
Sebulan telah berlalu, Kandungan Ara mulai terlihat. Bayinya tumbuh sehat dan bisa dirasakan saat perut Ara tiba-tiba bergetar. Walau masih muda wajahnya saja masih terlihat seperti anak sekolahan tak membuat Ara malu pada kehamilannya. Seakan tak perduli pada cibiran orang yang ditemui di jalan kala rasa mabuk darat kehamilan datang. Ya perut Ara akan bereaksi bila berada di kerumunan orang banyak. Semua yang masuk ke perut akan terdorong keluar lagi. Anehnya bila dikerumunannya bersama Gatra rasa itu tidak pernah datang. Dan ada kebiasaan baru lagi dari Ara yang tidak akan segera tidur bila belum menyapa si Otong. Yang tentu saja sangat diapresiasi Gatra. Dengan senang hati Gatra menyerahkan Otong untuk diasuh Ara.Kalau saja tidak ingat kalau ada calon kehidupan di dalam rahim sang istri yang harus ekstra dijaga sudah pasti Gatra akan meminta lebih dari sekedar pengasuhan.
Ara telah memutuskan untuk kuliah di universitas swasta yang tak jauh dari kampus Ratih. Tidak mau ribet dengan segala tes seleksi yang belum tentu keterima. Ara sadar dengan kehamilannya yang bila nanti membesar dan akhirnya melahirkan tak mungkin bisa fokus kuliah. itu sebabnya di milih kampus swasta.
Ada temu kangen dengan Ratih dan Pia di cafe langganan mereka sejam lagi. Entahlah mengapa dua sahabatnya itu suka sekali nongkrong di cafe itu. Bahkan Ratih yang jarang datang ke Jakarta pun selalu menyempatkan diri hanya untuk sekedar minum di cafe tersebut.
Ara masih saja mematutkan diri di depan cermin. bukan wajah atau dandanannya tapi perutnya yang mulai menonjol yang jadi perhatian Ara. Dress yang akan dipakai masih teronggok di tepi tempat tidur. Cuma memakai da laman Ara melenggak lenggokkan diri sambil mengusap perutnya.
Gatra yang sedari tadi memperhatikan istrinya jadi gemas sendiri. Dihampiri Ara dipeluknya dari belakang, menempelkan kepalanya di ceruk leher Ara, tangannya ikut mengelus perut Ara.
''Sayang Mas bisa khilaf kalau kamu tidak segera perpakaian.'' bisik Gatra. Seandainya Ara tidak ada janji temu dengan teman-temannya sudah pasti Gatra akan segera merealisasi bisikannya. Semua kembali lagi Ara masih muda apalagi sedang hamil jangan sampai dia stres harus terkurung terus di dalam rumah. Ibu hamil kan harus bahagia biar si calon anak juga cepat tumbuh sempurna.
''Mas masih mau lagi?'' entah itu pertanyaan atau jebakan, ya pasti maulah siapa yang nolak kenikmatan dunia.
''Sabar ya, ditunggu nanti malam.'' sambung Ara lagi dengan gaya menggoda, yang tentu saja membuat Gatra semakin gemas. Kalau dibiarkan seperti ini terus bisa bahaya. Gatra melepas pelukannya diambilkanya dress warna putih yang tentu saja nyaman untuk ibu hamil. Gatra berinisiatif untuk memakaikan dress Ara. Bukan cuma itu Gatra juga menyisir rambut Ara dan dibiarkan tergerai. Gatra mengecup bibir merah jambu sekilas sebelum akhirnya mengoleskan lipgloss.
''Sudah cantik ibunya Dedek.'' ucap Gatra setelah selesai mendandani istrinya. Kini beralih pada perut Ara.'' Dedek. jagain Ibu ya? jangan sampai ada cowok-cowok genit godain Ibu.'' ucap Gatra pada perut Ara.
''Iya Bapak.'' Ara berucap menirukan suara anak kecil.
Ara sampai di cafe yang dituju dengan diantar Gatra. Cuma sampai depan cafe saja Gatra mengantar, karena dia juga ada acara kumpul-kumpul dengan sahabatnya.
Setiba di dalam cafe sudah ada Ratih dan Pia yang setia menunggu kedatangannya.
Hebohnya Ratih bisa bertemu muka lagi dengan Ara. Sejak kejadian Ara kecelakaan Ratih sudah pengen menengok Ara cuma jarak dan masih banyak kegiatan dan acara kelulusan yang tidak bisa Ratih tinggalkan.
''Lo gak kasihan ibu hamil gak segera Lo suruh duduk.'' protes Pia yang seakan terabaikan oleh dua yang sedang melepas rindu.
''Maaf Ra, saking senengnya ketemu kamu sampai lupa.'' Ratih menggiring Ara untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya dan Ratih menyeret kursi di sebelahnya.
''Perutmu sudah mulai kelihatan ya Ra, gimana rasanya hamil ra? Sakit gak?'' pertanyaan yang aneh yang tentu saja langsung ditoyor oleh Pia.
''Kalau sakit gak bakalan ada perempuan mau hamil oneng! Lo lihat saja ada gak, Ara kelihatan kesakitan.''
''Kan cuma tanya. Siapa tahu sakit kan aku jadi punya alasan buat gak nikah.''
''Sudah nempel kayak prangko dan aplopnya gitu masih sok-sokan nolak. Noh Ara perutnya akan semakin melendung karena sudah ketagihan si Otong.''
''Pia! kok jadi Ara dibawa-bawa. Ini kenapa kita bertemu jadi malah ribut. Ara pulang saja.''Ara pura-pura bangkit hendak pergi
__ADS_1
''Jangan!'' teriak Ratih dan Pia barengan.
