
''Widih cerah banget Neng, wajahnya. Pasti yang kemaren berhasil nih. Kelihatan banget dari tadi senyam senyum sendiri.'' Pia datang menghampiri Ara di bangkunya. Pia datang ke sekolah terlambat di jam kedua dia baru datang.
''Emang beda ya?'' kata Ara berbisik karena malu terdengar teman-temannya.
''Iya apalagi kalau jalan, semakin kelihatan berbeda.'' asal Pia hanya menggoda.
Iya, ya pantesan kemaren Mas Gatra sampai maksa Ara untuk digendong saja karena kasihan lihat Ara jalan kayak pinguin. Tapi tadi Ara jalan biasa saja.
''' Eh! bengong. Bercanda kali gue. polos banget seh kamu.....'' Pia gemas dan mencubit kedua pipi Ara, alhasil yang punya pipi mengerang kesakitan.
''Huh.. kirain beneran. Kamu kenapa masuk siang Pia?'' tanpa mengabarinya Pia datang terlambat. Bahkan Ara pikir Pia bolos hari ini.
''Kejar setoran gue.''
Ara mengerutkan dahi.Menatap tajam Pia yang telah menjadi temannya semenjak awal Ara jadi siswa baru.
''Beneran Ra, gue kejar setoran Gue syuting FTV lagi. Buat biaya pendidikan gue nanti. Gue juga mau berubah kali jadi anak baik kayak Lo. Sejak kenal elo gue jadi punya cita-cita untuk masa depan gue Ra, Gue pengen kuliah ke luar negri. Menimba ilmu di sana, memulai hidup baru di sana, dan siapa tahu juga kecantol bule terus dinikahi dan kita bahagia selamanya...amin'' Pia mengaminkan harapan dan doanya sendiri.
''Amin. Kenapa harus bule Pia? Semoga harapan dan cita-cita Pia yang baik bisa tercapai.''
''Karena bule gak akan ngulik masa lalu aku Ra, mereka bisa Nerima pasangannya apa adanya bukan ada apanya yang penting nyaman tanpa Mandang status.''
''Ra kemaren gue ke apartemen Lo, kata satpam Lo pergi dengan digendong Bang Gatra, buru-buru katanya. Gue telepon juga Lo gak ngangkat. Emang kemana?''
''Ke rumah sakit.''
''Ke rumah sakit! siapa yang sakit? Lo! sakit apaan Ra?'' tanya Pia setengah berteriak.
''Tanyanya satu-satu Pia.''
''Iya kenapa?
''Kemaren pagi, kata Mas Gatra aku demam dan gak sadarkan diri, makanya dibawa ke rumah sakit.'' Ara menerangkan sekilas kejadian kemaren.
''Elo demam dan gak sadarkan diri. Kok bisa!'' Pia belum bisa mencerna cerita Ara.
''Aku juga gak tahu begitu sadar aku sudah di IGD dan ditemani bunda.
''Apa? sebelumnya, maksud gue Lo jadi ...'' Pia mengerucutkan jari-jari tangannya dan memperagakan seolah kedua tangannya sedang berciuman.
Ara mengikuti gerakan tangan Pia. ''Maksud gini-gini apaan?''
''Making love Ara sayang!'' bisik Pia ditelinga Ara.
''Oh...itu. jadi.'' jawab Ara malu-malu.
''Berapa ronde?'' sekedar iseng Pia bertanya
''Ronde?'' Ara mengernyitkan dahi. '' Kami gak nonton tinju, cuma......''
__ADS_1
Pia menepuk jidatnya temannya ini beneran polos.
'' Gak perlu nonton tinju atau olah raga lainnya, Araaaa! cukup olah raga di atas kasur saja dimana pesertanya, wasitnya, plus penontonnya cuma Lo dan laki Lo! paham.'' Ara manggeleng dengan penuturan Pia hingga Pia Gedeg sendiri. ''Gelut adu raga cari keringat di atas kasur kayak gue sama Om Om gue. Paham kan?''
''Pia!'' pekik Ara
''Paham kan, sekarang. Jadi????''
''Semalaman Pia, Mas Gatra gak lepasin Ara. Sampai Ara mandi juga diikuti dan Mas Gatra juga minta padahal di kamar mandi. Badan Ara rasanya remuk redam terasa gak bertulang.''
Pia manggut-manggut mendengar cerita Ara. Pengen ketawa juga dengar kepolosan Ara tapi takut Arahnya tersinggung. Pantas saja sampai demam, gak kira-kira laki Lo mentang-mentang dapat perawan.
''Dulu Pia pas pertama juga demam?''
''Gue gak tuh biasa saja, cuma capek doang.''
''Emang sebelumnya Pia sudah imunisasi ya?''
''Imunisasi?''
''Iya, kata dokter penyebab Ara demam karena Ara belum imunisasi yang biasa dilakukan pasangan jelang pernikahan.''
''Oh gitu.'' Boro-boro imunisasi Ra, mana ada. Mahkotaku saja hilang karena direnggut paksa.
''Gue kira semua tergantung sama kondisi tubuh kita. Walau sudah imunisasi atau apalah kalau emang lagi gak fit juga bisa demam. Kalau mendengar cerita elo bisa demam karena.....laki Lo gak kira-kira ngegempur Lo. Mentang-mentang baru pertama kali.''
''Ra, nanti pulang sekolah temenin gue ketemuan dengan orang ya?''
