
Pekerjaan Ayah Sukma cuma tiga hari. Dan harus balik lagi ke Jakarta, jadi sore selepas dari Kampung Rawa Ayah Sukma langsung bertolak ke Jakarta.
Sesampainya di rumah, istri tercinta sudah menanti, menyongsongnya di depan pintu.'' Capek, Yah?'' menyalin tangan suaminya, dan menggandengnya mesra masuk ke dalam rumah.
''Lumayan, Kesepian ya? baru juga tiga hari ditinggal, minggu depan Ayah ajak ke Semarang. Terserah nanti Bunda mau kelilingk-keliling atau mau cari tempat wisata.'' janji Ayah. Pasangan senja yang masih saja mesra.
''Beneran ya, Ayah ajak Bunda ke Semarang.'' rajuk sang istri seperti anak kecil yang dijanjikan permen saja.
''Seneng betul diajak ke Semarang, ada apa? hem.'' tanya Ayah penasaran kenapa si istri jadi suka ke Semarang.
''Bunda kangen Ara, Yah.'' jawab singkat Bunda.
''Ara...'' sejenak Ayah jadi teringat percakapannya dengan Papa Randy.
''Ara kenapa, Yah?'' tanya Bunda takut terjadi sesuatu pada Ara.
'' Ara tidak apa-apa, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujubelas. Sekarang Ayah mau mandi dulu nanti Ayah cerita. Ok.'' si Ayah mencolek dagu Bunda.
Bundapun tersenyum dan melepaskan gandengannya, membiarkan Ayah masuk kamar mandi. Lalu menyiapkan baju ganti Ayah.
Bunda menuju dapur hendak menyiapkan kopi kesukaan Ayah. Mendengar ada suara mobil berhenti di luar. Diletakkannya kopi Ayah di meja ruang tengah, lalu keluar untuk melihat siapa yang datang.
Baru saja Bunda akan membuka pintu, sudah didorong dari luar. Sehingga membuat jidat Bunda terjedot.
''Eh, dasar anak durhakim jarang pulang, sekalinya pulang menganiaya orang tua.'' omel Bunda pada si pendorong pintu yang ternyata anaknya sendiri.
''Maaf, maaf Bun, sengaja...eh bukan, gak sengaja. Bunda ngapain di balik pintu? Gatra kan gak lihat.'' kata Gatra yang kasihan melihat Bundanya mengelus-elus jidatnya.
Gatra menuntun Bundanya menuju ruang tengah.
''Ngapain Kamu nuntun Bunda, yang sakit tuh ini....ni...ni.'' kata Bunda dengan menunjukkan jidatnya.
Ingin rasanya Gatra tertawa terpingkal-pingkal. Tapi Dia tahan berabe urusannya, kalau ketahuan. Masalahnya yang terluka adalah Ibu negara.
Gatra mendudukkan ibunya di sofa.Ke dapur dan mengambil es batu untuk mengompres luka Bundanya akibat terjedot.
Bunda menerima buntalan es batu dan mengompreskan pada jidatnya. Si anak Gatra duduk di sebelahnya.
'' Tumben ingat pulang, biasanya diingatkan dulu baru ingat pulang. Ada masalah?'' Bunda merubah posisi duduknya menghadap sang anak dengan tetap mengompres jidatnya.
__ADS_1
'' Gak ada masalah, Bun. Lagian ingat pulang salah, gak pulang-pulang dicariin.'' Gatra memang tinggal terpisah dengan orang tuanya. Alasan ingin mandiri dan lebih dekat dengan kantornya.
Sejak kuliah Gatra dengan dibantu teman-temannya mendirikan usaha periklanan. Usaha yang awalnya pembuatan brosur, mnt, neon box kini sampai gambar layar kaca. Karena inilah Dia selalu menolak ajakan Papanya untuk meneruskan usaha keluarga, kontruksi dan rancang bangun.
'' Bunda masak apa? Gatra lapar. ''
''Ha..ha.. giliran lapar yang dicari Bunda. makanya cari istri, biar pulang ada yang masakin.''
Dasar Mak gue anaknya lapar gak dikasih makan, malah suruh cari istri. Dikira gampang, cari istri. Kalau gampang sudah dari dulu kali gue beristri.
''' Bunda gak masak, Ayahmu baru pulang dari Semarang selama tiga hari. Rencananya nanti Bunda mau minta sama Ayah untuk makan di luar.'' terang Bunda.
''Sekarang Ayah dimana?''
