
Gatra sudah tahu kenapa sejak pulang ke rumah istrinya terlihat selalu murung. Rupanya Pia sudah lebih dulu kasih kabar apa yang menyebabkan Ara murung.
Gatra cuma mau tahu dari mulut Ara sendiri. Makanya Gatra menunggu sampai Ara siap untuk bercerita.
Ditunggu sampai di pembaringan Ara tak juga bercerita kejadian apa yang menimpanya tadi siang. Ara membolak-balikkan tubuhnya tak tenang. Hingga Gatra mendekat dan ikut berbaring di sebelahnya.
''Mas.''
''Hem. Kenapa sayang?'' Gatra memutar tubuhnya menghadap Ara satu tangannya digunakan untuk menumpu kepalanya dan satunya lagi untuk merapikan rambut Ara yang menutupi sebagian wajahnya.
''Ara mau ketemu Kak Raga boleh?'' tanya Ara hati-hati.jari lentiknya yang usil menjadikan dada bidang Gatra sebagai kanvas untuk menggambar pola bebas. Belum tahu saja Ara kalau perbuatannya itu membangkitkan sesuatu dibawah sana untuk bangun. Gatra mengeram menahan hasrat. Tapi ditanggapi berbeda oleh Ara yang mengira Gatra tidak akan memperbolehkan dia bertemu Raga.Sudah berkali Ara bilang ke Gatra kalau Raga hanya masa lalu masa depannya hanya bersama Gatra laki-laki pendamping yang dipilihkan papa. Sampai maut memisahkan Ara akan selalu bersama Gatra, kecuali Gatra yang mau melepaskan Ara. Maka dengan ikhlas Ara akan menerima berpisah dengan Gatra. Ara yang yakin bertahan disisi Gatra karena lelaki itu juga menyakinkannya tidak akan ada perempuan lain yang menjadi pemilik hatinya selain Ara. Kenapa harus dilarang, bukankan Gatra bilang sudah legowo menerima masa lalu Ara. Ara segera menarik tangannya dan memutar badan memunggungi Gatra. Ara sadar suami mana yang memperbolehkan istrinya bertemu dengan masa lalunya.
''Gak boleh ya, Mas.'' lirih Ara seperti ada Isak terdengar.
''Sayang. Kenapa?'' Gatra tak menyadari bahwa erangannya ditanggapi berbeda oleh Ara.
''Ara cuma mau ketemu Kak Raga sekali ini saja Mas. Kata Gea tadi Kak Raga akan jadi relawan kesehatan ke Palestina, dan itu semua gara-gara Ara. hiks hiks.''
''Gak ada maksud lain Mas, Ara tuh sudah cinta ke Mas Gatra.Itu mengapa Ara nolak Kak Raga. Rasa Ara ke Kak Raga saat ini itu rasa sayang karena kasihan sudah gak seperti dulu lagi. Mustahil kan kalau Ara memaksakan diri bersama Kak Raga hanya karena kasihan. Tapi kalau sampai penolakan Ara membawa Kak Raga pergi ke daerah berbahaya dan terjadi apa-apa sama Kak Raga, Ara akan semakin merasa bersalah seumur hidup Ara.''
''Sayang.'' Gatra menggoyang tubuh Ara yang bergetar karena menahan tangis.
''Sayangnya Mas kenapa?'' direngkuh tubuh Ara untuk menghadap lagi padanya.
Ara menurut ikut memutar tubuhnya kembali menghadap Gatra. Hidungnya memerah matanya sembab. Bawaan hamil perasaan Ara jadi lebih sensitif dan sangat manja pada Gatra.
''Sekali ini saja ya, Mas. kasih ijin Ara ketemu Kak Raga.'' Ara kembali memohon.
''Memang Mas gak kasih ijin ke Rara untuk bertemu Kak Raga?''
Ara mendongak menatap Gatra. '' Itu tadi mengerang seperti menahan kesel.''
Ya ampun sayang itu karena kamu yang membangunkan si Otong, Mas jadi gak kuat.
''Oh itu karena Mas lagi nahan agar si Otong gak bangun.'' Salah paham kan dia
''Emang si Otong mau bangun? kan Ara belum ngapa-ngapain.'' polosnya Ara menjawab. Gatra jadi tepuk jidat.
''Jadi boleh Ara menemui Kak Raga?'' kembali mengulang permintaannya karena Gatra belum bilang iya.
''Eh tadi ada yang bilang cinta lho ke Mas?'' berusaha ngeles ya walau dia tahu Ara pasti tidak akan ngapa-ngapain dengan Raga tapi rasa khawatir takut kehilangan Ara tetap ada. Rasa Ara yang dulu telah dipaksa pergi bisa jadi kan datang lagi bila terus-terusan bertemu. Gatra bahagia sekali karena baru kali ini mendengar pengakuan Ara kalau mencintainya. Semoga saja bukan kata yang diselipkan untuk sekedar membujuk agar permintaannya dikabulkan.
