
''Kenapa? kenapa?.. ada foto Mas Gatra.'' Ara menerima ponsel Alana yang disodorkan paksa oleh Alana. Ara tidak percaya dengan gambar foto yang diperlihatkan Alana.
''Ya adalah! Mereka kan pacaran, Lo dodol apa bego! gak tahu hubungan mereka.'' sengit Alana. Senyumnya menyeringai Ara telah masuk perangkapnya.
Alana yang mengikuti Ara masuk ke toilet dan menunggunya hingga selesai. Tujuannya pasti ingin mengerjai Ara, mumpung dia lagi sendiri tanpa bodyguardnya. Sengaja dia akan memperlihatkan beberapa gambar foto antara Gatra dan kakaknya Claritta, yang dia ambil secara candid saat mereka masih berpacaran dulu.
'' Lo tuh sebagai keponakan seharusnya mendukung hubungan Om Lo! bukan berusaha untuk menjauhkannya dari perempuan yang sangat dia cintai." cerocos Alana begitu Ara keluar dari toilet. Tak perduli wajah Ara yang pucat karena di dalam Ara memuntahkan semua isi perutnya. Sengaja Alana menjatuhkan mental Ara. Sudah jelas Claritta bilang padanya bahwa Ara adalah istri Gatra yang terpaksa dinikahi.
Seperti pernah terjadi apa ini? de Javu. Gambar foto dua orang yang sedang bermesraan. Kepala Ara semakin pusing, omongan Alana yang terus memojokkannya seperti kumbang mendengung dan terus mendengung.
Ada kilasan dari masa lalu setelah melihat gambar Gatra dan Claritta yang terlihat mesra. Dimana? dimana Ara melihat gambar ini.
''Kenapa diam. Lo gak rela lihat mereka bahagia, atau Lo mau ngekepin Om Lo sendiri. Eh...''
Ponsel yang dipegangnya terjatuh yang tentu saja mendapat umpatan dari si empunya, Ara setengah berlari meninggalkan Alana. Kilasan di masa lalu seperti kepingan pazel yang tercecer. Kepala Ara semakin pusing ketika kepingan Pazel terus muncul.
''Mau kemana lo? dengar gak seh aku ngomong!'' Aluna jengkel sendiri karena Ara diam tak menanggapi ocehannya, dan berlari begitu saja meninggalkannya.
Tanpa arah Ara berlari tanpa sadar dia berada di tengah lapangan tempat yang dijadikan panggung dadakan para alumni.
''Ara..... Dek... beneran kan ini elo?'' suara laki-laki yang sejak melihat kelebat Ara berusaha mengikutinya.
Tanpa sadar keberadaan mereka segera menjadi tontonan umum. Suara penyanyi yang dalam sejenak mampu menghipnotis mengumpulkan siswa hampir semua siswa ketengah lapangan dan sejenak melupakan kegundahan akan hasil kelulusan. Sontak mereka kaget karena aksi si penyanyi yang tiba-tiba turun panggung dan mengejar salah satu teman mereka.
Raga. Saking senengnya bisa bertemu lagi dengan Ara setelah pencarian panjangnya setelah tahu kalau perempuan yang dicintainya itu masih hidup. Setelah takdir berhasil mempermainkannya dan dengan mudahnya juga mempertemukan kembali.Bener dia Aranya, yang selama ini dia cari. Mengapa dia harus berada jauh darinya harus menghilang darinya.
Ara menatap lelaki yang meraih tangannya. Melihat Raga, kepingan Pazel menjadi semakin jelas. Kejadian di toilet sama seperti yang dilihatnya, hanya tempatnya berbeda dan orang yang menyodorkan hp juga berbeda.
Kejadian mengerikan seorang yang terseret truk terpampang jelas di ingatannya. ''Maaf. Kak... Ara.'' dihempaskan tangan Raga
Samar tapi pasti bahwa orang yang saat ini berdiri di depannya adalah orang yang sama dengan gambar yang ditunjukkan seseorang padanya dan juga orang yang sama yang terseret truk.
Gambar foto yang memperlihatkan dua orang yang bermesraan terus terlihat dalam pikiran Ara. Dan membuatnya segera berlari meninggalkan Raga. Orang yang perlahan mulai diingatnya.
