Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
41 Ara Pergi


__ADS_3

Di ruang rawat inap Raga tak penah sendirian, Ibu, Kakak dan Adiknya sediktpun tak meninggalkannya.


Bertahun mereka menunggu, Raga hadir di tengah-tengah mereka. Rissa dan juga Ettan merasa bersalah pada Raga, sebagai anak sambung Nurmala justru merekalah yang mendapatkan kasih sayang melimpah ketimbang Raga.


Beranjak siang, Danu suami Nurmala datang. Menurut Raga, sikap dan sifat Danu mirip dengan Randy, Papanya Ara. Raut kesedihan kembali mencuat, belum diketahuinya bagaimana keadaan Ara.


''Bagaimana Raga, kamu mau melanjutkan pengobatanmu ke Jakarta atau Singapura?'' Tanya Danu.


''Raga ikut Om, saja. '' Jawab Raga singkat. Ia masih sungkan pada sosok ayah yang baru dikenalnya dalam hitungan jam.


''Kok panggilnya, Om. Panggilnya sama dong dengan Rissa dan Ettan.Raga kan juga anak Papa.


Dengan tergagap Raga menyebutnya Papa. Canda tawa keluarga Danu, membuat nyeri hatinya, kenapa dulu dia tidak bersama mereka. Kenapa keluarga yang bersamanya tak sehangat keluarga yang baru ditemuinya ini.


''Raga, kenapa ?'' Tanya lembut Nurmala. Tangannya tak lepas dari tangan Raga yang bebas selang infus.


''Nggak papa, kepikiran Ara. Bagaimana keadaanya, Ma?''


''Maaf sayang, Mama belum tahu keadaan Ara, karena kalian dibawa ke rumah sakit yang berbeda.''


''Bang Ara, cantik nggak?'' celetuk Ettan.


''Ya pasti cantik lah, Dek. Orang Raganya ganteng gini.'' Rissalah yang membalas celetukan Ettan.


''Sudah lama Raga kenal sama Ara? cerita dong tentang Ara, Mama jadi pengen kenal juga.''


''Bang, Mama tuh selalu gitu, tiap ada yang dekat sama anaknya, selalu saja ingin tahu, siapa mereka, teman ketemu di mana? sekolah nggak? Ya... pokoknya macam-macamlah. Iya kan, Kak.''


''Hemm''


''Kalian ini, Mamah kalian begitu juga karena kuatir sama kalian. Siapa tahu kalian salah gaul. Atau kalian bertidak yang enggak-enggak. yang rugi kan kalian juga''.ucap Danu ngebela istrinya.''


''Iya, Papa... Emang dasar bucin akut ini, Raga. ''Raga terkekeh dengan ucapan Rissa.


Raga tak hanya cerita tentang Ara, tapi juga Papanya, Ara.


Airmata Nurmala lolos, dia terharu mendengar kebaikan keluarga Ara pada anaknya.Ternyata ada keluarga lain selain keluarga Tia, sahabatnya Yang baik pada anaknya


Sementara di luar ruangan seorang pria, berdiri terpaku menyaksikan keluarga mantan istrinya yang nyatanya, berbanding terbalik dari keluarganya.Penyesalan demi penyeasalan mulai menghinggapi.


Dialah, Dharma salah seorang yang membuat Raga ada di dunia ini.Dia datang setelah mengurusi adaministrasi Maya.

__ADS_1


Ditariknya tangan yang hampir menyentuh ganggang pintu, melangkah pergi sejenak dan duduk di bangku tunggu luar ruangan.


Danu dan istrinya keluar ruangan Raga, ada sesuatu yang ingin dibelinya. Mereka terkaget, ada seorang duduk di bangku dekat pintu. ''Mas Dharma.'' sapa Nurmala,'' Kok di sini, Mas. Nggak masuk saja,Raga sudah mendingan.''


Dharma terkaget dengar suara Nurmala, lebih terkaget lagi dengan lelaki disebelah mantan istrinya.


Danu yang mengerti kecanggungan Dharma, '' Pak Dharma, masuk saja. Kebetulan kami ada keperluan sebentar.''


Danu menarik istrinya menjauh sedikit dari Dharma. ''Mah, apa tidak sebaiknya Mama bicara bertiga dengan Raga dan ayahnya, tentang rencana kita membawa Raga.''


Nurmala langsung menyetujui ide suaminya, inilah saat yang tepat membawa Raga. Karena keluarga Dharma pasti sibuk mengurusi kasus Maya.


'' Kalau begitu biar Papa dan anak-anak saja yang keluar. Mama ingat apapun nanti keputusan Raga dan Ayahnya, Mama harus legowo.''


''Iya, Mas. Makasih.''


Danu kembali ke kamar rawat Raga. tak lama sudah keluar bersama dengan kedua anaknya.


''Ma... ajak Ayahnya Raga masuk biar enak ngomongnya'' bisik Danu sebelum pergi. Dan dianggukan sang istri.


