Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
79. Bukan Cinta Tapi Posesif


__ADS_3

Apakah keputusan Mas Gatra untuk menjalankan amanah Papah, menikahi Ara sudah tepat? Apakah ada penyesalan pada Mas Gatra? Bagaimana kalau Mas Gatra tidak bahagia? dan pernikahan ini akan menjadi belenggu untuknya. Maaf Mas, maaf kalau Ara menjadi beban dan penghalang kebahagiaan Mas.


'' Ra!!! woi! bengong. itu gurunya sudah masuk.'' gertakan pelan Pia membangunkan lamunan Ara. Pikirannya sedikit kacau setelah tahu wanita-wanita cantik disekeliling Gatra. Aku mah apa? hanya remahan mie instan yang tidak ikut masuk ke dalam panci air mendidih.


'''Raaaaa!!!!'' kali ini Pia menendang kaki Ara karena kembali melamun.


''Iya.'' Ara kembali fokus ke apa yang sedang gurunya terangkan.


******


Sementara itu disebuah mobil yang tengah melaju pelan di jalanan yang mulai macet.


''Bel.'' Gatra menyebut nama Sabila yang duduk disebelahnya tanpa menoleh.


''Bel, gue gak mau kejadian hari ini terulang lagi. Dimana elo yang tiba-tiba datang ke apartemen dan bertindak seolah elu sering datang dan berlaku semaumu. Kita hanya rekan kerja dan elu ke apartemen gue baru dua kali sama yang tadi. Gue gak mau sampai Ara tersakiti, perasaanya sangat lembut dia gak akan bilang tidak suka atau terganggu. Dia akan menyimpan sendiri perasaannya.'' selesai dengan kata-katanya Gatra menoleh ke Sabila karena ada isakan tangis terdengar.


Gatra terpaksa menepikan mobilnya. ''Elu kenapa Bel?'' pertanyaan Gatra sukses membuat tangis Sabila pecah dan semakin keras hingga membuat Gatra kebingungan.


''Bel kita masih di jalan, elu kenapa?'' Gatra semakin frustasi setelah sekian menit tangis Sabila tak juga berhenti. Gatra membuka pintu mobilnya berniat keluar mungkin Sabila pengen sendiri.


''Bang Gatra Jahat sama bila! hiks hiks hiks.'' suara Sabila menghentikan Gatra yang hendak keluar mobil.


''Jahat gimana?'' Gatra menutup pintu mobilnya kembali.


''Abang mikirin perasaan anak ingusan itu! Abang gak mikirin perasaan Bila.'' Sabila menghentikan tangisnya dan mulai mengeluarkan amarahnya.


''Gue mikirin Rara karena dia istri gue! dan dia bukanlah anak ingusan seperti yang kau tuduhkan.'' Gatra tersulut emosi dengan kata-kata Sabila.


''Bila suka.... Bila cinta sama Abang. Sedari Abang masih bersama Clarita Bila sudah jatuh cinta ke Abang sejak pertama Bila melihat Abang. Waktu itu Bila hanya bisa memendam rasa Bila karena Abang masih bersama Clarita sepupu Bila. Bila selalu menahan sakit setiap Clarita bercerita tentang Abang. Sampai Clarita menawari Bila untuk bekerja di tempat Abang, yang sedang membutuhkan sekretaris sungguh sebuah kesempatan untuk Bila dekat dengan Abang. Bila merubah penampilan Bila juga untuk Abang. Karena dalam setiap cerita Clarita Abang selalu ingin agar Clarita perpakaian yang sopan. Bila juga perlahan membuat Abang tahu bagaimana Clarita di belakang Abang. Dia tak sebaik yang Abang tahu, Dia masih saja merayu dengan menyodorkan tubuhnya ke Om-om produser atau sutradara untuk memuluskan kariernya. Tanpa menyakiti Clarita Bila berharap Abang berpaling kepada Bila. Tapi kenapa? setelah dua tahun Abang memilih dan tiba-tiba menikah dengan yang lain? Apa arti perhatian Abang selama ini untuk Bila.'' Sabila mulai mengeluarkan unek-uneknya.


''Sorry Bel kalau selama ini gue buat elu baper.'' Gatra merasa kasihan pada Sabila. Gatra merasa selama ini perhatiannya ke Sabila lebih daripada karyawan perempuan yang lain karena Sabila yang lebih dekat dengannya karena posisinya di kantor adalah sekretarisnya. Aneh kan kalau Gatra lebih dekat dengan karyawan perempuan yang posisinya resepsionis kecuali mereka ada hubungan pribadi.


Gatra suka dengan kinerja Sabila yang rapi dan cekatan. Tapi sayangnya bukanlah Sabila perempuan yang selama ini Gatra cari untuk dijadikan istri pendamping hidup dan belahan jiwanya.


Tipikal istri idaman masa depannya justru Gatra temukan dan ada pada diri Ara, istri kecilnya. Walau perlu perjuangan panjang untuknya memenangkan hati Ara seutuhnya.

__ADS_1


''Apa kurangnya Bila untuk Abang? Abang menikah karena terpaksa kan? Abang cuma kasihan dengan gadis itu kan? Bila bisa kok nungguin Abang sampai Abang mengakhiri amanah Abang.''


Stok kesabaran Gatra sedang diuji, untuk Menghadapi Sabila yang ternyata cinta mati padanya.


''Gue justru kasihan ke elu Bel? Rasa cinta elu ke gue itu lebih mendekati ke posesif. Itu bukan cinta Bel. Dan bila elu mau merubah diri dan penampilan elu itu harusnya dari hati elu dan karena Allah, bukan dari gue atau karena gue. Iklas dari hati untuk Sang Khalik. Percuma elu baik, solehah, dan lembut di depan gue kalau elu masih suka pergi ke club dan pamer body di sana.''