Raga yang tak menyangka kalau Ara tidak mengenalinya. berbanding terbalik dengannya,reaksi Ara bertemu kembali sungguh mengejutkan. Apa yang terjadi pada Aranya. Apa iya Ara telah melupakannya?
''Dek... tunggu jangan lari. Dek. Ara?'' Raga berusaha menghentikan Ara yang terus berlari yang tak tahu mau berlari kemana, pikirannya kalut. Ara merasa menjadi orang ketiga yang merebut kekasih orang. Hingga sampai keluar area sekolah.
Papa.... kenapa papa menikahkan Ara dengan Mas Gatra yang kekasih orang. Kenapa tidak biarkan saja Ara sendiri pa. Menikahi Mas Gatra, Ara jadi seperti pelakor. Dan laki-laki tadi, kenapa dia mengejar Ara bukankah dia juga sudah punya kekasih. Papa... Ara kangen papa.
__ADS_1
Ara yang tak memperdulikan sekeliling tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menyerempetnya.
Sebenarnya Ara sudah sampai di sebrang jalan dan posisinya juga sudah ada dipinggiran jalan. Sayangnya ada seseorang yang reflek mendorongnya, dan sangat menguntungkan mobil yang akan menyerempetnya dengan sengaja. Ara terpelanting dan kepalanya terbentur pada pot bunga besar yang ada di trotoar.
****
''Ara......!!!'' Raga berteriak sangat kencang diserang jalan. Hatinya kembali pilu melihat Ara untuk kedua kalinya celaka karena dirinya. Lebih pilu lagi Raga mengenali orang yang dengan sengaja mendorong Ara. Sebagai teman mengapa dia begitu tega.
Berlari cepat menghampiri Ara, tatapan tajam menghunus tak lepas pada perempuan yang telah dengan sengaja mendorong Ara. Ingin rasanya menghabisinya tapi kondisi Ara lebih penting.
''Kak Raga___ Ara___ maaf.'' Ara pingsan dalam dekapan Raga.
''Araaaa.... tolong jangan tinggalin gue lagi.'' air mata raga lolos mengalir ditepuk-tepuk pipi Ara berharap Ara akan terbangun.
Beruntung kondisi di sekitaran jalanan tempat Ara terserempet ramai karena wali murid yang akan mengambil hasil UN anak-anaknya sudah mulai berdatangan.Banyak mobil yang acak parkir di pinggir jalan dan sebagian masih lalu lalang mencari tempat kosong untuk parkir. Ditambah lagi aksi Raga yang mendadak turun panggung dan mengejar Ara. Membuat penonton yang semula terbuai dengan alunan suara Raga terkaget dan langkah Raga mengejar Ara.
Pak Aldi yang baru saja datang disusul Mitha dibelakangnya melihat keributan segera menghampiri. Kaget karena yang terserempet ternyata Ara.
Mitha tanggap dengan arti tolehan Pak Aldi segera memeriksa kondisi Ara.
''Minggir semua!'' teriak Pak Aldi, karena rasa ingin tahu dari orang sekitar hingga membuat sesak dan susah untuk memberi pertolongan pada Ara yang pingsan.
''Biar saya yang gendong Ara. tolong siapkan mobil saja untuk membawa Ara ke rumah sakit.'' Raga menepis tangan Pak Aldi yang akan mengambil Ara dari dekapan Raga.
Banyak pertanyaan dalam benak Aldi, siapa laki-laki ini? kenapa dia menangisi Ara? dan berani benar dia memerintahnya. Tapi Aldi mengesampingkan semua itu. Membawa Ara ke rumah sakit lebih utama.
''Pakai mobil Mitha saja pak, Ayuk itu mobilnya yang di sana.'' Mitha menunjuk mobilnya yang letaknya paling mudah dijangkau.
Raga segera membopong Ara membawanya ke mobil yang ditunjuk Mitha.
Mitha memberikan kunci mobilnya pada Aldi berharap Aldi yang menyetir karena dia akan menelpon Farel untuk memberi kabar kecelakaan Ara.Beruntungnya Aldi paham dengan kode yang diberikan Mitha.
