Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
72 Berlian


__ADS_3

Setelah dari bank Gatra kembali melajukan kendaraannya di tengah jalanan yang sudah tidak begitu macet karena sudah lewat jauh dari jam masuk kerja.


Gatra memang mengajak Ara ke sebuah mall, lumayan besar sih mall itu, tapi kurang lengkap untuk perlengkapan rumah tangganya.


Gatra menggandeng Ara menuju ke salah satu butik yang ada di mall tersebut.


''Mas, kenapa kita ke sini? mau ngapain?'' tanya Ara bingung karena ke butik sama sekali tidak ada dalam list belanjaan yang dibuatnya.


''Kita cari baju dulu buat Ara ganti, masak iya mau pakai seragam gitu? apalagi ini masih jam sekolah, di sini yang tahu Ara pulang awal dari sekolah kan cuma Ara dan Mas. Orang lain kan tidak tahu dan mereka bisa saja berprasangka yang tidak-tidak pada Ara.'' Ara menerima penjelasan Gatra yang memang benar ini masih jam sekolah. Tak seharusnya berkeliaran apalagi di mall.


''Rara.... cepetan pilih mana yang Rara mau, biar ditolong sama Mbaknya ini untuk langsung dipakai.'' nampak karyawan butik menghampiri dan menawarkan jasanya.


''Mau cari pakaian yang bagaimana? untuk acara apa? biara saya bantu Dik.'' tanya pegawai butik itu ramah.


Ara melihat-lihat barisan dress yang ada di depannya, yang ditunjukkan oleh pegawai butik setelah dia bilang ingin dress yang casual yang bisa dipakai buat jalan.


Dress berwarna biru langit bermotif kotak-kotak terbuka dibagian leher dan lengan yang menggelembung dengan panjang selutut jadi pilihannya. Hampir saja Ara meletakkan kembali dress tersebut setelah melihat harganya.


''Mas Gatra.... cari di tempat lain saja, di sini terlalu mahal.'' bisik Ara di telinga Gatra. ''Ara mau T-shirt dan celana jeans saja.'' cuma mau belanja saja kenapa harus beli di butik.


Gatra menaikkan dua sudut bibirnya ke atas.


''Sekali-sekali memanjakan diri dengan sesuatu yang mahal gak papa Ra? ambil saja kalau Ara suka.'' Gatra mengambil kembali dress yang tadi sempat Ara ambil. Menyerahkan pada pegawai butik untuk membantu Ara memakainya.


Gatra melakukan pembayaran ketika Ara mencoba dressnya.


Ara keluar dari kamar ganti dengan dress pilihannya dan mendekat ke Gatra yang nampak sedang melakukan panggilan.


''Mas... mas.'' Ara memanggil Gatra yang terlalu fokus pada gawainya.


Gatra menoleh pada suara yang dia kenal yang akhir-akhir ini meramaikan pendengarannya.


Raraku memakai pakaian apapun kamu akan selalu terlihat manis dan cantik.


''Massss! kok bengong. Ini gimana? cocok gak sama Ara?'' sontak Gatra terjaga dari lamunannya.

__ADS_1


''Cantik.''


''Mas, ihhh... ditanya apa jawabnya apa.'' Ara mulai kesal dengan kelolaan Gatra.


''Lagi susah sinyal ya Mas? jadi lama loadingnya.''


''Eh... Rara memakai apapun akan selalu cantik, itu maksudnya Mas.''


''Kata mbaknya juga, Ara cantik memakai dress ini.'' Ara menunjuk karyawan butik yang mengikutinya dan bahkan membantunya berganti. Karyawan tersebut memasang senyuman manisnya pada Ara.


''Adeknya memang aslinya sudah cantik kok.'' tutur karyawan butik


''Nggak sekalian kita beli untuk acara lanaran Farel, Ra?'' tawar Gatra ''mumpung kita masih di sini.''


''Emang harus baju baru ya? untuk acara lamarannya.'' bukanya mengiyakan tawaran Gatra tapi bertanya balik.


''Gak juga sih. Mas cuma pengen baju kita seragam, kan kita belum punya baju yang samaan.''


''Boleh juga.'' Ara mengedarkan pandangannya kesekeliling. ''Sepertinya tidak ada deh, Mas. Semuanya baju cewek, gak ada yang untuk cowok.'' memang butik tersebut dikhususkan untuk remaja putri dan wanita dewasa.


