
Mungkin karena sudah waktunya musim penghujan, sedari siang hingga malam hujan tidak ada capeknya mengguyur bumi.
Semakin malam bukannya semakin reda malah semakin deras dan disertai petir dan kilat yang saling menyambar. Walau cuma ada di lantai sepuluh unit yang ditempati Ara, tetap saja rasanya seperti mau kena sambar.
Ara menggigil di kamarnya bukan karena kedinginan, tapi karena ketakutan pada petir dan kilat yang menurut persaannya seperti mau menyambar masuk ke kamarnya. Gemuruh suara petir seperti mengingatkan pada mimpi buruk yang mengerikan. Mimpi yang seperti nyata terjadi di depannya.
Gatra hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum, dibarengi suara petir Gatra mendengar suara teriakan perempuan yang ketakutan. Sekali dua kali Gatra menyimak suara itu. Langkahnya terburu-buru menghampiri kamar Ara.
Ceklek.
Benar dugaannya suara ketakutan itu berasal dari Raranya. Gatra membuka kamar Ara yang tidak terkunci dan lampu yang dibiarkan menyala terang dan didapati Ara yang meringkuk di tengah ranjang tidur bertutupkan beberapa lapis selimut tebal.
''Ra, kamu kenapa?'' tanya lembut Gatra setelah duduk ditepi ranjang tidur Ara.
Perlahan Ara membuka lapisan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan,
BRUK...
Ara meloncat dan memeluk Gatra dengan eratnya kala suara petir kembali menggelegar.
''Mas, Ara takut petir dan kilatnya gak mau berhenti dari tadi.'' suara Ara ditelinga Gatra.
Fokus Gatra bukan pada ketakutan Ara tapi lebih pada posisi Ara yang mengakangkan kedua kakinya duduk di pangkuan Gatra dan kedua tangan membelit ke lehernya. Apalagi suara Ara yang tepat ke daun telinganya.
Ingin membalas pelukan Ara? tidak dia bukanlah lelaki mesum yang sedang memanfaatkan kesempatan. Sebelum si otong bereaksi segera sepelan mungkin Gatra menenangkan Ara supaya bisa melonggarkan pelukannya. Meskipun kecil-kecil tapi tetap terasa mengganjal bila ditekankan dan dihimpitkan ke dadanya dari siempunya buah dada.
''Sttt... gak papa ada Mas disini, Rara gak usah takut.'' dengan lembutnya Gatra mengelus surai hitam Ara yang beraromakan stroberi.
Perlahan Ara melepaskan belitan tangannya dan
Duaaarrr...
pelukan semakin erat lagi kala suara petir kembali menggelegar.
Hadeh, tahan nasibmu tong.
''Ra.... Rara sudah gak usah takut lagi ini sudah malam Rara gak ngantuk?''
__ADS_1
Ara menggeleng tanpa suara yang jelas tidak dilihat oleh Gatra hanya gesekan gesekan yang diterima pundak Gatra.
''Ra, mana muka Ara? coba lihat Mas.'' bujuk Gatra karena si otong yang terganggu beban berat, belum saatnya si otong untuk berkelana.
''Sejak kapan Rara takut petir?'' ranya Gatra setelah Ara melepaskan pelukannya dan mau duduk sendiri.
''Gak tahu? padahal dulu Ara gak pernah setakut ini bila ada petir yang menggelegar. Bahkan tanpa ada papapun Ara juga gak takut, kayaknya setelah Ara pindah ke Semarang Ara jadi takut petir.'' Ara takut akan merasakan sakit kepala yang teramat sangat itu sebabnya dia tidak mau mengingat kejadian apa yang membuatnya jadi takut pada petir.
''Lebih baik dibuat tidur saja, sudah larut malam. Besok masih hari jum'at Rara masih harus masuk sekolah. Atau mau Mas temani tidurnya?'' pertanyaan yang sebenarnya hanya basa-basi agar Raranya mau segera tidur.
''Mau.''
HAH!
Ara menggeser posisi duduknya lalu merebahkan tubuhnya disisi sebelah dinding. Memberi ruang untuk Gatra agar bisa merebahkan tubuhnya disisinya.
Gatra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh bukan jawaban 'mau' dari Raranya yang ingin dia dengar saat ini.
''Mas,'' Ara memanggil Gatra yang masih duduk terpaku. ''Ini cukup kok buat kita berdua kalau sesak nanti Ara miring ngadep tembok.''
Tak tega dengan Raranya yang masih terlihat ketakutan Gatra menuruti untuk tidur di sisi istri kecilnya. Canggung, bingung, panas itulah yang dirasakan Gatra dan seneng juga iya bisa merapat-rapat pada pasangan halalnya.
Keduanya menatap langit-langit kamar, sengaja Gatra mengajak ngobrol Ara. Bagaimanapun dia laki-laki normal dimana insting dan naluri kelakiannya pasti minta lebih dari sekedar bobok bareng.
