
Ara sadar setelah seminggu koma, selama seminggu ini, Papanya tak pernah sedikitpun berpaling darinya.
''Pah...'' kata dan orang pertama yang dicari ketika Ara sadar adalah Papanya.
''Sayang, Ara....'' betapa gembiranya Papa Randy, melihat langsung anaknya tersadar dari koma.
Ara menjalani pemeriksaan lengkap kondisi kesehatannya. Ada yang aneh pada ingatan Ara. Dia tidak bisa mengingat sebab dia kecelakaan dan kejadian setahun ke belakang tak ada satupun yang nyantol dalam ingatan Ara. Dalam ingatannya dia baru lulus SMP dan mau melanjutkan SMA di Magelang. Sama sekali tak ada Raga dalam ingatannya.
Ara telah dipindahkan ke ruang rawat. Selain ingatannya, semua tanda fisik kesehatannya telah pulih.
Segala upaya dilakukan Papa Randy untuk mengembalikan ingatan Ara, termasuk membawanya ke psikiater dan hasilnya nihil.
Asal Ara sehat seperti sedia kala Papa Randy sudah bahagia.
Pelan-pelan nanti Ara akan memdapatkan kembali memorinya, ada trauma yang membuat alam bawah sadar Ara menutup rapat kenangan Ara setahun kebelakang, kata psikiater yang merawat Ara.
******
Ara melanjutkan SMAnya di Semarang. Ara bisa mengejar ketertinggalan pendidikan selama dia sakit. Tak sulit bagi Ara menyesuaikan dengan sekolah barunya, karena di sini dia bertemu dengan teman-teman SMPnya.
Pagi seperti biasanya sebelum ngantor Papa Randy akan mengantar Ara ke sekolahnya dulu.
Setelah menurunkan Ara di depan gerbang sekolah Ara ,Papa Randy melanjutkan perjalanan ke kantornya.
Papa Randy menepikan mobilnya, ketika melihat teman-teman seprofesinya sedang mengadakan operasi tilang. Dia berniat untuk membantu.
Di halaman hotel tak jauh dari tempatnya, Papa Randy seperti melihat sahabat lamanya. Untuk memastikannya, Papa Randy segera menghampiri. Dan ternyata benar itu sahabat lamanya yang sudah bertahun tak dijumpai.
__ADS_1
''Mas Sukma.'' sapa Papa Randy ketika sampai di meja tempat sahabat lamanya itu duduk.
Yang disapapun menoleh dan kaget bercampur senang.'' Randy!'' Merekapun bersalaman dan saling berpelukan.
Di restoran terbuka di salah satu hotel, yang berada di pusat kota Semarang. Dua sahabat lama yang hampir berbesanan saling melepas rindu.
''Apa kabarmu Ran? berapa tahun, kita tidak bertemu.Aku kehilangan ponselku, jadi nomer-nomer penting ikut hilang semua. Tapi llma bulan yang lalu aku sempat mampir ke polrestabes katanya kamu sudah pindah ke Magelang. Hilang sudah harapannku menemukanmu, nggak tahunya kamu muncul sendiri dihadapanku.'' cerocos Pak Sukma.
''Kabarku baik, Mas.Dan ceritanya panjang, Mas.''
''Kenapa ? Ara, baik-baik sajakan.'' Sahabatnya yang satu ini jelas tahu dalam hidup Papa Randy yang terpenting hanyalah Ara.
''Mas tahulah hanya Ara semangat hidupku, aku bertahan sampai saat ini juga untuk Ara. Dan karena kecerobohanku, aku hampir saja kehilangan dia, Mas.''
''Maksudmu apa, Ren?''
'' Aku merasa karena kami telah bisa mengatasi trauma kehilangan ibu dan kakaknya Ara, kami bisa kembali lagi ke kota kami. Ternyata belum juga setahun, hampir saja Ara pergi meninggalkanku. ''
''Sabar Ran. ada hikmah dibalik musibah. Setidaknya kalian masih diberi kesempatan untuk bersama di dunia ini. ''nampak Pak Sukma menepuk-nepuk pundak Papa Randy.
Pak Sukma, senior Papa Randy sewaktu SMA. Setelah lulus SMA, Pak Sukma langsung dinikahkan dengan kekasihnya waktu itu yang juga lulus bareng. Alasan mereka dinikahkan, karena mereka akan melanjutkan kuliah di luar negeri bersama.Yang menurut keluarga istri Pak Sukma biar anaknya ada mahromnya, di negara orang. Satu tahun pernikahan, Anisa, istri Pak Sukma melahirkan putra mereka yang pertama dan menjadi satu-satunya, Gatra Rahendra.
Gatra Rahendra lelaki yan sempat dijodohkan dengan almarhum putri pertama Papa Randy, kakaknya Ara.
'' Mas Sukma di sini ada urusan apa nih, dan Mbak Anisa tidak ikut?''
'' Adalah kerjaan tuh dekat bandara, Si nyonya di rumah biasa uring-uringan saja bawaannya tiap hari.''
__ADS_1
''Lah kenapa? Mas Sukma ada main?''
tanya Papa Randy asal.
''Sembarangan kamu Ran, gini-gini aku tuh lelaki setia tulen.'' sungut Pak Sukma.
''lha terus apa masalahnya?''
''Siapa lagi kalau bukan anak laki-lakinya. ''
''Gatra. Bagaimana kabarnya, Mas. Pasti dia sudah memberikanmu cucu ya?'' tanya Papa Randy semangat. Bagaimanapun Gatra dulu pernah menjadi calon menantunya.
''Boro-boro cucu Ran, nikah saja belum.Itulah yang membuat istriku uring-uringan tiap Gatra pulang ke rumah. Usianya hampir tiga puluh masih betah melajang, padahal dulu bapaknya usia dua puluh sudah gendong dia.''
Papa Randy terkekeh mendengar curhatan sahabatnya ini. '' Memang Gatra tidak tinggal bersama kalian, Mas?"
"Entahlah ra mudeng aku dengan pemikiran anak muda jaman sekarang. Dia sama sekali tidak mau meneruskan usaha keluarganya. dia memilih buka usaha sendiri bersama teman-temannya. Mana sekarang dia milih tinggal di apartemen sendiri.''
''Bagus itu, Mas mandiri namanya.''
'' Mandiri, bagaimana? usia segitu harusnya sudah memberikanku cucu dan membiarkan bapaknya ini istirahat menikmati hari tuanya dengan cucu-cucunya.Ini apa aku masih saja pontang-panting ngurus perusahaan sendiri.''
''Akupun kalau bisa jangan sampai nanti ada laki-laki yang akan membawa pergi Ara, Mas''
''Kamu lebih egois lagi Randy, tidak memikirkan kebahagiaan anak. Sama saja kamu dengan Gatra.''
''Sama bagaimana Mas, Gatra kan anakmu, masak kau samakan denganku. Situ bapaknya.''
__ADS_1
Mereka tertawa bersama, hingga menarik perhatian pengunjung lainnya.