Dalam ruang rawat Raga hanya keheningan yang ada. Raga bahkan memalingkan muka dari papanya.


''Mas Dharma, bagaimana keadaan putrimu?'' pertanyaan Nurmala memecahkan keheningan itu. Bukan pertanyaan yang aneh mengingat Nurmala juga sangat menyayangi dua putra sambungnya, bukan tidak mungkin Dharma juga demikian.


''Sukurlah. Mas Dharma, untuk kesembuhan kaki Raga, kami tetap akan membawa Raga. Dan Raga juga mau. Iya kan sayang?'' Raga menganguk.'' Bagaimana keputusanmu, Mas?''


Lama Dharma menatap Raga walau yang ditatap melengos. '' Baiklah asal Raga bisa sembuh seperti sedia kala, aku titip Raga. ''


Maafkan Papa Raga, selama bersama Papa hanya luka yang kamu dapatkan. semoga keluarga barumu bisa lebih memberimu kebahagiaan.


''Pasti. pasti kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Raga. Sesuai rencana kami akan berangkat besok, Mas.''


''Iya.... Nur, Saya minta maaf atas semua kesalahan saya selama ini sama kamu, sungguh saya menyesal.''


'' Sudahlah Mas, saya sudah memaafkannya, kuanggap itu semua ujian untuk menaikkan level kehidupanku. Toh sekarang aku sudah ada Mas Danu dan anak-anak. Merekalah sumber kebahagiannku, apalagi nanti ada Raga. Lebih baik kamu dampingi istrimu untuk kesembuhan putrimu.''


''Terima kasih Nurma. ''


'' Sama-sama Mas, sudah merawat Raga selama ini. ''


Dharma pamit untuk ke ruangan Maya.

__ADS_1


'' Mamah ada apa dengan Maya, kenapa dia dirawat?'' Raga penasaran dengan perkataan mamanya berkali-kali tentang Maya.


Nurmala menceritakan sebatas yang dia tahu. Dikatakan pada Raga nanti sebelum berangkat untuk mengunjungi Maya.


Maya diperkosa. Dia ada di markas bersama Daud, tapi Daud mengikuti aku dan Ara. Mungkinkah ini perbuatan Topan. Kasihan nasibnya.


''Mama... kasus Maya, sudah diketahui siapa pelakunya?'' tanya Raga hati-hati.


'' Mama kurang tahu sayang besok kita besuk saja, ya.''


Keesokan harinya


Sebelum keluarga Danu membawa Raga, mereka menyempatkan untuk membesuk Maya. Kondisi Maya masih belum pulih, terutama mentalnya. Maya yang sebelum menjadi korban perkosaan telah hamil dan sekarang keguguran merupakan sebuah aib bagi keluarganya, terutama Soraya ibunya.


Betapa baiknya hati Nurmala, setelah apa yang dilakukan soraya dulu padanya. Masih ada simpati dan mau membesuk Maya.


''Mau apa kalian ke sini? memastikan musibah Maya, hah! '' musibah yang menimpa anaknya tak membuatnya berkaca dengan kejahatan yang dilakukan pada Nurmala.


''Ma, ayo pergi saja sepertinya kehadiran kita tidak diharapkan.'' bisik Rissa.


'' Maaf, Mbak Soraya, kami ke sini untu pamitan, kami akan membawa Raga ke singapura untuk kesembuhannya. ''


''Sok kaya, pergi ya pergi saja. Bawa saja anak berandalanmu itu.''


''SORAYA'' bentak Dharma.


''Mas! jadi kamu belain bekas istrimu ini.''


''So-ra-ya. jaga sikapmu. Ambilah pelajaran dari musibah putrimu.'' ucap Dharma.'' Maafkan kelakuan istri saya, Nurmala, Pak Danu.''


''Kami mengerti, siapapun paati berat menerima cobaan begini. Pak Dharma. Kami mau pamit dan membawa Raga.''


'' Ya Pak Danu, saya ucapkan banyak terima kasih, tolong saya titip Raga. ''


''Pasti kami akan menjaga Raga.''


Sebelum berangkat Raga meminta untuk mampir ke rumah Ara.Raga ingin bertitip pesan setelah Dia benar-benar sembuh akan datang menemui Ara. Jalanan meuju rumah Ara banyak terpasang bendera kecil berwarna kuning.Perasaan Raga sudah tak karuan. Sesampainya di depan rumah Ara, tangis Raga pecah. Maaih banyak tamu dan bendera kuning ada di kanan-kiri pintu gerbang yang dibuka lebar.


''Sayang, ini rumah Ara?'' tanya Nurmala yang juga menduga kalau Ara meninggal.


''Gimana kita turun nggak?'' Tanya Rissa.

__ADS_1


''Kita jalan saja, Mah. Raga nggak bisa melihat kesedihan keluarga Ara. Ini salah Raga, Ara pergi.


__ADS_2