Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
56.


__ADS_3

Ayah dan Gatra sampai di Semarang tengah hari. Kedatangan mereka dijemput oleh Papa Randy.


Di pintu kedatangan domestik bandara Ahmad Yani, Papa Randy melambaikan tangan melihat ada Ayah Sukma berjalan mendekat.


Ada Gatra berjalan di samping Ayahnya.


''Mas.'' Papa Randy bersalaman dan saling peluk dengan Ayah Sukma, bagai pasangan yang lama tak jumpa. Padahal baru seminggu yang lalu mereka bertemu. Setelah melepaskan pelukannya, Papa Randy mengalihkan pandangannya ke sosok pria dewasa yang mematung di samping sahabatnya.


''Ini?'' tunjuk Papa Randy dengan dagunya, pada Ayah Sukma. Karena di pesan yang dikirimkan, Ayah Sukma akan datang bersama istrinya. Bukan lelaki gagah nan tampan rupawan.


''Gatra, calon mantumu, mau siapa lagi.'' jelas Ayah Sukma santai kayak di pantai. Yang jelas membuat Gatra mendelik kaget.


What


Gatra yang jadi omongan dua pria paruh baya, mengulurkan tangannya ke Papa Randy.'' Gatra, Om.''


Papa Randy makin kagum saja pada sosok Gatra. Laki-laki yang dulu pernah Dia gadang-gadang akan menjadi menantunya. Terakhir melihat Gatra saat pemakaman Arti dan Mamanya.


Ingatan Gatra kembali ke masa Arti pergi untuk selamanya. Andai dia mau bertemu dengan Arti setidaknya, Arti akan tertahan dan akan menaiki kereta yang lain, bukan kereta naas yang membawanya pulang ke Sang Khaliq. Pertemuan yang pertama sekaligus yang terakhir antara Gatra dan Arti.


Gatra yang tengah menyesali karena telat membaca pesan dari Arti, yang berkali-kali meminta untuk bertemu. Sampai Arti pulang kembali ke kotanya, tanpa bertemu muka dengan Gatra. Menyandar lemas di atas kasur, Gatra nampak frustasi dengan pesan terakhir Arti. Tiba-tiba Bunda masuk tanpa permisi, dan memberitahukan bahwa mereka harus ke Magelang, saat ini juga. Ayah sedang mengusahakan tiket untuk mereka bertiga. Karena Arti dan Mamanya meninggal dalam perjalanan baliknya. Kaget dan semakin lemas saja tubuh Gatra mendengar kabar tersebut.


Gatra tersadar ketika ada sentuhan di tanganya.


'' Kamu makin ganteng saja, Gatra. Pasti banyak ya, perempuan yang ngantri padamu?'' menerima uluran tangan Gatra.


''Lah dia itu Jones,'' sambar Ayah Sukma.


Lah, mulai lupa nama anaknya, Gatra Yah, bukan jones. Tega bener ngatain anaknya jones, jombol ngenes. Yang ada JOBA, jomblo bahagia. Ayahnya siapa seh, karungin saja apa, kirim balik ke nyonya.


Gatra menatap sinis Ayahnya. Yang ditatap mah biasa saja, pura-pura saja tadi ngomong apa.


Dari dulu Papa Randy memang sudah tahu kalau, Ayah Sukma itu orangnya suka usil pada siapa saja orang-orang terdekatnya. Tidak disangka anak sendiri juga jadi korban keusilannya. Semakin dilihat kok malah Gatra yang lebih dewasa dalam menghadapi Ayahnya yang terkadang malah kekanak- kanakan.

__ADS_1


''Sepertinya sudah waktunya jam makan siang, pasti lapar kan? bagaimana? mau makan dulu?'' Papa Randy mencoba memberi penawaran. Selain juga dirinya sendiri juga menahan lapar.


''Siang-siang begini enaknya cari yang seger-seger, enak Ran. Tapi ya...aku nurut saja, kemana Kamu akan Membawa.'' seger- seger tapi mengenyangkan, apa coba?


''Siap! Mas.''


Selesai makan siang, Ayah minta diantar lebih dulu ke hotel tempat Dia akan menginap. Capek katanya, dan ingin beristirahat dulu sebentar, sebelum meninjau perkembangan pembangunan hotel yang sedang dikerjakan perusahaannya.


Papa Randy tadinya sempat menawarkan mereka untuk menginap di rumahnya, tapi ditolak oleh Ayah Sukma. Tidak etis rasanya kalau menginap di tempat Papa Randy, karena tujuan mereka ke Semarang adalah bisnis. Akan lain halnya kalau untuk liburan.


