Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
52. Ini Tentang Ara


__ADS_3

Sementara di kota lain, kota tempat dua hati bertemu dan saling bertaut.


Raga dengan segala keberaniannya menginjakkan lagi kakinya di kota Magelang. Jikalau bukan karena Papanya yang sakit dan ingin bertemu dengannya, enggan rasanya Raga kembali. Rasa sakit akan kepergian Ara masih terasa.


Bagai luka yang tersiram air garam, kembali perih saat melewati jalanan yang pernah dilalui bersama Ara.


Raga pov


Tomi, saudara tiriku dadi papaku menelponku berkali-kali dan sampai berhari-hari, dan tak pernah kuangkat. Kupikir untuk apa mengangkat telepon darinya toh selama ini hubungan kami memang tidak baik. Hingga akhirnya, dia mengirimkan pesan mengabarkan bahwa Papaku dirawat di rumah sakit. Pesan yang membuatku jengkel bukan kepalang. Kenapa dia harus bawa-bawa urusan bakti anak kepada orang tua.


Aku memang sudah memaafkan semua perlakuan Papa padaku, atas anjuran Mama Aku harus iklas semua yang terjadi sudah ketentuannya dan ada hikmah dibaliknya. Itulah Mamaku, entah hatinya terbuat dari apa, selalu bisa memaafkan orang-orang yang menyakitinya.


Tentang pesan dari Tomi aku menyampaikannya pada Mama, seperti yang kuduga dengan kebaikan hatinya Dia menyuruhku untuk menengok Papa.


Perempuan yang baik akan dipertemukan dengan lelaki yang baik pula. Begitulah gambaran Mamaku dan dan Papa Danu. Dan apakah Aku tidak cukup baik sehingga Aku terpisah dari Ara.


Dengan lapang dada Papa Danu juga menyuruhku menemui Papa. 'Saat ini Papamu lebih membutuhkanmu.' itulah katanya.


Dan akhirnya di sinilah aku, kembali ke kota ini. Papaku sudah tidak tinggal di asrama lagi. Setahun yang lalu, setelah Aku kecelakaan, dan Musibah Maya, Papa mengajukan pensiun dini.


Sesampainya di kota ini Aku langsung ke rumah sakit tempat Papaku dirawat. Keadaannya sudah membaik, dan dokter sudah mengijinkan bisa pulang hari ini. Tentu saja Aku tahu sewaktu dokter bilang Papa boleh pulang Aku baru sampai. Aku menungguinya sampai sore. Tak ada percakapan yang berarti diantara kami.


Setahun tak bertemu, banyak perubahan pada Papaku itu. Tubuh kekarnya sudah tidak nampak, yang ada kerutan di sana-sini. Entah berapa kilo berat badannya merosot, yang pasti lingkaran matanya kelihatan sangat cekung. Perasaanku jadi iba padanya.


Istri dan anaknya, Tomi datang untuk membawa Papaku pulang. Walau diam tapi bisa kurasakan tatapan sinis istrinya.


''Raga, tahukan Papa sudah boleh pulang hari ini.'' ucap Papaku


''Iya.'' jawabku pendek. Setidaknya Aku senang Dia bisa kembali sehat.


''Mau ikut pulang dengan Papa?'' tanyanya ragu-ragu. Setelah sekian tahun hubungan kami yang buruk, dan tiba-tiba membaik, tak serta-merta menghapus kecanggungan diantara kami.


''Saya masih ada urusan di sini, nanti kapan-kapan saya mampir.'' kulihat seruwat kesedihan di mukanya, karena jawabanku.


Setelah dari rumah sakit, Aku langsung mencari penginapan, untukku tidur malam ini. Karena Aku yang tidak bersedia untuk menginap di rumah Papaku. Menurutku rumahnya terlalu jauh, di perbatasan Purworejo.


Setelah dapat penginapan Aku pergi ke cafe, tempatku dulu menyalurka hoby. Ownernya masih tetap sama, Raditya. Betapa kagetnya dia melihatku datang.


Cafe masih sepi mungkin karena bukan hari libur dan hari juga masih sore. Radit menemaniku dududk dan banyak bercerita.


''Apa kabar lo Bro, setahun ngilang tak ada kabar dan berita.'' Dia tanya kabarku, apa Dia tidak tahu tentang berita kecelakaanku.

__ADS_1


''Ginilah, aman terkendali.Makin sukses saja usaha lo, ''


''Lumayanlah, kalau dulu minta kiriman sekarang gantian, gue yang kirim ke rumah. jawab Radit bangga.


''Anak-anak masih suka ke sini tidak?'' Aku menanyakan mereka yang sering bareng ngamen di sini.


''Semenjak lo berhenti yang katanya mau fokus ke ujian, mereka ikutan bubar. Gak tahu sekarang pada di mana, gak pernah ke sini. Yang gue tahu cuma Aldo yang masuk Akpol. Nah lo katanya sempet kecelakaan, iya!''


''Iya.''


