
''Lha kuwi putuku.'' tunjuk nenek ke arah Gatra.
''Mas Gatra!''
''Bapak Gatra.''
Pekik Ara dan Markus hampir bersamaan, entah sama juga atau tidak dengan apa yang ada dalam pikiran Ara dan Markus.
''Bapak Gatra cucu yang dicari nenek kah?'' guman Markus yang terdengar Ara.
''Jadi embah ini neneknya Mas Gatra? tapi nama cucu nenek Juremi, bukan Gatra.'' Ara melihat nenek berjalan hendak menghampiri Gatra. Pandangan Gatra hanya tertuju ke Ara, sama sekali tidak hirau pada nenek yang menghampirinya.
Hingga sampai si nenek memukul keras dan memaki-maki seorang laki-laki yang sebenarnya berjalan di belakang Gatra. Dan laki-laki tersebut tidak terlihat dari arah Ara dan Markus.
Gatra terloncat kaget dengan aksi si nenek yang main pukul dan marah-marah dengan bahasa yang tidak dia mengerti.
Eh buset dimana-mana laki-laki disamperin dan dicaci-maki sama perempuan muda. Ini sama nenek-nenek.
''Ada apa Jim?'' Gatra bertanya pada karyawan yang dipukul dan dimaki nenek-nenek.
''Maaf Bang ini nenek saya. Baru datang dari Kudus kemaren, dan saya lupa tadi mau pulang nengokin. Jadi embah saya marah-marah.'' terang orang yang dipanggil Jim oleh Gatra dengan muka malu.
Berbeda dengan Markus yang masih terbengong dengan situasi yang ada, Ara sudah tahu siapa cucu yang dicari si nenek ternyata memang bukan Mas Gatranya. Membuatnya lega karena si nenek sudah menemukan cucunya.
''Mas itu, cucunya nenek itu kerja di sini?'' tanya Ara ketika jarak Gatra sudah dekat dengannya.
''Kata Jimmy tadi begitu. Kenapa?''
''Jimmy? bukan Juremi?'' tanya balik Ara
''Juremi?...Juremi siapa?'' giliran Gatra yang bingung. Ara menceritakan dari awal pertemuannya dengan si nenek, hingga dikiranya Gatralah cucu si nenek.
Gatra tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ara. Jujur dia juga tidak tahu kalau nama asli Jimmy adalah Juremi. Dia dan semua karyawannya memanggilnya Jim atau Jimmy.
''Untung Mbahmu iki ketemu cah ayu kui, terus dijajakno.'' Ara yang ditunjuk oleh si embah memberikan senyumannya. Jimmy alias Juremi yang sudah tahu kalau Ara adalah istri dari bosnya semakin keki saja.
''Bapak Gatra itu kenapa kakak Jimmy dipukul neneknya?'' tanya Markus yang tetap dengan asumsinya bahwa Gatra cucu si nenek. Gatra kembali tertawa melihat wajah bingung Markus.
''Kakak Markus, itu Juremi cucu yang dicari nenek. Makanya sekarang nenek sedang memarahinya.'' ucap Ara yang kasihan dengan melihat Markus kebingungan.
''Kakak Jimmy adalah Juremi?'' nampak kerutan di jidat Markus. Pantas saja saya mencari yang bernama Juremi tidak ada.
__ADS_1
''Rara sudah selesai jajannya?'' Ara mengangguk dengan pertanyaan Gatra. ''Kita pulang ya? sudah sore.'' Gatra merengkuh pinggang ramping Ara dan tidak ada penolakan dari Ara. Lalu berjalan bersama menuju parkiran.
''Mas sudah selesai kerjanya?''
''Hem. yuk!''
Lagi dan lagi Markus dibuat bingung, tak biasanya seorang Gatra berlaku mesra dengan perempuan di depan umum. Dimatanya Gatra itu pimpinan yang anti bersentuhan dengan perempuan. Belum pernah ada kabar berita Gatra kurang ajar pada perempuan. Walau disekelilingnya banyak wanita-wanita cantik yang menggoda. Lalu apa ini? seorang Gatra merangkul pinggang gadis muda yang mempunyai 'senyum bahaya' bagi Markus.
''Bapak Gatra?'' karena rasa penasaran Markus berucap.
Gatra paham kalau Markus penasaran dengan sikapnya pada Ara, dan berniat mengerjainya.
''Ada apa?'' Gatra berhenti di depan Markus yang semakin terbengong.
''Ah....Tidak. Eh itu....?''
''Apa Markus kalau ngomong yang jelas!'' nada Gatra sudah naik satu oktaf.
''Adek manis....Eh nona cantik...Eh kenapa?'' mungkin karena gugup atau tatapan intimidasi dari Gatra suara Markus terputus-putus.
