Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
71. Nafkah Dari Mas Untuk Ara


__ADS_3

Bersama dengan guru yang menjadi wali kelasnya Ara memasuki ruang kelas yang terdengar riuh ramai dari luar. Sebagai petanda kalau guru yang akan mengajar belum masuk. Bu sati yang kebetulan juga akan mengajar di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.


Bu sati mempersilahkan Ara untuk memperkenalkan diri pada teman-teman barunya. setelah perkenalan Ara dipersilahkan duduk di satu-satunya bangku kosong yang ada di belakang. Berbeda dengan sekolah lamanya yang bisa satu bangku berdua, di sekolah yang baru siswanya duduk sendiri-sendiri.


Bu sati yang mengampu mapel bahasa Indonesia segera memulai mengajarnya. Karena Ara siswa baru, Bu Sati meminta Safea yang duduknya paling dekat dengan Ara untuk merapatkan bangkunya ke Ara untuk berbagi buku pelajaran.


''Gue Safea Miranti, elo panggil saja gue Pia.'' gadis yang minta dipanggil Pia memperkenalkan diri pada Ara.


''Iya, Pia. Terima kasih bantuannya.'' Ara senang kesan pertama perkenalan di sekolah baru tak seperti yang dia pikirkan tadi pagi.


Pelajaran Bu Sati berakhir, semua siswa juga sudah tahu kalau hari ini mereka akan pulang awal. Belajar mengajar hanya berlaku pada jam pertama dan kedua saja, setelah itu mereka dipulangkan. Dan di sini cuma Ara saja yang tidak tahu.


''Ra... yang tadi ngantar Om lo? gue lihat tadi di depan.'' pertanyaan Pia teman barunya membuat Ara gelageban. Gak mungkin juga dia ngaku itu suamiku.


''Eh...I.ya.'' Ara mengiyakan saja dugaan Pia.


''Lo tinggal di mana, Ra? apa ikut gue yuk! kita ngemol. Cuci -cuci mata gitu. Sekalian tanda perkenalan kita.''


''Gak jauh kok dari sini, tapi aku harus buru-buru pulang ada yang harus aku lakukan.'' Ara jadi teringat kalau dia harus belanja barang kebutuhan untuknya tinggal di apartemen.


''Berarti lain kali bisa dong kita jalan bareng.'' tawar Pia


''Bisa.''


Ara berniat untuk jalan kaki menuju apartemen. Dia kira tadi Gatra sudah meninggalkannya, dan dia gak mau mengganggu waktu bekerja Gatra. Lebih baik menunggu Gatra di apartemen saja.


Ara melewati ruang kepala sekolah yang pertama dia singgahi tadi pagi. Ternyata Gatra masih ada di sana, menantikannya, menyunggingkan seyuman untuknya. Ara tersenyum bahagia melangkah menghampiri Gatra.


Kalau tidak sedang di lingkungan sekolah dan nasihat dari Aldi sahabatnya ingin rasanya menyambut langkah Ara yang mendekat padanya dengan pelukan.


''Tra ini masih di sekolah, jangan lupa!'' Gatra menoleh sewot pada lelaki yang sayangnya sudah menjadi sahabatnya sejak SMA.


''Mas Gatra tungguin Ara?''

__ADS_1


''Iya.''


''Kan lama Mas, Emang Mas Gatra gak kerja.'' senang karena ditungguin tapi sungkan lagi-lagi Gatra meninggalkan pekerjaannya demi dirinya.


''Gak terasa Ra, kan ada guru kamu ini,'' tunjuk Gatra pada lelaki disebelahnya ''Mas Gatra diajakin gibah unfaedah.'' seperti anak kecil Gatra mengadu pada Ara.


''Ck ck ck... '' gemes rasanya Aldi pada tingkah absur sahabatnya. Gini nih kalau bujang lapuk jatuh cinta.


Gatra memarkirkan mobilnya di halaman salah satu bank swasta terbesar di negri ini.


''Katanya mau belanja, kok ke Bank? '' tanya Ara karena Gatra hanya diam saja, hanya ajakan 'ayuk turun ikut Mas Gatra sebentar.'


Ara mengekori Gatra masuk sampai ke ruang costumer service. Seorang wanita cantik menyambut mereka dan mempersilahkan duduk. Ada keterkejutan dari wanita cantik itu kenapa Gatra datangnya denga anak SMA. Gatra menarik kursi dan meminta Ara untuk duduk dan Gatra duduk disebelahnya. Ara yang masih bingung kenapa diajak ke bank memilih untuk diam dan menurut ketika disuruh Gatra untuk duduk disebelahnya.


''Kenalkan ini istriku, Mutiara Dinanti.''Gatra memperkenalka Ara sebagai istrinya, tanpa sungkan.


Shella mengulurkan tangannya pada Ara memperkenalkan dirinya.


''Shella.''


''Ara.''


