
Crekk Braakkkk
Pintu kamar ruang inap Ara dibuka dan ditutup Kasar membuat dua orang perempuan didalamya kaget. Gatralah pelakunya. yang membuat bunda dan Ara terkaget.
Gatra langsung menghambur dan memeluk Ara tanpa memperdulikan keberadaan bunda.
''Terima kasih Ra, terimakasih Raranya Mas.'' itulah ucapan Gatra disela pelukannya yang sangat erat pada Ara. Perasaannya campur aduk, antara senang dan bahagia. Ara yang sadar diri telah menjadi seorang istri memilih untuk bertahan disisinya. Setidaknya itulah yang dia tangkap dari cerita Clarissa di taman tadi. Dan berita satu lagi dari sahabatnya Iwan kalau kemungkinan besar Aranya sedang hamil.
Ya, Gatra kembali ke IGD tempat Ara ditangani pertama kali dia akan menerobos masuk terserah Ara mengijinkan atau tidak,namun sayangnya Ara sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ada Iwan yang menghalangi jalannya, Iwan bersama dokter Winda sengaja menghadangnya meminta untuk Ara segera membawa Ara ke bagian obgyn untuk menguatkan diaknosanya.
Gatra sempat terdiam mendengar penjelasan Iwan. '' HAMIL'' teriak Gatra akhinya. Terpaksa Iwan membekap mulut sahabatnya itu.
''Makanya mau dipastikan dulu dodol! buruan bawa ke ruang praktek dokter Winda.''
''Kok bisa hamil Wan?'' dengan polosnya Gatra bertanya hingga Iwan harus menghadiahi toyoran keras di jidatnya.
''Lo tanya gue! apa kabar malam pertama Lo yang berakhir dengan terkapar ya istri Lo di sini! amnesia ente.'' begitu gregetennya Iwan pada sahabatnya yang satu ini.
''Kan baru sekali itu Wan gue...''
''Bukan baru sekali, baru semalam tapi berkali-kali yang bener!'' gertak Iwan
''Iya.'' masih dengan santai Gatra menjawab. Dan menurut Iwan Loading Gatra sangat lambat.
''Walau baru sekali jika Allah berkehendak juga jadi, Tra. Mungkin inilah yang membuat Ara ingin nempel terus ke elo, bawaan hormon kehamilannya. Harusnya Lo seneng bukannya malah menghindar.'' mulai keluar kata-kata Omelan Iwan. Seneng rasanya bisa mengomeli sahabatnya yang satu ini.
''Secepatnya kita periksa Ara dan calon bayinya, takut ada apa-apa akibat kecelakaan Ara tadi.'' dokter Winda menengahi kalau tidak tak akan berhenti perdebatan dua sahabat itu.
'' I..ya. Dok.''
''Jangan cuma iya! se-ce-pat-nya! Anak Lo tuh.'' masih saja Iwan menyerang dengan godaannya.Gatra melengos tak menanggapi ucapan sahabatnya itu.
Sejatinya Ara yang memang sangat merindukan pelukan hangat Gatra perlahan ikut membalas pelukan Gatra, menjadi lupa pada rasa marahnya pada Gatra yang telah menyakitinya perihal Claritta.
__ADS_1
Gatra melepas pelukannya menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Ara. Mencium kening Ara lama sekali hingga bunda yang berada di sisi lain brangkar Ara berdehem.
''Ekhem. Nyamuknya ya dipikir.'' celetuk bunda. Ara salah tingkah malu juga, ada bunda. Cepat-cepat Ara mendorong tubuh Gatra untuk menjauh.
Ara teringat kembali pada sikap Gatra yang mengabaikannya beberapa hari lalu dan sekarang datang-datang bilang terima kasih? Apa benar Gatra akan kembali pada Claritta? setidaknya itulah yang ada dalam benaknya.
Ara menjauhkan diri lagi dari Gatra. ''Mas Gatra mau ninggalin Ara? Mas Gatra masih cinta dan mau kembali ke Mbak Claritta?'' Ara masih ingat kata-kata Alana tentang bagaimana hubungan yang terbina antara Gatra dan Claritta.
''APA!'' bunda yang kaget dengan pertanyaan Ara
''Apa-apaan kamu Tra! kurang apa Ara masih mau saja tergoda perempuan palsu.'' Bunda menjewer kuping Gatra sangat keras sampai memerah membuat si empunya meringis kesakitan
''Aduh...duh Bun. sakit.''
''Biar! Bunda bisa lebih keras lagi kalau kamu berani macam-macam.''
''Ampun Bun. Ini semua salah paham.'' Gatra meraih tangah Ara menggenggamnya erat menatap sendu Ara. '' Sayang kamu salah paham sama Mas. Semua yang kamu lihat tak seperti yang kamu pikirkan. Pia sudah cerita ke Mas. Sayang minta maaf ya? Mas gak peka selama ini.''
''Alana bilang....'' kata-kata Ara tercegat.
