Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
116. Bukan Pelakor


__ADS_3

Merasa kasihan dengan usia muda dan sudah harus hamil, membuat Bunda mencari sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari kampus Ara. Berkaca pada dirinya dulu yang masih muda kuliah diluar tanpa keluarga hanya ada suami dan juga hamil, sungguh sangat merepotkan. Dan kini sejarah terulang pada menantunya, sungguh tak ingin bunda, Ara mengalami seperti apa yang dia alami.


Beruntung Gatra sepemikiran dengan Bundanya. Dia merasa khawatir tiap kali harus meninggalkan Ara sendirian di apartemen. Apalagi sekarang Gatra sudah mulai bergabung dengan perusahaan Ayah. Gatra sudah mulai belajar bagaimana mengelola usaha temurun dari keluarganya. Dirinya menjadi sangat sibuk dan harus sering keluar kota menggantikan sang ayah meninjau proyek yang kadangkala ada kendala.


Bidang usaha dari keluarga lebih bisa menjamin kelangsungan keluarga kecilnya kelak. Itu sudah terbukti dari Sang perintis yaitu almarhum kakek, dan ayahnya bisa untuk menghidupi keluarga dengan layak. Bukan berarti usahanya yang sekarang tidak menjanjikan, Gatra tetap masih menggelutinya cuma hanya sebagai pemilik saja selebihnya sudah diserahkan pada Farel.


Ara sadar dan paham sekali semua kesibukan Gatra hanyalah untuknya dan calon anaknya semata. Karena jauh sebelum Gatra mengambil keputusan untuk menerima melanjutkan usaha keluarga dia sudah berdiskusi dulu dengan Ara, dan Ara menyetujuinya. Siapa lagi yang akan meneruskan kalau bukan suaminya, anak ayah kan cuma satu. Hanya saja kala rasa rindu yang amat dahsyat pada si Otong seringkali membuatnya uring-uringan sendiri.


Setelah dua hari di Semarang akhirnya Gatra bisa pulang. Proyek Ayah memang lebih banyak di Semarang dan sekitarnya. Andai saja Ara tidak sedang kuliah ingin rasanya Gatra mengajak Ara tinggal saja di kota Atlas itu. Pasti Ara akan senang sekali kembali ke kampung halamannya dan dia juga tidak harus bolak-balik.


''Sudah selesai Mas, mandinya?'' tanya Ara setelah Gatra keluar dari kamar mandi dengan muka yang lebih segar.


''Sini Mas, Ara bantu keringkan rambutnya.'' Ara yang menunggu di atas tempat tidur segera bangkit hendak mengambil hair dryer tapi dicegah Gatra.


''Pakai handuk saja sayang, panas lagi nanti kalau pakai hair dryer.'' tolak Gatra. Dua hari merasakan panasnya Semarang cukup tak ingin menambah panas lagi kecuali panas yang satu, panas yang ditimbulkan karena bertukar peluh dengan sang istri. Ajaib ternyata Gatra juga sudah tertular Ara memberi belaian si Otong.


Ara mengambil handuk kecil di lemari lalu menghampiri Gatra yang telah memposisikan dirinya duduk di kursi yang biasa Ara pakai buat belajar. Gatra menyeretnya ke dekat tempat tidur agar Ara bisa sambil duduk kala mengeringkan rambutnya.


''Sayangnya Bapak gak rewel kan Bu?'' Gatra mengusap lembut perut sang istri.''


Gak Bapak, Dedek nurut apa kata Bapak kok.'' sahut Ara dengan suara dibuat seperti anak kecil.


''Anak pintar. Harus selalu jagain Ibu ya, kalau Bapak pergi kerja. Terlebih dari Om Om yang suka ngedeketin Ibu.''


''Mas ih. Mana ada cowok yang mau sama perempuan hamil. Jangan ngaco.''


Gatra terkekeh melihat istrinya cemberut. ''Belum tahu ya, kalau perempuan hamil itu lebih mempesona.Dan banyak menarik perhatian kumbang jantan.


''Kumbang jantan. Dikira Ara bunga? atau kupu-kupu? Gak adalah yang terpikat Ara. Lihat saja Dedek semakin besar ini.'' Ara memperlihatkan perut buncitnya dengan menaikkan daster yang dipakai. Bukan cuma perut buncit yang terlihat tapi lahan becek tempat si Otong berkumbang juga terpampang jelas. Karena Ara menggunakan daster terusan selutut.