''Lagi mandi. Sewaktu Kamu datang Ayah baru saja masuk kamar.''
''Jadi Ayah baru dari Semarang. Rencananya Gatra juga mau ke Semarang, Bun. advertising Gatra menang untuk pembuatan iklan jateng gayeng.''
''Kamu Tra, kalau cerita pekerjaan saja menggebu-gebu. Coba Bunda minta kamu bawa pulang calonmu pasti mengkeret.''
'' Bukannya tidak mau, Bun. cuma belum ada yang cocok.''
Astafirullah, Mak gue mulutnya gak ada filternya. Tega bener ngatain anaknya bengkok. Lurus Bun, selurus tiang listrik kalau bangun.
''Bun, tega bener ngatain anaknya.''
''Gimana Bunda gak was-was. Sejak lulus kuliah kamu sudah memisahkan diri dari Bunda dan Ayah. Umur sudah kepala tiga belum juga mau menikah. Lihatlah Ayah, umur duapuluhan sudah terbukti keperkasaannya.''
Ya...ya situ, kalian berdua yang nikah muda.
Tap tap tap
''Ayah perkasa, perkasa apa, Bun?'' Si Ayah ternyata sudah selesai mandi. Mendudukkan diri di kursi single, karena yang double sudah ada istri dan anaknya.Melihat istrinya mengompres jidatnya jadi bangun dan mendekat dan duduk dekat istrinya. karena sempit Gatra jadi pindah ke kursi single.
''Bun jidatnya kenapa? perasaan tadi Ayah pulang gak papa.'' Si Ayah mengelus lembut jidat Bunda
Dasar suami bucin akut. ini lho Yah, anakmu pulang! disapa kek.
'' Noh dianiaya anakmu.'' kata Bunda menunjuk Gatra.
__ADS_1
Ngadu.
'' Kau apakan istriku, anak muda?''
''Gak sengaja Ya, kejedot pintu tadi.''
Bunda meletakkan buntalan es batu di meja. Memegang tangan Ayah yang kini melingkar di pundaknya.
''Tra, sekretaris Kamu yang pakai hijab itu siapa namanya?''
''Bila, Sabila. kenapa Bun?''
''Cantik. Gak kepingin Kamu memperistrinya. '' Ayah yang sedang menserap kopinya, jadi tersedak mendengar ucapan istrinya.
''Uhuk, uhuk.''
''Sempat kepikiran sih, Bun. Tapi gak deh.''
'' Apa kamu masih mau sama si model Clarita itu. Gak mau Bunda, sudah judes galak lagi, mana gak bisa bedain mana gula dan mana garam.''
Clarita model yang pernah menjadi pacar Gatra. Dulu sewaktu Bunda berkunjung ke apartement Gatra kebetulan si Clarita ada di sana. Sok-sokan dia membuatkan teh Bunda. Bukan teh manis yang disuguhkan, tapi teh asin.
''Andai Ara lahirnya lebih cepat pasti Bunda mau banget punya menantu modelan Ara. Aduh... Yah,'' menoleh ke Ayah.'' kok jadi teringat Ara.''
Ayah tersenyum dan kembali teringat permintaan Papa Randy. Entah mengapa rasanya seperti pesan yang harus dilaksanakan.
''Emang Bunda mau punya menantu Ara?''
''Maulah, tapi sayang masih kecil. Kasihan kalau dapatnya suami bangkotan. '' Ayah tertawa terbahak-bahak istrinya menyebut anaknya bangkotan. padahal dia kan lebih tua.
'' Ini, sedang membicarakan siapa seh? Ara, Ara siapa'' Gatra yang mendengar percakapan kedua orang tuanya jadi bingung dan penasaran. Pasalnya Dia merasa tidak mengenal Ara.
''Kepo.'' kata Ayah dan Bunda bersamaan.
Kedua orang tuaku ini emang ya, suka sekali membuat jengkel anaknya. Jadi berasa kalau mereka itu anak-anakku.
''Ara itu adek dari Arti calon tunanganmu dulu.Ingat, ingat dong. Anaknya cantik, sopan, kadang-kadang suka melucu dan satu lagi pandai memasak. Masakan Bunda kalah enak sama Ara. Iya kan, Yah.'' sperti biasa Bunda mencari dukungan pada Ayah.
''Besok kalau kamu ke Semarang cobalah temui Ara. Ayah yakin Kamu akan langsung suka.''
__ADS_1
Ara, Arti, Ara