
Gatra terbangun dari tidur nyenyaknya, setelah kembali bisa menikmati kamarnya. Karena kamar Ara sudah jadi dan bisa ditempati, maka Gatra bisa kembali ke singgahsana peraduannya.
Aroma wangi masakan dan harumnya seduhan kopi yang membuat Gatra bangun dari tidurnya.
Ceklek
Gatra membuka pintu kamarnya, setelah seluruh nyawanya terkumpul. Aroma masakan dan kopi semakin kuat. Gatra duduk di salah satu kursi meja makan yang hanya dua biji. Tak ada Ara di dapur minimalis yang kini telah penuh dengan perabot untuk memasak. Dan di meja telah tersedia setoples krupuk udang, secangkir kopi panas dan nasi putih yang mengepulkan asap panas. Hanya tinggal menunggu sup ayam yang masih belum matang sempurna karena masih menangkring di atas kompor.
Ternyata Ara sedang menjemur pakaian bekas kemaren dipakai. Pakaiannya dan Gatra. Terbiasa di rumah hanya berdua dengan papanya dan mengerjakan semua pekerjaan rumah, termasuk mencuci pakaian. Gerak-gerik Ara dapat dilihat oleh Gatra karena pintu penghubung antara balkon dan dapur dibuka maksimal oleh Ara.
''Ra.... rara.''
''Eh, Mas sudah bangun. Sudah sholat? sudah mandi?'' tanya runtun Ara dengan tetap melanjutkan pekerjaannya dan hanya sekilas menoleh ke Gatra.
Mata Gatra membola melihat Ara sedang mengelus, eh lebih tepatnya menghilangkan lecek karena proses pencucian dan pengeringan dengan mesin segitiga pelindungnya. Pagi-pagi otak Gatra sudah diajak traveling.
Jangan bungkusnya Rara, isinya juga mau dong dielus.
''Mas.... kok bengong! mandi gih!'' Gatra tergagap dari lamunannya, kembali menatap ke Ara yang kali ini sedang memegang bungkus susu cap nona Ara dan ****** ***** berenda. Tapi apa yang dilihat bukan cuma otaknya yang traveling tapi juga membuat si otong tegak berdiri lagi, setelah tadi ditenangkan dengan diajak pipis. Baru melihat bungkusnya yang berenda dan berwarna pink si otong sudah terprovokasi bagaimana melihat langsung isinya.
''Mas Gatra.....'' panggil Ara yang sudah berdiri di sampingnya setelah mematikan kompor tempat dia memasak sup ayam.
''I...iya... sa..yang.'' jawab Gatra tergagap.
''Ayo! mandi dulu, Ara sudah buatin kopi dan sup ayam.'' Ara meraih dan menarik tangan Gatra untuk mengikutinya masuk ke kamar Gatra.
''Eh....kok..Rara ikutan masuk?! apa kita mau mandi bareng?'' otak mesum Gatra meronta-ronta minta diiyakan.
''Mandi bareng?!..... Nggaklah Ara sudah mandi tadi subuh. Ara melepaskan gandengan tangannya ke Gatra, dan sedikit mendorong Gatra untuk masuk ke kamar mandi.
''lha ini... ngikut masuk mau apa? Atau Rara mau mandiin Mas?'' Gatra menggoda Ara siapa tahu beneran mau dimandiin.
''Mas!!!! Sudah biasa mandi sendiri kan! emangnya Mas Gatra anak kecil minta dimandiin. Mas Gatra mandi biar Ara bantu ambilkan baju gantinya.'' Ara melepaskan pegangan tangannya ke Gatra dan menuju lemari pakaian Gatra. ''Mas...? mau pakai baju yang mana?'' tanya Ara setengah berteriak setelah membuka lemari dan melihat tumpukan baju Gatra.
jadi anak kecil juga rela kalau kamu mandiin sayang.
''Kemeja lengan pendek saja, sama celana jean saja.'' sahut Gatra yang urung untuk menutup pintu kamar mandi karena pertanyaan Ara.
__ADS_1
''Mas..... hari ini kerja kan?'' tanya Ara tak percaya dengan pakaian yang akan dikenakan Gatra untuk bekerja.
''Iya. kenapa?''
''Nggak salah baju yang mau dipakai?'' selama ini Ara terbiasa menyiapkan seragam untuk Papanya bekerja.
