
Ara memberanikan diri turun ke lantai dua. Dia mencari Gatra untuk meminta kunci mobil, karena dia lupa membawa tas yang tadi di letakkan di kursi belakang. Konser keroncong di perutnya semakin ramai. Apalagi dari ruangan Gatra deretan pedagang kaki lima di seberang terlihat menggiurkan.
Beruntung Farel naik ke lantai tiga, bisa sekalian dibantuin cari Gatra.
''Bang Farel, Ara mau ketemu Mas Gatra dimana ya?'' Farel yang sedang mencari sesuatu menoleh ke Ara dan hanya tersenyum.
'' Yuk! Kok diam. katanya mau Mas Gatra.'' Farel menggoda Ara, karena dia hanya diam ketika Ara bertanya. Hingga Arapun juga diam mungkin Farel sedang fokus dengan apa yang dicari.
Sesampainya di ruang kerja Gatra yang di lantai dua '' Bro, dicariin bini lo nih?'' Bisik Farel ditelinga Gatra.
Gatra menoleh dan muncullah Ara dari balik punggung Farel.
''Kenapa Ra? bosan ya, nunggu Mas kerja. Maaf ya? Mas harus selesain ini dulu baru nanti kita pulang , hem.'' Gatra mengelus puncak kepala Ara. Hampir saja Gatra mendaratkan ciumannya jikalu saja Farel tidak menginterupsinya.
''Ara cuma mau minta kunci mobil kok.'' ucap Ara malu-malu.
Gatra mengerutkan keningnya. ''Tas Ara ketinggalan di jok belakang, Dompet Ara ada di tas.'' jelas Ara.
Gatra merogoh semua kantong celananya hanya ada dompet di sana. Gatra menyerahkan dompetnya pada Ara. Jelas Ara kaget menerima dompet Gatra.
''Ara butuh beli apa?'' tanya Gatra sesaat setelah Ara menerima dompetnya.
''Ara kan minta kunci mobil? bukan dompet Mas?'' protes Ara
''Kunci mobil ada di atas Rara. Mau jajan?'' Ara mengangguk ''Pakai uang di dompet itu saja, Mas pernah bilang apa? uang suami adalah uang.....''
''Uang istri, dan Mas Gatra suami Ara.'' samber Ara cepat.Gatra melengkungkan bibirnya.
''Ara beli jajan diseberang ya, Mas?''
''Heem hati-hati cepet balik kalau sudah selesai.'' pesan Gatra sebelum Ara melesat keluar.
''Waduh manis banget sih ini Pak Su baru kita.'' celetuk karyawan senior Gatra.
''Pak Su paan?'' tanya Farel kepo, karena Gatra yang tetap santai tak menanggapi celetukkan untuknya.
''Pak suami Bang Farel.'' sahut karyawan lainnya
''Oh.'' Farel ber Oh ria. ''Wah sebentar lagi aku juga akan dipanggil Pak suami dong?'' terang Farel dengan bangga.
__ADS_1
''Masih lama Bang. Baru juga mau lamaran, kayak Bang Gatra dong tanpa topan tanpa badai langsung dapat istri. mana masih kuncup lagi.'' sindir karyawan laki-laki lainnya
''Kembang kali kuncup.'' sambung karyawan lainnya.
''Sengek lo pada.''sewot Farel.
''Tapi kok ada yang kurang ya?'' ujar si karyawan senior
''Iya nih kok kita nggak makan enak ya?'' provokasi karyawan lainnya.
''Iya big bos lho yang.... ehem!'' seperti terkoneksi karyawan Gatra saling melemparkan sindiran pada Gatra. Hingga si empunya bergeming.
''Siapa yang mau makan enak?'' suara Gatra menghentikan kasak-kusuk yang ada. ''Tunggu tiga hari lagi.'' kata Gatra lagi sambil berlalu pergi meninggalkan semua.
''Tiga hari lagi kan hari lamaran gue, kamvret!'' ucap Farel tak terima.
''Emang!'' teriak Gatra karena langkahnya yang semakin menjauh. ''Jangan lupa elu undang mereka semua, pada pengen makan enak mereka.''
