
Tugas ayam berkokok telah lama selesai, mentari pagi telah bersinar sempurna. Ara dan Ratih masih setia di bawah selimutnya.
Naina, sudah keluar dari tenda, karena ditelepon Revano, mau diajak trekking sampai ke candi sembilan. Naina menolak takut capek. Hingga Revano ikut Anjar berendam ke air hangat.
''Akhirnya, keluar juga kalian. Sampai lumutan Aku nunggu kalian bangun. '' ucap Naina setelah Ara dan Ratih keluar tenda. Selain area wajah, tak ada bagian tubuh Ara dan Ratih yang tidak tertutup. Bahkan selimut yang dipakai tidurpun masih dipakai untuk menutupi tubuh mereka.
'' Hoam... apa, Na?'' tanya Ratih disela ngantuknya.
''Mau tak ajak mandi.'' jawab Naina
'' Masih dingin, Na.''
Naina menggiring Ara dan Ratih untuk duduk diatas batubesar yang tersinari sinar matahari pagi.
''Di sini memang dingin. Mau sampai siang juga tetap dingin, Ratih.Lihat jam kalian, '' Ara dan Ratih segera melihat jam dipergelangan tangan masing-masing. '' jam berapa? jam tujuh, kan.''
Ara dan Ratih terkekeh.
''Sudah siang, Ra.'' ucap Ratih.
''Iya, Tih.'' lirih Ara.
''Malah bisik-bisik, ayo mandi?'' ajak Naina lagi.
''Kamu Na, sudah seperti ibu-ibu saja, nyuruh anak gadisnya mandi. Sok tua kamu, Na.'' dumel Ratih.
'' lah emang kalian lebih tua dari Aku? dua bulan yang lalu Aku sweet seven teen lho?'' ujar Naina bangga sudah lewat tujuh belas tahun usianya.
'' Oh, aku baru sebulan yang lalu sih, tujuhbelasan. Ternyata memang tuaan kamu, Na.'' aku Ratih.
Naina terseyum mendengarnya. Lalu bertanya ke Ara, ''kalau kamu Ra?''
''Aku ulang tahun? masih lama, masih tiga bulan lagi.'' jawab Ara.
''Wah masih mudaan Kamu, Ra. Entar Aku diundang ya, pas dirayainnya.''
''Apa?'' tanya Ara cengo, pasalnya Dia tidak pernah merayakan hari jadinya.Paling banter diajak pergi ke tempat wisata yang ingin dikunjungi atau sekedar makan di restoran favorit.
''Itu, perayaan ulang tahun kamu, masa iya, tidak dirayain sweet seven teen gitu.''
''Tapi memang Aku tidak pernah merayakan hari jadiku, Naina.'' semburat kesedihan muncul di wajah Ara.
''Ara sudah tidak ada ibu, Naina. Tidak ada yang mempersiapkan kalau mau ulang tahun.'' ujar Ratih hati-hati, sangat sensitif kalau bahas ibu di depan Ara.
'' Maaf Ra, Aku tidak tahu.'' Naina memeluk Ara, mencoba memberi kenyamanan di sana. Karena Kamu sudah jadi temanku, kupastikan akan kubuatkan kejutan di hari ulang tahunmu nanti Ara. Biar hidupmu lebih berwarna dan punya kenangan. guman Naina dalam hati.
''Ayo Tih, pelukan pertemanan.'' ajak Naina.
__ADS_1
''Ogah banget, Aku bukan anggota teletubies ya.'' jawab Ratih yang membuat Ara tertawa.
Naina melepas pelukannya pada Ara. Memang konyol temannya yang satu ini.
'' Ini kok sepi, pada kemana?'' tanya Ara yang memang teman-teman campingnya tidak ada, bahkan jumlah tenda yang ada sudah berkurang.
'' Ada yang trekking, mau sampai candi ke sembilan, ada yang mandi ke air hangat, ada yang mau kulineran di pasar Bandungan, terus bablasan pulang.'' terang Naina.
'' Kok Kamu sendirian di sini, Revano kemana?'' tanya Ratih, ya kali pacarnya ditinggal sendirian.
''Vano dan Anjar ke air hangat, mau berendam katanya.Masak iya Aku ikutan di kolam terbuka bersama laki-laki lagi.''
''Ra, kakak mahasiswa yang semalam ada yang tanyain Kamu lho? ''
'' Yang mana?'' jadi Ratih yang kepo
''Yang namanya Dimas.''
'' Sudah kuduga pasti dia tersepona sama Kamu Ra, secara tadi malam waktu salaman sampai nggak mau lepas.'' terang Ratih.
''Tanyain Aku, tanya apa?''
Ara melepas selimut dan melipatnya, tubuhnya sudah cukup hangat karena sinar matahari pagi, begitupun Ratih.