''Rara?'' ucap Gatra ke Markus tanpa melepaskan rengkuhan tangannya ke pinggang Ara, malah semakin erat. '' Dia istri saya, kenapa?''
''A... istri...... ISTRI!!!'' pekikan Markus sukses membuat kaget Ara dan Gatra. ''Adek manis sudah ada yang punya E.'' lirih Markus.
''Iya, selamat Bapak Gatra. Berhasil membuat balonku ada lima meletus semua di dada saya.''
Gatra dan Ara telah sampai di apartemen. Tetiba sikap Ara menjadi dingin dan acuh pada Gatra. Tepatnya setelah keluar dari mobil di parkiran basemen Ara mendadak diam.
Sampai malam menjelang Ara belum juga keluar dari kamar.
Ada apa dengan istri kecilku? kok jadi diam setelah sampai rumah. Dan ini kenapa dia mengunci diri di kamar?
Tok tok tok
Gatra mengtuk kamar Ara.
''Ra...Rara... keluar gih! makan dulu. Ra...'' Hingga Ara keluar setelah berkali-kali bujukan Gatra.
Krekkk
Senyum sumringah Gatra mendapati Ara membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
''Makan yuk! Mas sudah angetin masakan Ara tadi pagi juga sudah menanak nasi.'' Gatra meraih tangan Ara dan mendudukkannya di kursi makan. Apa yang dimasak Ara tadi pagi telah terhidang di meja makan lengkap dengan nasi yang masih mengebul.
Gatra mengambil piring dan diisi dengan nasi. ''Segini cukup?'' sepiring nasi yang diperuntukan istri tercinta.
''Biar Ara ambil sendiri.'' Ara meraih piring yang dipegang Gatra tanpa menambah atau mengurangi nasi yang telah diambilkan Gatra.
Gatra mengisi nasi ke piringnya sendiri, mengambil sup ayam dan memakannya dengan lahap.
''Kenapa bekal yang tadi masih utuh? sama sekali tidak dimakan. Tapi ini? kenapa makannya lahap sekali? bukanya masih masakan yang sama.'' suara batin Ara dan tetap mengawasi betapa lahapnya Gatra makan.
Ketika Ara mengambil tas sekolahnya di kursi belakang, Ara melihat kotak bekal yang tadi pagi dia siapkan untuk Gatra. Betapa kagetnya Ara ternyata isinya masih utuh tak tersentuh.
'''Ra... kenapa?'' Gatra menghentikan kegiatan makannya, melihat Ara yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
''Rara. Ada masalah? cerita ke Mas. Hem.'' Gatra menyingkirkan piringnya ke samping dan meraih kedua tangan Ara. Perlahan air mata Ara luruh membuat Gatra bingung.
''Ara gak papa Mas, cuma lagi baper sedikit. Mas Gatra suka masakan Ara?''
''Suka banget sayang. Ini Mas lanjut makan ya?'' Gatra melepaskan genggaman tangannta dan meraih kembali piringnya.
''Mas gak lagi pura-pura suka masakan Ara kan? biar Ara gak kecewa dan sedih.''
Gatra mengeryitkan dahi. ''Kok Rara tanyanya begitu? kalau boleh Mas jujur masakan Rara lebih enak dan lezat dibandingkan masakan bunda. Dan lidah Mas sudah jatuh cinta dengan masakan Rara sejak pertama Mas merasakan masakan Rara di Semarang.''
''Kalau suka kenapa kotak bekal yang tadi pagi masih utuh tidak dimakan? padahal Ara naruhnya di samping Mas. Kenapa bisa ada dibawah kursi belakang. '' suara lirih Ara
Ya Allah Ya Rob jadi ini yang membuatnya sedih dan mendadak diam. Kok aku bisa lupa, dan apa dia bilang! di kursi belakang? Ah.... ini pasti perbuatan Sabila.
''Maafin Mas ya? beneran tadi Mas lupa. tadi setelah menurunkan Sabila di jalan Mas diburu waktu harus segera meeting dengan klien dan baru selesai menjelang makan siang. Maaf ya Ra, bener kok kalau Mas lupa bukan yang disengaja swear.'' Gatra mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V. Dan muka yang ditekuk penuh penyesalan.
Ara luluh dengan permintaan maaf dan alasan yang diberikan. Sikap Gatra yang sok imut dalam meminta maaf membuat Ara terkikik.
''Asek.... berarti dimaafkan ya?'' melihat Raranya kembali ceria adalah kebahagiannya. Selamanya sebisa dan semampunya harus bisa membahagiakan istri kecilnya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Ketemu lagi dengan cerita Ara, mohon dukungannya teman-teman. Terima kasih.