Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
80. Safea Miranti


__ADS_3

Jam istirahat pertama telah berbunyi, Pia mengajak Ara untuk segera ke kantin karena dia sudah sangat lapar. Ara menolaknya dan mengajak Pia untuk makan bersama bekal yang dibawa.


''Maaf Pia, tapi Ara bawa bekal dari rumah. Cukup untuk dimakan sama kita berdua, Pia mau? ini Ara yang masak lho!'' Ara mengeluarkan bekal yang dibawa dan memamerkan isinya pada Pia.


''Kelihatannya enak, mau donk! tapi seriuasan ini elu yang masak?'' Pia tak percaya dengan hasil masakan Ara.


Ara yang sudah biasa dengan ketidakpercayaan orang kalau dia bisa masak tak begitu menanggapi ucapan Pia.


''Jadi gimana? Pia mau gak? makan bekal Ara?'' Ara membuka sempurna bekalnya dan menyiapkan dua sendok yang memang sudah disiapkan dari rumah, tak lupa pula mengeluarkan botol air minum yang selalu Ara bawa. Botol minum yang sudah pudar warnanya tapi masih terawat dan layak pakai, selalu Ara bawa kalau ke sekolah. Ara begitu menyayangi botol minumnya itu, kemanapun ia pindah sekolah botol itu yang selalu dia bawa.


''Maulah ada yang enak gini masak ditolak. Tapi jangan di sini deh makannya, gue tahu tempat untuk menikmati makanan special.'' Pia mengemasi kembali bekal Ara dan menggandeng Ara keluar kelas.


Pia membawa Ara ke rooftop sekolah. Tempat yang selalu Pia datangi saat istirahat. Tempat yang selalu nyaman untuk dia sembunyi dikala jam istirahat daripada di kantin atau area sekolah lainnya, untuk menghindar dari bulian teman-temannya.


''Eh, gak papa ini kita naik ke sini Pia?'' Ara ragu dan sedikit takut karena atap sekolah yang sepi.


''Selama gue sering ke sini sih aman-aman saja. Kadang-kadang cuma ada Mang Soleh yang datang untuk ngambil sesuatu noh di pondokannya.'' Mang Soleh penjaga sekolah yang memang tinggal di ruangan kecil di rooftop sekolah. Kursi panjang yang ada di depan pondokan Mang Solehlah yang jadi tempat Ara dan Pia mengabiskan bekal yang dibawa.


''Masakan elu beneran top markotop, mantab jiwa. Lain kali mau donk dibawain bekal lagi.'' Seperti orang kelaparan Pia menghabiskan bekal Ara. Siempunya justru ogah-ogahan untuk memakannya, Hingga semua tandas masuk ke perut Pia.


''Ra..... Elu lagi ada masalah? dari tadi pagi mood lu nggak banget. Kalau elu butuh teman curhat gue bisa kok jadi tempat berkeluh kesah.


Ara menatap dalam teman barunya itu.


Gak mungkin Ara cerita ke Pia, belum saatnya Pia tahu. Maaf Pia biar sementara ini Ara simpan sendiri masalah Ara.


'' Lah bocah!!! bengong lagi dah. Elu ada masalah dengan orang tua?''


''Ara yatim piatu Pia.'' lirih Ara yang sambil mengemasi kotak bekas bekal.


''Maaf Ra, gue gak tahu... sumpah sorry banget Ra. itukah sebabnya elu tinggal dengan Om lu?'' dan dianggukan oleh Ara. Pia meraih kedua tangan Ara untuk digenggam niatnya untuk menguatkan Ara. '' Eh.... tunggu! Elu pakai cincin kawin? ini cincin apa Ra? Elu sudah kawin? eh... maksud gue Elu sudah tunangan?'' Pia membolak-balikkan jari Ara yang telah dilingkari tanda ikatan suci oleh Gatra.


Ara berusaha menarik tangannya tapi ditahan oleh Pia. ''Cincin apaan Ra? yang gue tahu cincin modelan kayak gini kalau gak cincin kawin ya cincin tunangan.''


''TUNANGAN....ya cincin tunangan.'' jawab cepat Ara.


