
''Menikahi Ara?!'' kaget Gatra. Ada apa ini, kenapa gadis kecil yang masih SMA sudah mau dinikahkan.
Papa Randy menyadari kekagetan Gatra, Dia tersenyum simpul. Sangat disadari memang Ara masih terlalu kecil, baru saja menginjak tujubelas tahun. Tapi yang namanya umur manusia siapa yang tahu. Lebih baik menyiapkan segalanya dari sekarang.
Gatra gelagapan meraih cangkir kopinya, dan meminumnya sampai tandas. Entah apa yang dipikirkan para orang tua yang seakan tak melihat pebedaan umur yang terlalu jauh diantara anak-anaknya.
''Bukan untuk saat ini, Gatra. Menunggu sampai Ara selesai sekolah dulu tidak apa, kan. Kalian bisa saling kenal dulu. Itu kalau Gatra belum ada calon lain. Misal Gatra ada mencintai perempuan lain, Om akan mundur.'' tidak memaksa tapi terlihat sedih dengan kalimat yang diucapkan.
''Maaf, Om. Ini terlalu mendadak dan aneh menurut Gatra. Kenapa Om, memilih Gatra untuk sebuah tanggung jawab yang besar ini. Masa depan Ara masih panjang dan Dia masih muda. Apa yang Om lihat dari Saya? Apa Om sudah memberitahukan Ara tentang rencana Om, ini. Apakah Dia juga mau bila dijodohkan dengan pria tua.'' panjang lebar Gatra menjawab permintaan Papa Randy.
''Besar harapan Om. Karena Gatra pasti mampu melaksanakan tanggung jawab yang akan Om bebankan.''
Percakapan mereka berhenti ketika ada seorang dengan seragam dinas kepegawaian datang menghampiri. Lebih tepatnya menghampiri Gatra. Lelaki salah satu staf gubernur yang sudah pernah bertemu dengan Gatra dan teamnya, kala Gatra memenangkan proyek iklan yang akan dikerjakannya.
'' Pak Gatra, maaf saya datang menganggu, ada pesan dari Pak Gub yang ingin bertemu, kita ditunggu di wisma, sekarang.'' kata lelaki itu dia tersenyum pada Papa Randy, merasa tak enak hati telah menyela percakapan mereka.
''Tida apa, Gatra. Bukankah memang ini tujuan Gatra datang ke Semarang. Lain kali kita bahas lagi.Pergilah, Om juga akan jemput Ara, mumpung Dia belum terlanjur jalan ke sini.
Gatra pergi dengan menupang mobil orang yang menjemputnya, sedangkan Papa Randy meluncur ke sekolah Ara.
Kelas Ara baru saja selesai ketika Papa Randy sampai, segera dihubungi Ara, kalau Papanya sudah ada di depan. Ara yang bisa langsung pulang, karena tidak ada les tambahan segera menghampiri sang Papa.
''Tumben, Papa jemput Ara.'' setelah Ara masuk mobil dan menyalim tangan Papanya. Karena biasanya Ara hanya diantar ke sekolah, pulangnya sudah pasti bersama Ratih bergelantungan di BRT.
''Emang gak boleh jemput anak sendiri.'' Papa Randy malah balik tanya dan melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas.
''Gak biasanya juga, Papa jemput Ara. Emang Papa gak ngantor?''
''Ngantor, Ara gak lihat Papa masih pakai seragam gini.''
''He he he... kirain aja Papa bolos.''
__ADS_1
''Emang anak sekolah kayak Ara pakai acara bolos-bolos segala. Tadi Papa habis jemput Ayah Sukma dan Mas Gatra di bandara, sekarang jemput Ara.''
''Ayah ke semarang lagi? bersama Bunda?'' pekik bahagia Ara, karena dipertemuan yang terakhir Ayah tidak bersama Bunda. Dan Ara mulai merindukan kehadiran sosok Bunda.
''Gak, Ayah ke sini bareng sama anaknya, mungkin besok Bunda ke sini.'' jelas Papa Randy. Seketika memudar rona bahagia Ara.
''Jangan sedih dong, besok juga ketemu. sudah kangen Bunda, ya?'' Ara mengangguk.
Papa Randy melajukan lurus mobilnya ke pusat kota, bukan jalur pulang ke rumah.
''Lho, Pah. kita mau kemana?'' tanya Ara bingung dengan jalan yang diambil Papanya.
''Mau ngajak Ara jalan-jalan sebentar, masih sore ini. Atau Ara mau membeli sesuatu, Papa bayarin deh. Baju baru mungkin?'' Ara jelas kaget gak biasanya juga Papa ngajak jalan bahkan belanja kalau bukan Ara yang minta.