''Kenapa?'' Gatra mendekat ke Ara. ''Kerjaan Mas, gak seperti orang kantoran yang harus formal dan berseragam. Untuk masalah pakaian bisa santai asal sopan. Hanya disaat tertentu saja Mas akan berpakaian formal. Untuk jam kerjanya juga sama tidak sama seperti kebanyakan orang, kadang-kadang mas harus pulang sampai menjelang pagi dan bisa berhari-hari berada di luar kota. Mas harap Rara maklum ya? bila suatu saat mas pulangnya sampai pagi. '' Gatra menjawab kebingungan Ara.
Enaknya ada istri sudah dimasakin disiapkan baju, andai sudah bisa diajak mandi bareng haduhhhh.... nikmatnya hidupku.
''O... gitu? Ara mengerti, Mas.'' Arapun mengambil asal pakaian yang akan dikenakan Gatra. Dan Gatra juga tidak protes dengan pilihan istri kecilnya.
Setelah Gatra masuk ke kamar mandi dan Ara sudah selesai menyiapkan pakaian untuk suami pilihan Papanya, Ara keluar kamar Gatra dan menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya.
Ara telah bersiap dan keluar dari kamarnya. Betapa kagetnya dia karena di dapurnya telah berdiri wanita berhijab sedang sibuk menata sesuatu di mejanya. lebih tepatnya menyingkirkan apa yang tadi telah disiapkan Ara.
Siapa perempuan itu kenapa bisa masuk ke dalam? apa dia dari jasa layanan kebersihan? tapi kalau dari layanan kebersihan kok bisa anggun dan stylist gitu gayanya. Dan pakaiannya juga rapi nggak seperti orang mau bersih-bersih.
''Mbaknya siapa?'' tanya Ara ketika sudah berhadapan dengan tamu tak diundangnya.
''Kamu siapa?'' tanya balik si perempuan dengan ketus tak ada ramah-ramahnya. bukannya menjawab pertanyaan Ara.
Tak kalah dengan Ara perempuan itu juga menatap Ara dengan pandangan sinis. Tatapannya seperti ingin menelan Ara bulat-bulat. Terus memindai Ara dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Membuat Ara risih.
''Ra....Rara.'' teriak Gatra keluar dari kamarnya. '' Mas sudah siap nih? sudah gan....teng.'' langkah dan suara Gatra terhenti.setelah melihat sosok perempuan didepannya. ''Bel?! ngapain kamu pagi-pagi sudah ada di sini?'' Gatra terkejut ada sekretarisnya di apartemennya. ''Saya tidak menyuruhmu untuk datang ke sini begitu juga Farel.''
''Selamat pagi, Bang. Aku cuma mampir kok, Bang? sekalian bawain sarapan buat Abang. Kata Pak Farel Bang Gatra sudah balik dari kemaren lusa. Tapi kok belum ngantor? jadi aku samperin ke sini takutnya terjadi apa-apa sama Bang Gatra.'' jelas perempuan yang dipanggil Bel oleh Gatra.
Namanya Sabila perempuan berbijab yang sudah dua tahun ini menjadi sekretaris Gatra di kantor.
''Saya gak papa, kamu gak usah khawatir dan repot-repot untuk datang ke sini toh tidak ada pekerjaan yang urgent yang harus segera ditangani. Hari ini saya sudah mulai ngantor lagi. Urusan pekerjaan kita selesaikan di kantor saja.'' sepertinya Gatra sedang menjelaskan batasan posisi sekretarisnya. Memang Gatra dulu pernah meminta tolong sekali pada Sabila untuk mengantarkan dokumen penting dari kantor ke Apartemennya karena waktu itu Gatra sedang sakit tipes.Itulah sebabnya Sabila bisa tahu sandi kunci pintu apartemen Gatra. Gatra memang pernah kagum pada Sabila karena wanita cantik sepertinya yang masih muda tapi mau menutup auratnya dengan berhijab. Ada gerakan dari hatinya untuk menjadikan istri urusan cinta bisa dicari seiring berjalannya waktu, pikirnya waktu itu.
Sayangnya sikap dan perilaku Sabila yang kalem, lemah lembut dan menutup auratnya berbanding terbalik bila di luar kantor. Sabila sering berada di tempat hiburan malam dengan pakaian yang kurang bahan. Seketika Gatra yang melihat dengan mata kepalanya sendiri dia jadi ilfeel.