Kulempar pandangan keluar cafe, seperti melihat teman SMAku di luar. Kuperhatikan Dia masuk ke cafe yang sama denganku.


''Dimas!'' kupanggil dengan suara keras, sampai Radit ikut menoleh ke orang yang kupanggil Dimas. Sepertinya Dimas langsung mengenaliku, makanya Dia lansung menghampiriku dan duduk di sebelahku.


''Raga Setya Dharma kemana saja ente, ngilang gak ngasih kabar.'' tanyanya.


''Gak kemana-mana, juga.''


''Gak kemana-mana, kita tuh nyarin Kamu. Yang katanya kecelakaan, disamperin ke rumah sakit, gak ada, ke rumah yang ada sepi.Dibawa jin ya? '' lah si Dimas nerocos saja, sudah kayak pedagang cabe di pasar.


''Gue berobat, coeey. Lo tahulah gue kecelakaan parah. Setelah sembuh gue tinggal dengan ibu kandung gue di Jakarta.'' mendengar keteranganku Dia kelihatan manggut-manggut.


''Jadi karena Kamu pindah, Ara juga ikutn pindah.''


Apa maksud si Dimas ini, Ara pindah? apa maksudnya, Ara pindah ke alam lain dan gara-gara Aku.


''Apa maksudmu?'' lirihku.


''Kamu sudah putus dari Ara, gak tahu lagi tentang Dia. Baiklah kalau begitu biar Aku mendekati Ara, mana makin cantik saja, tuh perawan.''


Dimas ngomong apa Aku yang kok mendengarnya jadi bingung.


''Kamu ngomong Apa Dim? ada Ara dimana? bukankah Ara sudah meninggal setahun yang lalu.ucapku lirih. Ingatanku kembali ke masa dimana Ara terlempar dari boncenganku dan bendera kuning di sepanjang jalan menuju rumah Ara.Serta banyaknya pelayat yang datang. Saat itu Aku terlalu pengecut.untuk sekedar mengantar Ara ke peristirahatannya yang terakhir.


''Ara sudah mati! kamu kira perempuan yang kutemui tiga bulan yang lalu itu peri, kuntilanak gitu!'' tanya Dimas ngegas.


'' Tenang dulu, minum.'' Radit menenangkan Dimas dengan memberikan minumanku pada Dimas. Memang busiet tuh orang.


Kulihat Dimas mengeluarkan Hpnya, membuka galerinya dan diberikan padaku.


DUG Duerr

__ADS_1


Kulihat satu persatu foto di galeri Hp Dimas.


''Ara.'' lirihku tanpa kusadari air mataku mengalir, Aku menangis. Ara masih hidup, masih ada di dunia ini, dunia yang sama denganku.


''Di mana elo dapat foto-foto ini, Dim?'' tanyaku pada Dimas.


'' Aku dapat di Semarang, Dia lagi ngecamp bareng teman-temannya di Gedong Songo. Tadinya Aku ragu dia Ara kamu bukan? dan Aku semakin yakin kala Dia menyebutkan nama lengkapnya Mutiara Dinanti. Tapi sayangnya Dia tidak mengenaliku.


Ya Tuhan, benarkah Ara masih hidup. Ijinkanlah Aku bertemu dengannya.


''Kamu tahu Dia tinggal di mana sekarang.''


''Itu masalahnya, Ga. Aku berusaha mencari informasi tentang Ara melalui temannya, Tapi nihil hasilnya, dia bilang baru kenalan sama Ara dan tidak tahu apa-apa tentang Ara. Entah benar, entah dia mau melindungi temannya.''


Pada Akhirnya Aku ceritakan semua pada Dimas dan Radit tentang kecelakaan setahun lalu. Mereka jadi bersimpati padaku.


''Untuk mengobati kerinduanmu pada Ara, mana Hp kamu Aku shareitkan foto-foto Ara. Kamu simpan yang di Hpku biar kuhapus, bisa berabe kalau ketahuan cewekku.'' Bertemu Dimas ada harapan bertemu Ara.


'' Dim bisa antarkan gue ke rumah Ara yang di sini, gue mau memastikan dan cari tahu Ara di mana sekarang.''


''Bisa.''


Dengan diantar Dimas Aku sampai di rumah Ara. Rumahnya sepi, gelap padahal hari sudah malam tak satupun lampu menyala.


Kebetulan ada tetangga yang lewat.


'' Permisi Bu, numpang tanya, kok rumah ini sepi ya, penghuninya kemana ya?''


''Lagi mudik Mas, ada saudaranya yang menikah.'' jawab ibu-ibu yang lewat buru-buru.


''Gimana?'' tanya Dimas. Dan Aku hanya menggeleng.


''Antarkan Gue ke penginapan saja, Dim. Gue butuh istirahat. Besok pagi harus balik ke Jakarta. Gue ada penerbangan pagi.


Raga pov end


*


*


*

__ADS_1


*


Ada yang kangen Raga???


__ADS_2