Dibawah sana si Otong langsung On dua hari tanpa berkumbang rindu dia.


''Sayang, mau sekarang?'' Gatra yang berdiri mengikis jarak lebih mendekat ke Ara.


''Mau apa?'' bingung Ara


Meraih tangan Ara untuk menyentuh Otong yang telah tegak berdiri dibalik handuk yang menutupinya.


''Eh.. Kok dia sudah bangun.'' yang membangunkan tidak sadar dengan tindakannya membuat Gatra tepok jidat


''Ini. ini yang buat dia bangun.'' Gatra menyentuh area sensitif, tepat kesukaan Otong yang masih sedikit tersingkap. Menegang tubuh Ara oleh sentuhan Gatra. ''Mau sekarang sayang, sudah dua malam Otong gerah mau berkumbang.


''Mau.'' lah Ara gak ada jaim-jaimnya murahan banget baru lihat Otong berdiri tegak saja langsung mau gak ada jual mahalnya sedikitpun.


''Tapi Mas, ini masih sore kalau Bunda nyariin gimana?''


''Sekali saja gak kasihan bisa pegel Otong kelamaan berdiri sayang. Mau ya? kan sayang yang mancing Otong buat bangun.''


''Kok Ara?''


''Iya, Rara yang selalu membuat Mas ingin.'' tanpa lama-lama Gatra segera mengeksekusi istri kecilnya. sesuai katanya hanya sekali penyatuan, masih sore kata Ara dan kalau kelamaan kasihan istrinya belum makan malam begitupun dia. Mau enak-enak juga butuh tenaga. Mereka bukan lagi tinggal berdua yang bisa kapan saja dan dimana saja di bagian rumah untuk penyatuan. Ada Ayah dan Bunda yang tinggal bersama, Gatra sih bisa saja cuek tapi Ara? pasti ada rasa sungkan.


''Mas tadi di kampus ada cerita lucu.'' lapor Ara pada Gatra kala menikmati malam dari balkon kamar. Waktu yang digunakan untuk saling bercerita kegiatan masing-masing sebelum tidur atau aktivitas ranjang.


''Lucu gimana?'' antusias Gatra.

__ADS_1


''Tadi Ratih nyamperin Rega ke kampus.''


Flashback On


Ratih tiba di kantin tempat dia janjian dengan Rega. Sebagai calon istri yang baik Ratih meraih tangan Rega dan menciumnya dengan takzim lalu duduk di meja depan Rega. Memang baru kali ini Ratih menghampiri Rega langsung di kampusnya. Karena mereka janjian akan ke rumah budhenya Rega.


''Ara mana?'' mata Ratih mengedar mencari keberadaan Ara.


''Lagi cari gado-gado, pengen katanya.'' jawab singkat Rega. Ratih mengangguk


Karena haus Ratih pun meminum minuman Rega. ''Kamu persen lagi ya? Aku haus banget.'' kata Ratih setelah segelas es teh manis milik Rega tandas diteguknya. '' Sekalian punya Ara juga.'' tambah Ratih pada Rega yang sudah bangkit mau pesan minuman, karena jeruk anget punya Ara yang masih utuhpun ikutan tandas.''


Rega geleng-geleng dengan kelakuan tunangannya. ''Haus apa bocor?''


Ratih hanya nyengir tanpa dosa. '' Wes to cepet keburu Ara datang.''


Saat menunggu ada tiga cewek datang menghampiri Ratih.


''Lo yakin cewek ini yang Lo lihat kemaren?'' tanya cewek satu.


''Yakin gue.'' cewek dua menjawab tegas. ''Beneran dia yang gue lihat kemaren lagi gandengan mesra sama si Rega di mall.


Tanpa aba-aba cewek tiga segera menuangkan isi air mineral yang dia bawa ke kepala Ratih. Ratih yang kaget seketika menjerit dan langsung jadi pusat perhatian umum.


''Kamvret apa-apaan kalian!'' Ratih mengibaskan rambutnya yang basah.


''Kakeane, As su ada Malasah apa kalian Hah! kenal juga enggak main siram. Ini kepala tiap tahun di fitrahin sama orang tuaku bukan Tamanan yang harus disiram.'' maki Ratih


''Lo itu pelakor yang harus dibasmi dan di bina. Binasakan maksudnya.'' si cewek dua nyolot.


Rega datang kaget melihat Ratih sudah basah kuyup kepalanya.


''Kenapa nih?''


