Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
121. Kelahiran si Kembar


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kehamilan kedua tidak membuat Ara se strong kehamilan yang pertama. Banyak drama terjadi, Gina yang selalu rewel dan sering panas demam yang kata orang dulu pengaruh dari kehamilan si ibu atau kerabat dekat itu sih mitosnya. Tapi untunglah kemanjaan Gina hanya di trimester pertama kehamilan Ara. jadwal kuliah yang mulai padat membuat Ara harus berakhir nginap di rumah sakit sampai dua kali. Parahnya sekali rawat inap di rumah sakit melewati waktu satu Minggu. Membuat Ara banyak kehilangan berat badan di trisemester pertama kehamilan.


Tak ingin Gina kehilangan kasih sayang dari ibunya yang lagi tepar, Bunda mengambil peran Ara mengasuh Gina. Tak ayal Gina lebih dekat dengan Bunda daripada Ara. Dan Ara sangat menyadari hal itu, sungguh tak mudah menjalani kehamilan keduanya. Semangat sehatnya berbeda jauh dari waktu hamil Gina. Beruntunglah punya Bunda sehingga Gina bisa menjadi balita mandiri diusianya yang belum genap dua tahun. Sudah tahu kalau ada adek dalam perut ibunya dan harus dijaga dan disayang. Jangan sampai Gina merasa cemburu pada calon adik kembarnya karena si ibu yang hampir tidak bisa mengasuhnya. Bunda membiasakan memanggil Gina dengan Mbak Gina dan membiasakan Gina untuk menyentuh perut Ara dan mengatakan ada adek Gina di dalam perut Ibu. Gina akan punya dua adik cowok yang bisa melindungi dan menjaga Gina kelak dikemudian hari.


Kondisi yang tidak memungkinkan membuat Ara mengajukan cuti kuliah, tidak apa jika tidak lulus bareng Ratih dan Rega yang penting si kembar dan dirinya bisa sehat sampai melahirkan nanti. Gatra tentu saja menyetujui dan mendukung keputusan Ara. Apalagi ukuran kehamilan Ara lebih besar ketimbang waktu hamil Gina. Apapun akan dilakukan demi kesehatan istri dan calon si buah hati.


Termasuk konsultasi dengan ahlinya. Berbekal informasi dari dokter Winda, Gatra mendatangi rumah sakit bersalin terdekat yang biasa melakukan persalinan dengan metode operasi Caesar ERACS. Satu metode persalinan dimana setelah operasi, masa pemulihan lebih cepat, artinya pasien lebih cepat sembuh bahkan cuma dua jam paska operasi pasien sudah bisa beraktivitas. Bahkan setelah enam jam pasien sudah bisa jalan-jalan. Jadi Ara tidak perlu lama-lama di rumah sakit. Kasihan kan bila masa pemulihan Ara memakan waktu lama sedang yang dilahirkan ada dua ditambah sudah ada Gina.


Melihat Ara yang seperti orang kesusahan membawa perut besarnya Gatra tidak tega bila Ara harus menjalani persalinan normal seperti saat melahirkan Gina dulu. Padahal Ara nya biasa saja dengan perut besarnya. Melahirkan Gina yang satu bayi saja perjuangan Ara masih menyisakan trauma pada Gatra. Memang Ara tidaklah brutal saat melahirkan Gina yang harus mencakar dan menjambak Gatra yang setia disampingnya. Tapi tangisan Ara disela mengejan dan menyebut mama dan papanya terasa pilu dipendengaran Gatra, dan itu masih terngiang, itulah sebabnya Gatra memilih cara yang paling minimal untuk Ara merasakan kesakitan. Kalaupun bisa ingin rasanya Gatra meminta dia saja yang merasakan sakitnya.


Bahkan Gatra juga tidak berani menjamah Ara, terbayang setelah semalaman Gatra menggempur Ara harus berakhir dengan lahirnya Gina lebih cepat dari HPL. Beruntungnya dikehamilan yang kedua ini Ara tidak ngidam yang harus selalu ketemu Otong.


Sembilan bulan penantian akhirnya si kembar lahir, dua-duanya berjenis kelamin laki-laki.


