
Baru saja Gina merayakan ulang tahun pertamanya, Ara sudah positif hamil lagi. Hasil dari tes urine pagi ini menunjukan dua garis biru. Ara yang rutin datang bulan sudah lebih dari sebulan tidak kedatangan, sudah seminggu pula setiap pagi Ara selalu mual dan muntah sampai lemes karena yang keluar cuma cairan. Gatra curiga kalau biasanya Ara akan keenakan diremas dan dimainkan pa yudaranya, tapi malah menjerit kesakitan, makanya dia membelikan Ara tespack. Dan hasilnya Gina akan punya adek.
Kehamilan Ara membuat Bunda uring-uringan, bukan karena tidak suka Ara hamil lagi, bukan gak mungkin bunda tidak suka dengan menantunya itu. Rasa sayang bunda ke Ara melebihi rasa sayangnya pada Gatra bukan juga Bunda lelah menjaga Gina ketika Ara berangkat kuliah. Bunda kasihan pada Gina masih terlalu kecil untuk punya adek. Lebih kasihan lagi pada Ara ngurus rumah tangga sambil kuliah saja sudah keteter ini mau tambah anak lagi.
''Tra kamu itu kejar setoran atau gimana seh! gak kasihan sama Gina dan istrimu?'' cerocos bunda saat menerima hasil dari tespack ada strip dua.
Ini kan salah bunda juga coba kalau malam Gina gak diajak tidur sama Bunda pasti kan Gatra gak bakalan main kuda-kudaan dengan Ara.
''Gatra kamu dengar gak Bunda ngomong!'' suara bunda meninggi karena Gatra melamun
''Iya Bun, namanya juga kebobolan gimana dong?''
''Sudah lah Bun, disyukuri kehadiran anak kan Riski. Banyak anak banyak rejeki. Lihat sejak Gina lahir proyek yang didapat Gatra semakin banyak kan? Dengan adanya Gina Bunda jadi gak kesepian lagi kan? Apalagi nanti ditambah dengan adiknya Gina pasti rumah kita tambah rame.'' ayah berusaha menenangkan Bunda.
''Tapi Yah, membesarkan anak itu tidak hanya dengan materi tapi juga kasih sayang dan perhatian.''
''Memangnya Bunda tidak seneng mau punya cucu lagi?''
''Senenglah Yah, seneng banget cucu Bunda nambah tapi.....''
''Kalau seneng ya sudah gak usah pakai tapi. yang harus Bunda lakukan sekarang memberi semangat pada Ara. Justru dia yang harus kita khawatirkan sekarang.''
''Maksud Ayah?'' Bunda belum paham dengan kode yang ayah berikan.
''Tra, coba kamu lihat Ara di kamar pelan-pelan tanyakan padanya siap tidak dia menerima kehamilan keduanya.''
''Yah, Bunda tadi gak bermaksud menyalahkan Ara karena hamil lagi lho. Bunda seneng kok Ara mau ngasih Bunda cucu lagi. Bunda tadi marah-marah Ara tersinggung tidak ya?'' bunda baru sadar maksud dari perkataan ayah.
''Iya itu maksud Ayah kita harus jaga perasaan Ara umur belum genap dua puluh tahun anak sudah mau dua. Selama ini hidupnya cuma rumah, kampus dan rumah lagi. Nongkrong seperti anak muda lainnya juga gak pernah.''
'' Biarlah setelah Gatra keluar nanti bunda mau bicara dari hati ke hati dengan Ara.''
Sementara itu di kamar Ara dan Gatra.
Ara sedang mematutkan diri di depan cermin.
''Ibu. Sedang apa?'' Gatra memeluk pinggang Ara dari belakang.
''Bapak. Bikin Ibu kaget saja.'' Ara mengusap rahang sang suami yang menempel diceruk lehernya. '' Ibu gak nyangka secepat ini Allah kasih kepercayaan buat Ibu hamil lagi.'' Ara mengelus perutnya yang masih rata.
''Ibu tidak terbebani dengan kehamilan yang kedua ini?'' tanya Gatra hati-hati
__ADS_1
''Gak lah Pak. Bukankah anak adalah rejeki. Ibu bersyukur sudah punya Gina dan sebentar lagi akan ada adeknya, pasti nanti Gina gak akan kesepian karena ada adeknya.''
''Maaf ya Bu, karena Ibu harus hamil, melahirkan dan merawat anak-anak bapak hingga Ibu harus kehilangan masa muda Ibu. Waktu Ibu habis untuk ngurusin Bapak dan Gina. Ibu gak bisa seperti anak muda lain yang bisa kongkow-kongkow sepulang kuliah atau sekedar jalan-jalan bareng teman.''Gatra mengeratkan pelukannya.
''Kenapa Bapak ngomong gitu? Ibu ikhlas dan bahagia jadi istri Bapak. lagian Bapak kan tahu kalau Ibu gak suka kongkow-kongkow, nongkrong-nongkrong kalau gak ada perlunya mending main sama Gina di rumah.''