''Ihhh... Mas.'' Ara memberengut dan Gatra terkekeh
''Iya boleh, Mas percaya sama ibunya Dedek. Cuma Mas pengen dengar lagi kalau ibunya Dedek ini sudah cinta ke Bapaknya.'' Tanpa disadari Ara memang keceplosan menyatakan cinta ke suaminya. Seketika Ara menutup mukanya dengan kedua tangannya. Masih saja malu. Geli Gatra melihat polah istri kecilnya itu.
'' Mas sudah dengar masalahnya dari Pia tadi. Kalau menurut Mas kepergian Raga tidak sepenuhnya salah Rara. Mungkin dia butuh suasana baru.''Gatra berusaha menyakinkan apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan Raga bukanlah salahnya.
''Ih...dasar ya Pia setia banget jadi spionnya Mas, yang sahabatnya kan Ara kenapa harus laporan ke Mas?'' sungut Ara dan membuat Gatra terkekeh.
''Jadi gimana? kapan mau ketemuannya?'' Gatra masih saja menggoda Ara. Ara yang sedang cemberut seketika mengangguk. ''Tapi gak gratis.'' saking gemesnya Gatra menjuwil hidung Ara.
''Lihat Dek, Bapak perhitungan sama Ibu. Emm... Ara gak tahu tempat tinggal Kak Raga. Tadi seh waktu di cafe sempat nanya, tapi gak ada yang tahu dan sudah seminggu Kak Raga sudah gak nyanyi lagi di cafe.''
__ADS_1
''Kalau Dia tinggal dengan ibunya dan satu rumah dengan Clarissa dan Ettan Mas tahu rumahnya, mau diantar ke sana?''
''Mau.''jawab cepat Ara
''Rara sayang sebenarnya sebelum kecelakaan sayang dan Raga apa yang terjadi?'' akhirnya Gatra kepo juga dengan masa lalu Ara.
Ara pun mulai bercerita dari awal dia berangkat ke mall bersama Gea hingga ada perselisihan dan ketemu Topan.
sampai akhirnya pingsan setelah minum air dari Topan.
''Siapa Topan?''
''Teman Kak Raga sewaktu Kak Raga jadi joki balap liar Topanlah yang suka ngumpulin uang taruhannya. Kata Kak Raga Topan gak suka kalau Kak Raga berhenti balapan dan Kak Raga jadi baik. Mungkin karena itu dia mau celakain Ara.''
''Rumit juga hidup Raga waktu itu.''
''Iya. Kasihan Mas. benar-benar hidup dari jalanan ayahnya tidak pernah memperhatikannya. Tapi papa sangat sayang sama Kak Raga. Dan Kak Raga juga sangat nurut sama Papa.'' dari cerita Bunda Gatra juga sudah tahu sedikit cerita orang tua kandung Raga yang bercerai.
''Jadi iri sama Raga.''
''Iri kenapa?'' bingung Ara
''Iri karena Raga pernah merasakan kasih sayang Papa sedang Mas....''buru-buru Ara membekap mulut Gatra
''Tapi Mas pilihan Papa untuk jadi suami Ara.''
Keesokan harinya
''Tante yang diomongin dibelakangnya lho.'' Gatra yang ada dibelakang Ara memprotes karena merasa diabaikan.
'' Iya sengaja.'' goda Nurmala. ''Waduh emang ya, kalian ini pasangan yang serasi satunya cantik satunya tampan. Yuk masuk sekalian, kebetulan lagi komplet pasukan Tante.''
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah besar tempat sekarang Raga tinggal.
Ara ikut merasa bahagia ternyata sekarang Raga berada ditengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya. sepertinya keluarga yang sekarang sangat harmonis. Mama Raga perempuan yang sangat baik dan penyayang setidaknya itu yang diceritakan Gatra. Walau Clarissa dan Ettan bukan anak kandung tapi kasih sayang Nurmala tiada beda seperti anak kandung.
''Coba lihat kita kedatangan tamu istimewa.'' suara keras Nurmala ketika sampai di ruang tengah. seketika semua anaknya menoleh dan
DEG
Raga sama sekali tidak menyangka kalau Ara akan mendatanginya dan ini diantar suaminya.
''Yuk ikut duduk mereka santai sebentar setelah sarapan atau kalian mau sarapan dulu?'' tawar Nurmala karena memang Ara dan Gatra datang dijam yang masih pagi.
''Kita sudah sarapan Tante.'' jawab Gatra gak mungkin juga memperjelas kalau Ara semenjak hamil tidak pernah mau sarapan karena pasti akan dimuntahkan kembali.
''wah Bang ada angin apa nih? tapi aku harus siap-siap mau ke Bandung. Gimana dong Bang Gatra datang mendadak begini.'' ucap Clarissa setelah menyalami Gatra.