Seperti proses melahirkan yang pertama Gatra juga mendampingi Ara, selalu setia disebelah Ara, menggenggam tangan Ara yang terbebas dari jarum infus walau kedua tangan Ara harus diikatkan pada kedua sisi untuk menghindarkan dari gerakan yang membahayakan, dan tak henti melafalkan doa agar si ibu dan jabang bayi selamat dan sehat semua.

__ADS_1


Karena melahirkan Caesar, waktunya bisa ditentukan itulah sebabnya semua anggota keluarga bisa ada mendampingi Ara melahirkan. Bahkan Ayah dan Bunda juga ikut satu mobil saat mengantar Ara ke rumah sakit. Setelah sebelumnya Gina dijemput oleh Farel dengan alasan Aura anak Farel dan Mitha ingin bermain dengan Gina. Dasarnya Aura adalah bestienya Gina menyambut senang ajakan Farel. Rentang umur mereka memang tak sampai satu tahun jadi mudah untuk mereka membaur.


Tetapi cuma Gatra yang berada di dalam ruang persalinan. Setia mendampingi Ara. Pengalaman kedua mendampingi Ara melahirkan masih sama saja. Lebih menegangkan karena harus mendengarkan suara alat-alat medis dan tim dokter yang bekerja. Gatra tak mampu untuk melihat perut istrinya yang harus disayat kala harus mengeluarkan dua jagoannya.


Tatapan Gatra hanya tertuju pada Ara yang tetap tenang, justru air mata Gatra yang sesekali lolos.


Untuk mengurangi ketegangan salah satu dokter menyarankan untuk Gatra dan Ara saling bercerita.


Pecah sudah tangisan Gatra kala suara tangis bayinya saling bersautan, suara mereka begitu nyaring memenuhi seisi ruangan. Tak hentinya Gatra menciumi wajah Ara dengan tangisan bahagia Gatra berucap sukur dan berterima kasih pada istrinya.


''Cucuku Bun, dua jagoan. Seperti buyut mereka yang juga kembar laki-laki.'' sebut Ayah yang memang bapaknya juga kembar. Bapaknya ayah Sukma bernama Darmanto sedangkan saudara kembarnya bernama Darwaji.


''Iya Ayah ternyata Gatra yang dipercaya untuk mempunyai keturunan kembar.'' sahut bunda.


Ara telah dibawa kembali ke ruang tempat pertama kali masuk. Ayah dan bunda juga sudah berada di sana termasuk dua jagoan yang baru datang ke dunia. Karena tidak ada masalah kesehatan pada dua jagoan maka dengan cepat mereka berkumpul dengan ibunya.

__ADS_1


Bunda memangku salah satu si kembar karena yang satu lagi sama Ara untuk menyusu. Sebenarnya tadi Ara sudah diajarkan cara menyusui langsung dua bayi oleh perawat, tapi entah kenapa dua bayi itu sangat berbeda dalam menyusu. yang satu sesuai kebutuhan yang satunya selalu ingin berlama-lama.


''Kau beri nama siapa dua jagoan ayah Tra?'' tanya ayah.


''Yang sedang bersama ibunya Mahardika Ganindra Sukma dan yang sedang bersama bunda Megantara Giandra Sukma.'' jawab Gatra.


Gatra ingin inisial singkatan nama anaknya sama dan dicari nama yang artinya juga sama. Dimana nama depannya berhuruf sama dengan sang istri M dan huruf kedua sama dengannya G.


''Bedakannya gimana mereka mirip gak ada bedanya.'' tanya bunda


''Yang bunda pangku itu Gian, lihat siku tangan kanannya ada tanda lahir di situ.'' Bunda buru -buru melihat yang ditunjukkan Gatra ternyata benar ada tanda lahir berupa tahi lalat tepat dilipatkan siku.


''Nah yang ini Gani, si Abang tangisnya lebih kenceng, nyusunya lebih lama dan lebih aktif ketimbang Gian yang lebih kalem.'' Gatra telah membopong Gani yang sudah selesai nyusunya.


Saat kedua bayi sudah anteng di bok masing-masing Ayah dan Bunda pamit pulang dan akan datang lagi bersama Gina.

__ADS_1


__ADS_2