Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
89. Baju Dinas


__ADS_3

Ara, Pia dan Ratih berada di butik salah satu mall. Tepatnya disalah satu butik under wear rekomendasi Pia. Pia memang sudah terbiasa ke butik model begini.Terbiasa membeli 'jeroan' istilahnya Ara dan Ratih dengan model dan warna yang menantang untuk memikat Om-om yang membutuhkan jasa layanannya. Berbeda dengan Ara dan Ratih yang baru pertama kali bahkan mereka berdua nampak malu dan risih berada disitu.


''Emang harus ya? pakai jeroan khusus kalau mau begituan, ribet banget.'' gerutu Ratih.


''Gak jadi saja deh. Kita pulang saja Pia, malu aku kalau harus pakai beginian mana semuanya kainnya transparan kayak saringan santan.'' Ara mulai ragu dengan saran Pia.


Flashback on


Saat masih di caffe menunggu Rega yang sedang jum'atan.


Merasa penasaran Pia bertanya pada Ara tentang kegiatan ranjang Ara dan Gatra. Melihat Gatra yang begitu mesra, sayang dan pastinya posesif ke Ara. Tapi kenapa sewaktu dia main ke apartemen ada dua kamar yang ditempati masing-masing.


''Ra, berarti elo nikah sama Bang Gatra sudah tiga bulanan ya? pas gue ke apartemen lo gak sekamar sama Bang Gatra. Emang kalian gak bobok bareng?''


''Kita emang pisah kamar, kan Ara masih sekolah. Baru seminggu ini Mas Gatra kalau sudah mau tidur nyusul ke kamar Ara.'' jawab polos Ara.


''Jadi kamu sudah diitu-ituin Mas Gatra!'' teriak Ratih yang langsung dibungkam mulutnya oleh Ara.


''Itu-itu apa seh, Tih. Mas Gatra cuma temani Ara tidur karena kamu tahu kan Tih, kalau Ara takut suara petir yang menggelegar. Cuma awalnya saja Mas Gatra temani Ara, setelah Ara tidur Mas Gatra balik lagi ke kamarnya. Soalnya setiap Ara bangun Mas Gatra sudah gak ada.''


''Itu-itu apa? ML maksud lo? sah saja keles suami istri juga kan. Lo juga bisa kali sama tunangan lo itu kalau mau.'' kata Pia ke Ratih


''Amit-amit jabang bayi jangan dulu deh gak tahu kamu siapa Bapakku apalagi kalau Masku tahu bisa digundulin ini kepalaku.'' heboh Ratih dan mengelus kepalanya. ''Emang Pia sudah pernah begituan?'' bukan sengaja Ratih bertanya niatnya cuma bercanda.


''Sudahlah.'' jawab Pia enteng yang membuat mata Ratih membola lebar.''Biasa aja keles wajar kok remaja seusia kita sudah gak perawan. Apalagi di dunia gue tubuh kita ini bisa kita gunakan sebagai pelicin untuk dapat job.'' shock jelas! Ratih mendengar pejelasan Pia tentang *** bebas yang dilakoninya. Ratih merepet ke Ara dengan sorot mata seolah bertanya kok bisa Ara berteman dengan Pia yang dalam pikirnya 'remaja salah arah'. Teman Ara yang sewaktu pertama bertemu tadi sempat dia terka siapa? yang ternyata seorang artis Ftv. Ketenaran tidak menjamin ahlak dan perilaku menjadi baik, kebanyakan malah keblinger. kebablasan dalam bergaul.

__ADS_1


''Kok jadi ngelantur kemana- mana seh orang Ara dan Mas Gatra gak ngapa-ngapain juga.'' Ara gak ingin dua temannya itu saling ribut karena pandangan hidup yang berbeda.


Elo memang gak ngapa-ngapain Ra, tapi Mas Gatramu yang ngapa-ngapain elo. Elo kan gak bisa lihat tengkuk lo yang merah kebiruan itu. Pasti itu jejak yang dibuat laki lo. Alasan saja tuh nemani, begitu lo tidur beraksi tuh laki lo. Kan lo gak nyadar.


''Hari sabtu besok Mas Gatra ulang tahun, enaknya Ara kasih apa ya?''


