangun.'' Gatra mendekat ke Ara yang sudah bangun, tanpa perduli pada dua temannya.


''Iya. Mas, Ara mau pulang. Kata dokter sudah boleh pulang.'' Ara merajuk ke Gatra bagaimanapun kamar sendiri pasti lebih nyaman.


''Iya. Kita pasti pulang. Rara sabar sebentar ya?'' bukannya Gatra tidak mau pulang tapi melihat kondisi Ara sebelumnya Gatra masih kuatir.


Iwan menepuk pundak Gatra.


''Tenang Sob bini Lo sudah aman, tinggal nunggu cairan infus habis kalian sudah boleh pulang.''

__ADS_1


''Kalian berdua makan dulu, ini Bunda sudah belikan kalian makan.'' Bunda menyerahkan dua bungkus nasi Padang dan diterima Gatra. '' Buat Ara yang gak pakai sambal, jangan keliru Tra. Buat kalian berdua Bunda juga belikan.'' Bunda menyerahkan sisa nasi Padang yang dia beli ke Farel dan Iwan.


''Terima kasih Bun, emang rejeki anak Soleh. Pulang kerja sudah ada yang beri makan. Iwan segera menyambar nasi Padang jatahnya.


''Sejak kapan Lo tahu kalau bapakmu Soleh? jadi pak Widodo selama ini apamu?'' tanya Farel


''Jadi Lo cuma anak tiri pak Widodo? Gatra ikutan mencela Iwan.


''Teman macam apa kalian! itu cuma perumpamaan. Bapak gue tetap Pak Widodo Lo berdua gak lihat wajah kita berdua bak pinang dibelah dua.'' sengit Iwan


Ha ha ha


Tawa Farel dan Gatra meledak. Emang enak mengerjai teman yang satu ini.


''Pinang dibelah dua sih, bapakmu awet muda Lo cepet tua.'' ejek Farel


Bunda hanya bisa menggeleng melihat kekonyolan anaknya dan teman-temannya.


''Bunda gak bisa lama-lama di sini kasihan ayahmu lagi di rumah sendiri. Awas kamu Tra, kalau sampai nyakiti Ara lagi.'' Bunda pamitan meninggalkan ruangan Ara untuk pulang dengan banyak pesan ancaman.untuk Gatra.


Dengan telaten Gatra menyuapi Ara. Iwan yang tadinya fokus pada nasi Padang baru menyadari pemandangan di depannya setelah nasinya habis.


''Huh... Dasar bucin. Nasih kalau jomblo.''gerutu Iwan


''Lo kali jomblo gue mah selangkah menuju halal.'' sombong Farel


''****** Lo berdua.''


Mas, pak dokter itu teman Mas Gatra.'' tanya Ara ditengah kunyahan makan. Farel yang mendengar Ara menyebut Iwan Pak dokter meledak lagi tawanya.


''Iya Pak dokter, bener Lo dek. Pak dokter Iwan. Bukan gue yang bilang.'' Farel ikut memprovokasi.


''Lanjut. lanjut saja terus. Dilarang berhenti.''


''Sudah biarkan saja yang tua-tua lagi bahagia, jangan diganggu. Rara lanjut makan saja biar ada tenaga untuk pulang. Masa kecil mereka kurang bahagia.'' ucapan Gatra mendapat toyoran dua sahabatnya.


''Mending pulang saja, kelamaan di sini engab gue. Tra, jangan lupa urus administrasi kepulangan. '' Iwan pamit


''Wan, tunggu gue ikut pulang juga! gak kasihan Lo lihat gue jadi obat nyamuk.'' Farel ikut pulang menyusul Iwan.

__ADS_1


__ADS_2