'' Tentang kamu, rumah kamu di mana, asal kamu dari mana pacar kamu siapa juga ditanyakan lho? ''
''Kok, oh. Ra? seharusnya kamu penasaran untuk apa dia tanya-tanya tentang kamu. Ihhh... dasar nggak peka. '' Ratih morang-morang nggak jelas. '' terus kamu jawab Apa Na?'' jadi Ratih yang kepo.
''Aku bilang nggak tahu. Kenal juga baru kemaren, sekolah kita juga beda. Emang itu kenyataannya, kan. Sudah ayo mandi, habis mandi kita ke Ayana Gedong Songo. dijamin kalian pasti suka di sana.''
''Tempat apa, Na?'' Ara khawatir diajak ke tempat yang aneh-aneh.
''Kalau kita semua pergi, tendanya gimana? nggak ada yang jaga lho?'' terang saja Ratih khawatir pada tendanya karena boleh pinjam.
''Kita tinggal saja, ntar dibongkarkan sama Vano. Kalian bawa saja barang-barang berharga kalian.''
Ara dan Ratih mengikuti saran Naina. Semua barang bawaan dibawa. Agak repot juga, karena mereka harus berjalan mendaki sampai candi dua. Toilet disekitaran candi dua yang dipilih Naina. Airnya mengalir langsung dari sumbernya, dinginnya jangan ditanya.
Ratih sudah masuk duluan, tapi keluar lagi. Tidak tahan dengan dinginnya. ''Dingin, dingin, dingin. '' saking dinginnya bulu romanya sampai berdiri. '' Ra, kamu duluan gih mandinya, Aku mau berjemur dulu. Airnya dingin banget.''
Ara menurut mandi giliran yang pertama. Walau dingin Dia tahan, karena terakhir mandi kemaren siang sebelum berangkat.
''Airnya masih dingin, Ra?''
'' Tidak.''
''Tidak apanya, itu bibir kenapa bergetar gitu?. '' sungut Ratih tak terima dibohongi Ara.
__ADS_1
'' Tinggal byur byur yang penting nggak bau keringat. dari kemaren Kamu juga belum mandi kan?'' Ara mendorong Ratih agar lekas masuk kamar mandi. Terasa berat karena Ratih ogah-ogahan untuk masuk.
Setelah Ratih masuk kamar mandi.
''Lho Na, dari mana? kok bisa bawa it-- tu. Wah nggak bener Kamu Na, kalau Ratih tahu, bisa-bisa mendengung kayak kumbang, nggak berhenti-berhenti Dia. Kok bisa dapat dari mana?''
Naina yang tadinya bejalan di belakang Ara dan Ratih berhenti di warung yang ada di pinggiran, di sana Dia memesan air panas untuk mandi. Jelas saja Ara bingung Naina bisa membawa air panas dalam ember.
''Sorry Ra, Aku juga nggak tahan sama airnya yang dingin, jadi Aku beli saja ini, tuh.'' dengan dagunya Naina menunjuk warung tenda.
'' Ya sudah sana buruan masuk, keburu Ratih tahu.''
Naina masuk ke kamar mandi sebelah kamar mandi ysng dipakai Ratih. Tak lama Ratih keluar, tubuhnya menggigil parah, lebih parah dari Ara.
''Sumpah Ra, nggak lagi-lagi Aku mandi di sini.'' Ratih mencari penghangat alami, sinar mentari pagi dan mendekat pada Ara. '' Ra, laper.'' adunya.
'' Ke warung tenda itu mau?'' Ara menunjuk warung yang tadi ditunjukan Naina.
''Mau, tapi Naina gimana? nanti nyariin?''
''Dia tahu kok, eh maksudnya nanti dia nyusul ke sana, kan kelihatan dari sini. Gimana?'' hampir saja Ara keceplosan, gaswat kalau ketahuan Ratih. Kenapa nggak kepikiran beli air hangat.
Selesai urusan perut, bertiga menuju ke Ayana Gedong Songo. Mereka bertemu lagi dengan Dimas dan kawan-kawan.
'' Eh, kakak-kakak yang semalam.'' sapa Ratih.
''Eh, adik-adik yang semalam.'' jawab salah satu teman Dimas.
Merasa aneh cewek-cewek cuma bertiga, padahal semalam temannya banyak, Dimas bertanya ''Pada mau kemana?''
'' ke Ayana, Kak. jawab Naina yang memang Dia yang tahu dan Dia yang mengajak Ara dan Ratih untuk ke sana.
Ayana Gedong Songo adalah satu wisata yang menyediakan spot foto selfie atau wefie dengan latar yang instagramable. Lokasinya menjadi satu dengan kawasan candi Gedong Singo.
Kesempatan emas untuk mendapatkan foto-foto Ara, Dimas tak membuang kesempatan itu.
''Aku bantu ya? pasti kalian butuh tukang foto.'' Dimas menawarkan diri untuk membantu.
''Boleh, boleh banget.'' Ratih menyerahkan kameranya. Dengan membantu mereka bertiga, Dimas jadi punya banyak foto Ara.
*
*
*
*
__ADS_1
Tetap mohon dukunganya, ya. Kesayanganku.