DEG


Sabila tertegun bagaimana bisa Gatra bisa tahu kelakuannya di luar kantor. Pergi ke club karena di sanalah dia biasa melepas penat setelah rutinitas hariannya. Jauh sebelum mengenal Gatra Sabila sudah sering pergi ke club. Tentu saja bersama sepupunya Clarita.


''Bila ke sana hanya untuk melepas penat Bang. Kalau Abang tidak suka Bila akan stop tidak akan ke club lagi.'' Bila tak bisa mengelak karena mamang itu kenyataannya.


''Gue senang bisa jadi barometer elu merubah elu menjadi lebih baik. Tapi maaf gue gak bisa menjanjikan apa-apa ke elu. Gue pria beristri dan sudah berjanji dalam hati gue untuk setia pada istri.''


''Elu masih muda Bel, cantik. Di luaran sana masih banyak laki- laki yang mungkin salah satunya jodoh yang dikirimkan tuhan untukmu.'' Gatra berusaha bijak ke Sabila agar dia bisa menyadari bahwa cinta yang dia punya itu salah.


''Bila pusing Bang, Bila ijin tidak masuk kerja ya, Bang?'' Sabila membuka pintu mobil Gatra dan keluar berharap kalu Gatra menghentikan tindakannya. Nyatanya tidak Gatra membiarkannya berlalu pergi begitu saja, hanya anggukan yang berarti setuju dia ijin tidak masuk kerja.


Gatra kembali melajukan mobilnya ke kantor setelah memastikan kalau Sabila mendapatkan taksi yang entah akan membawanya kemana.


Sesampainya di kantor senyuman masam Farel sudah menyambutnya.


''Sabila gak masuk, pusing katanya.'' Gatra langsung saja meninggalkan Farel dan masuk ke ruang meeting.


Meeting Gatra dan timnya dengan pihak klien berakhir di jam sebelas tiga puluh. Hal pertama yang dilakukan Gatra setelah mengantar kliennya pulang adalah membuka hp yang sedari awal meeting Ia silent. muncul pesan dari istri kecilnya yang membuat Gatra senyam-senyum sediri.Untungnya Gatra sudah berada di ruangannya sendiri sehingga tingkahnya yang seperti ABG labil sedang jatuh cinta tidak diketahui teman dan karyawannya.


My Little Wife 📩


Mas Ara mau minta ijin boleh ya? boleh dong. Nanti pulang sekolah Ara mau ngeMall bareng teman sekelas Ara, Safea Miranti yang artis Ftv itu lho! soalnnya nanti jam terakhir kosong para guru pada mau takziah.


Pesan dari Ara dijam sembilan pagi. Berarti sudah hampir tiga jam yang lalu. Dan sekarang pasti Raranya sedang dalam perjalanan ke mall yang dituju. Gatra tak ingin mengekang atau membatasi Ara biarlah Ara menikmati masa remajanya dulu walau kini statusnya adalah istrinya. Toh pergaulan Ara selama yang Gatra di Semarang tak ada yang menyimpang dan baik-baik saja. Tapi nama teman yang disebut akan pergi bersama Raranya sangat menggangu pikiran.


Farel masuk ke ruangan Gatra berniat mengajaknya makan siang karena sudah waktunya jam makan siang.


''Bos, mau makan bareng kita- kita gak?'' ajak Farel. '' teman-teman sudah reservasi di restoran jepang di mall A. itung-itung merayakan keberhasilan kita dapat proyek dari klien tadi.''

__ADS_1


''Boleh, tapi sebentar.'' Gatra membalas pesan dari istri kecilnya.


My Little Wife 📨


Boleh, pulangnya jangan sore-sore atau nanti Mas jemput kalu sudah selesai.Rara bilang ke Mas, Rara pergi ke Mall mana.


''Chat siapa seh lo? Bini! bukannya masih sekolah? dasar suami bucin.'' Gatra diam saja tak menjawab dan tak menyangkal dikatai temannya.


Waktu makan siang Gatra dan rekan-rekan menjadi lama hampir dua jam setengah mereka berada di restoran jepang. tentu saja mereka memilih privat room sehingga tidak menggangu pengunjung lainnya. Karena selain makan mereka juga membahas ide-ide untuk proyek iklan yang didapatkan dari meeting tadi.


''Elu tahu artis Ftv Safea Miranti?'' tanya Gatra ke Silvi salah satu karyawannya yang ada kegemaran bergosip.


''Artis muda berbakat itu? dia pernah lho kerjasama bareng kita, bukan cuma sekali. Anaknya profesional walau masih sekolah. Tapi sayang ada gosip miring tentang dia....'' ucapan silvi terhenti karena disela Gatra.


''Apa?''


''Gosipnya dia sering jadi langganan Om-om hidung belang.'' Gatra langsung menyingkir dari teman-temannya setelah mendengar penuturan Silvi.


Gatra segera menelpon Ara yang langsung diangkat oleh Ara disebrang sana.


📞... ''Rara sekarang ada di mana?''


📞 .......


📞... ''Hotel Melati? ngapain Ara ke


hotel? Ara keluar dari hotel itu


sekarang juga! Ara jangan mau


kalau dikasih makanan dan


minuman apapun! Mas jemput


sekarang Ara tunggu di halte

__ADS_1


yang ada di depan hotel.


Tanpa pamit pada rekan-rekannya Gatra segera meluncur untuk menjemput Ara. Pikirannya sudah kalang kabut saat tahu siapa yang mengajak Ara pergi, apalagi mendengar Ara ada di hotel.


__ADS_2