
''Mas.''
Gatra yang yang dari tadi mencuri dengar percakapan Ara dan Pia. Ara menghampiri Gatra meraih tangan kanannya dan menciumnya. Reflek Gatrapun merengkuh Ara dan mencium keningnya.
Sungguh pemandangan yang luar biasa aneh bagi Pia. Ini kok seperti adegan istri solehah yang menyambut kedatangan suami seh.
''Mas, sudah lama pulang? katanya masih nanti malam. Ara belum persiapan masak.'' Ara mengambilkan air dingin untuk Gatra yang duduk di kursi makan. ''Ada Pia main ke sini, gak papa kan Mas.'' Ara yang antusias dikunjungi Pia sampai lupa untuk meminta ijin pada Gatra, kalau ada teman mau main.
''Gak papa. Kaki Rara gimana? masih nyeri gak?'' tanya Gatra setelah meneguk habis air dingin yang diambilkan istri kecilnya.
''Semakin membaik gak nyeri lagi setelah minum obat yang Mas belikan tadi, dan salep olesnya juga mujarab.'' karena Raranya yang gak mau diajak ke rumah sakit, maka sebelum mengantarkan pulang Gatra mampir dulu ke apotik membeli obat dan salep untuk nyeri kesleo.
''Rara gak usah masak, nanti kita makan di luar saja. Sekarang Mas mau mandi dulu.'' Gatra bangkit dari duduknya mengacak puncak kepala Ara dan berlalu masuk ke kamarnya.
''Ra,'' dari arah balkon Pia masuk menghampiri Ara. ''Ra kok gue berasa melihat adegan live drama istri solehah yang menyambut suaminya pulang ya? bukan ponakan dan Omnya.''
''Uhuk..uhuk..''Ara tersedak ludahnya sendiri. Hingga dia meminum sisa air dari Gatra. Masak sih.
''Kenapa Ra?'' polos Pia
''Nggak ini, tenggorokan gatel.''
''Oh. Ra, gue pulang saja ya? takut gue ada Om lo. Tatapannya horor ke gue.'' Pia dapat merasakan kalau Gatra tidak suka Ara bergaul dengannya.
''Ra. Kalau seandainya, seandainya lho ya, Om lo balikan sama Clarita, elo setuju?''
''Nggak!'' potong Ara cepat.
''Kenapa? kan lo bisa sodaraan sama Alana.''
''Pokoknya ndak boleh! TITIK. Sudah sana pulang!'' Ara mengusir Pia yang memang sudah mau keluar. Bukannya marah karena diusir tapi Pia malah cekikikan melihat wajah sebal sahabatnya.
Ada sosok yang begitu bahagia mendengar penolakan Ara atas Gatra yang seandainya kembali pada mantan. Lumayan juga tuh pancingan si artis Ftv untuk menggoda istri kecilku.
Siapa yang telah lebih dulu mengetuk hatimu Ra, hingga Mas susah untuk memiliki hatimu seutuhnya. Semoga dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan kita, hatimu hanya terbuka untuk Mas.
Gatra membawa Ara ke gerai cepat saji yang ada di mall yang tidak jauh dari apartemen. Niatnya ingin mengajak Raranya jalan-jalan, sayangnya ditengah jalan hujan deras hingga Gatra membelokkan mobilnya ke mall tempat mereka sekarang berada.
__ADS_1
Ara masuk lebih dulu untuk memesan, karena Gatra tak sengaja bertemu temannya di luar gerai.
''Bu Kir?!'' tatapan Ara tertuju pada sosok yang duduk menghadap pintu masuk. Hingga jelas terlihat oleh Ara. Ibu guru Kirana, mantan wali kelasnya saat masih sekolah di Semarang.
Mendapat panggilan yang tak asing ditelinganya sosok guru yang selalu dipanggil Bu Kir oleh murid-muridnya menengadahkan mukanya.
''Ara?!'' tak kalah kagetnya Bu Kir bisa bertemu lagi dengan Ara.
Ara menghampiri mantan wali kelasnya tersebut dan menyalaminya. Walau Kirana masih sangat muda, tapi dia seorang guru dan wajib bagi Ara menghormatinya.
''Sendiri Ra? mana suamimu.'' tanya Kirana setelah cipika cipiki.
''Lho kok! ada Mbak ga....... Mbak Sabila?'' kaget Ara karena ada Sabila yang duduk berhadapan dengan Kirana. Posisinya yang membelakangi pintu masuk tidak terlihat oleh Ara. Sama seperti Ara, Sabilapun kaget melihat Ara. Walau ada rasa penasaran kok bisa Kirana sahabatnya itu kenal dengan Ara, gadis kecil yang berhasil mencuri hati lelaki pujaannya. Sabila abai dengan rasa penasarannya, dia cuma mendengarkan saja celoteh Ara dan sahabatnya.
''Mas Gatra lagi di luar ada ketemu dengan teman nanti juga masuk, Ara disuruh pesan dulu. Jadi benar kata Ratih kalau Bu Kir berhenti ngajar di Semarang? kalau sekarang ada di sini, apa Bu Kir pindah ngajar di sini? di SMA mana Bu?'' bertubi-tubi Ara bertanya.
