
''Mas. Ara tadi di dalam ketemu Kak Rissa.'' Ara masuk ke mobil Gatra yang menjemputnya sehabis ngemall dengan Ratih dan Rega.
''Clarissa?''
''Iya, bahkan kita sempat makan bareng.'' ada aura kesedihan di wajah Ara
''Ternyata Kak Rissa sudah lebih dari dua bulan pulang ke tanah air. Saat Ara tanya tentang Kak Raga, ternyata dia tidak ikut pulang. Jadi bener kan Mas, gara-gara Ara Kak Raga ke Palestina. Hiks.hiks.'' Ara mulai menangis. Bila menyangkut Raga seketika kesedihan muncul menyelimuti. Ara merasa bersalah, Raga terlalu baik padanya. Pengorbanan Raga terlalu banyak untuknya tanpa bisa membalas. Mana mungkin Ara bahagia di atas luka Raga. Yang Ara mau Raga juga harus bahagia melanjutkan hidupnya.
''Sayang tenang dulu.'' bingung Gatra istrinya tiba-tiba menangis. Wajarlah ada rasa bersalah pada Ara. Walau cemburu tapi Gatra harus bijak menyingkapi.
''Cerita ke Mas, apa yang diceritakan Rissa tadi. Biar Mas juga tahu masalahnya apa. Karena Mas yakin bukan sayangnya Mas yang membuat Raga masih betah di sana.'' Gatra membawa Ara bersandar di dadanya.
''Kak Rissa cuma bilang kalau Kak Raga gak bisa pulang bareng rombongan yang berangkat bareng karena ada urusan administrasi yang harus di selesaikan.''
''Tuh kan bener. Jadi bukan karena Rara Raga masih tertahan di sana.'' sela Gatra.
''Tapi kenapa cuma Kak Raga yang tertinggal? apa Kak Raga tertangkap musuh dan di...''
''Huss....''Gatra menutup mulut Ara dengan jari telunjuknya. ''Jangan menduga-duga apa tidak kita ketahui, berprasangka baik saja. Doakan yang terbaik agar Raga bisa segera pulang dan berkumpul dengan keluarganya.Jangan sedih kasihan Dedek, nanti ikut sedih.'' jurus ampuh dengan mengatasnamakan si jabang bayi pasti Ara akan patuh nurut pada nasihat atau larangan. yang tujuannya agar si bayi baik-baik dan tetap sehat.
Doa Ara selalu yang terbaik buat Kak Raga, seperti Ara yang bahagia mendapatkan pasangan yang tepat begitu juga harapan Ara untuk Kak Raga.
''Sayang sudah siap berangkat?'' Gatra menghampiri istrinya yang semakin susah untuk sekedar bangun dari duduknya. Menginjak usia delapan bulan perut Ara sudah membuncit. Pergerakannya menjadi terbatas. Apalagi sekarang dia menjadi mudah lelah.
''Kalian mau kemana?'' tanya Bunda yang melihat Gatra dan Ara berpakaian rapi seperti orang mau pergi.
''Dapat undangan ulang tahun anaknya Aldy yang bungsu Bun.Ini kita mau datang ke sana.'' terang Gatra.
''Oh. Kirain mau kemana. Hati-hati di sana Ara jangan sampai kelelahan, jangan banyak berdiri, kalau sudah capek langsung pulang saja.'' nasihat Bunda sudah panjang kali lebar.
''Iya. Bun jangan khawatir ada Gatra ini.''
''Kamu? susah Bunda percaya sama kamu.''
''Susah gimana?'' iya kali suaminya gak jagain istrinya.''
''Iyalah mana Bunda percaya, katanya mau jagain Ara istirahat nyatanya apa menggagahi Ara iya.'' mendengar pernyataan Bunda Gatra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
*Kenapa harus diperjelas seh Bun! jadi malu kan tuh bini gue. Lagian* *tuh menantu Bunda yang selalu minta duluan sebagai suami yang tahu harus memenuhi kebutuhan lahir dan batin sang istri ya... Gatra harus siap sedia dong*.
