Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
112. Beneran Hamil


__ADS_3

Gatra membantu Ara berkemas, siang ini Ara sudah diperbolehkan pulang.


Rona bahagia terpancar dari keduanya. Bagaimana tidak? setelah diperiksa oleh dokter Winda kehamilan Ara ternyata baik-baik saja.


Rasa takut, cemas seketika menguap setelah dokter Winda memberikan hasil laporan dari serangkaian cek dan tes kehamilan yang lumayan panjang pada Ara. Dari tes urine, cek berat badan, tekanan darah sampai USG dilakukan oleh Ara yang tentu saja terus didampingi Gatra.


Yang paling membahagiakan adalah saat Ara melakukan USG, di monitor terlihat gambar hitam yang bergerak-gerak. Walau Ara maupun Gatra tidak paham modelan gambar yang tak ada warnanya itu, tapi mereka yakin disitulah calon buah cinta mereka berada.


''Janinnya sehat, usianya kurang lebih delapan Minggu atau dua bulan. Ukurannya 2,5 cm hampir mirip buah stroberi. Beberapa bagian tubuh mulai terbentuk mata, hidung, telinga dan denyut jantung juga telah ada. Plasentanya mulai menempel sempurna di dinding rahim.'' terang dokter Winda kala melakukan USG.


Dalam menerangkan kondisi Ara dan bakal buah hatinya dokter Winda sangat detail dan jelas bahkan Gatra yang tidak bertanya tentang boleh tidaknya menyentuh Ara juga dijelaskan. Sungguh penjelasan yang membuat Gatra keki dan mati gaya. Bagaimana tidak dokter Winda bilang hubungan suami istri boleh dilakukan asal jangan sampai Ara terkapar lagi di rumah sakit. Karena sudah ada kehidupan baru di rahim Ara maka kegiatan yang dilakukan harus hati-hati seminimal mungkin menimbulkan guncangan. Dan jangan terlalu sering.


Untungnya si Iwan sahabat yang mendadak lemes mulutnya ketika bersama Gatra tidak jadi menemani karena kedatangan pasien yang harus datang untuk kontrol padanya. Kalau tidak sudah habis dibuli si Gatra. Dari mulut si Iwan pulalah Farel dan Ardy tahu kalau Gatra sempat trauma untuk menyentuh istrinya karena insiden malam pertama. Farel dan Aldy jadi punya bahan candaan baru untuk menggoda Gatra.


''Mas. kata dokter Winda tadi Dedek sudah ada denyut jantungnya kok Ara belum ngerasa ya?'' tanya Ara yang hanya duduk di atas brangkar mengawasi Gatra yang sedang berkemas.


Gatra meletakkan tas isi pakaian Ara yang telah selesai dia isi dengan pakaian dan perlengkapan selama Ara dirawat Di sofa tunggu, lalu mendekat ke Ara menarik kursi kecil ke sisi brangkar mendudukkan pantatnya di kursi tersebut. Mengelus perut Ara yang masih rata.


''Rara sudah tidak sabar ya, untuk merasakan kehadirannya?'' tanya Gatra setelah mengecupi perut rata Ara. Ara mengangguk. ''Mas juga sama. Sudah tidak sabar melihat Dedek tumbuh.''


Sesaat pandangan Gatra tertuju pada dua gundukan di atas perut Ara. Perut Ara memang masih rata tapi dua gundukan itu telah berubah ukuran. Terlihat jelas karena t-sert yang Ara pakai pas body. Tangan Gatra berpindah pada salah satu gundukan menangkupnya, ternyata benar telah berubah ukuran sudah lebih besar dari pertama dia menyentuhnya.


''Ra. Mas mau lihat boleh?'' pinta Gatra dimana tangannya tak berhenti meremat gundukan lembek yang masih terhalang wadahnya.


Ara mengangguk pasrah karena rematan Gatra membawa sensasi aneh dalam dirinya. Membuat dadanya berdebar kencang, tubuhnya menggeliat tak tentu dan tanpa sadar keluar suara ******* saat Gatra memainkan dua benjolan yang juga mengalami perubahan warna dari merah jambu menjadi coklat gelap di atas gundukan.


Karena tidak ada penolakan dari Ara Gatra segera menaikkan t-sert dan membuka pengait wadah gundukan. Aksinya membuat Ara men desah hebat.


Arapun tak tinggal diam, tangannya ikut meremas rambut Gatra, membawa kepala Gatra mendekatkan ke dadanya.

__ADS_1


Aksi dusel mendusel harus terhenti karena suara ketukan pintu. Beruntungnya tadi Gatra mengunci pintunya kalau tidak si pengetuk pintu bisa saja langsung masuk dan Ahh... tidak. bisa malu tujuh kelokan dan tanjakan. Ya tanjakan kan Gatra lagi tinggi


Ara yang terkaget segera menghentakkan kepala Gatra. Hingga Gatra sedikit terjengkal. Segera Ara merapikan t-sert susah payah mengaitkan kembali pengait branya.


Siapa seh ganggu saja. Gak mungkin Bunda kan masih dua jaman lagi Bunda sampai.Gak tahu apa ada orang lagi enak-enak. Sabar ya, Tong.


''Mas. rambutnya disisir dulu.'' bisik Ara saat Gatra sudah bangkit dari duduk dan sedang berjalan hendak membuka pintu.


''Benar kata Ara Gatra harus bersisik karena rambut ikalnya sudah berantakan tak beraturan lagi akibat ulah sang istri. Bisa berabe kalau yang mengetuk pintu adalah para sahabat apalagi si Iwan, bisa jadi bahan olokan Gatra.