''Mas seandainya minggu depan Ratih ke Jakarta boleh ya? nginep di sini.'' Ara meminta persetujuan Gatra perihal Ratih sahabatnya yang akan datang berkunjung.
''Ratih mau ke sini? bolehlah. Bukankah kalian sudah akan ujian kenapa gak ditunda setelah ujian saja.''
''Ratih tuh dapat undangan ke UI lewat jalur raport. Dan untuk memastikan akan diterima atau tidak Ratih diharuskan untuk datang sekaligus melengkapi berkas yang diperlukan.'' Ara berusaha menjelaskan apa yang dia tahu.
''Rara sendiri setelah lulus sekolah mau melanjutkan dimana?''
''Emang Ara masih boleh melanjutkan sekolah?'' Ara menoleh ke Gatra.
''Tentu saja Rara harus lanjut sekolah setinggi yang Rara mau. Emang apa cita-cita Rara?'' Gatra juga menoleh ke Ara wajah dan tubuh mereka saling berhadapan sejenak tatapan mereka bertemu dan terkunci. Gatra mengikis jarak ingin merasakan manisnya bibir merah jambu didepannya.
Gatra hanya mampu mengecup kening Ara secara mendalam. ''Mas akan dukung apapun cita-cita istri Mas. Pernikahan kita tidak akan membuat Mas mengekang dan menghalangi apa yang ingin Rara raih.'' Gatra ingin membuat Ara semakin nyaman disisinya. Sehingga secara sukarela Ara akan menyerahkan hati dan tubuhnya seutuhnya.Kalau Gatra ingin menikmati tubuh Ara demikian sebaliknya.
__ADS_1
Ara meringsek masuk dalam dekapan Gatra. Manis sekali ucapan suami dewasanya ini. Berada dalam pelukan Gatra sudah menjadi satu kebutuhan buat Ara kala membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. Dadaable akan segera jadi candu buat Ara.
''Ara gak punya cita-cita kok. Dulu seh Ara pengen kuliah ekonomi terus kerja di Bank makanya Ara pilih jurusan IPS. Karena Ara cuma ada Papa Ara cuma mau jadi ibu rumah tangga biasa yang selain ngurus suami dan anak Ara juga masih bisa ngurus papa.''
Sumringah hati Gatra mendengar penuturan istri kecilnya. Hingga tanpa sadar dia mengeratkan pelukannya. Sungguh tipikal istri yang sangat-sangat dia idamkan. Entah kebaikan apa yang telah dia perbuat di masa lalu hingga mendapatkan istri dengan paket komplet.
''Tapi papa sudah gak ada, Mas?'' Ara masih melanjutkan omongannya. Pelukan Gatra yang semakin erat semakin membuatnya nyaman. Tiba-tiba saja Ara menyentuh pusat inti masa depan. ''Mas ini apa? kok keras dan mengganjal.'' dengan polosnya Ara bertanya dengan tangan masih mengusek-usek pusat inti Gatra yang semakin mengembang bagai adonan terigu diberi fermipan.
Dueng.... panas, dingin, gerah, engap menjalari tubuhnya. Belum saatnya si otong berkenalan dengan Raranya. ''Eughhh'' suara Gatra mewakili kenikmatan si otong.
''Rara hentikan. Belum saatnya sayang. Kasihan otong kalau cuma di PHP.'' Gatra bangkit dari posisi tidur dan duduk bersender pada kepala ranjang.
''Siapa otong, Mas?'' tanya Ara yang ikutan duduk.
Lagi-lagi Gatra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana menjelaskan pada istri polosnya ini.
''Dia yang akan mewujudkan cita-cita Rara. Yang akan melengkapi hari-hari Rara bagai di surga dunia. Aset masa depan kita yang paling berharga. Bantu Nas untuk menjaganya, ya?'' Ara yang tidak mengerti arah pembicaraan Gatra hanya mengangguk.
''Mas bahagia karena papa menikahkan dan menyerahkan Rara pada Mas. Sekarang kita tidur ya? sudah semakin larut malam.''
''Ara nyaman sama Mas.''
Mereka kembali ke posisi tidur. tak menunggu lama Ara sudah terlelap. Tinggal Gatra yang masih merasakan hareudang. Memikirkan Otong yang kena PHP.
Melihat wajah Ara yang tenangdalam tidurnya timbul niatan Gatra untuk,
Cup.
Gatra mengecup bibir merah jambu impiannya. Manis
Cup.
merasa kurang Gatra kembali mengulanginya. Dia ******* lembut bibir merah jambu yang juga akan segera menjadi candunya. Gatra menghentikan aksinya setelah ada lengkuhan dari Ara.
Buru-buru Gatra masuk kamar mandi untuk menenangkan si otong.
Sabar Tong gak lama lagi gue akan biarkan elu berkelana di medan laga.Sekarang terima saja nasib lo di PHP.
__ADS_1