''Berhenti ngajar untuk selamanya Ra, Ibu mau ngelanjut kuliah lagi dan ngurus usaha keluarga. Gimana kamu di sini? baik-baik kan kabarnya?'' sebagai mantan guru tentu Kirana ada rasa khawatir dengan perubahan nasib yang tidak biasa pada bekas muridnya.
''Ara baik-baik saja Bu Kir, Mas Gatra baik banget. Sayang banget ke Ara, percaya ya Bu Kir, Ara bahagia di sini.'' Ara menyakinkan Kirana.
''Itu Mas Gatra sudah masuk.'' sontak dua pasang mata ikut melihat ke arah yang ditunjuk Ara. ''Ara masih kangen sama Bu Kir, gimana dong? Mas Gatranya sudah datang.'' Ara memelas tak rela karena harus berpisah dengan Kirana.
Gatra mendekat ke Ara, tepatnya ke Kirana dan Sabila juga. Rasa kagum dan suka Kirana ke Gatra masih ada. Rasa gugup ketika Gatra kian mendekat.
''Pak Gatra.''
''Bang Gatra.''
Suara kirana dan Sabila bersamaan.
''Bang, duduk.'' Sabila menggeser tubuhnya agar Gatra bisa duduk di sampingnya karena Ara yang sudah duduk di samping Kirana.
Ada tanda tanya pada Kirana, bagaimana Sabila bisa kenal dengan Ara dan Gatra.
''Makasih Bil, kita cari meja lain saja. Yuk! Ra.''
''Gak gabung kita saja Pak Gatra.'' tawar Kirana yang tetap ditolak Gatra.
__ADS_1
Dengan sedikit memberengut Ara bangkit dan mengikuti Gatra. Padahal bisa kan mereka makan bareng, setidaknya Ara masih bisa melepas rindu dengan guru kesayangannya.
Sepeninggal Ara dan Gatra.
''Sayang bener lo sama tuh anak.'' sinis Sabila.
''Murid gue di Semarang yang pernah gue ceritain ke elu, yang terpaksa harus nikah karena bapaknya yang meninggal karena ledakan bom.''
''Yang lakinya elu suka?'' potong Sabila. Sebagai sahabat mereka memang saling cerita, terutama tentang lelaki yang menjadi incarannya.
''Gue langsung nyerah seketika saat acara ijab kobul itu, apalagi melihat kesungguhan Pak Gatra pada pernikahannya yang kepaksa waktu itu. Elo bisa kenal mereka darimana?''
''Bang Gatra atasan gue di kantor.'' singkat Sabila
''Jangan-jangan dia lelaki yang elo suka? kok bisa orang yang sama seh! tapi melihat dari gelagatnya gak ada tuh sedikutpun Pak Gatra melihatmu sebagai wanita.''
''Puas lo ngehina gue!'' Sabila yang sudah kesal dari tadi bertambah kesal dengan ledekan sahabatnya.
''Bukan begitu Bil, gue cuma gak mau elo sakit hati terus-terusan. Sudah hentikan saja usahamu itu untuk mendapatkan Pak Gatra, sepertinya akan berakhir sia-sia.''
''Gue yakin Bang Gatra gak akan ngelepasin gue begitu saja dia tuh butuh gue, Kirana. Tadi gue sudah naruh surat pengunduran diri gue di mejanya. Lihat saja pasti besok dia heboh nahan-nahan gue untuk tidak keluar kerja.''
''Terserah lo, Bil. Saran gue janganlah jadi pelakor.'' Kirana pasrah menasehati sahabatnya yang kepala batu itu.
''Gue bukan pelakor Kirana. Gue yang suka Bang Gatra duluan, anak muridmulah yang pelakor. Dia ngerebut Bang Gatra dari gue.'' emosi Sabila terhenti karena ada suara ponsel.
Drettt..drettt..
Ponsel Sabila yang berbunyi, sabila langsung mengangkatnya. Ada senyuman culas setelah mengakhiri panggilan teleponnya.
''Siapa?'' Kirana penasaran dengan si penelpon Sabila.
''Pelakor yang sesungguhnya.'' jawaban Sabila yang membuat Kirana mengerutkan dahinya.
''Clarita, minta tolong untuk bisa balikan lagi sama Bang Gatra.'' walau belum pernah bertemu dengan Clarita, Kirana tahu pasti Clarita ini sejenis dengan Sabila sahabatnya.
''Elo mau bantu?''
__ADS_1
''Enak saja! tapi kalau kehadirannya menguntungkan bagi gue, akan gue manfaatin dia.''
Rasa yang lo punya itu bukan cinta Bil, tapi posesif. Semoga lo lekas menyadarinya bukan Pak Gatra jodoh lo. Sebagai sahabat gue sudah memberi saran tapi semua terserah lo. Gue cuma bisa nonton drama yang akan lo suguhkan.