Pintu belum terbuka sempurna lelaki paruh baya segera menerobos masuk.


''Gatra tolong. Tolong Claritta, Tra. Bebaskan anak Om Tra, dia cuma khilaf. Jangan penjarakan Claritta Tra, Om mohon.'' tuntun lelaki paruh baya yang ternyata ayah Claritta. Seorang ayah yang rela memohon-mohon dan mengemis demi menolong putrinya.


Mbak Claritta dipenjara? kok bisa dan bapak ini minta tolong Mas Gatra buat membebaskan?


Nafas yang tersengal telah terhenti setelah meminum air dari Gatra. Emosinya juga sudah mereda.


Sama seperti Ara ternyata ayah dari Claritta juga keluar dari rumah sakit hari ini. Dan Claritta sudah berjanji untuk menjemput dan mengantar pulang. Jadwal keluar dari rumah sakit yang seharusnya pagi molor sampai sore karena menunggu kedatangan sang putri. Karena tak kunjung datang akhirnya menelpon asisten sang putri. Seperti tersambar guntur lemas seketika kabar yang diterima sang putri sedang ditahan di kantor polisi karena berusaha mencelakai orang.


Dari asisten sang putrilah ayah Claritta tahu kalau korban yang akan dicelakai Claritta adalah istri Gatra dan ternyata dirawat di rumah sakit yang sama.


''Tolong kasihanilah anak Om, Tra. Mohon maafkan dia.'' mohon ayah Claritta lagi.


''Apa yang dilakukan Claritta itu sudah keterlaluan Om. Dia mau mencelakai istri saya. Mana mungkin saya tinggal diam saat ada orang yang mau mencelakai perempuan kesayangan saya Om.''


Memang bukan Gatra yang melaporkan Claritta dan membuat Claritta merasakan jeruji besi penjara, tapi Farel, Aldy dan Pia. Tentu saja atas persetujuan dari Gatra.


''Tapi istrimu tidak kenapa-kenapa kan Tra?'' lelaki paruh baya itu menatap intens pada Ara. Memastikan kalau Ara baik-baik saja, sehingga hukuman untuk anaknya tidak berat.

__ADS_1


''Om tahu, Claritta memang sudah keterlaluan. Om mohon kemurahan hati kamu untuk mencabut tuntutan pada Claritta. Om janji akan berusaha bawa Claritta jauh pulang ke kampung. Hidup di sini dan berada dekat dengan ibunya hanya membawa pengaruh buruk pada Claritta.'' guratan kesedihan begitu nampak pada lelaki paruh baya itu.


''Mas.'' Ara memanggil Gatra untuk mendekat. Dan Gatra menurut untuk mendekat.


''Mas, apa yang nyerempet Ara Mbak Claritta?'' bisik Ara dan Gatra mengangguk tanda mengiyakan


''Kenapa harus dipenjarakan toh Ara sudah tidak apa-apa. Kasihan bapaknya sampai sesedih itu. Dicabut saja laporannya Mas. Ara gak papa kok. Justru Ara berterima kasih pada Mbak Claritta karena insiden yang ditimbulkannya memori Ara yang hilang sudah kembali. Dan satu lagi Ara jadi tahu kalau di dalam sini sudah ada Dedek.'' senyum Ara mengembang sembari mengelus perut ratanya.


''Mas tahu. Mas cuma mau kasih pelajaran saja pada Claritta. Dan bukan Mas yang buat laporan ke polisi tapi Farel Aldy dan sahabat kamu si Pia.''


Gatra kembali menghampiri ayah Claritta.


'' Maaf Om bukan saya yang membuat laporan atas Claritta tapi saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Biar nanti saya bicara pada mereka untuk mencabut laporannya.''


''Terima kasih Gatra, kamu memang lelaki baik. Om permisi sudah saatnya Om kembali ke rumah. Om doakan semoga rumah tanggamu samawa. Kamu lelaki baik pasti istrimu juga wanita yang baik pula.'' ucap tulus ayah Claritta.


''Sama-sama Om. Terima kasih doanya.''


Sepertinya ayah Claritta Gatra menghampiri Ara yang kembali duduk di atas brangkar dan kini mereka duduk bersisian, sembari menunggu Bunda yang akan menjemput pulang.


''Ra... mau lanjut yang tadi.'' tanya Gatra yang tangannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. sibuk mulai kampanye.


''Gak ah. Takut ada yang datang lagi.'' mau saja seh diajak kampanye cuma tempatnya saja yang tidak mendukung. Takut simpatisan lain menerobos masuk.


''Ya. Si Otong merana.''


Untuk mengusir kejenuhan Ara mengambil remote tv dan menyalakannya. Pertama dihidupkan yang pertama keluar adalah berita gosip artis ibukota. Dipindah pindah ternyata isi beritanya sama.


Ya memang benar Claritta anak saya saat ini sedang ada dalam tahanan kepolisian. Dan memang benar juga Claritta berusaha menyerempet perempuan seusia anak saya Alana. Tindakan Claritta ini semata-mata karena dia cemburu lelaki yang sangat dia cintai meninggalkannya demi perempuan muda cabe-cabean. Claritta tak akan senekat ini kalau saja Claritta tidak sedang hamil. Claritta cuma ingin Ayah untuk anaknya kembali dan bertanggung jawab. hiks hiks.

__ADS_1


__ADS_2