''Papa pengen quality time sama Ara, boleh?'' sungging Papa Randy.
''Boleh sih, tapi heran saja ini kan bukan hari libur. Dan juga kita mau ngapain ke sini.'' mobil mereka telah memasuki area mall yang juga hotel. ''Apa kita nonton saja? ahhh lagi gak ada film bagus. masak iya nonton bareng Papa, bisa-bisa gak nonton tapi jadi ceramah time ini. Papa kalau quality timenya mendadak gini, Ara jadi bingung mau ngapain.''
''Ra, ayo turun! malah ngomong sendiri gitu.'' rupanya Papa Randy sudah lama keluar dari mobil dan Ara ngomong sendiri tak menyadari kalau sudah ditinggal Papanya.
''Papa kenapa ngebiarin Ara ngomong sendiri, keluar mobil gak ngajak-ngajak.'' sungut Ara.
Papanya terkekeh melihat Ara manyun. Ara mengandeng lengan Papanya memasuki mall, di pintu masuk ada gerai makanan cepat saji yang terkenal dengan burger dan kentang gorengnya. Papa menawari apakah Ara mau makan di situ. Ara menolak Ia ingin makan bakso yang di mall sebelah saja, tapi nanti setelah jalan-jalan di mall ini.
''Papa, Ara mau bakso Pak Kimis saja ya? yang di PM lantai tiga.'' Papanya mengangguk. '' Beneran ini, Ara boleh belanja Baju?'' Ara memastikan keseriusan Papanya yang membolehkan Ara untuk meminta apapun. Padahal baru minggu kemaren Ara dapat baju di hari ulang tahunnya.Dan kini belanja baju lagi?
''Hemm.'' dielusnya puncak kepala Ara.
''Kalau Hp baru boleh?'' Ara jadi ngelunjak, siapa tahu dituruti juga.
Kali ini Papa Randy menghentikan langkahnya, ditatapnya wajah putrinya yang cengengesan gak jelas.
__ADS_1
''Ponsel Ara kenapa? sudah rusakkah? kalau memang sudah rusak, bisa sekalian kita ganti.''
''Hah!'' Ara melongo ada apa dengan Papa.
Mumpung Papa lagi khilaf lebih baik dimanfaatkan saja. Ambil sisi positifnya, kapan lagi bisa punya Hp baru.
Akhirnya Ara mendapatkan semua yang diinginkan baju baru, Hp baru dan sekarang makan bakso di Pak kimis bersama Papanya, kalau biasanya bersama Ratih, temannya.
''Ara sering makan bakso di sini?'' Tanya Papanya yang hanya menyeruput jus jeruk selain masih kenyang karena sudah makan siang bersama Ayah Sukma dan Gatra, juga tidak terlalu suka dengan bakso.
''Lumayan, habisnya enak, tapi masih lebih sering dulu waktu Ara SMP. Di dekat sekolah Ara dulu ada cabangnya. Biasanya Ara bareng Ratih, kalau makan bakso ini. Ahh jadi keingat Ratih.''
''Ra, kalau suatu saat nanti Ara menikah dan tinggal bersama suami Ara, Ara masih ingat dengan Papa?'' Pertanyaan yang tiba-tiba yang belum terpikirkan oleh Ara.Masih terlalu lama untuk terjadi.
Ara menghentikan suapan yang akan masuk ke mulutnya. '' Pa, Ara masih SMA jangankan memikirkan menikah pacar saja Ara gak mau memikirkannya. Sampai kapanpun Ara mau selalu bersama Papa titik. Gak mau yang lain.
''Sudah kewajiban Papa untuk mengasuh, membesarkan dan menikahkan Ara nantinya. Dan kewajiban Ara juga kalau Ara sudah menikah nanti untuk ikut suami.''
Bakso yang tadinya enak jadi hambar, sudah tak ada selera lagi untuk melanjutkan makannya. Inilah yang juga ditakutkan Ara, jika tiba masanya Papanya yang meninggalkannya atau Dia yang akan meninggalkan Papanya.
''Papa, Ara gak mau bahas ini. Hanya Papa yang Ara punya, dan Ara akan selalu bersama Papa. Kalaupun nanti Ara bersuami, suami Ara harus mau tinggal bersama Papa.''
''Jadi... Ara mau bersuami? emang bayangan Ara mau suami yang seperti apa?'' rupanya jawaban Ara berhasil memancing pertanyaan Papanya. Dan Ara merutuki kata-katanya sendiri.
''Yang seperti Papa.''
*
*
*
__ADS_1
*
Yuk! beri dukungan untuk Ara, like dan komennya. Terima kasih.