Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
95.


__ADS_3

Gatra terbangun dari tidur pulasnya. Bukan karena waktu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh dan bukan pula karena cacing dalam perutnya yang demo minta segera dipekerjakan, meskipun tuntutan cacing-cacing tersebut benar adanya. Tapi lebih ke rasa panas yang menyengat kulitnya.


Terakhir setelah Gatra mengerjai Ara, Gatra tertidur dengan mendekap Ara yang sudah pasrah tak berdaya. Dari pertama Ara menyerahkan diri, bagai singa kelaparan Gatra terus memakan Ara. Tubuh polos keduanya berpelukan dibalik selimut tebal.


Seketika Gatra bangun disentuhnya semua bagian tubuh Ara ternyata panas semua. Gatra panik apalagi Ara mulai mengigau memanggil papanya.


Gatra menepuk halus pipi Ara. ''Rara sayang bangun Ra.''


''Pa....pa...'' Ara terus menyebut papanya. Gatra segera menutup tubuh polosnya dengan pakaian yang semalam digunakan , karena itu yang tersedia walau sudah terogok dilantai. Untuk Ara yang masih polosan Gatra menyambar asal t-shirt di lemarinya, gak mungkin Gatra kembali memakaikan lingerie yang dibagikan dadanya saja sudah robek dan tali spagetinya juga telah putus sebelah. Mengambil baju di kamar Ara tak terpikirkan oleh Gatra. Setelah memakaikan Ara baju Gatra segera membopong Ara. Pikirannya akan membawa Ara ke klinik atau rumah sakit terdekat.


Semua dilakukan dengan tergesa-gesa, pertanyaan satpam yang berpapasan di basemen parkiran pun diabaikan Gatra.


Tak sampai sepuluh menit Gatra telah sampai di klinik yang searah dengan sekolah Ara.. Walau hari sudah hampir tengah hari namun jalanan cukup lengan, mungkin karena hari Minggu. Gatra segera memarkirkan mobilnya di parkiran klinik. Dibopongnya Ara sampai depan lobby sudah ada perawat yang sigap menerima pasien datang.


Perawat meminta Gatra untuk meletakkan Ara ke atas brangkar yang didorongnya. Gatra meletakkan Ara dengan pelan ke atas brangkar. ''Tolong badannya panas sekali.'' hanya itu yang bisa Gatra ucapkan.


''Gatra!'' suara seorang dokter laki-laki yang mengawasi sedari Gatra datang menghampiri dan memanggilnya.


''Wan....Iwan. Tolong!'' suara Gatra yang tetap panik


Brangkar tetap didorong menuju IGD. Gatra dan dokter muda yang dipanggil Iwan mengikuti dari belakang.


''Iya emang itu tugasku, kenapa dia Tra?'' tanya Iwan yang ternyata dokter muda teman SMA Gatra dan Farel juga Aldi. Sebenarnya Iwan penasaran dengan perempuan muda yang dibawa Gatra.


''Badannya panas semua Wan, gak mau bangun dan ngigau terus.'' jawab Gatra yang membuat Iwan semakin penasaran ada hubungan apa dia dengan gadis muda yang itu.


Ditengah jalan ada dokter Winda menghampiri.'' Kenapa pasiennya?'' tanya dokter Winda yang merupakan dokter obgyn dan dokter Winda ikut masuk ke ruang IGD karena memang hari Minggu dan dokter jaga di klinik tersebut cuma dokter Iwan dan dokter Winda.


Gatra memaksa ikut masuk walau telah dilarang oleh perawat yang tadi mendorong brangkar Ara, hingga akhirnya Iwan turun tangan dan memaksa Gatra untuk tenang menunggu di luar karena bila dia ikut masuk hanya akan mengganggu proses pemeriksaan.

__ADS_1


Didalam ruang IGD


Perawat telah memasang infus pada Ara.


Dokter Winda memeriksa Ara, keningnya berkerut. Tak lama dokter Iwan masuk.


''Dok.'' tampak ragu dokter Winda memanggil dokter Iwan.


''Kenapa Dok?'' dokter Iwan mendekat.


''Dokter kenal dengan orang yang membawa gadis ini? ''


''Dia sahabat saya dari SMA. Ada apa ya?'' sepertinya prasangka dari dokter Winda sama seperti apa yang dipikirkan dokter Iwan.


''Ada hubungan apa ya, dengan gadis ini?'' dokter Winda menyentuh kening Ara yang sudah mulai berkurang setelah disuntikkan penurun panas dan anti tetanus.