''Bapak antar ke rumah sakit ya, kita periksa calon adeknya Gina.'' Gatra berniat membawa Ara ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Setiba di rumah sakit bertemu dengan Iwan.
''Siapa yang sakit Tra?'' tanya Iwan
''Gak ada yang sakit cuma mau ke dokter obgyn. Lo ngapain di sini pindah kerja?''
Iwan memandang ke Ara, melihat sekilas kondisi Ara yang agak pucat lalu menggelengkan kepala.
''Parah Lo Tra, sekecil Gina sudah mau punya adek. Lembur terus ya?'' diakhir kata cuma berani berbisik karena suasana rumah sakit yang rame.
''Gue gak pernah lembur ya. Sesuai dengan jam kerja, on time makanya dapat bonusnya gede.Lo kalau mau dapat bonus kayak gue diajak kerja dong jangan dianggurin, entar karatan.'' sesuka Gatra meledek Iwan
''Gue kerja sama siapa PE'A partner kerja gue lagi OTW.'' sanggah Iwan yang tetep santai mesti teman-temannya sering meledek karena diantara mereka berempat cuma Iwan yang belum menikah.
''Mas?'' Ara memperingatkan Gatra kalau gak bakalan lama urusannya bila sudah saling ledek.
''Iya sayang. Selamet Lo jomblo akut.''
''Mas!''
Iwan memberikan dua jempolnya pada Ara karena Gatra bisa begitu patuh padanya.
Sampai di ruang dokter obgyn Gatra dan Ara duduk berdua berseberangan dengan dokter yang akan memeriksa sebelumnya sang dokter menanyakan banyak pertanyaan dulu.
''Jadi ini kehamilan yang kedua ya. Lahiran yang pertama normal?'' tanya si dokter
''Ya Dok.'' Gatra yang menjawab.
''Sewaktu hamil sampai melahirkan yang pertama tidak ada keluhan apa-apa Bu?''tanya dokternya lagi
''Keluhan yang seperti apa ya Dok?'' Gatra sedikit terpancing emosi dia kesini mau memeriksakan Ara yang hamil sekarang bukan yang hamil dulu. Kenapa yang diurusi kehamilan yan dulu. Sudah brojol noh anaknya cantik sehat dan montok.
''Tendi darah yang tinggi bayinya sungsang ata....u''
__ADS_1
'' Dok anak saya lahir sehat gak kurang satu apapun. Saya melihat sendri dia nangis kencang sekali. Selama hamil istri saya kebutuhan nutrisinya tercukupi dan rajin ikut senam ibu hamil dia juga aktif banyak gerak juga tetep kuliah.'' Gatra mulai emosi, Ara menggenggam tangan Gatra untuk menenangkan.
''Maaf pak saya cuma ingin memastikan saja. karena nanti berdampak pada kehamilan yang sekarang.'' dokter tetap tenang menanggapi Gatra.
''Semua sudah pasti Dok. Noh anak saya ada di rumah cantik, sehat dan montok. Sepuluh bulan sudah bisa jalan.'' Gatra menyombongkan bayi Gina.
''Baiklah Pak karena tidak ada keluhan dan kondisi ibu juga sehat mari kita lihat kondisi bayinya.'' dokter meminta suster untuk membantu Ara menaiki brangkar menyingkapkan bajunya hingga kelihatan perut datarnya. Suster mengoleskan gel dingin ke perut bawah kemudian dokter memutar-mutarkan transducer ke perut Ara.
''Wah ada dua titik.''
''Maksud dokter apa?'' seketika Gatra menjadi cemas.
''Iya benar dua titik.'' kata dokter lagi
Jelas Gatra semakin geram ini dokter emang pengen ngajak ribut.
''Di layar menunjukkan ada dua titik artinya calon anak bapak dan ibu nanti ada dua alias kembar.'' terang dokter yang membuat Gatra melongo.
''Anak kami kembar Dok?'' tanya Ara setelah merapikan kembali bajunya.
''Kembar sayang?'' Gatra masih tidak percaya.
''Benar, Bapak dan Ibu calon bayi kalian ada dua. Sebentar saya tuliskan resep vitaminnya dan ini buku KIAnya mohon setiap periksa dibawa.''
''Ya Dok.'' jawab Ara dan Gatra bersamaan
Keluar dari ruang dokter Gatra dan Ara masih shock kalau adeknya Gina ada dua.
''Mas, besok periksa ya jangan ke sini lagi ya? ke dokter Winda saja.''
''Iya, tadi Mas pikir karena rumah sakit ini yang terdekat dengan rumah kita gak tahunya dokternya nyebelin habis.''
''Mas.''
''Heem.''
''Gimana bilangnya ke Bunda ya, kalau cucunya bakal nambah dua.''
''Mas juga gak tahu yang dipikirkan Bunda tuh kasihan pada Gina, takut kekurangan kasih sayang. Tapi Mas lihat Gina itu bayi yang mandiri. dia pasti mengerti bila nanti adek-adeknya lahir. Kasih sayang kita gak Berbah untuk Gina.''
Maafin Ibu Gina sekecil kamu sudah mau punya adek dua lagi.
__ADS_1