Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
103. Trauma


__ADS_3

Gatra memasuki ruang pribadi Iwan. Duduk berhadapan dengan Iwan yang cuma dihalangi meja kerja Iwan. Tidak ada sofa untuk duduk-duduk tamu yang ada brangkar di samping tempat yang sedang Gatra duduki dan tirai hijau yang menggantung, yang bila dibentangkan akan menjadi pembatas.


''Sudah gak usah kaget, jangan bandingkan sama ruang kerja di kantormu.'' Iwan paham dengan tatapan mata Gatra yang beredar memindai tiap sudut ruangan.


''Lo mau konsultasi masalah apa? Kalau yang menyangkut medis gue bisa bantu, kalau masalah kerjaan Lo sorry Lo salah alamat.''


''Pastinya yang menyangkut kesehatan lah. Makanya gue datang ke elo, kalau masalah kerjaan gue seh, Farel sudah paling jago.'' sombong Gatra.sedikit jengkel Gatra pada Sabahat yang satu ini.


''Elo ada keluhan sakit?''mimik muka Iwan seketika menjadi serius.


''Bukan gue tapi bini gue.''


''Bini Lo sakit? sakit apa? dia yang mendiagnosa?'' Iwan kaget karena setahu dia pertama ketemu Ara cuma kelelahan gara-gara digarap lakinya. Gak ada tuh laporan Ara sakit parah.


''Woi... biasa saja nanyanya, satu-satu jangan beruntun kayak gerbong kereta api.'' sewot Gatra


Harus ekstra sabar menghadapi Iwan. Diantara mereka bersahabat memang Iwan yang paling encer otaknya. Sayangnya hidupnya terlalu lempeng.


Gatra nampak bingung bagaimana cara memulai pertanyaannya.


''lo mau tanya apa, tentang istri lo? Dia hamil?'' tebak Iwan


''HAMIL?!'' pekik Gatra


''Huh... biasa saja kali! gak usah pakai teriak gitu. Apa coba yang terjadi pada perempuan yang telah digauli laki-laki kalau gak hamil. Istri sampai tepar gitu, seharusnya Lo bawa istri Lo ke bagian obgyn bukan Lo yang ke gue.''


''Itu dia masalahnya, Wan.''


Iwan mengerutkan dahi, yang hamil istrinya, dia menikah juga sah apa coba masalahnya? istrinya belum siap hamil karena masih terlalu muda. Itu sih resiko ditanggung penumpang nikah sama piyik. Di daerah tempat dia mengabdi dulu banyak perempuan yang lebih muda dari istri sahabatnya ini yang hamil dan mereka siap-siap saja, Walau secara dunia kesehatan sangat tidak dianjurkan.


Iwan tenang menunggu Gatra menjelaskan masalah apa yang sedang dihadapi dan ingin dikonsultasikan padanya.


''Gue belum tahu Rara hamil atau belum. Apa iya baru sekali langsung bisa hamil? Tapi bukan itu masalahnya. Sejak kejadian itu gue takut Wan, buat nyentuh dia lagi.''


Iwan semakin mengerutkan dahi.'' Ya iyalah bisa, apalagi kalau waktu itu istri Lo lagi dalam masa subur. Dan Lo takut yang gimana?''


Gatra mendongakkan wajahnya menatap Iwan yang saat ini berhadapan dengannya bukan sebagai sahabat tapi sebagai dokter yang sedang dia mintai saran.


''Gue takut Wan, bayangan Ara yang tak sadarkan diri karena demam tinggi selalu terbayang di benak gue. Rasa bersalah gue karena menyakitinya. gue janji sama almarhum bokapnya untuk selalu menjaganya.'' akhirnya Gatra melepaskan apa yang mengganjal selama ini di hatinya pada Iwan.


Iwan menghela nafas setelah mendengar penuturan Gatra.


''Lo itu trauma Tra. Yang gue heran seharusnya yang trauma itu istri Lo karena dia yang menderita setelah perbuatan kalian berdua. Tapi kemaren saat Lo bawa dia ke sini dia baik-baik saja, tidak ada indikasi mengalami trauma.''


''Sangat wajar kalau Lo trauma karena gue lihat Lo sangat mencintai istri Lo dan Lo melihat istri Lo yang tak sadarkan diri karena aktivitas Lo yang berlebihan.Masih ringan sih, tapi bila tidak segera diatasi juga akan bahaya. Lo sudah dengar sendiri kan kemaren dokter Winda bilang apa?''

__ADS_1


''Yang terjadi pada istri Lo itu karena dia baru pertama kali dan imun tubuhnya belum kebal. Apa setelah kejadian itu Lo belum....?''


''Gak berani gue.'' sambung Gatra cepat


Hah


''Jadi ini masalahnya Lo pengen anu-anu tapi takut.'' ada nada ejekan dari kata-kata Iwan


''Suek Lo! Gue ketemu Lo juga mau cari solusi PEA!''


Ha ha ha...


Iwan sama sekali tidak tersinggung dikatai sahabatnya. Dia justru tertawa lebar.