Wanita cantik bertagname Shella itu mulai pembicaraannya. Dari gelagatnya sepertinya mereka sudah saling kenal lama. Dia membolak-balik setumpuk berkas didepannya, sesekali meminta Gatra untuk tanda tangan.


Ara berpikir Mas Gatranya itu sedang ada keperluaan pekerjaan di bank ini jadi mampir sebentar, sebelum belanja.


''Mutiara Dinanti, silahkan Adek tanda tangan juga di sini, di sini dan di sini.'' kata wanita bertagname Shella itu dengan ramah. Ara terkejut karena namanya disebutkan dan juga disuruh untuk tanda tangan, bahkan ditunjukkan di mana saja yang harus ditanda tangani.


Ara menoleh pada Gatra, seolah bertanya dan kenapa dia harus tanda tangan untuk apa? bukankah ini urusan pekerjaan Gatra


''Tanda tangani saja nanti Mas jelaskan.'' bujuk Gatra


Ara kembali menatap ke Shella yang selalu tersenyum manis padanya dari semenjak dia masuk. Tentu saja harus selalu tersenyum manis pada setiap nasabahnya, karena itu memang bagian dari pekerjaannya.

__ADS_1


Baru setelah Ara tanda tangan Shella menyerahkan dua buku tabungan dan satu kartu debit. Ara membuka dua buku tabungan itu semua atas nama dirinya.


''Barang kali ada yang mau Mas Gatra dan adek Ara bicarakan, saya permisi sebentar.'' Shella yang mengerti kondisi nasabahnya sengaja meminjamkan ruangannya pada Gatra untuk memberikan penjelasan pada Ara.


Ternyata Mas Gatra seleranya yang masih pucuk. Belia dan bening banget.


Shella, tepatnya bank tempat dia bekerja, yang menaungi perusahaan Gatra. Dan Shella yang mewakili segala urusan dengan perusahaan Gatra.


Sebelumnya Shella sudah diberitahu Farel tentang kedatangan Gatra beserta istrinya. Belum reda kagetnya dengan berita Gatra yang menikah tiba-tiba tanpa ada undangan, ya bagaimanapun dia sudah mengenal lama. Ditambah istri Gatra masih berseragam SMA.


Setelah Shella pergi Gatra menghadapkan kursi yang dia duduki untuk menghadap Ara, meraih kedua tangan Ara menangkupkan ke dadanya.


Gatra menunjuk kartu debit yang ada di meja dengan kedua matanya. ''Kartu debit itu buat Ara bawa, setiap bulannya secara otomatis akan terisi. Dan itu bisa Ara gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan Ara.''


''Tapi Ara sudah punya dari Papa dan masih bisa Ara gunakan.'' Ara memotong omongan Gatra. Gatra menggelengkan kepalanya, ditatapnya lembut wajah cantik yang meneduhkan hatinya itu.


''Ini adalah wujud nafkah dari Mas untuk Ara, memang tak seberapa tapi itu tanggung jawab Mas sebagai suami dan kepala keluarga. Bukan cuma kebutuhan Ara saja, tapi kebutuhan rumah tangga kita juga diambil dari kartu itu. Yang punya Ara disimpan saja. Itu uang Ara, uang yang Ara punya sebelum menikah dengan Mas. Tahu tidak kalau ada pepatah uang suami itu uang istri tapi uang istri ya uang istri.'' Gatra terkekeh dengan kalimatnya yang terakhir.


Ara mencerna setiap omongan Gatra dia bukanlah gadis single tapi seorang istri yang harus mampu mengatur keuangan rumah tangga yang telah diamanahkan suaminya. Dengan sedikit bimbang Ara bersuara'' Kalau uang Mas habis oleh Ara bagaimana?''


Gatra semakin terkekeh mendengar ucapan Ara. '' Mas akan semakin bekerja keras lagi kalau begitu, biar bisa isi lagi kartu debit Ara.'' niat Gatra menggoda Ara dan berhasil membuat Ara memberengut.


''Mana tega Ara membiarkan Mas Gatra kerja keras sedang Ara foya-foya dengan uang Mas.'' lirih Ara yang terdengar sangat menenangkan untuk Gatra.


''Mas percaya dengan Ara, Ara pasti bisa mengelola keuangan rumah tangga kita dengan baik.'' Gatra mengelus puncak kepala Ara dengan lembutnya.


''Ini buku apa?'' Ara menunjuk salah satu buku yang ada di meja.


''Itu deposito untuk Ara. Karena menjadi istri Mas, maka Ara berhak atas perusahaan yang Mas punya. disitu nanti akan ada pemasukan duapuluh persen dari laba perusahaan. Ara bisa simpan itu, semua sudah atas nama Ara jika suatu saat Ara membutuhkannya Ara tinggal ambil sendiri tanpa persetujuan dari Mas.


''Kok bisa gitu?''


''Pas bisa.''

__ADS_1


''Mas Gatra ... Ara serius.''


''Mas Gatra duarius Rara...''


__ADS_2