
''Farel ada apa ini, Rel? Ara kenapa?'' Bunda datang bersama Ayah.Jangan ditanya gimana paniknya mereka.
Sengaja Ayah dan Bunda meluangkan waktu dengan datang ke sekolah Ara. Niat mereka ingin memberi kejutan atas kelulusan Ara. Bunda tidak ingin Ara merasa berbeda dengan teman-temannya yang masih memiliki orang tua utuh yang bisa mendampingi anaknya di hari spesialnya.
Tapi justru mereka yang terkejut mendapat telepon dari Farel. Farel yang menelpon bunda kala ayah sedang mencari parkir. Mereka mendapat tempat parkir agak jauh dari pintu gerbang sekolah, hingga tidak tahu dan tidak melihat kejadian Ara terserempet. Apalagi Ayah dan bunda datang belakangan setelah Gatra dan Farel.
Ayah segera melajukan kembali setelah bunda memberitahu perihal Ara kecelakaan.
''Rel, mana Gatra?'' Ayah menanyakan keberadaan Gatra yang tak terlihat.
''Ara masih di dalam Bun, keadaannya sudah stabil cuma nunggu Ara sadar saja.
Gatra sedang ada di ruangan Iwan, Ayah.'' satu-satu Farel menjawab pertanyaan Ayah dan Bunda.
Niat Farel yang ingin bertanya tentang laki-laki yang mengaku kekasih Ara terpaksa diurungkan mungkin situasi dan kondisi belum mendukung untuknya mencari jawaban.
Ada kelegaan dihelaan nafas ayah dan bunda kala mendengar kalau Ara baik-baik saja. Maafkan kami Ren, yang belum bisa menjaga amanahmu. Karena kelalaian kami Ara kembali celaka.
Bunda melihat Ara dari pintu kaca.Luruh air mata bunda melihat Ara tak sadarkan diri di atas brangkar. Ayah mendekat merangkul bunda memberikan kekuatan menyakinkan bunda kalau Ara akan baik-baik saja.
''Kenapa harus Ara, Yah? tidakkah cukup kemalangan yang dia alami.'' Bunda terisak dipelukan Ayah. ''Kenapa Gatra harus keruangan Iwan untuk berbicara, bukankah tadi Farel bilang kalau Ara tidak kenapa-kenapa, Yah.''
''Sudah Bun, kita harus kuat kasihan Gatra kalau kita ikutan terpuruk. Kita kuatkan Gatra. Mungkin ini ujian untuknya, Gatra sedang diuji dan diukur seberapa besar cintanya untuk istrinya. Bunda lihat kan? betapa Gatra sangat mencintai istri kecilnya bukan sekedar tanggung jawab dan amanah saja. Baru kali ini Ayah melihat Gatra jatuh cinta Bun.'' Ayah menuntun Bunda untuk duduk di kursi tunggu.
Bunda menuruti Ayah dengan mengikutinya untuk duduk di kursi tunggu. Pandangan mata bunda tertuju pada lelaki yang nampak lusuh duduk dipojok kursi yang akan diduduki bunda.
''Lho kenapa ada nak ganteng di sini? siapa yang sakit?'' Bunda tidak lupa siapa Raga, walau baru sekali bertemu.
''Bunda.'' lirih Raga yang berdiri dari duduknya menyalim tangan Bunda. Karena Raga juga tidak lupa siapa Bunda
''Siapa yang sakit Nak?'' lagi bunda bertanya setelah mereka kembali duduk bersebelahan.
''Teman, Bun.''
''Siapa Bun?'' Ayah menyela karena merasa tidak mengenal anak muda yang diajak bicara istrinya.
''Anak Dek Mala, Yah teman arisan Bunda. Adeknya Clarissa, Ayah kenal kan?''nampak Ayah manggut-manggut tanda mengerti.
__ADS_1
Raga yang mendengar kalau lelaki yang bersama bunda adalah suaminya diapun berinisiatif menyalimnya juga. Dan dia juga belum ngeh ada hubungan apa Bunda dengan Ara.
Farel,Aldi, Mitha dan Pia yang duduk tak jauh dari Bunda dibuat semakin penasaran dengan sosok Raga yang ternyata kenal dengan Bunda. Walau begitu mereka memilih diam.