Sedikit kecewa Gatra keluar dari butik tersebut. Ara menyadari raut kecewa Gatra. ''Masih seminggu lagi kan, Mas? acaranya Mas Farel? masih bisa dicari ditempat lain kan?''


''Iya.''


Baru beberapa langkah keluar dari butik Gatra menarik Ara untuk masuk ke toko perhiasan.


''Ini kenapa jadi masuk ke toko perhisan sih! sejak kapan perhiasan jadi perabot rumah tangga.'' guman Ara yang masih terdengar oleh Gatra.


Pemilik toko sudah menantikan kedatangan Gatra, karena tadi Gatra sudah menelponnya terlebih dahulu.


''Pak Gatra, mari silahkan masuk.'' pemilik toko mempersilahkan Gatra yang diekori Ara memasuki ruangan khusus pelanggan VVIP.


Gatra duduk di sofa diikuti Ara di sebelahnya.


''Gimana Koh, sudah jadi semua pesanan saya?'' tanya Gatra pada pemilik toko yang ikutan duduk di single sofa yang ada di depannya.

__ADS_1


''Sudah. sebentar sedang diambilkan pegawai saya.'' jawab pemilik toko.


Tok


Tok


Tok


Ketiga insan yang ada di ruangan tersebut menoleh pada suara ketukan pintu. Seorang pegawai masuk dan meletakkan dua kotak kecil berbalut kain beludru, satu berwarna merah muda dan satunya berwarna ungu muda, di atas meja yang membatasi tempat duduk Ara dan Gatra dengan si pemilik toko. Tadinya si pegawai akan menyerahkan kepada majikannya, tapi disuruh untuk meletakkannya di atas meja.


''Silahkan dibuka dan dilihat Pak Gatra, barangkali masih ada yang kurang dari desain yang Pak Gatra inginkan, kami akan memperbaikinya.'' pemilik toko mempersilahkan Gatra untuk memeriksa pesanannya.


Gatra mengambil satu kotak yang berwarna ungu muda dan membukanya. Sebuah cincin dengan satu berlian kecil ditengahnya dikeluarkan dan diamati dengan seksama. Gatra puas cincin berlian pesanannya sesuai dengan desain gambar yang dipilihnya.


Ara mengira Gatra serius dengan permintaan Farel yang meminta berlian saat lamaran nanti.


Mas Gatra beneran royal dengan sahabatnya. Sampai minta berlianpun dituruti, padahal harga berlian tidaklah murah.


Gatra meraih tangan kiri Ara dan memasangkan cincin berlian tersebut ke jari manisnya. Ara pasrah saja munkin Mas Gatranya sedang mencobakannya.


''Kok bisa pas gini, emang calon tunangan Mas Farel jari manisnya seukuran dengan jari manis Ara?'' Ara mengagumi cincin yang telah sempurna melingkar di jari manisnya.


Gatra masih belum nggeh pada ucapan Ara tentang jari manisnya yang sama dengan jari manis calon tunangan Farel. Hatinya terlalu bahagia karena Ara menyukai cincin berlian yang baru saja dipasangkannya.


Ara hendak melepaskan cincin dari jari manisnya. Gatra segera mencegahnya.


''Kenapa dilepas? bukankah Rara menyukainya?''


Ara mengerutkan dahi ''cincin ini untuk diberikan pada Mas Farel kan, Mas? masak iya Ara yang pakai.''


Gatra teringat dengan percakapannya dengan Farel kemaren dimana Farel meminta berlian padanya.Raranya telah salah paham.


Belum tahu apa kalau berlian sekecil itu saja sudah bisa untuk membeli rumah mewah.


''Ra... kamu salah paham sayang.... cincin itu buat kamu. Bukan buat Farel.Tolong jangan dilepas dahulu. Cincin itu sengaja Mas pesankan untuk Rara. Anggap sebagai cincin tunangan kita walau kenyataannya kita tak pernah tunangan, tapi langsung nikah. Maaf Ra... Mas baru bisa memberi satu, kecil lagi''

__ADS_1


Ara sungguh terharu dan langsung menghampur kepelukan Gatra.


''Terima kasih Mas, Ara akan jaga dengan baik -baik.''


__ADS_2