Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
90. Sold Out


__ADS_3

''Jadi mau pilih yang mana Ra?.'' tanya Pia agak kesal karena sedari tadi Ara cuma diam dan tak ada satupun yang dia pilih.


Bagi Ara semua sama, cuma kain saringan santan. Mau dipakai ataupun tidak pakai tetap bagian tubuhnya terlihat nyata.


''Ra, cuma kain yang biasa ibu buat lapisan tutup panci kukusan saja harganya mahal banget.'' bisik Ratih.


''Iya. Ara gak PD untuk memakainya.'' Ara ikutan berbisik.


''Gimana?'' seru Pia gemas.


''Ara gak mudeng pilih beginian.'' jawah Ara jujur


''Ok gue kasih clue, ntar elo pilih sendiri yang elo mau yang elo rasa nyaman untuk elo pakai. Pertama kita pilih yang berwarna merah, biasanya laki-laki suka yang berwarna merah berasa lebih menantang. Karena elo pemula dan semua yang dibadan elo belum mengembang sempurna mending elo pilih yang modelan babydoll.'' Pia menunjuk satu persatu pilihan yang harus Ara pilih.


''Modelan babydoll, tetap saja saringan santan kainnya.'' gerutu Ratih


Harus sabar urusan beginian kalau sama anak yang masih dibawah umur.


''Iya saringan santan. Besok lo pulang ke Semarang lihat saringan santan ibu lo jangan keingat yang beginian ya? Atau lo mau juga ikutan beli buat stok besok lo nikah.''


''Kamu mau aku digampar samehku.'' jawab cepat Ratih, yang disambut kekehan Pia.


''Kalau menurut perkiraanku ya, elo tuh bakalan nikah muda sama tunangan lo deh. Secara orang tua kalian berdua sudah saling kenal dan saling cocok. Tinggal nunggu kaliannya saja sudah siap belum untuk saling mengikat.''


''Playboy ikan bandeng, itu! mau terikat?'' Ratih tidak percaya dengan prediksi Pia.


Ratih sudah banyak tahu tentang Rega, yang suka mainin cewek. Selama ini dia belum pernah membina hubungan atau semacamnya dengan seorang pria. Tentu saja dia mempunyai kriteria khusus siapa yang akan menjadi pacarnya kelak setelah dia lulus sekolah, yang pasti bukan playboy cap ikan bandeng.


Apalagi mendengar cerita dari Naina yang dibully fans berat dan mantan-mantan Revano ketika mereka awal jadian, membuat Ratih mengedikkan bahu. Bisa jadi itu akan menimpa dia juga.


''Tapi Tih, dari yang Ara lihat Rega sepertinya sudah banyak berubah. Coba saja kamu buka hatimu, biarkan Rega membuktikan kesungguhannya. Coba lihat Revano, kata Naina dia lebih parah dari Rega. Ganti pacar sudah kayak ganti baju. Sekarang bucin akut ke Naina.''


''Rega bucin akut ke Aku? kekamu mungkin iya Ra, sayangnya baru saja mau berjuang sudah ketikung Mas Gatra.'' tunjuk Ratih ke mukanya sendiri.


''Jadi tunangan lo pernah suka ke Ara? gimana ceritanya?'' sela Pia yang penasaran dengan hubungan pertemanan sahabatnya.


''Rega tuh anak SMA sebelah, sama kayak Naina dan Revano teman kami yang lainnya.'' Ratih mulai bercerita


''Kalian gak satu sekolah? gue kira kalian temenan karena satu sekolah.'' potong Pia. Indah sekali pertemanan mereka.


''Aku dan Ara yang satu sekolah. Dari kelas dua, kelas satunya Ara gak di Semarang tapi di Magelang.'' jawab Ratih

__ADS_1


''Tapi kita temenan dari SD lho tih.'' Ara mengingatkan Ratih


''Iya dari SD kelas lima sampai SMP, setelah lulus kamu pindah lagi ke Magelang, Gak tahunya pas kelas dua kamu balik lagi ke Semarang. Emang ya gak bisa jauh kamu dari aku.'' Ratih menyombongkan diri


''Kamu Tih yang gak bisa jauh dari aku nyatanya nyusulin aku lanjut kuliah di sini.'' lanjut mereka tertwa bersama


Pia menyimak cerita dan perdebatan dua temannya.


''Gimana cerita Rega yang suka Ara?'' gemas Pia karena Ara dan Ratih seperti bernostalgia sendiri.


''Rega tuh suka nitip salam sama barang ke aku untuk dikasih ke Ara, dah kayak kurir aku gak tahu juga darimana dia tahu kalau aku dekat dan temenan sama Ara. Belum juga diterima sudah patah hati dengan melihat langsung Ara dinikahkan sama papanya.'' Ratih kembali mengenang gimana kondisi Rega kala itu.