Ratih menghampiri Rega menggelayut manja pada lengan Rega. ''Sayang, mereka gak sopan sama aku. Tiba-tiba saja nyiram kepalaku dan nuduh aku pelakor.''


Rega gagal fokus dengan panggilan sayang yang baru saja Ratih ucapkan. Hingga kembali dari keterpakuannya ketika Ratih kembali berucap.


''Sayang, mereka siapa seh? jawab jangan diam atau mereka pacar kamu di kampus ini ya?'' makin meradang Ratih


''Eh... Bukan.'' Rega menatap satu persatu perempuan yang dengan angkuhnya berdiri didepannya.


''Teman satu jurusan doang, bukan siapa-siapa. Tuh Ara datang tanya saja sama dia.'' tunjuk Rega ketika Ara datang dengan gado-gadonya.


''Ada apa ini kok jadi rame?'' tanya Ara.


''Ini Ra, kemaren gue lihat nih perempuan jalan mesra dengan Rega di mall.'' jawab perempuan dua.


Dahi Ara berkerut.'' Lha emang kenapa?''


''Ra, si Rega udah selingkuhan elo. kita-kita sebagai teman Lo kasihan Ra, mana Lo lagi bunting.'' Baik Ara maupun Rega langsung tertawa terpingkal tidak bagi Ratih dia masih gondok dengan perlakuan tiga teman Ara.


''Kalian bertiga salah paham. Dan gak salah kalau Rega dan Ratih jalan bareng, mau mesra juga gak papa mereka kan sudah tunangan.'' terang Ara


''Rega bukan suami Lo?''

__ADS_1


''Lo hamil bukan sama Rega?''


''Tapi Lo ada suami kan Ra?''


Ratih memutar bola matanya malas dengan pertanyaan trio ciblek.


Enak saja hamil anak Rega! Aku nih calon ibu anak-anaknya Rega. Asal nuduh pelakor.


''Makanya kalau gak tahu tuh jangan sok tahu. kena mental kan Lo trio ciblek.'' sewot Ratih.


''Ratih ini teman SMA Ara. Dan Rega tunangannya Ratih. Mereka dari Semarang.''


''Bukanya kita satu SMA ya? gue sering lihat Lo sama Pia tapi gak pernah lihat cewek ini di SMA kita.'' kata cewek tiga.


''Ara SMA sini sudah kelas tiga sebelumnya Ara bersekolah di Semarang bareng Ratih.''


''Suami Lo siapa dong Ra?''


''Ke to the po.'' sungut Ratih


''Ada lagi kerja ke Semarang.''


''Sorry ya? kita-kita ini masuk dalam garis keras penentang pelakor. Yang kita lihat Rega tuh perhatian banget ke Elo dimana ada Lo pasti ada Rega dan Lo juga lagi hamil jadi kita kira kalian sepasang suami istri muda.Ada masa lalu kami yang sama-sama membuat kami trauma dengan pelakor. Maaf ya?'' mewakili kedua temannya si cewek tiga minta maaf dengan tulus ke Ratih.


''Iya dimaafin lain kali selidiki dulu apa yang dilihat. gak semua yang dilihat dan didengar itu benar.'' Ratih menerima uluran tangan tiga cewek yang dijulukinya trio ciblek.


''Ngapai senyum-senyum.'' Sepeninggal ketiga teman satu jurusannya Rega memandang Ratih dengan senyuman mengambang.


''Ih ngeri.'' Ratih mengedikkan bahu


''Ra, tadi ada yang panggil aku sayang lho? dua kali lagi.'' Ara yang sedang menikmati gado-gadonya mendongak dilihatnya Ratih yang wajahnya masih saja ditekuk.


Seakan paham dengan kode dari Rega Arapun menjawab '' Suruh terusin saja pangilan seperti itu sepertinya enak didengar.''


''Haist kalian berdua.''


Flashback end


''Kalau gitu biar Mas besok antar Rara ke kampus.''


''Buat apa?''


''Biar teman Rara tahu siapa suami Rara yang sebenarnya.''


''Yang ada mereka terpikat sama Mas Gatra. Gak usah.'' Ara jadi cemberut.


Cup


Gatra mengecup bibir Ara yang monyong karena cemberut.


''Mas, ihhh.''


''Sayang kita lanjut yang tadi yuk?'' Gatra mengedip-ngedipkan matanya menggoda Ara.


''Ih itu seh maunya Mas Gatra.''

__ADS_1


''Biasanya juga langsung mau. Yuk!'' Gatra menuntun Ara ke tempat tidur.


__ADS_2