Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
33 MELAHIRKAN


__ADS_3

Tengah hari di hari Minggu Raga sudah ada di rumah Ara. Gea yang menginap telah pulang pagi hari karena dijemput mamanya yang telah kembali dari menengok kakaknya.


'' Kok sepi .... si om belum pulang ya....'' tanya Raga begitu masuk ke dalam rumah Ara.


''Belum. Kak kita ke halaman belakang ya? ... Mbak Rini juga sendirian, Mas Antok lagi jemput Mak Tum di kampungnya dari subuh tadi belum pulang.'' ajak Ara dan diiyani Raga. '' Kak kenapa bawa gitar dari mana?'' tanya Ara lagi .


''Tadi habis latihan sama anak anak dulu, seminggu ke depan kita mau akustikan. biar pengunjung nggak bosan.'' jawab Raga. Kini mereka telah duduk dihalaman belakang.


''Oh.... bentar ya Kak aku tadi ngupas pepaya, Kak Raga mau? '' tawar Ara.


''Boleh . Ra .... gue boleh numpang renang di sini ya? '' pinta Raga.


'' Boleh. '' Ara masuk ke rumah untuk mengambil pepaya buah kesukaannya. Tak lama Ara keluar lagi membawa irisan pepaya dan segelas minuman.'' Lho Kak.... katanya mau renang kok malah main gitar?''


'' Nanti saja renangnya, nunggu keringat kering. '' Raga mulai menggenjreng genjreng gitarnya.


'' Kak ajari Ara gitar dong ?''


'' Boleh , sini''


Satu jam sudah Raga mengajari Ara ngegitar.Keringat ditubuh juga sudah kering '' Ra lo pegang sendiri gitarnya gue mau renang sekarang.''


''Iya. '' Ara mulai menggenjreng genjreng nggak jelas. Dan Raga mulai melepas bajunya. '' Kak!... jangan di depan Ara dong lepas bajunya, ihhh... saru. sanaan dong!.'' omel Ara.


''Maaf Ra... nih gue ke sana. Ntar pinjam handuk ya? ''


Byuurrr


Raga sudah berenang ke sana kemari. Arapun telah mengambilkan handuk dan meletakkan disalah satu sudut tepian kolam renang. Ara kembali duduk ditempatnya semula dan menggenjreng lagi gitar Raga.


Di rumah belakang, Rini keluar dari dalam rumah. Seperti meringis kesakitan dan meneriaki Ara. Ara menghentikan permainan gitarnya, bergegas menghampiri Rini.

__ADS_1


''Mbak Rini.... Mbak Rini kenapa....? tanya Ara bingung. Rini terus mengaduh dan meringis . Tangan kanannya mengelus elus perutnya dan tangan kirinya memegangi pinggangnya.


''Ra....''suaranya terputus.


''Kenapa mbak....?'' Ara masih saja panik. '' Mbak Rini kamu ngompol. '' teriak Ara keras sekali. '' Kak.... Kak Raga...'' Ara menghampiri Raga menyuruhnya buruan naik dari air. Ragapun kebingungan melihat Ara yang panik. Raga bergegas menghampirinya.


''Kenapa ... Ra..'' tanya Raga tergopoh gopoh dengan tubuh yang masih basah dan sisa air kolam masih mengalir dari tubuhnya. Raga melihat Rini yang kesakitan, '' Mbak Rini, apa sudah mau melahirkan?'' Raga berusaha untuk tenang, sejatinya dia juga bingung karena baru kali ini juga ngadepi orang mau melahirkan. Menanggapi pertanyaan Raga Rini hanya bisa mengangguk.'' trus Mas Antok sudah dihubungi, Mbak?''


''Tidak bisa Ga, ponselnya ada di rumah, ketinggalan entah kelupaan dia.''


'' Waduh si dedek sudah mau keluar.... gimana nih...'' ucap Ara yang masih panik.''


'' Kita bawa Mbak Rini ke rumah sakit lah ... Ra... Mbak bisa jalan ke depan kan? '' lagi lagi Rini mengangguk dan menurut. Raga menuntun Rini berjalan untuk dibawa ke rumah sakit.


''Aku pesan taksi dulu... ponselku ? ahh... di kamar mati lagi diisi baterainya. Gimana ini Kak? '' Ara masih saja panik. Langkah mereka telah sampai luar rumah menuju gerbang keluar. Raga melihat mobil Papa Randy ada di rumah berniat menggunakannya saja nggak mungkin kan dia bocengkan dengan motornya, apalagi nunggu angkutan lewat.


''Ra, kunci mobil om ditinggal kan ?''


''Iya.... tahu tempat narohnya kan?.... ambilkan gih.'' perintah Raga dengan nada suara setenang mungkin karena tidak mau menambah kepanikan Ara.