''Janganlah Ra, emangnya kamu gak kangen sama aku.'' wajah melas Ratih tak mampu membuat Ara menahan tawanya.
Ganti Ratih yang memberengut karena Pia juga ikut menertawakannya.
''Kalau masih pada ketawa gak aku kasih nih lumpia Pak Edy.'' ancaman Ratih keluar. Begitu tahu Ratih mau ke Jakarta Ara minta dibawakan lumpia dan harus lumpia Pak Edy.
''Iya mana. mana lumpianya?'' seketika Ara menahan liurnya mendengar lumpia Pak Edy.
''Lo ngidam Ra?'' tanya Pia
''Gak tahu tapi pengen banget makan lumpia Pak Edy.
''Apa boleh kita bawa Snack dari luar untuk dimakan di sini?'' Ratih ragu-ragu untuk mengeluarkan lumpianya.
''Sudah, keluarkan saja. ntar kalau ditegur kita ngomong saja terus terang ini keinginan ibu hamil mereka pasti maklum.''
Bukan cuma Ara yang menikmati lumpia tapi juga Ratih dan Pia. Sambil makan sambil bersenda gurau bertukar cerita. Pia yang sekarang daftar kursus bahasa Korea karena tahun depan dia mau lanjut kuliah di Korea Selatan. Ratih yang selalu dibuntuti Rega kemanapun pergi.
''Si Raga mantan kamu itu gimana Ra? sudah bisa menerima kenyataan kalau kamu sudah nikah?'' Ratih tahu semua tentang Raga tentu saja dari Pia. Semua cerita tentang Ara tak ada satupun yang luput diceritakan oleh Pia. Termasuk cerita sebenarnya dibalik pemberitaan Claritta.
''Haduh jadi melow. kalau elo penasaran sama Raga ntar juga dia nyanyi di sini.'' Pia menengahi agar Ara tidak sedih lagi.
''Penyanyi di sini. jangan-jangan yang waktu itu aku salah panggil.'' guman Ratih
''Salah panggil gimana?''
''Iya aku panggil Rega eh yang datang tuh penyanyi. Ganteng seh suara juga baus tapi judesnya minta ampun.''
''Bisa jadi dia.''
''Kalian tahu Kak Raga penyanyi di sini? jangan-jangan kalian suka ke sini karena Kak Raga.'' asumsi Ara yang memang belum pernah sekalipun melihat Raga menyanyi di cafe tempat sekarang dia ikutan nongkrong. Dan dua temannya hanya ngangguk-ngangguk.
''Kak Raga emang suka nyanyi di cafe-cafe. Sewaktu di Magelang juga cafe jadi ramai pengunjungnya karena ada Kak Raga yang nyanyi.'' Ara mengingat masa lalu.
''Tapi masih kerenan Bang Gatra kan Ra?'' celetuk Ratih
''Ya iyalah nyatanya sampai tekdung gitu walau banyak drama.'' kembali Pia menggoda. Ara jadi malu
__ADS_1
''Ra, siapa ayah dari bayi yang dikandung Claritta sudah kebongkar di media lho.'' lapor Pia.
''Kasihan bayinya yang jadi korban.'' jawab Ara
''Aku tuh gemessss banget sama ibunya Claritta itu sudah tahu anaknya salah malah makin diumbar aibnya apa gak tambah kasihan itu anaknya.'' Ratih memang mengikuti berita Claritta. Dia tidak terima ketika tahu yang disebut cabe-cabean itu Ara.
''Huss. sudah gak baik ngomongin orang bayiku ikut dengar lho.''
''Iya.''
''Maaf Dedek.''
Kembali mereka menikmati makanan yang mereka pesan sampai tiba-tiba
BRAKKK...
Meja mereka bertiga digebrak kasar. Ratih sampai melempar sendoknya karena kaget.
''ARA! Gak puas Lo buat Raga susah pontang-panting nyari lo dua tahun ini. Lo sakiti hatinya dengan nikah sama orang lain. Dan sekarang Lo buat Raga pergi ke Palestina. Dimana hati dan otak Lo Ra!''
Gea yang menggebrak meja dan melabrak Ara
''Gea. apa maksudmu?'' Ara tidak memahami ucapan Gea yang datang-datang langsung marah-marah.
''Jangan berlagak bodoh Ra. Raga pergi jadi relawan ke Palestina. Pasti gara-gara Lo kan.''
''Eh nyai lampir. jangan asal nuduh ya!''
''Diam lo!''
''Asemelekete Pia sadis banget. Takut.'' Ratih mepet ke Pia. Pura-pura takut.
''Eh Lo tuh katanya sahabat tapi nusuk dari belakang. Sudah baik kemaren gue gak ikut ngelaporin elo. Sadar diri dong! Raga tuh gak bakalan suka sama Lo sampai kapanpun kalau modelan Lo masih kayak gini. Cinta itu dari hati Non! gak bisa dipaksakan. Lagian Raga yang mau ke daerah konflik ngapa Lo yang kayak orang kesambet gini. Urusan dia dong mau pergi kemana. Mau Lo gue telepon nyokap Lo kasih tahu kelakuan Lo lagi!'' bentakan dan ancaman Pia seketika membuat nyali Gea menciut. salah perhitungan.
Perlindungan Pia ke Ara memang tidak main-main. Selain membantu membuat laporan ke polisi tentang Claritta Pia juga mendatangi rumah kedua orang tua Gea menceritakan dan ngasih lihat Vidio yang Gea sengaja mendorong Ara.
Tanpa kata-kata lagi Gea segera berlalu pergi.
Ara semakin merasa bersalah pada Raga. Sampai pulang wajahnya tetap murung, tak seceria sebelum Gea datang membawa berita.
__ADS_1