
Gatra nampak tergesa-gesa, dengan langkah lebar dan membawa kardus besar dia berusaha untuk sampai lebih dulu ke tempat rawat inap sang istri dan kedua jagoannya.
Huh....
Ada kelegaan saat membuka pintu. Ya Gatra harus sampai lebih dulu daripada putrinya. Gatra membawa kotak hadiah yang cukup besar yang diperuntukkan Gina.
Jauh sebelum si kembar lahir Ara sudah berpesan agar disiapkan kado untuk Gina dari adik-adiknya saat mereka lahir. Sebagai bukti bahwa adik-adiknya sangat menyayangi kakaknya. Tentu saja ini hanya akal-akalan Ara saja supaya Gina tidak merasa tersisih dan cemburu pada kedua adiknya.
Dan jauh hari Gatra sudah membelikan apa yang menjadi pesanan sang istri, cuma dia taroh di kantor takut kalau dibawa pulang ketahuan oleh Gina. Sayangnya Gatra lupa pas hari H nya.
''Sayang, Gina belum sampai ya?'' dengan nafas memburu Gatra menghampiri brankar Ara yang sedang asik memperhatikan dua jagoannya yang sedang terlelap.
''Bapak sudah sampai, Gina lagi di jalan. Macet Kata Bunda.'' sahut Ara tanpa berpaling dari menatap dua jagoannya. Hingga Gatra Pun ikutan menghampiri istrinya. menyandarkan kepala di pundak sang istri menatap dua jagoan yang anteng tak terganggu dengan keberadaan kedua orang tuanya.
''Terima kasih sayang, telah melahirkan mereka.''
''Iya Bapak Ibu senang dan bahagia mempunyai mereka. Sangat lucu dan menggemaskan. Semoga Gina nanti bisa menerima kehadiran mereka dan bisa saling menyayangi sampai kapan nanti.''
''Amin.''
Terbawa suasana romantis yang awalnya hanya kecupan
berubah menjadi *******. Ara pun menikmati sentuhan terdengar lengkuhan dari setiap sentuhan Gatra.
Ceklek
Kenikmatan harus terhenti dengan pintu yang dibuka lebar,nampak Bunda yang geleng-geleng mendapati kelakuan anak dan menantunya. Dengan malu-malu Ara menyalami Bunda.
''Puasa Tra, puasa.'' goda Bunda yang mana membuat Gatra cuma tersenyum kecut.
__ADS_1
''Bapak.'' Gina berlari ke Gatra. Memang anak perempuan itu selalu bapaknya yang pertama dan utama.
''Sayangnya Bapak.'' dengan sigap Gatra menangkap si bayi montok. Andai tidak ada Gina pasti Bundanya akan merepet.
''Adik?'' Gina melihat ke box bayi . ''Duwa?''
Gina nampak heran dengan dua bayi yang masih terlelap.
''Iya, mereka adiknya Mbak Gina. Ada dua. Mbak Gina suka dengan adiknya?'' Gatra mendekatkan Gina ke kedua adiknya.
''Cuka. Adik duwa.'' tetap memperhatikan adiknya yang tak ada bedanya.
''Mbak, adiknya punya hadiah lho? Mbak Gina mau?'' Ara membelai lembut rambut kepala putrinya.
''Hadiah?'' mau. mau. mana Ibuk?'' antusias Gina akan kado yang katanya dari adik kembarnya.
Gatra ke pojok ruangan tempat dia menaruh hadiah untuk Gina diangkat tinggi-tinggi bungkus kado yang lumayan besar dan meletakkannya dilantai di depan Gina.
Gatra membantu membuka setelah Gina kesusahan dan bungkusan kado belum juga bisa dibuka.
Sebuah balance bike dengan warna dominan biru muda, warna yang sangat disukai Gina dikeluarkan Gatra dari dalam kardus. Balance bike, sepeda tanpa pedal yang diperuntukkan untuk anak mulai usia 18 bulan dimana si anak sudah jejek berjalan bahkan berlari. Balance bike diciptakan untuk melatih keseimbangan anak, sengaja dipilihkan untuk Gina.
''Wah sepeda Mbak.''
Gina terlihat bahagia dengan sepeda pertamanya. Sangat antusias untuk menaikinya.
''Sebentar Mbak, masih ada lagi hadiahnya.'' Gina meletakkan sepedanya asal untung ada Bunda yang sigap memegang.
Gina melongokkan kepalanya ke dalam karton tempat hadiahnya, memang masih ada satu bungkusan lagi di dalam. Sebuah helm mungil dengan warna yang sama dan dua pasang deker untuk suku dan lutut.
__ADS_1
''pakai, pakai.''Gina meminta tolong ke Bunda untuk memakaikan helm dan dekernya.
Setelah lengkap semua terpakai Gina mendekati kedua adiknya. ''Teyima kacih adik.'' menatap keduanya lalu menatap ibunya.
Ara paham bahasa tubuh anaknya. '' Yang ini adik Gani dan yang ini adik Gian, Mbak.'' Ara menunjuk satu-satu bayinya memberi tahukan cara membedakan si kembar.
Gina sangat menyukai sepedanya, terus berputar-putar di dalam ruang rawat inap yang untungnya lumayan luas.
Gina berhenti kala mendengar suara tangis adiknya. Dia mendekat ke ibunya yang menyusui adiknya yang nangis. Ikut menepuk pantat si adik agar tidak nangis.
Melihat kedua adiknya tidur lagi Gina ikutan mengantuk dan minta dodotnya. Susu dalam dodotnya belum habis sudah keburu pulas di samping Ara. Gatra yang hendak memindahkan Gina ke sofa dicegah Ara. ''Gak usah Mas, biar di sini saja.'' Hilang semua kekhawatiran Ara selama ini melihat Gina yang bisa menerima kehadiran dua adiknya dan terlihat sangat menyayangi.
''Kamu ikutan tidur juga Ra, biar Gatra yang jagain. Jangan biarkan dia tahu enaknya saja.'' Bunda mengambil tasnya bersiap untuk pergi.
''Bunda mau kemana?''
'' Kangen dengan belahan jiwa bunda. Awas saja kalau gak jagain menantu dan cucu-cucu Bunda! Ara tidur!'' perintah Bunda yang langsung membuat Ara melorotkan diri memposisikan diri memeluk Gina.
Mau Gedeg kok ibu sendiri. Sayang pakai banget lagi.
Halah belahan jiwa cucu noh tiga
'' Apa! kamu ngatain Bunda Tra?''
''Enggak Bun, Gatra pasti jagain istri dan anak-anak Gatra.'' tahu saja nih Nini-nini
''Jangan dimodusin terus istrinya Tra, kasihan capek sadar situasi dan kondisi Bunda pergi dulu.''
''Iya, hati-hati Bun salam buat pak belahan jiwa. Jangan lupa nanti sore jemput kita Bun.'' goda Gatra yang membuat Bunda berdecak sebal.
__ADS_1
Padahal Bunda pergi menyusul Ayah untuk mencari kambing dan katering bakal akikah si kembar. Gatra pasti lupa atau bahkan tidak tahu urusan yang begitu. Ara apalagi, dunianya hanya Gatra dan anak-anaknya.