Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
70. Sekolah Baru Lagi


__ADS_3

Gatra benar-benar tidur di sofa semalaman, karena kamarnya dipakai Ara. Badannya pegel semua ketika bangun. Ditambah lagi dia terbangun karena kaget, tidur nyenyaknya terusik ketika ada Ara disebelahnya. Sebenarnya Ara sudah mau bersuara untuk membangunkan Gatra, tapi keburu kedua mata Gatra terbuka dan langsung tertuju ke Ara. Bukan cuma Gatra yang kaget, Arapun juga terkaget dengan teriakan Gatra yang tiba-tiba. Jam dinding diatas televisi masih menunjukkan pukul lima pagi.


''Mas Gatra bangun, sholat dulu gih, biar Ara bersih-bersih dulu. Mau buat sarapan juga gak ada bahan.'' kata Ara setelah rasa kagetnya sirna.


''Ra, pagi bener bangunnya? gak usah bersih-bersih nanti ada jasa kebersihan yang datang buat bersih-bersih. Emang Ara sudah mandi?'' Gatra bangun dari sofa meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku dan pegal.


''Sudah tadi setengah lima Ara mandinya. Buruan sekarang Mas Gatra mandi sholat keburu habis subuhnya.'' Ara mendorong Gatra untuk masuk ke kamarnya.


Karena sudah ada jasa kebersihan, Ara tidak jadi melanjutkan bersih-bersih. Akhirnya dia duduk di meja makan dan membuat list belanjaan yang akan dia beli.


Gatra telah selesai dengan ritual paginya, bahkan sudah rapi dia keluar kamar, mengambil botol air mineral dari kulkas lalu mendudukkan diri di depan Ara.


''Mas Gatra, tiap pagi selalu minum air dingin?''


''Iya.'' jawab santai Gatra.'' Ini daftar catatan yang mau dibeli?'' Gatra meneliti list yang dibuat Ara. ''Kursi yang untuk di balkon gak dicatat sekalian.'' barang permintaan yang diminta secara langsung kepadanya justru tidak ada dalam catatan yang Ara buat.


''Ara lupa, emang gak papa Mas, kita nanti beli banyak barang?'' Ara meraih kertas catatannya untuk menambahkan kursi balkon.


''Kamu siap-siap gih, kita cari sarapan dulu sebelum ke sekolah kamu.''


*****


Ara tiba di sekolahnya yang baru. Ada rasa deg-degan takut tidak bisa menyesuaikan diri. Kasus buliying di sekolah yang ada di ibukota turut membayanginya.


''Ra... kok bengong. Yuk! turun.'' suara Gatra menyadarkan lamunannya.

__ADS_1


''Iya.'' Ara turun dari mobil dan segera mengekori Gatra.'' Mas ternyata sekolah Ara beneran dekat dari apartemen. Gak sampai lima menit sudah sampai.'' kata Ara ketika langkahnya sudah sejajar dengan Gatra.


''Ara suka? terus kenapa tadi melamun, hem?'' ingin rasanya menggandeng Ara tapi tak mungkin ini lingkungan sekolah, apalagi Ara akan menjadi siswa di sini.


''Ara cuma takut nggak bisa menyesuaikan diri di sini. Takut teman-temannya resek gak bisa terima Ara.'' Ara mulai berani mencurahkan apa yang menjadi ganjalan di hatinya pada Gatra. Tentu saja Gatra senang mendengarnya, bukankah itu yang dia mau. Menjadi tempat sandaran Ara, tempat berkeluh kesah masalah yang dihadapi. Satu langkah lagi Ara mulai percaya padanya.


''Doanya yang baik-baik saja. Jangan bayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.Ara kan anaknya baik ya, pasti dapat teman yang baik juga.'' Gatra coba untuk menenangkan kegalauan Ara.


Benar kata Farel bahwa kedatangan Gatra akan disambut oleh Aldi, teman SMA mereka. Terbukti Aldi sudah menantinya di pos satpam gerbang masuk sekolah.


Tanpa babibu Aldi membawa sahabatnya itu ke ruang kepala sekolah. Karena di sanalah tempat teraman untuk Aldi menanyakan kebenaran dari cerita Farel kemaren.