''Ya, Ara tahu sebentar Ara ambilkan.'' Ara kembali masuk ke rumah untuk mengambil kunci mobil di kamar papanya.Tak butuh waktu lama untuk mencari karena papanya, dalam meletakkan barang barangnya selalu terorganisir dan tak pernah berpindah tempat. Bila sudah selesai menggunakan dikembalikan ke tempat semula, bila lain waktu akan menggunakan lagi tidak kesusahan mencari. '' Kak ini kuncinya.''


Apa Kak Raga bisa nyetir


Raga menerima kunci mobil dari Ara dan langsung menuju samping rumah, dikeluarkan mobil dari garasi. Raga sudah bisa nyetir mobil tapi belum berlisensi.


Ara menuntun Rini menepi ketika mobil yang dikendarai Raga sampai di depannya. Rini masuk ke dalam mobil, Ara berlari menuju gerbang dan membukanya. Setelah mobil keluar Ara menutupnya kembali tanpa menguncinya dan langsung masuk ikut masuk ke mobil. Dengan kecepatan penuh Raga mengendarai mobil menuju rumah sakit.


Di tengah perjalanan Rini bersuara , '' Ga kita ke klinik bersalin kasih bunda, tempat aku biasa periksa kehamilanku. Itu di pertigaan depan belok kiri.''


''Iya, Mbak.''

__ADS_1


Raga tetap melaju dengan cepat , karena Rini yang sebentar sebentar meringis kesakitan.


Raga telah sampai mengantarkan di pelataran klinik bersalin kasih bunda. dengan selamat walau mengemudi dengan ugal ugalan. Raga dan Ara segera keluar dari mobil untuk membantu Rini keluar juga.


Satpam yang jaga di depan klinik segera siap sedia membantu begitu melihat wanita hamil keluar dari mobil. Mungkin memang sudah terlatih si satpam langsung menghampiri dengan mendorong kursi roda, mempersilahkan Rini untuk duduk dan membawa Rini masuk ke dalam klinik. Diikuti Ara dan dan Raga di belakangnya. Sesampainya di dalam Rini langsung disambut oleh dua perawat yang segera dibawa ke ruangan bersalin. Setidaknya Rini sudah merasa aman karena sudah berada di tempat yang semestinya. Sudah menahan rasa sakit suami tidak bisa dihubungi dan semakin pusing dengan kepanikan Ara.


Rini menoleh ke Ara.'' Ra, tas perlenkapan adek bayi belum kebawa, tolong kamu ambilkan ya? Mbak sudah aman di sini. Sama kasih tahu Mas Antok, dia pasti bingung nyariin. Mbak rasa Mas Antok dan Emak sudah ada di rumah.''


''Ara tinggalin Mbak Rini di sini?''


''Iya. Nggak papa, kamu pulang saja dulu, ini si adek juga nggak langsung keluar kok. Kamu yang tenang Mbak aman di sini.'' kata Rini menyakinkan Ara.


Dengan berat hati Ara menuruti permintaan Rini untuk pulang dulu. Bersama Raga, Ara balik arah keluar untuk pulang.


Pak satpam yang tadi menolong Rini menghentikan langkah Ara dan Raga.


'' Adek adek, maaf ya ? sebaiknya satu dari kalian mendaftarkan dan mengisi data diri mbaknya yang mau melahirkan tadi. ucap pak satpam dengan menunjuk ke bagian loket pendaftaran.


'' Lah kita tidak membawa apa apa Pak, tadi buru buru yang penting cepat sampai sini orang tadi Mbak Rini juga sudah ngompol. Terus gimana ini Pak? '' Ara memelas berharap ada solusi. Menatap pak satpam lalu menatap Raga. Mata Ara membulat sempurna membuat Raga bingung. '' Kak Raga kamu enggak pakai baju.'' ucap Ara dengan mata masih membulat dan kini menutup mulutnya dengan tangannya.


Raga juga baru menyadari kalau dia cuma pakai boxer dan bertelajang dada. Rasa malu mulai menyeruak ketika kesadaran telah pulih.


''Kan tadi waktu elu panggil, gue lagi renang. Mana elu teriak kenceng banget, gue kan juga panik Ra....''


Pak satpam mencoba menengahi . Emang banyak drama tercipta kalau ada orang akan melahirkan. Ini dua anak manusia akan ribut terus kalau tidak segera diatasi. guman bapak satpam.


'' Dek.'' Ucap pak satpam dan menepuk pundak Raga. '' Mending kamu pulang saja dulu ngambil data diri pasien, sekalian ngambil baju.''


Raga sudah tak kuasa menahan malupun menjawab.'' Lah kita emang mau pulang pak ngambil perlengkapan bayi sama kasih kabar suaminya. Bapak saja yang nahan kita.''sewot Raga.


''Maaf ya.. Pak ? kita ambilkan data diri Mbak Rini dulu sebentar. Nggak jauh kok, dekat ini rumahnya.'' ucap Ara dengan menarik tangan Raga untuk berlalu dari hadapan Pak satpam. '' Kak... ayo buruan.'' Ara mulai kesal dengan Raga yang malah emosi dengan pak satpam.

__ADS_1


__ADS_2