''Biasanya emang si comblang yang pada akhirnya jadian.'' ceplos Pia


''Kubilang juga apa, mereka berdua dulu kalau bertemu sudah kayak Tom and Jerry ribut melulu. Makanya Ara kaget kok bisa tadi mereka datang bersama.''


''Hai.... Pi, lo bawa teman-teman lo ke sini mau ngerumpi atau ngeborong! Suh.....suh.... sana di caffe kalau mau ngerumpi.'' seorang perempuan jadi-jadian muncul diantara mereka, sebenarnya sudah sejak rombongan Ara datang perempuan jadi-jadian itu memperhatikan. Karena dia kenal Pia dan selalu melayani Pia setiap datang.


''Eh, Junet.''


''Janet! Pia. Janet!'' teriak laki-laki gagal produk yang tak suka dipanggil Junet, padahal nama aslinya Junaidi.


''Iya...ya.. Junet.''


''Bantuin donk cari yang sesuai untuknya.'' ucap Pia dengan menunjuk Ara dengan dagunya.


Ara nampak risih karena si Junet alias Janet menatapnya sangat intens, dari muka turun ke kaki balik lagi ke muka.


Janet alias Junet menarik tangan Pia agak menjauh dari Ara dan Ratih.


''Pi, sekarang elo alih profesi jadi germo? gila lo ya, masih ting-ting gitu.'' ucap Junet yang langsung dapat hadiah sentilan di dahinya dari Pia.


''Elo kalau ngomong ati-ati ya, Junaidi!'' siempunya langsung memberengut sebel karena nama lahirnya disebut.


''Dia mau MP sama suaminya, dodol. Doi nikah muda karena wasiat dari papanya yang mendadak meninggal karena ledakan bom. Niat gue mah baik nolongin orang, gak kayak elo suozon terus kalau sama gue.'' geram Pia.


''Biasa saja donk Pi, lo mah sukanya ngegas.'' kata Junet melembut.


''Di gas biar jalan! kalau direm baru berhenti kayak otak lo!'' sewot Pia


Disisi lain Ratih menerima pesan dari Rega untuk keluar dari mall karena ada budhenya Rega yang ingin bertemu dan berkenalan dengan Ratih.

__ADS_1


''Ra? kamu tahu caffe ini?'' Ratih menunjukan tulisan nama caffe tempat Rega menanti dirinya.


''Tahu. ini caffe yang ada di depan mall ini. tinggal nyebrang sampai.Kenapa?


''Ada budhenya Rega pengen ketemu dan sekarang sedang nunggu di caffe ini.'' jawab Ratih bimbang


''Cie...cie... yang sudah mau dikenalkan ke saudara. cie.'' Ara menggoda Ratih. '' Yuk aku antar ke sana.''


''Gak enak sama Pia, Ra. Dia disini nganterin kamu lho. Masak iya kita main tinggal. Lagian hadiah ulang tahun suamimu kan juga belum dapat.Biar aku sendiri saja, berani kok. Nanti malam aku ke apartemenmu kita lepas kangen lagi.''


''Bener?''


''He em.''


Ratih perpamitan untuk pergi lebih dulu ke Pia.


''Kenapa tuh anak?'' Pia bertanya pada Ara, karena tiba-tiba Ratih pamit pergi.


''Mau dikenalkan ke saudaranya Rega.'' singkat Ara.


''Nih!'' Junet memberikan sebuah lingerie ke Ara mendadak yang pasti membuat Ara kaget menerimanya.


''Sangat cocok buat MP lo sama suami lo. Belum apa-apa gue sudah ngebayangin betapa panasnya malam ye nanti.''


Kain jala warna merah dengan potongan sobek-sobek sungguh midel pakaian yang tak layak pakai, pikir Ara.


''Siapa seh laki lo? pasti beruntung banget dapat istri cantik jelita kayak ye.''


''Kepo lo junet! kalau lo tahu siapa suaminya bakal pinsan lo.'' sengaja Pia menggoda Junet.


''Ih, Pia suka ya bikin Janet penasaran. Sapo seh?'' desak Junet.


''Bungkusin dulu itu baru nanti gue kasih tahu.'' seneng rasanya Pia bisa mengerjai Junet.


Junet mengambil kembali lingerie dari Ara memasukkan ke bag paper. Ara yang mengikuti Junet, setelah melakukan pembayaran dengan debit yang diberikan Gatra Ara segera mangajak Pia untuk pulang. Dia ingin memasak yang spesial untuk kedatangan Ratih nanti malam.


''Cin.....sapose lakinya?'' kekeh Junet ingin tahu.


''Bang Gatra.'' bisik Pia ditelinga Junet


''Eh sumpah lo! Lekong ganteng incaran eike cepet banget sold out.'' si Junet menangis meraung-raung

__ADS_1


''Pia keterlaluan, kasihan anak orang kejer dia.''


''Sudah biarain sudah biasa dia patah hati.''


__ADS_2