''Saya kurang tahu karena sudah lama saya tidak berjumpa dengannya.'' jelas dokter Iwan. ''apa analisa dokter--'' suara dokter Iwan tercekat, satu sisi dia tahu apa yang terjadi pada gadis yang masih tergolek tak sadarkan diri tapi disisi lain dia tak percaya pada Gatra teman SMA nya yang dulu terkenal paling alim diantara mereka berempat.


''Saya pastikan gadis ini masih usia sekolah, dan panas tubuhnya karena terinfeksi bakteri clostridium tetani. Bakteri penyebab tetanus pada ******, dan sepertinya gadis ini baru saja melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali. Seandainya gadis ini istri dari teman dokter itu tentu dia sudah menerima suntik ** (tetanus toksin) yang dilakukan minimal dua Minggu sebelum menikah. Tapi dia kelihatan masih sangat muda. Apa teman dokter----''


Iwan menyugar kasar rambutnya. ''Gak mungkin Gatra berperilaku bejat, sampai menodai gadis remaja seperti ini. Dulu dia selalu menolak gadis-gadis cantik yang mendekatinya. Terakhir yang saya tahu dia sedang ada hubungan dengan seorang artis ternama Claritta, dan sepertinya hubungan mereka serius.''


''Jangankan yang lama tidak bertemu yang baru kemaren saja berpisah hari ini sudah berubah.'' sinis dokter Winda.


''Saya keluar dulu dok.'' pamit dokter Iwan menghindari perdebatan lebih lanjut dengan dokter Winda.


''Dok, Saya akan buatkan laporan visum gadis ini, tak perduli laki-laki yang di luar itu teman dokter.'' kata dokter Winda sebelum dokter Iwan keluar. Sebagai perempuan dia merasa prihatin dengan apa yang menimpa Ara.


Gatra yang dari tadi mondar-mandir bagai setrikaan segera menghampiri Iwan yang yang telah keluar dari ruang IGD.

__ADS_1


''Wan, bagaimana... sakit apa Raraku, Wan?'' Gatra mengguncang kedua pundak Iwan.


Melihat tampilan Gatra yang berantakan dan kecemasan yang dirasakan membuat Iwan menyipitkan mata benarkah praduganya. Pasti Gatra pelaku dibalik sakit demam pasiennya. Teganya teman yang dulu bersentuhan dengan perempuan pun tidak mau, tapi ini melepaskan nafsunya pada gadis belia.


''Apa yang kamu lakukan pada gadis itu Tra?'' satu pertanyaan lolos dari mulut Iwan mengabaikan pertanyaan Gatra.


''Wan, bagaimana keadaan Rara? gak ada sakit yang serius kan? " Gatra terus mendesak Iwan untuk mengetahui keadaan Ara.


"Panasnya sudah turun tapi belum sadar, sebentar lagi akan dipindah ke ruang perawatan. Tra, gadis itu kecapekan karena.... " Iwan tak melanjutkan kata-katanya, walau penasaran tapi dia prihatin melihat Gatra yang seperti orang frustasi.


''KECAPEKAN?'' kata yang yang diberikan Gatra.


''Iya, kecapekan. Elo yang membuatnya seperti itu Tra?''


Derap langkah terhenti menghampiri Gatra dan Iwan. Langkah Bunda yang mengikuti Gatra, tepatnya mengikuti mobil Gatra.


Bunda yang sudah mempunyai perasaan tak enak sejak Gatra yang menolak untuk makan malam bersama, pagi-pagi benar sudah meluncur menuju apartemen Gatra. Belum sampai masuk area apartemen mobil bunda berpapasan dengan mobil Gatra. Sehingga bunda putar balik dan mengikuti mobil Gatra.


''Siapa yang kecapekan?'' tanya bunda yang membuat Gatra dan Iwan menoleh bersamaan.


''Bunda!'' kaget Gatra


''Bunda.'' sapa Iwan


''Iwan. ada apa dengan Gatra? kenapa dia seperti ini?'' tanya bunda ke Iwan. '' Dimana Ara tra?'' tanya bunda ke Gatra


Bunda dibuat cemas dengan kediaman Gatra.


''Siapa Ara?'' tanya Iwan yang tidak tahu siapa yang yang tanyakan bunda.

__ADS_1


''Istri gue, gadis yang ada di dalam.'' lirih Gatra


Sejenak Iwan tercengang tak menyangka Gatra menikahi gadis belia. Seandainya tidak ada bunda pasti Iwan tak akan percaya kata-kata Gatra tapi ini ada bunda berarti benar bahwa gadis muda yang kini jadi pasiennya adalah benar istri dari sahabatnya dikala SMA. Semakin banyak pertanyaan menumpuk di otaknya.


__ADS_2