Sabila masih saja keukeh belum meninggalkan apartemen Gatra setelah di beri penjelasan. Menulikan ucapan Gatra dan mengikuti Gatra menyeret kursi dan ikut duduk di sana, padahal kursinya cuma dua biji. sambil membuka bungkus bubur ayam yang dibawa. Ara terbengong dengan kelakuan cewek di depannya. Sehingga beringsut ke pantri.
''Bang, cewek ini siapa?'' dengan nada lembut dan mendayu Sabila menanyakan siapa Ara. Padahal di kantor Farel sudah menyebarkan berita dengan jelas kepada seluruh karyawan Gatra, bahwa Gatra lama tidak masuk kantor karena menikah di Semarang.
__ADS_1
Bang! Bang! Abang tukang bakso.Mari-mari sini saya mau beli. Nggak yang ini nggak yang kemarin di Mall, Bang! Bang! melulu.
Semakin kelihatan watak asli Sabila. ''Ini Raraku. Istriku Mutiara dinanti, kamu bisa panggil Ara.'' dengan bangga Gatra mengenalkan Ara sebagai istrinya. Ara menampakkan senyuman ramahnya walau yang disenyumi mengeluarkan aura permusuhan.
''Jadi benar kata Pak Farel, kalau Bang Gatra menikahi anak bau kencur karena terpaksa.'' apa maksud Sabila bilang seperti itu, padahal bukan seperti itu berita yang disebarkan oleh Farel.
Prang....
Ara menjatuhkan piring yang dipegang, bukan sengaja tapi kaget mendengar ucapan Sabila.
Gatra segera menghampiri Ara, ditatapnya wajah sendu Ara. Gatra tahu Ara pasti terluka mendengar kata-kata Sabila. Membawa Ara dalam dekapannya. ''jangan pernah dengarkan kata-kata orang lain ya? cukup percaya dengan apa yamg Mas bilang ke Rara dan perbuatan Mas ke Rara. Hmm. '' tangan Gatra mengelus rambut Ara yang tergerai. Gerakan Ara yang mengangguk dalam dekapannya membuat Gatra lega. Jangan sampai Ara terprovokasi ucapan Sabila.
Susah payah gue ngebangun kepercayaan Rara sebegitu mudahnya elu mau menghancurkannya Bel! Apa maumu sebenarnya. Gak mungkin Farel tega ngomong begitu, gue cukup tahu dia.
'' Bel jaga kata-katamu! saya kroscek dengan Farel nanti.'' Sabila yang panas hatinya melihat kelembutan Gatra pada Ara, ditambah peringatan Gatra menjadi ciut nyalinya.
''Maaf Bang.... bukan maksud saya...'' kata-kata Dabila terhenti.
Ara melepaskan pelukan Gatra. '' Mas sudah siang nanti Ara telat.'' Ara melihat pecahan piring yang dijatuhkannya.
''Biarkan saja Ra, biar nanti jasa kebersihan yang beresin kita sarapan dulu saja.''
''Bang, buburnya?'' Sabila keukeh menawarkan bubur ayam yang dibawanya. Kursi cuma dua bila sudah ada Sabila dan Gatra Ara mau duduk di mana?
Sama sekali Gatra tak menghiraukan Sabila, fokusnya pada hati Ara.
''Mas Gatra sarapan yang dibawakan Mbaknya saja. Sarapan Ara dibekal saja nanti dimakan pas jam istirahat.'' Ara menatata apa yang dimasaknya ke kotak bekal.
''Mas juga mau dibekal saja, yang banyak ya? takutnya nanti Farel minta, dia kan juga suka sekali dengan masakan istri Mas ini.'' Ara tersenyum menaggapi suaminya, teringat akan Farel ketika di Semarang yang selalu lahap dengan apa yang dibuat oleh Ara.
Semakin panas saja, padahal hari masih pagi. Hati Sabila yang panas, tiga tahun memendam rasa pada Gatra. Dulu dia kalah dengan sepupunya Claritta, sekarang dengan yang katanya anak bau kencur.
*
*
*
__ADS_1
Maaf membuat kalian menunggu lama untuk kemunculan Ara dan Gatra. komentar kalianlah yang membuat saya semangat untuk up. terima kasih untuk setia dan menunggu.