Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
19 Kegalauan Raga


__ADS_3

Setelah mengungkapkan perasaannya pada Ara dan tidak ada jawaban yang menyenangkan hati, Raga galau, pikirannya kalut.Hasratnya ingin melajukan motor dengan sekencang- kencangnya sirna. Teringat akan janjinya pada Papa Randy.Akhirnya Raga memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sampai rumah ternyata disuguhi drama keluarga.Ayah dan ibu tirinya sedang ribut besar. Entah kali ini masalahnya apa lagi.


Tanpa salam tanpa sapa Raga langsung masuk kamarnya. Disambar handuknya dan bergegas ke kamar mandi.Setelah berpakaian rapi Raga berniat keluar rumah.


Sampai di ruang tamu langkahnya terhenti


''Mau kemana kamu, baru juga pulang sudah pergi lagi. ''Suara ayahnya lantang.


''Kenapa? tumben banget tanya.''


''Raga jangan kurang ajar kamu!''


Raga tak memperdulikan kata-kata ayahnya.berlalu meninggalkannya. Berkedara tak tentu tujuan dan akhirnya berhenti di depan rumah Ara. Kebetulan berpapasan dengan Mas Antok.


''Ada yang bisa dibantu Mas?'' tanya Antok yang melihat Raga hanya duduk di atas motornya, dan pandangannya tertuju ke rumah. Membuat Antok curiga.


Raga kaget dan menoleh ke Antok.'' emmhh ..Ara ada? mas.'' akhirnya pertanyaan tentang Ara yang keluar dari mulutnya.


''Oh.. temennya Si Adek. yuk! masuk dulu. tak panggilkan.'' kata Antok jadi ramah.


Huuuuhhh kenapa jadi nanyain Ara, gimana kalau Ara jadi ilf**il ke gue. Ngapain juga berhenti di sini. baru juga tadi ketemu


''Mas ayuk , kok malah bengong.''


''Eh ...iya ..mas''


Raga dipersilahkan duduk di kursi teras, sementara Antok masuk dan menghampiri pasangan papa anak yang lagi duduk di


meja makan.


''Dek itu di luar ada temannya.'' kata Antok sembari menunjuk arah luar.

__ADS_1


''Siapa ya.. mas.'' Ara mengerutkan dahi ke papanya. Dan papanya hanya menaikkan bahu. Ara keluar dan mendapati Raga di teras.


''Lho kok . Kak Raga sudah ada di sini ? Ara bingung karena baru saja Raga pergi dan sudah ada lagi dengan pakaian yang berbeda.


Ragapun tak kalah kikuknya. Bingung kata apa yang mau diucapkan. Andai tadi nggak kepergok Antok, situasinya nggak seperti ini.


''Ayuk Kak masuk. '' ajak Ara


''Siapa Ra?'' papa ikut keluar untuk melihat tamu Ara.


''Oh.. Raga. panjang umur kamu , baru diomongi sudah di sini saja.Ajak masuk Ra.''


Dan mereka bertiga telah duduk di meja makan. Untuk kedua kalinya Raga duduk di meja ini , tenang dan penuh kehangatan. inilah yang membuat Raga betah.


''Kami baru selesai makan, kamu sudah makan belum? biar disiapkan Rini.'' tawar Papa Randy.


Rini yang diberitahu suaminya kalau ada tamu bergegas untuk membuatkan minum. ''Rin, siapkan makan untuk Raga.'' suruh Papa Randy.


''Enak Ga, kalau kurang minta tambah mbak Rini.'' karena piring Raga isinya telah berpindah tempat, Ara bangkit dari duduknya membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur. Dan sudah ada Rini yang siap unuk mencuci.


Ara kembali ke meja makan, tapi langkahnya terhenti, mendengar pembicaraan papa dan Raga.


''Ada yang mau kamu bicarakan dengan Om, Raga?'' tanya papa setelah Raga menyelesaikan makannya dan Ara pergi ke dapur.


Tiba tiba rasa grogi datang lagi. bingung harus mulai cerita dari mana. Sebab alasan Ara belum terima juga papanya.


''Emm.... anu ..Om ..saya'' Raga nampak terbata bata.


Papa Randy tertawa melihat Raga yang salah tingkah.''sudah ngomong saja, ndak usah grogi gitu.''


Sekali lagi hati Raga mencari perbandingan antara ayahnya dan papa Ara. Sungguh sangat berbeda. Papa Randy bisa memposisi diri sebagai ayah dan sahabat bagi anaknya.


''Om.. tidak marah?''

__ADS_1


''Marah kenapa?'' Papa Randy balik tanya.


''Saya suka Ara Om.'' jawab Raga pelan.


Papa Randy menggeser kursinya menatap lekat Raga '' rasa suka , rasa tidak suka itu muncul dari hati setiap manusia tidak bisa dicegah atau dihalangi. Kalau kamu suka dengan Ara berarti kamu tidak akan menyakiti Ara, akan menjaga dan melindungi Ara. betulkan?''


''Iya ''


''Lalu.. kenapa Om mesti marah, justru om berterima kasih padamu jadi tambah orang yang akan menjaga Ara.''


''Tapi tadi saya minta Ara jadi pacar saya. Om.'' agak takut Raga mengatakannya.


''Kalau Om melarang , kamu bisa terima, masih mau jaga Ara?'' Raga terdiam. lalu mengangguk pelan.


''Kamu tahu, Raga. Hanya Ara yang Om punya di dunia ini, sekuat dan semampu om akan jaga Ara. Ara sudah tidak ada mama, om berusaha jadi papa sekaligus mama untuk Ara. masalah Ara boleh atau tidak boleh pacaran itu karena Om melihat pada patokan umur. Ara masih 15 tahun.


Pergaulan anak sekarang beda dengan jaman om dulu. Om dulu kalau dilarang nurut, anak sekarang semakin dilarang semakin melawan. Rasa ingin tahunya yang tinggi. dengan internet segala bisa diakses, sosial media semakin menjamur.


Setidaknya ada 3 fase pola asuh yang om tahu yang pertama anak diperlakukan sebagai anak. dijaga, dibimbing dikenalkan pad dunia.


Dan sekarang Om dan Ara berada di fase yang kedua, Om adalah teman bagi Ara.Tempat dia mencurahkan permasalahan remajanya.


Andai om kasih kepercayaan ke Raga untuk ikut jaga Ara, apa Raga bisa?''


Baru kali ini Raga mengetahui bentuk hubungan anak dan orang tua yang saling menyayangi.'' Insyaallah Raga akan jaga dan lindungi Ara Om.''


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2