''Jadi elu sudah punya tunangan? Di mana tunangan elu sekarang? apa dia yang buat elu bad mood dari tadi sampai tak selera makan.'' Ara menganggukan kepalanya tanda iya atas apa yang disimpulkan oleh teman barunya itu, agar jiwa keponya tidak meronta-ronta.


''Kita hangout saja yuk? kebetulan nanti jam terakhir kosong. Guru- guru dan tata usaha pada mau takziah ke salah satu mantan kepala sekolah. Kita kembalikan mood elu seperti sedia kala. Kita ngemall ya? elu janji kan mau pergi bareng gue?''


''Boleh, tapi ijin Mas Gatra dulu boleh gak Ara jalan-jalan.'' Ara mengambil ponsel dari sakunya dan mengetikkan pesan minta ijin jalan-jalan ke Gatra.


📨 to Mas Gatra


Mas Ara mau minta ijin boleh ya? boleh dong. Nanti pulang sekolah Ara mau ngemall bareng teman Ara, Safea Miranti itu lho! yang Artis Ftv. Soalnya nanti dijam terakhir kosong. Guru-guru pada mau takziah.

__ADS_1


Pesan Ara masuk tapi tak dibaca. mungkin sibuk yang penting Ara sudah ijin.


'' Jadi elu hanya tinggal berdua saja dengan Om lu?'' Ara mengangguk jangan sampai Pia tanya-tanya lagi.


*****


Di sebuah mall yang lumayan ramai kini Ara dan Pia berada. Toko pertama yang dimasuki adalah Kpop store. Berbagai mechandise ala-ala Kpop dan Kdrama lengkap ada di sana.


''Ratih harus tahu tempat ini. Pasti histeris dia kalau tahu Ara ada di sini.'' guman Ara


'' Ratih, siapa?'' Pia yang mendengar gumanan Ara membalikkan badan.


''Sahabat Ara di Semarang. Dia suka banget dengan apapun yang berbau Korea.'' jelas Ara yang membuat Pia sedikit cemburu.


Ternyata elu mempunyai kehidupan yang sempurna sebagai remaja. Dan elu benar-benar menikmati masa-masa remaja elu Ra. Hidup lu lurus dan elu juga punya sahabat.


'' Sini gue fotoin dan kirim ke sahabat lu biar dia tahu elu ada di sini.'' Ara menuruti saran Pia untuk berfoto dan dikirimkan ke Ratih.


Drettt drett


Ponsel Pia bunyi saat mengangkat panggilan Pia sengaja menjauh dari Ara. Mendekat ke Ara lagi ketika sudah selesai.


''Ra, sorry banget gue ada panggilan casting di hotel Melati yang ada di depan mall ini. Gimana dong hangout kita? Atau lu ngikut saja gak sampai sejam kok, lu bisa tunggu di lobby. Ntar kita lanjut lagi jalan-jalannya.''


''Cuma sejam kan? gak lebih? Baiklah Ara anterin Pia masih siang ini." Ara mengikuti langkah Pia keluar mall.


''Iya gak papa.''


Sesampainya di Hotel Melati Pia menyuruh Ara untuk menunggu di mini caffe yang ada di lobby hotel.Sedangkan dia langsung menuju kamar tempat janjian dengan orang yang tadi menelponnya.


Tok tok tok


Pintu kamar segera terbuka dan Pia segera masuk. Dengan memasang muka cemberut Pia menggerutu manja pada pria tua yang membukakan pintu.


''Kenapa harus sekarang seh Om calling Pia. Pia kan lagi jalan sama teman Pia.'' mendudukan kasar pantatnya pada ranjang king size.


Lelaki tua dengan perut buncit dan kepala botak yang dipanggil OM oleh Pia tersenyum gemas melihat Pia uring-uringan.


''Emang Pia sudah punya teman?''tanya lembut si om.


''Punyalah.'' sewot Pia.


''Om tadi ada meeting di mall depan, pas mau keluar lihat Pia. Om jadi kangen, makanya Om telepon.


''Oh jadi cuma kangen doang Om telepon Pia? kemaren-kemaren pas Pianya yang kangen Om kemana?'' Pia tahu Om di yang berdiri di depannya lagi hornie. Sengaja Pia memainkan tali bathdrobe yang dipakai si Om yang ternyata baru selesai mandi ketika Pia datang.