''Bukan Bunda kalau gak buat kita salting yuk kita berangkat saja.'' ajak Gatra pada Ara agar Ara tidak semakin malu.
Ara menurut setelah pamit pada mertuanya, Gatra mengandeng mesra Ara keluar rumah.
Sampai di rumah Aldy, sahabat Gatra sekaligus mantan guru Ara disambut oleh perempuan cantik berhijab dengan wajah asing, wajah khas timur tengah.
''Saya Abia keponakan dari Bibi Tria. Kalian tamunya Om Aldy kan yuk masuk.'' Terang perempuan yang menyambut Gatra dan Ara. Perempuan itu tahu kalau tamunya kaget dan terkejut tak semestinya ada wajah asing di rumah Aldy.
''Eh Iya. Maaf kami masuk dulu.'' Gatra menggandeng Ara untuk masuk. Buruk penjelasan dari Aldy.
''Ara masih tertegun dengan kecantikan perempuan yang bernama Abia itu ketika Gatra menggandengnya untuk masuk ke rumah Aldy.
__ADS_1
''Kakak cantik sekali.'' lirih Ara yang terdengar oleh Abia, dan Abia tersenyum mendapat pujian dari Ara.
''Al, gak salah tuh tadi ponakan istri lo?'' tanya Gatra setelah ada kesempatan duduk berempat dengan dengan Farel dan juga Iwan.
''Gue tahu apa yang ada di otak kalian. Pasti gak percaya kan kalau ada turunan Arab di keluarga gue.'' Aldy jumawa yang segera saja dipoles rame-rame oleh ketiga sahabatnya.
''Tadinya seh pengen gue jadikan istri tuh bule sayang kan cantik-cantik dianggurin tapi sayang dia sudah bersuami.'' kata Iwan yang memang paling awal datangnya. Dan tentu saja sudah dapat bocoran tentang siapa Abia.
''Elonya yang ngebet nah dianya yang ngebut. Ngebut kabur dapat lakinya modelan Lo. canda Farel.
''Kalaupun dia belum bersuami juga gue ogah punya ponakan elo.'' tolak Aldy
''Eh ada untungnya gue jadi ponakan elo.'' tetep saja Iwan mempromosikan diri.
''Apa?''
''Lo bisa berobat gratis ke gue.''
''Yaelah hanya karena Lo dokter doang. periksa ya gratis obatnya mah kagak tetep saja harus ditebus di apotek. Lagian siapa yang mau dikasih sakit.''
''Lo ngejar bini orang, dokter Winda mau Lo kemanakan?'' toyor Gatra
''Kok bisa ada keponakan bule gimana ceritanya?'' tanya Farel yang memang penasaran sejak awal.
''Lo semua ingat kan kenapa dulu gue disuruh buru-buru nikahi Tria?''
'' Iya. karena Tria yatim piatu dan hanya punya kakak laki-laki yang harus segera berangkat ke Palestina.'' jawab Farel lagi.
''Iya. Dan kalian pasti terkejut alasan kenapa Abangnya Tria harus buru-buru kembali ke Palestina. Karena di Palestina dia sudah punya istri dan anak.'' pelan-pelan Aldy berbicara takut kedengaran istrinya.
''Ah yang benar Lo?''
''Masa seh.''
''Bini Lo gak tahu?''
Ketiga teman Aldy tidak ada yang percaya karena mereka sama tidak tahunya dengan Aldy.
