Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
60. Gadis Kecil Itu Istriku


__ADS_3

Naina kelihatan gelisah setelah mendapat pesan dari Ratih. Ara dinikahkan, itu tidak mungkin. Dia mencoba menelpon Ratih berkali-kali, tapi tidak diangkat. Pesan yang dikirimkan sampai berderet-deret juga tidak dibuka, bahkan dibacapun tidak.


Rega yang di kelas Xll ini satu kelas dengan Naina, terusik dengan gelagat aneh, Naina. Karena Dia duduk pas di belakang Naina.


'' Na, ada apa?'' tanya Rega yang ada di belakangnya.


Naina yang sedang kalut, memperlihatkan chat dari Ratih.


''Rega, maksud Ratih apa ya?''


''Anak itu pasti sedang ngeprank Kamu, gak mungkinlah Ara dinikahkan.'' sangkal Rega.


''Kalau Ratih ngeprank Kamu, Aku percaya, tapi ini pesannya ke Aku.'' eyel Naina, Dia membereskan buku-bukunya dan berniat membolos untuk menyusul Ara dan Ratih ke Karnadi.


''Na, mau kemana?'' tanya Rega dan berusaha mencegah Naina pergi.Bisa gaswat kalau Vano tahu Naina bolos. Rega menghubungi Vano dan menyuruhnya untuk segera ke gerbang sekolah.


''Ke Karnadi lah, hatiku mengatakan pasti terjadi sesuatu pada Ara.'' jawab Naina tanpa menoleh.


''Tunggu, Aku ikut.'' Rega mengikuti Naina untuk bolos dan menyamperi Ratih. Di gerbang sekolah Vano telah siap dengan mobilnya.


*******


Saya terima nikahnya dan kawinnya Mutiara Dinanti binti Randy Murtiko dengan mas kawin satu set perhiasan mutiara dibayar tunai.


Suara lantang dan pasti dari gatra mengkobulkan nama Ara, terdengar jelas oleh Naina, Vano dan Rega yang baru sampai lorong ruang ICU.


Rega yang tak percaya pada pendengarannya, segera menghampiri pintu ICU yang memang sengaja dibuka. Pandangan matanya langsung tertuju pada Ara yang terisak pada pelukan ibu-ibu paruh baya.


''Ara.'' lirih Rega, tapi mampu menglihkan pandangan semua orang yang ada padanya.


Di belakang Rega ada Naina dan Vano yang tak kalah kagetnya. Ratih yang melihat ketiga temannya datang segera mohon diri pada orang yang disebelahnya yang kebetulan Bu guru Kirana.

__ADS_1


Ratih menggiring ketiga temannya untuk sedikit menjauh dari ICU.


''Tih, ini maksudnya apa? itu tadi beneran Ara yang dinikahkan?'' berondong Naina ketika Ratih menggandeng setengah menyeret Naina.


Mereka berempat duduk di bangku lorong rumah sakit. Ratih mulai menceritakan semua yang Dia ketahui. Dari mulai Ara dijemput di sekolah, sampai permintaan Papanya agar Ara mau menikah dengan Gatra.


Rega yang mendengar penjelasan Ratih dari awal hanya diam saja. Hatinya telah lebih dulu sakit, melihat dan mendengar laki-laki lain mengucapkan kobul pada Ara. Laki-laki yang menurut Ratih baru ditemui Ara siang ini. Rega sudah kalah bahkan sebelum berjuang.


''Arrrrr... Aku gak terima, kenapa tidak ada yang mencegah pernikahan konyol itu. Kenapa semua pada setuju! laki-laki itu pasti mengambil kesempatan atas musibah Papanya Ara.'' Rega bangkit dari duduknya, yang entah mau kemana tapi langsung dicegah dan didudukkan lagi oleh Vano.


''Mau kemana, jangan berbuat macam-macam. Kamu lihat di sana polisi banyak sekali. Kamu mau hidupmu berakhir konyol, toh kamu juga bukan siapa-siapanya Ara.'' geram Vano. ''Kalau sekarang Ara dinikahkan dengan laki-laki lain itu berarti Dia bukan jodoh kamu.'' lanjut Vano yang suaranya mulai melunak.


Ratih menatap sendu Rega, entah kenapa hatinya ikut merasa sakit melihat Rega yang begitu putus asa ditinggal Ara nikah.


*******


Gatra pov


Bunda perempuan yang dari awal persiapan pernikahan dadakan ini mrnjadi sandaran gadis kecilku, ya... gadis kecilku, milikku yang diamanahkan langsung oleh Papanya kepadaku.