Setahu Aldi lelaki yang mengaku kekasih istri temannya itu bukanlah bekas muridnya dan dia juga baru sekali ini melihatnya. Bertanya pada Pia pun sama saja. Yang Pia tahu Raga adalah penyanyi kafe tempatnya biasa nongkrong.Bahkan ketika ditanyakan ke Ratih pun, Ratih tidak tahu dan tidak kenal dengan lelaki yang bernama Raga. Selama di Semarang tidak pernah Ratih tahu kalau Ara punya kekasih. Dan tidak mungkin pula Ara tidak memberitahunya kalau ada kekasih. Ratih tahu siapa saja cowok yang berusaha mendekati dan nembak Ara dan semuanya ditolak oleh Ara termasuk Rega yang sekarang menjadi calon tunangannya. Kabar dari Pia kalau Ara kecelakaan membuat panik dan histeris Ratih, niat bertanya Pia jadi menerangkan kronologi kejadian.Dari Ratih Pia jadi tahu ada ingatan yang hilang dari Ara. Apa mungkin laki-laki yang duduk bersebrangan dengannya itu bagian dari ingatan Ara yang hilang?
setelah dirasa tenang Gatranya, Iwan mengajak Gatra untuk kembali ke tempat dimana Ara terbaring. Rencananya Ara akan dipindahkan ke ruang perawatan begitu siuman nanti.
''Kenapa wajah Lo masih tegang gitu Tra? kan sudah gue kasih tahu kalau istri Lo itu baik-baik saja.'' keterangan tentang kondisi Ara memang sedikit membuat kelegaan dihati Gatra, tapi keberadaan anak muda yang mengaku kekasih istrinya lah yang masih membuatnya resah gelisah.
''Lelaki muda yang ngaku-ngaku kekasih istriku, sama sekali aku gak tahu Wan?'' kata Gatra frustasi.
''Kalau itu gue juga gak tahu Tra? Lo tanya Aldi dan tunangan Farel saja mereka yang bersama mengantar Ara ke sini.''
''Tapi apapun jawaban mereka nanti dan kejadian yang akan terjadi nanti gue harap Lo tetap tenang ya? jangan terpancing emosi. ingat ini tempat umum.'' kembali Iwan mengingatkan Gatra.
''Iya.''
Langkah mereka memelan, Gatra melihat sudah ada kedua orang tuanya di depan ruangan dimana Ara dirawat.
Bunda menyadari kedatangan Gatra.'' Tra sini?'' panggil Bunda agar Gatra mendekat kepadanya mencoba menguatkannya.
''Yang sabar dan ikhlas gak akan terjadi apa-apa pada istrimu. Kamu yang kuat, doakan istrimu cepet siuman dan sehat seperti sediakala dan kalian bisa bersama kembali.'' Bunda mengusap lembut punggung Gatra.
''Siapanya Bunda pria ini anak atau menantunya. Apa yang dibicarakan dengan dokter yang menangani Ara sehingga dia kelihatan sefrustasi itu. Tapi kenapa dia tadi ikut bertanya tentang Ara. Apa dia ada hubungan dengan Ara? istri? tidak mungkin! tidak mungkin kalau Ara.... Dan Bunda siapa pasien yang diintip lewat kaca pintu?'' batin Raga yang duduk bersebelahan dengan Bunda mulai terusik. Bayangan pikiran buruk ditepiskan dua tahun mencari dan menunggu Ara harus berakhir dengan Ara dimiliki laki-laki lain?
Keheningan datang semua diam terpusat pada pikiran masing-masing. Sesekali Gatra memandang sinis pada pria muda disebelah bundanya.
''Ragaaaa...'' suara wanita paruh baya memecah keheningan.''Sayang kamu tidak apa-apa kan Nak. Mama kuatir sekali dapat kabar kalau kamu kecelakaan lagi.'' suara perempuan yang ternyata mamanya Raga membuat semua yang ada mendongak padanya.
Ibu mana yang bisa tenang mendapat kabar anaknya ada di rumah sakit karena kecelakaan. Apalagi ini untuk kedua kalinya kabar tersebut diterimanya. Bayangan kondisi Raga yang kecelakaan dua tahun lalu terlintas dipikirannya. Sepanjang jalan Rissa berusaha menenangkan perempuan yang air matanya tak berhenti mengalir. Ingin rasanya Rissa meruntuki si pemberi informasi yang tak jelas.