''Seminggu yang lalu bersamaan dengan datangnya Abia dan suaminya baru bini gue tahu kalau ternyata dia punya ponakan yang sudah besar. Jadi dulu si abangnya Tria buru-buru balik ke Palestina karena anaknya sakit-sakitan saat ditinggal balik ke sini. Dan setelah tiba di sana ternyata istrinya meninggal karena serangan bom dikotanya.'' terang Aldy
__ADS_1
''Lo gak curiga siapa tahu tuh anak bohong. Cuma ngaku-ngaku, hati-hati modus penipuan sekarang macam-macam tipenya.'' nasihat Gatra yang masih belum percaya cerita Aldy
''Tadinya iya gue dan Tria juga gak percaya. Tapi tuh anak bawa semua dokumen asli dan Vidio tentang Abangnya Tria yang ternyata sudah meninggal tiga bulan yang lalu.Makanya tuh anak dikirim ke sini buat ketemu saudaranya, karena di negerinya sana dia sudah sebatang kara.'' lanjut cerita Aldy
''Bukanya ada suami.'' sela Gatra
''Jadi sebelum meninggal abangnya Tria menikahkan anak perempuan satu-satunya itu dengan relawan dari Indonesia selain dianggap bisa menjaga putrinya juga agar bisa membawa putrinya pulang ke Indonesia. Walau masih muda tapi dia dari keluarga yang cukup berada, jadi gak mungkin kalau mendekati keluarga gue buat nipu sudah kaya duluan suaminya. Mungkin sudah feeling sehari setelah menikahkan putrinya si bapak meninggal dengan cara yang sama dengan ibunya. Kena bom nyasar yang membumi hanguskan wilayah tempat tinggal mereka.''
''Kok sepertinya gue gak asing dengar cerita tersebut.'' celetuk Farel yang segera dihadiahi toyoran Gatra.
''Iya. cerita Lo Tra. kok bisa lupa ya gue padahal gue saksi dokumentasi waktu itu.''
''Gak usah diperjelas juga kali. Yang penting sekarang gue bahagia menikahinya adalah anugrah terbesar yang di berikan Tuhan buat gue.'' Gatra melihat dari jauh pada Ara yang sesekali tertawa saat ngobrol dengan pasangan para sahabatnya plus Abia.
''Tapi gue kok merasa familiar dengan wajah suami Abia ya?'' Aldi mengetuk-ngetuk keningnya coba mengingat siapa suami Abia ponakan sang istri.
''Wajah Indonesia ya jelaslah gak asing'' sambung Iwan
''Nah tuh orangnya. panjang umurnya.'' Aldy menunjuk pada pintu garasi yang langsung terhubung dengan halaman belakang rumahnya tanpa melewati dalam rumah.
''Raga!'' kaget Gatra
''pacar bini Lo Tra!'' lirih Iwan.
Seketika Aldy langsung ingat'' laki-laki yang....'' Iwan dan Farel bersamaan membungkam mulut Adly bicaranya terlalu keras hingga barisan pasangan mereka yang didalam ikutan terkaget.
Raga yang barusan masuk tak kalah kagetnya ternyata ada Gatra suami dari perempuan yang namanya masih terukir indah dihatinya.
''Wah gak bisa ini. Gak boleh dia...'' Aldy mengumpat sendiri saat sudah ingat siapa Raga.
''Udah Lo tenang saja, ini sudah rencana Tuhan. kita doakan saja yang terbaik buat ponakan Lo. Ada hikmah dibalik ini semua.''
*Alhamdulillah ya Allah, Engkau beri jodoh pada lelaki itu. Semoga dia bisa segera mencintai istrinya supaya bisa segera berhenti mencintai dan mengharapkan istri hamba*.
Menghadiri acara ulang tahun anak Aldy membawa kebahagiaan tersendiri pada Gatra. Sayangnya senyuman yang tergambar di mukanya dapat terbaca oleh Farel.
''Bahagia banget Pak.'' bisik Farel di telinga Gatra
''Iyalah.''
''Kak Raga!'' Ara yang hendak menghampiri Gatra kaget ada Raga di depannya. '' Kak Raga, kok bisa ada di sini?''
__ADS_1
''Ara.''