''Dasar jomblo. Belum pernah kan Lo ngerasa hidup sama pasangan halal tapi gak tega bahkan takut untuk menyentuhnya. Sebelum kejadian gue selalu nyaman tidur meluk dia. Tapi kini gue harus menghindar bahkan gue harus ngunci diri di kamar untuk meredam hasrat gue tiap malam. Apalagi saat Raraku Makai baju seksi seharian mengitari gue.''


''Itu derita Lo. Hwa ha ha'' tawa Iwan semakin keras dan Gatra semakin kesel ternyata datang ke dokter yang sekaligus sahabatnya bukan solusi yang didapat tapi ejekan.


''Dan Lo tersiksa?''


Tanpa disadari Gatra mengangguk cepat.


''Ok back to topik.'' kata Iwan setelah puas menertawai sahabatnya.


''Saran gue Lo hadapi rasa trauma Lo.''


''Maksud lo?''


''Lo coba pelan-pelan, bangun sugesti dalam pikiran Lo gak akan terjadi apa-apa dengan istri lo. Lo gak kasihan apa sama alat tempur Lo baru juga masuk Medan perang tapi gak boleh bergerak. Emmm alat tempur Lo, gak ikutan trauma kan?''


''Maksud lo?'' gertak Gatra


Iwan mengacungkan jari telunjuknya kemudian menekuknya pelan.''Letoy.'' katanya yang langsung dapat pelototan Gatra.


''Si Otong mah jagoan''


''Ya..ya. saking jagonya sampai porak poranda Medan perangnya.''


'' Ingat Tra,Perempuan sekalinya kenal anu-anu pasti penasaran dan pengen lagi dan lagi.''


''Sotoy''


''Bener itu Lo coba buktikan.''


''Gak percuma gue punya teman kayak Lo.''

__ADS_1


''Giliran butuh bilang temen.''


Gatra tertawa mendengar cibiran sahabatnya.


*******


Claritta mendatangi rumah Sabila, tujuannya satu memastikan kalau yang dibilang Gatra itu benar.


Kebetulan rumah Sabila sepi, cuma ada Sabila. Kedua orang tuanya sedang keluar.


''Tumben ingat datang ke sini?''sindir Sabila karena sejak dijemput ibu kandungnya dulu Claritta tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah Sabila.


''Sepi Bil?'' abai dengan pertanyaan Sabila ''Pada kemana?'' basa-basi Claritta


''Keluar.''


''Lo ada perlu apa?'' Sabila to the point pasti dia penasaran dengan Gatra.Pasti sudah ditolak mentah-mentah oleh Gatra. tebak Sabila.


''Gue lagi sibuk beres pakaian kalau Lo mau minum ambil sendiri saja. Si mbok lagi ke pasar.'' Sabila meninggalkan Claritta sendiri di ruang tengah dan dia kembali masuk kamar.Tanpa disadari ternyata Claritta mengikutinya.


''Lo packing pakaian segini banyak mau kemana?'' tanya Claritta setelah menempelkan pantatnya pada pinggir tempat tidur Sabila.


''Gue mau ke Inggris lanjut kuliah di sana. Lo mau ikut? Ikut saja gak papa daripada Lo di sini menahan sakit hati karena ditolak Bang Gatra.''


''Enak saja gue ditolak.'' Claritta menyangkal dugaan Sabila


''Ngaku saja napa. Ngapain Lo ke sini kalau gak ditolak.'' sinis Sabila


''Gatra memang ngaku kalau dia sudah nikah. Dan gue yakin kalau dia bohong, cuma buat ngetes gue doang kan?''


Sabila meletakkan kembali ke dalam lemari pakaian yang mau dimasukkan koper. Ikut duduk di samping Claritta.


''Sadar dong Ta, masa Lo sama Bang Gatra sudah lama lewat. Lo itu sudah gak ada apa-apanya bagi dia. Bang Gatra gak bohong dia beneran sudah nikah sejak enam bulan yang lalu. Dan Lo tahu? dia sangat mencintai istrinya.''


Claritta terdiam percuma dia ngotot ke Sabila kalau Gatra masih mencintainya, toh Sabila sudah tahu semua kartunya.


''Apa Lo tahu siapa istri Gatra?''


''Tahu. Sangat tahu. Kita tak sebanding dengannya. masih muda, cantik dan pastinya masih ORI.'' sengaja Sabila menekankan kata yang terakhir.


''Siapa Bil?''


''Istri Bang Gatra masih SMA. Kalau gak salah satu SMA sama adek Lo.'' Sabila kembali pada kegiatannya packing pakaiannya lagi membiarkan Claritta dengan asumsinya sendiri.


''Satu SMA dengan Aluna? jangan-jangan yang... Bil, apakah namanya Ara?''

__ADS_1


''Ternyata Lo sudah kenal. Gimana cantik kan anaknya? Apa Lo juga sudah pernah lihat bagaimana Bang Gatra memperlakukan dia?''


Claritta terdiam banyak pertanyaan dalam benaknya bagaimana. bisa Gatra menikahi anak SMA. Kalau Gatra sangat mencintai istrinya maka Tak ada lagi celah untuknya bersanding Gatra.


__ADS_2