Sebenarnya Ara sudah langsung diterima di sekolahnya yang baru, tentu saja dengan campur tangan Aldi dimana jabatannya saat ini adalah wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.


Aldi memberikan Ara beberapa lembar fomulir untuk diisi. Sementara Ara sibuk mengisi formulir yang diberikan, Aldi menarik Gatra menjauh dari Ara.


''Kelihatan?''


''Jelas!''


Obrolan mereka terpaksa berhenti oleh kedatangan guru yang akn menjadi wali kelas Ara. Dan Arapun juga sudah selesai mengisi formulirnya.


''Bu sati ini murid baru yang kemaren saya ceritakan, bisa diantar ke kelasnya?'' pinta Aldi pada guru wanita yang sengaja datang untuk menjemputnya.


Ara menyerahkan formulir yang telah diisinya pada Aldi dan bergegas mengikuti wali kelasnya Bu Sati, sebelumnya pamit dulu pada Mas Gatranya.

__ADS_1


''Tenang.... tungguin saja dulu jam sembilan nanti , murid -murid dikembalikan.Mau ada rapat intern pihak sekolah dan dewan komite.''


Gatra menerima usulan temannya untuk menunggui Ara. Kebetulan bisa langsung belanja, terutama perabot bobok Ara. Sangat tidak nyaman baginya tidur di sofa.


''Tra, sebagai pendidik gue mau berpesan jangan kau buat istri kecilmu itu hamil dulu, kasihan tunggulah enam bulan gak lama Bro. Main aman saja dulu, jangan sampai hamil pokoknya, soalnya nama dan masa depanku di sekolah ini ikut dipertaruhkan kalau itu terjadi. Tapi kalau gue lihat.... elo belum nyentuh istri lo ya? bener kan omongan gue, hebat lo Tra, bisa tahan padahal sudah halal. Hati-hati Tra, istrimu itu masih terlalu muda.Jangan langsung digas.''


''Al mulutmu lemes amat, ngalahin buibu yang lagi ngerubuti tukang sayur.'' Aldi mau tahu saja urusan ranjang orang.


''Bukanya elo juga nikah muda.''Gatra mencoba membalik keadaan.


''Gue dulu nikah bukan karena MBA ya?'' Aldi tidak terima jika keputusanya dulu untuk menikah dikala masih kuliah menjadi menjadi cibiran kalau dia menikah karena MBA.


padahal kenyatannya istrinya baru hamil ketika usia pernikahannya menginjak bulan ke ke tujuh.


Waktu itu Aldi terpaksa menikahi istrinya yang notabene anak yatim piatu dan hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Sang kakak tidak mengijinkan adiknya untuk pacar-pacaran. Aldi yang waktu itu bertandang ke rumah kekasihnya langsung ditantang oleh kakak kekasihnya, untuk menikahi adiknya. Buat apa pacar-pacaran hanya mengundang dosa. Kalau niatnya cuma pacar-pacaran gak jelas mending pisah saja, pinta kakak kekasihnya waktu itu.


Gatra jadi tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian dimana Aldi sangat frustasi dapat tantangan menikah.


''Ini kenapa jadi bahas masa lalu gue Tra, bukankah kita lagi bahas elo dan bini kecil elo.'' Aldi jadi senewen sendiri karena ditertawakan Gatra.


''Jadi gimana Tra? sudah elo apain aja tuh murid gue?'' lah balik lagi nih pertanyaan Aldi.


''Kepo!''


'' Kepo bertanya sesat aliran, lagian pertanyaan ini bukan cuma dari gue Tra, tapi juga pertanyaan titipan dari Farel.'' ya kemaren sewaktu mendaftarkan Ara dan menceritakan perihal dan sebab mustabab Gatra bisa menikahi gadis belia yang masih ABG. Farel berniat mengerjai Gatra dengan menyuruh Aldi bertanya tentang urusan ranjangnya.

__ADS_1


''Emang dasar ya, sahabat laknut. Bener-bener besok lamaran minta dibawakan Berlian Hartanti tuh anak.''


__ADS_2