Bunda menuntun gadis kecilku untuk mencium tanganku, dan Dia menurutinya untuk mencium tanganku. Seperti di pernikahan-pernikahan yang sering kuhadiri setelah pengantin perempuan mencium tangan pengantin laki-laki, maka pengantin laki-laki akan mencium kening pengantin perempuan. Ketika kucoba untuk melakukan itu, Dia sedikit memundurkan tubuhnya. Sedikit kaget, tapi wajar karena bagi gadis kecilku pernikahan dadakan ini seperti dipaksa.


Aku dan gadis kecilku menghampiri ranjam orang yang membuat pernikahan ini terjadi. Senyum bahagia merekah di sana. Disatukannya kedua tangan kami, tanganku dan tangan gadis kecilku.


''Ara, sudah ada suami, nanti harus nurut dan patuh pada suami. Ridho suami, ridhonya Allah. Patuh pada suami surga bagimu, Nak.'' kata-kata Papanya yang putus-putus membuat isak tangisnya kembali lagi.


Om Randy mengalihkan pandangannya padaku, tetap tersenyum Dia berkata'' tolong jaga dan lindungi Ara, Dia masih muda, bimbing agar bisa menjadi istri yang sempurna untukmu.'' dan Aku hanya bisa mengangguk. Aku belum bisa berjanji, tapi Aku akan berusaha melaksanakan amanahnya.


Dua pejabat penting daerah yang menjadi saksi pernikahanku telah pamit pulang. Guru dan kepala sekolah gadis kecilku juga telah pamit untuk kembali ke sekolah. Pak Penghulu yang menikahkanku, mendekatiku.


''Nak Gatra, pernikahanmu ini sudah sah secara agama tapi belum secara negara. Kalau menurut saya lebih baik segera didaftarkan dan dilengkapi berkas-berkasnya, biar nanti saya bantu.''

__ADS_1


Kulihat Farel asisten sekaligus sahabatku sedang duduk bersama Ayah, sepertinya Dia sedang mendengarkan cerita Ayah tentang semua kejadian ini. Kupanggil Farel, Aku akan minta tolong ke Dia, untuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahanku dengan gadis kecilku.


'' Maaf Pak, untuk mencatatkan pernikahan kami, bisa saya pasrahkan kepada Bapak, saja?'' tanyaku pada pak penghulu.


''Bisa, bisa asal persaratannya lengkap.'' jawabnya.


Saat Farel mendekat, '' Rel, tolong lengkapi berkas persaratan nikah gue, biar bisa segera diurus oleh Bapak ini.'' pintaku pada Farel.


''Kapan?''


''Besok.''


''Besok! wah gila lu Tra! Gue baru nyampe hari ini dan harus balik lagi buat ngurus berkas nikah lu. Elu kira deket Semarang-Jakarta, hah!'' sangat wajar Farel morang-moreng, karena permintaanku ini juga keterlaluan Farel yang baru datang sudah ku suruh pulang.


''Tapi Aku gak nyangka dengan selera kamu, Tra. Clarita, Elu lewati. Bella, bablas. Ternyata yang masih bau minyak telon yang kamu mau. Jangan-jangan bedaknyapun masih bedak bayik. Tapi manis banget anaknya.'' ini Farel emang ujungnya muji, tapi kalimat diawal lemes bener.


'' Rel, buruan Elu urus berkas persaratan Gue, biar bisa segera diuruskan Bapak Penghulu ini.'' geramku.


''Benar Nak, semakin cepat semakin baik. Untuk berkas persaratan Ara biar saya yang mengurusnya. Kebetulan kita kan bertetangga.'' oh , jadi penghulu ini tetangganya gadis kecilku. Kutatap Farel setelah mendengar penjelasan pak penghulu.


''Ok, Gue balik nanti malam, Besok Gue uruskan, kalau selesai sehari Gue langsung balik ke sini. Anggap saja ini hadiah pernikahan dari Gue.


Gila temanku ysng satu ini, mana ada hadiah pernikahan kayak gitu.


Teman Ara yang mengikuti dari sekolah datang mendekat. Dia tidak sendiri, di sampingnya ada teman perempuan, dan di belakangnya ada dua anak laki-laki.


''Bapak.'' panggilnya dan duduk di samping pak penghulu yang dipanggilnya Bapak. Ternyata anak perempuan ini dan polisi yang bernama Ramma itu adalah anak pak penghulu ini.


Tiga orang temannya duduk dibangku depanku. Salah satu anak laki-laki yang tadi datang pas lafas kobul selesai kuucapkan, menatapku terus, tatapan matanya seperti ingin mengintimidasi.Siapa Dia? apakah kekasih gadis kecilku? dan pastinya tatapanya mengisaratkan permusuhan.


Gatra Pov end

__ADS_1


__ADS_2