''Gak ada angin cuma mau ngantar istri Abang saja.'' jawab santai Gatra sepertinya Clarissa paham.
Ettan dan Papa Danu pun juga pamit karena harus siap-siap ke kampus dan kantor.
Tinggal Raga saja yang tidak alasan untuk pergi meninggalkan kedua tamu.
__ADS_1
''Duduk Ra. Bang.'' Raga mempersilahkan Ara dan Gatra untuk duduk.
Nurmala pamit kebelakang untuk membuatkan minuman.
''Sayang Mas ambil sesuatu dulu ya di mobil.'' alasan Gatra saja agar Ara bisa leluasa berbicara dengan Raga.
Hening
Cuma ada Ara dan Raga.
''Kak.''
''Hem.''
Cukup canggung Raga hanya ditinggal berdua saja dengan Ara. Hatinya belum bisa sepenuhnya mengiklaskan Ara bersama orang lain.
''Kenapa Kak Raga mau ke Palestina? maaf Kak, gara-gara Ara kak Raga harus...'' air mata Ara luruh tanpa permisi.
Gue mohon jangan ada air mata Lo keluar untuk gue Ra.
''Lo tahu dari mana gue mau ke Palestina?''
''Kemaren Gea kasih tahu Ara. Kak Raga mau jadi relawan ke Palestina. Apa gara-gara Ara Kak?''
''Dan Lo percaya cerita Gea?'' balik tanya Raga. Jadi Gea yang membuat Ara sampai mendatanginya. Geram rasanya Gea sudah bukan lagi sosok yang dikenal dulu sewaktu masih sama-sama di Magelang. Bahkan dengan sahabatnya sendiri dia tega.
Memang Gea sempat marah-marah ke Raga dengan keputusan Raga yang mendadak akan pergi jadi relawan ke Palestina. Raga gak menggubrisnya, siapa dia main larang.
''Gea sudah berubah Ra, dia bukan lagi sahabat Lo yang dulu. Apa yang dia bilang ke elo tak semuanya benar. Memang benar gue mau ke Palestina, jadi relawan di sana tapi gak sendiri Ra. Kami ada dalam satu tim kemanusiaan dari Indonesia. Gue ke sana bukannya mau ikut angkat senjata apalagi ikut perang. Jelas tidak. Kami relawan kesehatan. Lo tahu Kak Clarissa juga ikut tergabung didalamnya, cuma dia dari tim pemberitaan stasiun tv tempatnya bekerja. Yang lebih penting Mama juga sudah ngasih ijin dan mendukung penuh kemauan anak-anaknya.Jadi semua bukan gara-gara Lo. Jangan sedih ya? Lo tahu sejak bertemu dengan Lo dan bokap Lo gue sudah berjanji pada diri gue sendiri untuk menjadi mahluk yang lebih baik lagi. Mungkin ini salah satu jalan gue untuk berbuat kebaikan.'' panjang lebar Raga memberi pengertian pada Ara.
''Tapi Kak di sana berbahaya.''
''Gue akan hati-hati Ra. Ada tentara kita juga di sana yang akan menjaga kami. Selain itu doa orang-orang yang menyayangi kami juga akan ikut menjaga. Doakan gue Ra.''
''Doa Ara selalu yang terbaik untuk Kak Raga.''
''Sudah jangan nangis lagi entar dikira suamimu gue ngapa-ngapain Lo lagi.'' ingin rasanya Raga menghapus air mata di pipi Ara, tapi dia sadar itu tidak mungkin.
''Sebelum pergi gue mau ke Magelang dulu. Lo mau nitip apa?''
''Magelang?''
''Iya minta restu ke papa. Bagaimanapun dia tetap bokap gue kan Ra.'' hubungan Raga ke papanya juga berangsur membaik Nurmala sama sekali tidak melarang Raga untuk menengok papanya. Apalagi sekarang kondisi papanya yang sakit-sakitan.
''Papa gue sudah tidak seperti dulu Ra, dia terkena stroke. sudah tidak bisa berjalan normal.''
Ara terkaget mendengar kodisi kesehatan papanya Raga. Lalu bagaimana dengan Maya dan ibunya. Bukan urusan Ara maka Ara urung bertanya tentang mereka.
Nurmala yang sejak tadi sengaja ngumpet di dapur keluar membawa dua cangkir teh hangat.
''Ayuk sayang diminum dulu dari tadi ngobrol terus pasti haus. Mana suamimu?'' pura-pura bertanya
''Saya di sini Tante.'' Gatra memunculkan diri setelah dirasa waktu untuk Ara berbicara dengan Raga cukup dan dia akan langsung membawa Ara pulang. Hatinya tidak kuat menyaksikan sang istri berlama-lama dengan sang mantan.
__ADS_1