''Makan malam romantis, kan lo pandai masak, masakin yang spesial trus makannya pakai lilin gitu. candle ligth dinner gitu.'' usul Ratih.


''Gak bisa Ratih kita mau makan bareng sama Bunda dan Ayah untuk merayakan ulang tahun Mas Gatra. Sengaja lho Bunda reservasi di restoran Jepang, masak iya dari restoran itu kita mau makan lagi. Lagian ribet mau makan pakai lilin segala emang mau ngepet.'' sanggah Ara.


''Malam romantis gak melulu makan pakai lilin, ada yang lebih menyenangkan dari itu.''


''Apa?'' tanya Ara dan Ratih bersamaan.


''Gelut diatas kasur.'' jawab Pia enteng


Pia menepuk jidatnya. Dia yang profesional harus menghadapi dua gadis polos yang keterlaluan polosnya. Tapi suka.


"Having *** grils, lo layani suami, berikan haknya sebagai suami. Jelas suami lo berhak untuk menggauli lo. Elo belum pernah melakukan kewajiban lo sebagai istri?'' Ara menggeleng karena dia paham maksud dari kata-kata Pia. Bukankah sewaktu ijab kobul Gatra juga membaca janji nikah yang tertulis di buku nikah, dan Ara jelas mendengarnya.


''Ih kamu jurusannya kesana terus! sudah sampai terminal buk!'' Ratih kesal.


''Gue bukan asal ngomong kek gini, Ratih. Elo gak tahu saja siapa Bang Gatra, Banyak yang suka ke dia. Tanya Ara berapa perempuan yang berusaha mendekatinya. Bahkan artis film terkenal, Clarita lo tahu? dia salah satu mantan Bang Gatra. Belum lagi pembawa berita stasiun tv XXX. Itu yang gue tahu, entah lainya.''


''Beneran, Ra?'' lagi-lagi Ara terpaksa mengangguk. Pikirannya mulai bercabang. Bagaimana nasibnya bila Gatra meninggalkannya karena tidak bisa menjadi istri yang sesungguhnya. Ara bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu kebutuhan laki-laki.

__ADS_1


''Gila ya, pelakor lo banyak bener.'' Ratih yang berguman. Ara yang terprovokasi. ''Kamu gak lagi halangan kan Ra?'' tetiba Ratih bertanya.Mendengar banyaknya wanita yang menginginkan suami temannya, Ratih seperti gak rela dan menyetujui usulan Pia. ''Jadi kira-kira apa yang harus Ara lakukan buat acara gelut diatas kasur.''


Mereka berdua ini! otak boleh encer tapi hanya untuk sekolah saja. Masih murni.


''Ara butuh baju dinas. Gue yakin Ara pasti belum punya.''


''Dinas? dinas kemana?'' daya tangkap Ratih mengacu pada Bapaknya yang PNS yang terkadang harus dinas ke kota lain.


Lagi dan lagi Pia menepuk jidatnya berhadapan dengan teman-teman polosnya.


''Lingerie, Ratih baju dinas istri untuk merangsang dan memikat suami agar kepanasan dan menjadikan malam perjamuannya semakin hot.'' Pia terpaksa membuka pencarian di google yang menampilkan berbagai model gambar lingerie. Yang pasti membuat dua pasang mata membulat sempurna ditambah kaget suara Rega yang datang tiba-tiba. Buru-buru Ratih menutupi ponsel Pia.


''Kalian! jum'atan sudah selesai dari tadi masih saja ngerumpi disini.''


Rega mengambil kursi dan duduk disebelah Ratih. Membuat Ratih sedikit beringsut .


''Aku ada panggilan telepon dari Mbak Dias suruh ngecek tokonya yang disini, kamu mau ikut atau masih mau sama Ara?'' tanya Rega ke Ratih.


''Sama Ara saja masih kangen, tapi anterin kita dulu ke...'' Ratih menatap ke Pia dengan bahasa mata bertanya dimana yang menjual baju dinas.


Pia paham maksud Ratih. ''Antar kita ke mall xxx.'' pinta Pia


''Ya ke mall xxx.'' beo Ratih


''Dasar ciwi-ciwi kalau kumpul gak bisa jauh dari mall. Yuk!''

__ADS_1


Flashback end


__ADS_2