
Dirasa tenganya sudah cukup pulih untuk perjalanan pulang, Raga mengajak Ara untuk pulang. Dan sepertinya Ara masih enggan untuk pulang.
''Kak bentaran dulu, Ara masih suka di sini. lihat deh
Borobudurnya semakin jelas kelihatan.''
''Sebenarnya akan lebih indah lagi lihat pemandangan matahari terbit dari sini, Ra...'' terang Raga.
''Seharusnya Kakak kasih tahu dong dari awal kalau mau ke sini... aku kan jadi pengen lihat ... '' Ara jadi memberengut.
'' Mana mungkin Ra gue ngajak elu keluar jam tiga pagi, pasti nggak dibolehin papamu.'' Raga menyentil dahi Ara. Tuk
''Aduh... sakit Kak...'' Ara mengusap dahinya.
''Makanya Ayo pulang lain kali ke sini lagi.''
Pukul satu lewat dikit Ara sudah sampai rumah. Raga cukup tahu diri, untuk berlama lama di rumah Ara. Baginya diperbolehkan pergi berdua dengan Ara sudah cukup luar biasa baginya. Dia tidak mau merusak kepercayaan yang diberikan Papa Randy. Makanya setelah mengantar Ara pulang dia juga langsung pamit pulang.
''Gimana Dek... ramai Borobudurnya? '' Papa Randy membuka pembicaraan setelah Raga pamit pulang.
'' Borobudur kan emang selalu ramai Pah.... kecuali kalau ditutup.'' Ara menyelonjorkan kakinya di sofa ruang tengah sambil memijit mijit kakinya yang baru terasa pegal pegalnya ketika nyampe rumah.
''Lah emang tadi nggak jadi ke mbudurnya.... '' jawaban Ara yang ambigu membuat bingung papanya.
'' Maaf pa...tadi Ara sama Kak Raga emang nggak jadi ke Borobudur, hanya lewat saja, tapi perginya ke Puntuk setumbu, tapi tetep kok lihat Borobudur dari sudut yang lain. Tadi tuh waktu jalan di sana kaki Ara tidak sakit tapi kok sekarang rasanya linu semua.'' keluh Ara.
'' Kamu naik bukit.... '' papa geleng geleng tak percaya anaknya mampu jalan jauh apalagi menapaki bukit.'' jalan kan ...dek? '' papa masih tak percaya.
'' Ihhhh... papa . meragukan kemampuan anaknya, ini lho buktinya, kaki Ara linu banget.....''
__ADS_1
MakTum datang dari belakang melihat Ara kesakitan, mendekat ''kenapa Dek kakinya diurut urut gitu.''
'' linu , mak...aaaaa sakit , mak...'' Ara mendrama siapa tahu mak tum bisa punya solusi. Nggak seperti papa dari tadi godain terus.
Mak Tum kembali ke belakang. entah mau ngapain. melihat anaknya dicuekin Papa Randy terkekeh dan mulai menggoda lagi.
''Itu tandanya kamu kurang olah raga Ra.... selama ini kamu kurang jalan, gimana mau jalan keluar dikit aja langsung chat abang ojol.''
''Papa .... anaknya . sakit nih? jangan diledekin napa.'' Ara jadi memberengut. '' Pah... kata Kak Raga kalau ke sana paling bagus tu pas pagi hari lihat matahari terbit. kapan kapan Ara boleh ya ... ke sana lagi.''
'' Pikirin dulu tu kaki. baru sekali saja sudah ngeluh , sok sokan mau ke sana lagi dek....'' seraya meninggalkan Ara dan masuk kamar.
''Tapi Pah ...capeknya terbayarkan lunas dengan keindahannya.''
Mak tum datang dari belakang, ternyata membawa minyak urut. Ara yang curiga dengan baunya '' Mak apa itu?''
'' Ini buat ngurut kakimu dek, biar nggak ngilu '' Mak Tum duduk disebelah Ara mengambil kedua kaki Ara yang selonjoran untuk dipangku.Dibalurkan minyak kemudian diurut sebisanya.
Terdengar suara bel pintu, '' Mak ada tamu... siapa ya... siang siang gini ganggu aja. '' Ara gedumel sendiri.
MakTum bangkit untuk melihat siapa yang datang, dibukanya pintu utama '' cari siapa mas ?.'' tanya Mak Tum pada laki laki tinggi berkuli putih dan bermata sipit yang berdiri di depannya, setelah pintu yang jadi batasannya dibuka.
''Cari Ara. '' kata si pemuda tanpa basa basi.
teman si adek kok tidak ada sopan sopannya, tampang si cakep berbanding terbalik dengan kelakuannya. masih mending si mas Raga urakan tapi sopan.
''Makkkkkk.... kok bengong, Ara ada kan? '' tanya si pemuda itu lagi. '' pasti Mak Tum lupa ya .. sama saya, Daud adeknya Sizi. temannya Kak Arti.'' Mak Tum yang belum bisa mengingat sempurna siapa Daud hanya bisa mempersilahkan masuk dan menyuruhnya duduk di ruang tamu.
''Siapa, Mak ? '' tanya Ara yang melihat Mak Tum kebingungan.
__ADS_1
''Da...ud '' kata Mak Tum ragu ragu.
''Oh..... Daud. mau apa? Mak.''
''Mak belum tanya sampai situ Dek, lawong Mak saja belum ingat siapa Daud.''
''Biar Ara temui, Mak buatkan teh panas ya, buat si Daud. panas . .. panas deh.'' si emak ceklikikan dengan kejahilan anak asuhannya, ialah siang bolong panas panas minum teh panas.
Rasa ngilu dikakinya sudah berkurang karena efek panas dari minyak urut yang aromanya maha dahsyat. Baru mau mendekat Daud sudah menutup hidungnya. Ara yang melihat ketidaksukaan Daud dengan aroma minyak urut sengaja mendudukkan diri di sebelah Daud yang spontan membuat Daud meloncat pindah tempat duduk ''Ka...mu ... sakit Ra?'' tanya Daud tertatih. dan membuat Ara tertawa dalam hati.
''Kaki aku ngilu dua duanya, ini tadi lagi diurut , tapi ada kamu datang. Ada apa ya Ud?'' Ara seperti ingin membuat Daud merasa bersalah karena mengganggu proses penyembuhannya.
''Ini Ra tadi aku ada kepentingan di daerah sini, jadi ingat rumahmu, ternyata kamu masih tinggal di rumah ini.'' masih saja ngeles padahal sengaja kan. tak lama Mak Tum keluar dan benar benar membawa secangkir teh panas untuk Daud.
''Iya... memang aku mau tinggal di mana lagi. Daud ayuk minum? '' seraya mengibaskan tangannya yang penuh aroma minyak urut. Uap panas dan aroma minyak urut membuat Daud ingin muntah yang sebisa munkin ia tahan.
''Wah aku salah datang ya... Ra? maaf ya . Aku pulang saja dulu lain kali aku boleh kan, ke sini lagi.''
''Iya... maaf atas ketidak nyamananmu . hati hati Daud.''
Daud pulang tanpa meminum tehnya sama sekali. Setelah Daud menghilang jauh dari balik pintu Ara ceklikikan sendiri dan membawa teh dalam cangkir ke dalam dan kaget karena tingkahnya diperhatikan dan diketahui.
''PA...PA!''
*
*
*
__ADS_1
*
*