Klinik terdekat untuk pertolongan Ara adalah klinik tempat Iwan. Dan Aldi membawa mobilnya ke klinik tersebut. Toh klinik nya juga lumayan besar fasilitasnya juga lumayan komplet.
*****
Pia segera berlari turun dari rooftop dia melihat kejadian dimana Ara disrempet. Pia melihat dan merekam kejadian tersebut dari rooftop.
Pia yang penasaran dengan suara yang dia kenali sengaja ingin merekam si pemilik suara. Ternyata tepat dugaannya sipemilik suara adalah si penyanyi kafe. Ternyata dia juga alumni sekolah yang sama dengannya. Pikir Pia.
__ADS_1
Tapi kenapa dia mengejar Ara? dan kenapa Ara menghindar dan berlari keluar area sekolah? hingga....
Brukkkk sretttt....
''Ara.....'' teriak Pia dan segera turun dari rooftop.
Sampai di lokasi kejadian Ara sudah dibawa ke klinik di situ cuma ada sipenyerempet yang tak berani keluar dari mobilnya.
Si penyerempet setelah melakukan aksinya memang tak bisa kabur, karena kondisi jalanan yang ramai dan banyaknya mobil yang lalu lalang dan juga ada mobil yang segera menghadangnya dengan berhenti tepat di depannya.
Mobil Mithalah yang berhasil mencegah mobil si penyerempet untuk kabur. Itu makanya mobilnya Mitha juga yang bisa dengan mudahnya membawa Ara ke klinik terdekat. Mitha yakin pasti banyak saksi mata yang akan mengurusi si penyerempet setelah mobilnya pergi.
Pia sampai pada mobil yang menyerempet. Kaget Pia ternyata Claritta yang ada dibalik kemudi. Nampak di dalam Claritta gemetaran ketakutan tak berani keluar dari mobil walau suara gedoran dari luar semakin kencang.
''Mirip artis papan atas melakukan penyerempetan pada siswa SMA.'' monolog Pia dengan memegang ponselnya yang diarahkan ke wajah yang ada di dalam mobil.
Hingga saksi yang lain mengikuti ulah Pia bahkan ada yang terang-terangan menyebut nama dan memposting ke akun media sosial mereka.
''Hentikan apa-apaan kalian megerubuti mobil kakak gue.Minggir!'' teriak Alana tak terima mobil kakaknya dikerubuti banyak orang.
Hingga banyak krasak krusuk dari para saksi mata. Biarlah mereka yang mengadili. Pia meninggalkan kerumunan tanpa campur tangannya lagi pasti keadilan untuk Ara akan didapat. Berharap media sosial segera membuka tabiat sebenarnya si artis songong.
Gatra dan Farel yang datang ke lokasi kejadian mengira hanya keramaian biasa tak tahu kalau baru saja ada kejadian. Sampai Farel menerima telepon dari Mitha yang sedang membawa Ara ke klinik.
Seketika Gatra lemas mendengar Raranya dibawa ke klinik terlebih karena kecelakaan.
Pia yang melihat ada Gatra segera menghampiri dan mengambil kemudi untuk menyusul kemana Ara dibawa melihat kedua pria dewasa didepannya yang shock berat tak mungkin mereka mampu menyetir dengan aman.
''Ke rumah sakit mana Ara dibawa Om biar aku yang nyetir.'' Pia bertanya pada Farel yang baru menerima kabar tentang Ara.
''Ayuk Om jangan bengong kita susul Aranya.'' lanjut Pia yang gemes melihat Gatra bergeming terpaku.
''Tra masuk! bini Lo aman ada Mitha dan Aldi yang jagain." lanjut Farel yang memapah Gatra untuk masuk mobil.
Pia menjalankan mobil Gatra. Sengaja Pia memberikan ponselnya ke Farel menyuruhnya untuk melihat Vidio yang terakhir dia rekam.
"Mobil Claritta." jawab cepat Pia ketika Farel selesai melihat Vidio Pia. "Tenang Om banyak saksi mata gak mungkin dia bisa berkelit.
Gatra ikutan melihat Vidio Pia. Fokusnya pada lelaki yang mengejar Ara. Kenapa Raranya harus berlari menghindari lelaki tersebut hingga dia terserempet mobil.Siapa lelaki tersebut.
__ADS_1