Bukan Gatra tak ingin mengadakan resepsi atau prosesi pernikahan lainnya, tentu saja dia mau. Pernikahannya yang tak biasa terlebih untuk pengantin perempuannya, Gatra tak ingin menambah beban untuk Raranya. Sudah bisa menerima pernikahannya yang mendadak merupakan satu langkah yang baik, mungkin nanti setelah semua kesedihan Ara berakhir dan sudah bisa memberikan seluruh hatinya untuk Gatra. Karena Raranya pasti juga punya pernikahan impian, apapun itu nanti sebisa mungkin Gatra akan mewujudkannya. Walau tidak untuk saat ini.
Sementara itu Ara yang keluar dari ruko lewat jalan yang tadi dia masuk bersama Gatra, tercegat langkahnya oleh satpam yang sedang menahan seorang nenek-nenek yang sepertinya ingin masuk ruko.
''Aih.... Tidak tahu turunnya, kenapa bidadari bisa ada di sini he.''
Satpam yang ditanyai takjub melihat Ara. ''Pak! kasihan neneknya, itu tangannya sakit.'' ucap Ara geram karena satpam itu mencengkeram kuat tangan nenek dan si nenek meronta minta dilepas.
Satpam yang dipanggil Pak oleh Ara segera melepaskan tangan si nenek.
''Eh Nona manis jangan panggil saya Pak. Saya masih muda, eh Nona kenapa bisa keluar dari sana? kapan Nona masuk?'' pertanyaan beruntun dari si satpam karena sewaktu Ara masuk bersama Gatra tadi dia lagi tidak berada di tempat.
''Ini Nona, Nenek bicara saya tidak tahu. Sepertinya Nenek mau masuk ke dalam.'' terang Si satpam lagi.
Jelas saja tidak nyambung si nenek ngomong memakai bahasa jawa dan si satpam ngomong dengan logat Indonesia timur.
''Cah ayu aku ki bur arep golek i putuku, jare kerjo ning kene. Tak enteni jare arep bali kok ra teko-teko, selah luweh aku ki.'' ( Nak cantik aku mau mencari cucuku katanya bekerja di sini. Tak tunggu katanya mau pulang kok gak datang-datang, sampai lapar aku.)
''Wayah e namine sinten Mbah?'' (siapa nama cucunya Mbah?)
''Juremi, cah ayu.''
__ADS_1
'' Pak....eh.... Bang sat_pam.''
''Markus Nona. Kakak Markus. Begitu.''
''Iya, Kakak Markus nenek ini mau mencari cucunya katanya bekerja di sini namanya Juremi. Bisa minta tolong dicarikan? kasihan neneknya kelaparan. Sedari pagi ditinggalkan cucunya belum makan.'' setelah Ara menjelaskan maksud dari kedatangan si nenek satpam yang bernama Markus itu jadi kasihan pada si nenek.
''A.... kasihan nenek. Kurang ajar sekali cucu nenek, tapi lama kalau saya harus bertanya ke dalam dulu. Bagaimana?" satpam Markus nampak ragu untuk meninggalkan lagi posnya. terakhir ditinggalkan sudah ada Ara yang kapan masuknya , tiba-tiba saja sudah keluar.
"Biar saya ajak nenek makan di seberang dulu, nanti kesini lagi." terang Ara dengan tersenyum manis.
"A...Ase--ba.'' Markus terpesona dengan senyum manis Ara.
''Hek!''
''A.. itu....Adek Senyum Bahaya.'' terang Markus malu-malu. Ara menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar gombalan Markus. '' Adek senyum bukan cuma balon hijau yang meletus, tapi lima balon meletus semua.''
Ara membawa nenek serta untuk makan, karena konser keroncong di perutnya sudah tidak kondusif.
Setelah hampir satu jam Ara kembali ke tempat Maskus bermarkas bersama nenek dengan perut kenyang. Tak lupa Ara juga membungkuskan makanan untuk Markus yang telah bersedia membantu si nenek untuk mencarikan cucunya.
''Maaf Nona, Kakak Markus tidak menemukan karyawan di sini yang bernama Juremi.'' sesal Markus yang tidak bisa membantu.
Raut kecewa di wajah cantik Ara begitu ketara. ''Terus gimana ini Kakak Markus, Neneknya.'' lirih Ara ke Maskus
''Ra....'' suara Gatra dari pintu masuk keluar kantor Gatra membuat tidak cuma Ara saja yang menoleh tapi juga Markus dan si nenek.
''Lah kuwi putuku.''
*
*
*
*
*
Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia dengan perjalanan cerita Ara. Mohon maaf bila membuat kalian selalu menunggu.
__ADS_1