''Biar Bunda keluar saja. Kalian selesaikan masalah kalian. Ingat Tra! kalau sampai kenapa-kenapa dengan menantu Bunda, gak akan kasih ampun kamu. Kalau mungkin Bunda akan ijinkan si anak ganteng berjuang untuk mengambil istrimu! Bunda lebih ikhlas Ara bersamanya dari pada makan hati hidup sama kamu.''
''Jangan Bun, Ara nyawa Gatra Bun.'' melas Gatra. Bunda cuma bercanda dengan ancamannya, mana mungkin Bunda mau kehilangan menantu seperti Ara. Membayangkan Ara jadi menantu Nurmala? gak berani Bunda.
Ara sudah bercerita pada bunda kalau akhir-akhir ini Gatra mengabaikannya tanpa cerita kalau Ara memergoki Gatra jalan berdua dengan Claritta. Ara juga cerita siapa sebenarnya Raga.
Seperti seorang anak gadis yang mengadu pada ibunya Ara bingung, kalau dia sudah merasa nyaman bersama Gatra tapi kehadiran Raga dari masa lalu yang sempat terlupa membuatnya gamang. Bagaimanapun Raga juga telah mewarnai kisah percintaannya.
Sepeninggal Bunda
Setelah keheningan Ara membuka suara. ''Mas.''
''Hemm.'' tak hentinya Gatra meremat halus kedua tangan Ara sesekali menatap perut rata Ara. Ingin mengelusnya tapi masih takut. Takut kalau Ara belum bisa menerima kehamilannya. Harus pelan-pelan memberi pengertian ke Ara, jangan sampai Ara menolak bahkan tidak menginginkan kehadiran buah hatinya.
__ADS_1
Tapi kehadiran Raga kembali dalam hidup Ara, TIDAK. Jangan sampai Ara bersamanya hanya demi anak yang dikandung. Tidak boleh! Gatra mau egois, Gatra mau semua mau Ara, mau hatinya mau bayinya mau semua nya dari Ara. Tak tersisa untuk orang lain mesti itu dari masa lalu yang indah.
''Mas Gatra, ngangap Ara apa?''
Gatra mendongak, dielusnya puncak kepala Ara lembut kedua ujung bibirnya melengkung ke atas.
''Belahan jiwa Mas, tulang rusuk Mas, yang akan melengkapi hari-hari Mas sekarang dan masa depan. Istri Mas, ibu dari anak-anak Mas kelak. Mau Ara berjanji untuk selalu di samping Mas? sampai maut memisahkan?'' Ara hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca karena bahagia.
Sungguh jawaban yang membawa ketenangan untuk Ara yang merasa selalu ingin dekat dengan Gatra suaminya. Yang pasti dia tidak bisa marah walau melihatnya jalan bareng Claritta.
Karena Ara yang terdiam Gatra memajukan mukanya lebih dekat ke muka Ara dan....
CUP
Sebuah kecupan mendarat di bibir merah jambu yang selama ini dia rindukan, Dia tahan karena kebodohannya sendiri. Tak ada penolakan dari Ara, Gatra kembali mengecup agak lama menempeli bibir kenyal itu. Ada rasa menggebu di dada.
Reaksi Ara yang kaget dan diam tidak menolak membuat Gatra semakin berani menyesrap dan me ***** lembut candunya.
Hawa ruangan menjadi panas karena Ara ikut menanggapi kegiatan Gatra. Dengan mengalungkan kedua tangan ke leher Gatra, Ara membalas bahkan berani menggigit bibir bawah Gatra. Sakit, tapi menyenangkan, malah Gatra menginginkan lagi. Sesekali tautan itu berhenti sesaat kala keduanya kehabisan nafas.
''Aduh.'' Ara mengaduh sesaat Gatra melepas pangutannya.
''Sakit sayang? maaf Mas terlalu bersemangat.'' Gatra mengelus bibir merah jambu yang sudah Jontor.
''Kepala Ara pusing Mas.'' adu Ara
Kenapa Gatra melupakan kalau istrinya itu baru saja kecelakaan dan kepalanya terbentur hebat. Gatra meruntuki dirinya yang ceroboh dan selalu lepas kendali bila menyentuh istri kecilnya itu.
''Maaf. maaf sayang. Raranya Mas masih sakit. Mas panggil Iwan ya?'' Gatra yang panik hendak meninggalkan Ara untuk memanggil Iwan. Ara meraih tangan Gatra menahannya untuk tidak pergi dari sisinya.
''Ara gak mau Mas pergi.'' suara Ara terdengar sangat manja, tapi memilikan
Akhirnya Gatra balik badan tidak jadi pergi menata bantal Ara yang tak terlalu tinggi membaringkan dan menyelimutinya.
__ADS_1
''Mas gak akan kemana-mana. Rara tiduran saja ya? Mas tungguin.'' Gatra meraih kursi yang tadi diduduki Bunda mendaratkan pantatnya di sana sembari mengambil ponsel untuk menghubungi Iwan agar datang memeriksa istrinya.