Rissa baru saja pulang dari kerjanya peliputan berita di pelosok negeri. Kepulangannya dijemput mamah dan adik tercintanya. Dari bandara mereka segera menuju ke rumah sakit yang diinformasikan si penelpon.
''Mama.... Kak Rissa, Ettan, kok mama bisa tahu Raga disini?'' jelas Raga bingung karena sedari tadi dia tidak mengabarkan pada keluarganya kalau dia sedang berada di rumah sakit. Boro-boro mengabarkan ponselnya saja ketinggalan di tempat dia manggung.
''Kamu kenapa sayang? ada yang luka?'' sekali lagi si ibu menyakinkan kondisi anaknya.
''Raga gak papa Mah. Bukan Raga yang kecelakaan tapi Ara.''
__ADS_1
''ARRRA!'' terceplos dari mulut Ettan dan Clarissa bersamaan.
Entah satu pemikiran atau bagaimana semua yang hadir di situ sepakat menutut mulut dan mendengar cerita selanjutnya. Cuma Bunda yang berniat buka suara jelas Bunda jadi penasaran kenapa bisa nama yang mereka sebut sama dengan nama menantunya, cuma Ayah dan Gatra bersamaan menahan dan segera mengkode Bunda untuk diam dulu.
''Ara ada didalam dia masih belum sadarkan diri. Ara terserempet mobil Mah. Dia terluka lagi di depan Raga.'' adu Raga pada mamanya.
Sosok berdiri dibelakang mama Raga dengan mata tatapan menunduk, seketika membuat Raga naik pitam melihatnya Ingin Raga menonjoknya hingga babak belur, tapi sayang dia perempuan.
Perempuan itu adalah Gea, orang yang menelpon dan memberi kabar ke mama Raga. Gea memang mengikuti kemana Ara dibawa tapi dia tidak berani mendekat hanya melihat dari kejauhan saja. Gea menghubungi Mama Raga karena tidak tega melihat kondisi Raga yang memprihatinkan menurutnya.
''Ngapain Lo ada disini? sahabat macam apa Lo! tega Lo Ge! salah apa Ara sama Lo HAH!'' Raga harus menurunkan emosinya, mau semurka apa juga gak akan mengembalikan kondisi Ara seperti semula.
''Sayang. Tenang. kenapa kamu marah-marah Gea? Dia lho yang kasih tahu mama kamu ada disini.''
''Mah. Dia ini yang membuat Ara terbaring di dalam sana!''
''Kok bisa? mereka kan sahabat.'' Ettan yang berdiri tak jauh dari Gea bersuara.
''Entahlah, tapi apa ada sahabat yang mendorong sahabatnya sendiri untuk celaka.'' sinis Raga yang membuat Gea semakin terdiam. Alasan Gea menyambut kedatangan mama Raga dan mengikutinya agar dia bisa memastikan keadaan Raga baik-baik saja, bukan untuk dimurkai.
Mama Raga yang belum tahu kejadiannya gimana berusaha bijak untuk tidak turut menyalahkan Gea. Kasihan Gea sampai gemeteran dibentak anaknya.
Ettan yang melihat sekeliling melihat ada Gatra dan keluarga dengan gerakan bahu bertanya pada Rissa kakaknya. Rissa menjawab dengan keadilan bahu yang menyuruh adiknya untuk diam.
Bunda yang tidak bisa menahan rasa penasarannya berdiri mengabaikan saran Ayah untuk diam, meminta kejelasan.
''Kalian kenal Ara?'' ucap Bunda
''Mbak.'' kaget mama Raga kenapa ada Bunda dan keluarganya di sini.
''Dek Mala, yang sedang kalian bicarakan Ara? kalian mengenalnya?'' tanya bunda lagi.
''Ara kekasih Raga, Mbak. Selama dua tahun ini mereka terpisah.Ada sebab yang membuat mereka terpisah.'' terang Nurmala.
Seketika kaki bunda lemas tak mampu lagi menopang tubuh, Ayah mendekat membawa Bunda untuk duduk kembali.
''Yah, Gatra. Yah.'' lirih Bunda dalam dekapan suaminya.
''Sttt. tenang Bun, lihat putra kita baik-baik saja. Pikirkan yang baik saja.'' bisik Ayah
__ADS_1
''Siapa yang bernama Raga? pasien sudah sadarkan diri dan minta bertemu dengan yang bernama Raga.''