__ADS_1


''Kenapa seh cuma Om yang bisa telepon ke Pia? sedangkan Pia nggak bisa kalau telepon Om?'' masih saja Pia memainkan tali bathdrobe sesekali tidak sengaja yang disengaja menyenggol tonggak yang berdiri kokoh, bahkan hampir menyembul dari balik bathdrobe. Tatapan si Om sudah penuh nafsu ke Pia.


Posisi Pia yang duduk dan Om yang berdiri membuat muka Pia hampir sejajar dengan tonggak si Om.


''Ini kangen Pi.'' tangan kanan si Om menyibakkan bathdrobe hingga si tonggak kelihatan nyata tak lagi sembunyi malu dan tangan kiri si Om meraih tangan Pia untuk menyentuh tonggak.


''Ihhhh Om ini tonggaknya nakal.'' kini kedua tangan Pia sudah berpindah memainkan tonggak si Om.


''Iyaaaa Pi dia mau nakal sama kamu.'' si Om mulai keenakan dengan sentuhan Pia.


''Om short time aja ya? gak enak temen Pia nungguin di lobby.''


''Hemm''


''Jadi boleh dong nanti Pia langsung pergi gak usah nungguin Om bangun dan nemani Om mandi?''


''Cuma untuk kali ini Om kasih, tapi lain kali NO.''


''Makasih Om. Makin sayang deh.'' Pia mulai menyibak akar tonggak dan menjilat sampai mengulum si tonggak. Hingga siempunya tonggak belingsatan.


''Uhhh....ahhh....Pi.... au... Sentuhanmu me...mang mantap saya...ng.'' tangan si Om menekan belakang kepala Pia Agar si tonggak bisa lebih dalam masuk ke mulut Pia.


Hingga si Om mendorong Pia untuk berbaring dam mulai membuka kancing seragam Pia.


''Tunggu Om, Pia buka sendiri saja. Takut lecek bisa curiga nanti teman Pia. Lagi pula Pia juga gak bawa baju ganti.'' Pia membuka jaket yang memang sudah terbuka dan seragamnya. Hingga tinggal penutup jeruk dan lahan yang akan digunakan si tonggak.


Penutup jeruk yang berwarna merah berenda begitu menggoda apalagi dengan jeruk yang ada di dalamnya bagai pelepas dahaga di siang yang panas. Tak sabar Si Om menarik penutup dan menghirap sari jeruk.


''Om Suka Pi. Walau kecil tapi kenyal, padat dan menggairahkan.'' kata si Om ditengah hisapannya.


''Auhhhh...Ommmm...'' lengkuhan Pia membuat Si Om semakin On. Tak sabar merobek penutup lahan, dan menancapkan tonggaknya.


''Ohhh Piiiii ahhhh......'' Baru berapa cangkulan saja tonggak si Om sudah letoy dan siempunya terkapar lemas menindih Pia.


''Selalu saja dia puas sendiri, baru juga nyangkul sudah sudah nyungsep. Percuma gede dan panjang, tapi sudah gak maksimal fungsinya. Untung saja duwitnya sangat maksimal. suara batin Pia. ''Om geser dong Pia harus keluar sekarang , kasihan teman Pia nungguin.'' Si Om menggeser tubuhnya hingga Pia bisa bangun dan memakai kembali pakaiannya.


Setelah rapi Pia menghampiri si Om yang masih lemas. '' Om liburan Pia nanti pengen keliling Eropa ya?'' bisik Pia di telinga si Om. Hanya kerjapan mata yang Pia dapat sebagai tanda setuju. ''Wih makasih Om. Muah. ''kecup Pia di botak si Om. '' By Om.''


******


Sementara itu Ara di lobby mendapat telepon dari Gatra.


📞...Ara di Hotel Melati nungguin Pia casting.


📞.....

__ADS_1


📞... Iya Ara keluar sekarang. Ara belum pesen apa- apa kok. Iya.


Ara berjalan keluar hotel dan mencari halte bus terdekat seperti yang dimaksud Gatra.


__ADS_2