''Bukan seperti yang Lo pikirkan Ra, kan gue bilang mau berubah. Kita nanti ketemuan di cafe Ra, orang yang akan kita temui nanti mau bawa beberapa brosur tempat studi di luar yang bagus dan cocok buat kaum pekerja kayak gue. Dan gue ingin Lo bantuin milih karena nanti pasti gue bingung buat nentuin. Bantuin ya? ''
''Boleh, tapi Ara ijin Mas Gatra dulu ya?''
''shiipplah''
Gatra memberika ijin untuk Ara menemani Pia ketemuan dengan dengan orang di cafe.
Hari sudah sore hampir magrib Pia dan Ara sampai di cafe tempat COD. Ara dan Pia jalan buru-buru karena mereka sudah telat hampir satu jam dari waktu yang telah ditentukan. Karena adanya jam tambahan untuk les.
Tanpa sengaja Ara menabrak seorang gadis yang sepertinya seumuran dengannya.
''Maaf.'' ucap Ara tulus dan membantu mengambilkan barang-barang milik orang yang ditabrak.
''Eng___gak pa.... ARA!'' pekik gadis yang ditabrak Ara saat menerima barang-barangnya yang jatuh yang dipunguti Ara dari Ara.
''Iya. temen Ara ya? maaf ya? ini milik kamu.'' Ara menyerahkan barang-barang milik orang yang ditabraknya. Hanya Ara heran kenapa gadis tersebut diam seperti shock melihatnya. Ara menoleh ke belakangnya sapa tahu ada hantu atau apa gitu, ternyata gak ada apa-apa. Jadi dia shock lihat Ara? Ara mengedikkan bahu ngeri.
''Hai Mbak, kok bengong?'' Ara mengibas-ibaskan tangannya ke muka gadis tersebut.
'' Eh anu... itu... gak papa? terima kasih sudah dibantuin.'' ucap gadis itu akhirnya.
__ADS_1
''Saya yang salah, saya yang nabrak mbaknya. Maaf ya?'' sekali lagi Ara meminta maaf. ''Kita satu sekolah ya, tadi kamu sebut nama Ara.''
''Kamu sekolah di sini? Maksud gue di Jakarta ini?'' sedikit kaget gadis itu tidak menjawab pertanyaan Ara tapi ganti bertanya.
''Iya. Aku....''
''Sorry gue harus pergi.'' Gadis yang ditabrak Ara buru-buru pamit pergi tak mengindahkan pertanyaan Ara.
Ara pun penasaran ada apa dengan gadis tadi perasaan Ara mengatakan kalau Ara kenal dengan gadis itu tapi siapa? Kenapa juga sikapnya aneh. Mengingat gadis itu membuat kepala Ara mendadak pusing.
Untunglah Pia segera memanggil Ara karena Pia tidak sadar kalau Ara tertinggal.
Gadis yang ditabrak Ara adalah Gea, sahabat Ara sewaktu di Magelang. Entahlah bagaimana perasaan Gea ketemu lagi dengan Ara. Seharusnya seneng tapi dia buru-buru menghindar dan pergi.
Rupanya Pia mengajak Ara ke cafe tempat Ratih dulu berjumpa Raga. Kebetulan sewaktu Ara masuk Raga baru saja selesai manggung. Dan kepergian Gea yang buru-buru untuk menghalangi Raga melihat Ara.
Gea sengaja datang ke cafe untuk memberi kejutan dan semangat Raga manggung. Tapi justru dia yang terkejut dengan melihat Ara, bahkan bertatap muka langsung. Yang membuat heran kenapa Ara tidak mengingatnya.
''Paan seh Lo Ge, tadi narik-narik gue keluar lewat pintu belakang lagi. Sekarang Lo tinggal bengong.Kesambet lo?''
Gea memaksa Raga untuk keluar cafe lewat pintu karyawan, untung Raganya mau. Karena alasannya cukup masuk akal , lebih dekat ke mobilnya parkir.
''Eh... itu anu... ''
''Beneran kesambet lo? wes pulang saja gue anter.'' Raga melihat wajah Gea memucat. Menduga kalau Gea sakit.
Gue tadi ketemu Ara Ga, dia ada di sini Ga, dekat dengan kita. Tapi dia gak ngenali gue Ga. Gue gak sanggup lihat Lo ketemu Ara Ga.
''Sadar Ge. jangan bengong di mobil takut gue lihatnya. Lo sakit? kalau sakit kenapa harus keluar rumah? mending di rumah saja istirahat. Bentar lagi Lo ujian kan?'' ucap Raga yang sesekali ngelirik ke Gea karena dia harus fokus mengemudi.
''Sorry Ga.'' lirih Gea
''Buat apa? Lo punya salah ke Gue.''
''Emmm karena sudah ngerepoti Lo.'' Sorry gue belum bisa kasih tahu Lo kalau tadi gue ketemu Ara. Mungkin gue gak akan pernah bilang kalau gue pernah ketemu Ara. Gue gak sanggup kalau harus lihat Lo balikan sama Ara. Gue gak rela Ga.
''Sudah biasa kali Lo ngerepoti gue, baru nyadar Lo.''
Gea tertawa paksa untuk menutupi kegundahan hatinya.
''Karena ngantar gue pulang Lo gak jadi dong latihan buat manggung di SMA xx ''
''Tetap jadilah habis ngantar Lo gue ketemuan sama mereka di studio.''
Rencananya Raga akan latihan sekaligus manggung di cafe cuma ganti personel band cafe dengan teman-temanya, terpaksa gagal karena harus ngantar Gea pulang.
''syukur deh.'' ada kelegaan di hati Gea.
''Kenapa?''
__ADS_1
''Gak papa. Latihan yang semangat ya.''