Ayah dan Gatra menginap di hotel yang berbeda, walau kedua hotel tersebut sama-sama terletak di pusat kota.


Ayah menginap di jaringan hotel yang memang sedang bekerja sama dengannya. Sedangkan Gatra menginap di hotel yang disediakan oleh dinas pariwisata Jateng.


Karena memang kedatangan Gatra terkait dengan kerja sama yang akan terjalin dalam mempromosikan pariwisata di Jawa Tengah.


Dikira Papa Randy Gatra ikut datang ke Semarang karena mau membantu prkerjaan Ayahnya, ternyata salah.


Ada kecanggungan setelah Ayah turun. Kini tinggal Papa Randy sebagai sopir dan Gatra yang pindah ke kursi depan, tempat Ayahnya tadi. Semula Gatra duduk di kursi belakang. menurutnya tidak sopan kalau Dia tetap duduk di kursi belakang.


''Ini, mau ada kerja sama dengan pemerintah Jawa Tengah.'' agak gagap Gatra menjawab.


''Usahamu di bidang periklanan, apa hubungannya dengan pemerintah Jawa Tengah?'' masih belum ngeh dengan jenis pekerjaan Gatra.


''Pemerintah Jateng lewat dinas pariwisata dan Pak Gubernur mengadakan lelang terbuka untuk mengiklankan pariwisata Jateng, ke semua pelaku periklanan untuk mengikutinya. Kebetulan perusahaan Gatra yang memenangkannya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan promosi pariwisata Jateng akan ditangani perusahaan Gatra, Om.'' terang Gatra berharap penjelasannya dapat dimengerti.


'' Bukannya ini jenis pekerjaan yang dikerjakan secara rombongan satu team ya?'' tanya Papa Randy karena melihat Gatra justru datang bersama Ayahnya yang jelas-jelas tujuannya berbeda. Tidak ada satupun nampak yeman Gatra.


'' Iya, nanti kalau gak besok baru teman-teman Gatra kemari. Hari ini Gatra konfirmasi dulu dengan instansi terkait, baru nanti team Gatra menyiapkan materinya.''


''Jenis pekerjaan yang membutuhkan kreativitas tinggi.'' guman Papa Randy lirih yang masih bisa didengar oleh Gatra. Entahlah ada rasa bangga mendengar gumanan Papa Randy, walau lirih tapi seperti kata pujian untuknya.


Papa Randy membelokkan mobilnya ke hotel tempat Gatra akan menginap.

__ADS_1


Sampai di hotel tempat Gatra menginap, Papa Randy ikut turun. Menemani Gatra sampai lobby hotel dan check in. Semua terlihat mudah, karena memang nama Gatra dan teman-temanya nanti sudah terdaftar menjadi tamu VIP hotel tersebut.


''Gatra ada waktu sebentar, Om ada yang mau dibicarakan. Sebentar, saja tidak lebih dari satu jam. Sambil nunggu Ara pulang dari sekolah, kebetulan sekolah Ara dekat sini, gak sampai lima menit jalan kaki, biar nanti dia samperin ke sini.''


'' Boleh, Om. Biar Gatra taruh koper ke kamar dulu, atau...''


.


''Gatra ke kamar dulu biar Om tunggu di lobby sekalian mau chat Ara biar pulang sekolah langsung ke sini. '' jawab cepat Papa Randy.


Tak sampai sepuluh menit Gatra sudah sampai kembali di lobby hotel.Kemudian duduk bersebrangan meja. Menikmati secangkir kopi.


Setelah sekian menit Papa Randy menyampaikan keinginannya pada Gatra.


''Gatra , bisakah Om mengandalkan Gatra?'' tanya Papa Randy pada Gatra, dan Gatra sendiri tidak tahu maksud dari pertanyaan tersebut.


''Maksud Om, apa ya?''


''Bisakah Om, mengandalkan Gatra untuk menjaga Ara anak Om satu-satunya. Karena selain Om, Ara sudah tidak punya siapa-siapa lagi.''


Aku menjaga anaknya, menjaga yang kek mana, haduh Om jangan buat Gatra pusiang.


''Gatra belum bisa mengarti, maksudnya, Om.''


''Tolong menikahlah dengan Ara.''


*


*


*


*

__ADS_1


Ada yang nungguinkah?


Mohon like dan koment ya?


__ADS_2