
Tak kurang dari satu jam penerbangan, kini Raga sudah berada dan sedang berjalan keluar dari pintu kedatangan bandara Halim Perdana Kusuma.
Sesaat sebelum terbang dari bandara Ahmad Yani, Raga meminta tolong Ettan untuk menjemputnya di Halim.
Seorang gadis muda dengan tangan kirinya berpegangan pada pagar pembatas dan tangan kanannya melambai-lambai ke arah Raga.
Gadis itu mendekat ke Raga yang sudah melewati pintu keluar.
''Kenapa elu ada di sini? jemput siapa?'' tanya Raga
''Jemput elulah siapa lagi?'' sewot Gea, gadis muda yang menjemput Raga.
Setelah Raga dibawa berobat dan pindah ke Jakarta, tak lama keluarga Gea juga pindah ke Jakarta. Kalau Raga tinggal dengan keluarganya di perumahan elite, sedang keluarga Gea tinggal di perkampungan Betawi yang ada di belakang perumahan tempat keluarga Raga tinggal. Dimana akses jalan perumahan dan perkampungan tersebut saling terhubung.
Sama seperti saat di Magelang, di Jakarta inipun Gea juga sering bolak-balik ngejenguk dan ngejaga Raga selama dirawat di rumah sakit. Awalnya karena emang jarak rumah yang dekat dan hubungan persahabatan antara mamanya dan mamanya Raga.
Gea selalu ada untuk Raga. Setelah dia mengenal dekat Raga, dan cerita hidup Raga, lama-lama Gea merasakan ada rasa yang berbeda di hatinya bila berdekatan dengan Raga.
Semenjak Raga dekat dengan Ara, Gea melihat sendiri bagaimana Raga yang berubah dari berandalan menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi sosok kekasih yang penuh perhatian dan sangat sayang ke Ara.
Raga yang berandalan, yang tukang buat onar, tukang balapan liar sudah tidak ada lagi. Benar-benar Raga yang sekarang berbeda dengan Raga yang menjadi tetangganya di asrama dulu.
''Yang gue mintain tolong si Ettan untuk jemput gue, kok jadi elu yang di sini? kemana si Ettan.'' Raga yang bingung karena Ettan berubah jadi Gea.
''Kuliah.'' jawab santai Gea.
''Kok bisa, di telpon tadi dia bilang sanggup jemput gue.''
''Dia lupa kalau hari ini ada ujian. Kebetulan tadi gue nganter nyokap ke rumah elu, lihat Ettan lagi dilema antara jemput elu atau ke kampus. Akhirnya elu lihat sendiri gue ada di sini.'' alasan Gea, Ettan emang ada jadwal ujian hari ini, tapi pagi hari dan masih ada waktu setelah ujian untuk jemput Raga di bandara.
Kebetulan pagi-pagi sekali ketika Ettan akan berangkat ke kampus, Gea datang bukan bersama mamanya seperti yang diceritakan pada Raga, tapi untuk bertanya kapan Raga kembali.
__ADS_1
Ettan bercerita kalau dia yang akan menjemput Raga nanti setelah pulang dari kampus. Mendengar cerita Ettan Gea memaksa Ettan agar dia saja yang menjemput Raga.Tanpa sepengetahuan Raga tentunya.
Sampai di parkiran Raga agak Ragu.''Elu yakin bisa bawa mobil?''
''Yaelah SIM gue juga sudah keluar dua bulan lebih kalik!!'' Gea hendak membuka pintu samping kemudi, Raga yang masih sanksi dengan kemampuan menyetir Gea, segera menghampiri dan mendorong Gea, untuk berpindah ke pintu sebelah. Bukanya apa-apa Gea belajar nyetir juga baru, setahun belum ada ini sudah sok-sokan membelah jalanan ibu kota yang terkenal dengan kemacetannya.
''Biar gue saja yang nyetir! '' Raga merebut konci mobil dan masuk dudu di belakang kemudi.
Dengan dongkol Gea memutar pindah ke pintu sebelah kemudi, masuk dan membating pintu dengan keras. Nggak percayaan banget sih jadi orang. Gea memasang seat belt dengan wajah ditekuk jengkel.
''Sudah jangan manyun gitu, tuh bibir sudah mirip bebek saja.Gue cuma waspada saja demi keselamatan.'' Raga melajukan mobil keluar area parkir dan memasuki jalan raya. Sesaat hanya ada keheningan diantara keduanya, dikarenakan suasana hati Gea yang masih dongkol.
''Ga, kenapa elu ngambil penerbangan dari Semarang?'' tanya Gea yang memang gak bisa untuk mendiamkan Raga lama-lama. Karena Raga jenis mahkluk yang tidak peka, bila didiamkan ya, dia akan ikutan diam. Butuh pancingan untuk membuat Raga keluar suara. Dan Gea menyadari sifat Raga itu, butuh waktu lama baginya untuk bisa berbincang layaknya orang normal dengan Raga.
''Ketemu Dimas.'' jawab Raga pendek, tanpa menoleh ke Gea. Raga fokus mengemudi karena sudah memasuki jalanan yang mulai macet.
*Dimas. Apalagi info yang dia berikan ke Raga setelah info tentang Ara yang masih hidup dan tinggal di Semarang. Dan foto-foto Ara yang ada di Hp Raga. Atau jangan-jangan Raga sudah ketemuan dengan Ara? TIDAK!!!
Raga sampai kapann hatimu terkunci*
''Ngapain?'' lirih Gea, takut jawaban dari pertanyaannya akan melukai hatinya. Jawaban yang sama sekali tidak ingin dia dengar keluar dari mulut Raga. Sudah cukup menyiksa baginya menyukai Raga dalam diam.
Sejenak Raga menoleh ke Gea. Sebagai seorang sahabat yang lama tak bertemu, apalagi mengetahui kalau sahabatnya itu masih hidup, entah kenapa justru kata itu yang dilontarkan Gea.
Setiap informasi yang didapat Raga tentang Ara, selalu dibagi Raga pada Gea. Sudah sewajarnya karena Gea adalah sahabat Ara, menurut Raga.
Memang setelah Raga mengetahui kalau Ara masih hidup dari Dimas, dan bahkan bisa mendapatkan foto-foto Ara, gairah hidup Raga mulai menyala lagi. Hidup dengan harapan bisa bertemu lagi dengan Ara apapun kondisi Ara nanti Raga akan terima.
Raga yang kembali mempunyai semangat hidup, membuat senang Gea yang hari-hari selalu bersama Raga. Tapi cerita dibalik itu membuat miris dan teriris hatinya. Bukan dia yang berhasil menumbuhkan semangat hidup Raga, tapi seseorang yang entah sedang ada dimana sekarang.
''Kok lo nanyanya gitu?, emang lo gak mau ketemu lagi dengan Ara?'' tanya balik Raga. Selama ini dia berjuang mencari Ara dan berbagi cerita ke Gea seriap informasi yang didapat dengan Gea, karena dia ngerasa Geapun juga ingin mencari tahu dimana Ara.
__ADS_1
Apa jadinya kalau Raga mengetahui Gea menyembunyikan rahasia yang sedari awal tahu bahwa Ara belum meninggal. Dan membiarkan prasangka Raga bahwa Ara sudah meninggal.
''Ja… di, elu ketemu Arrra?'' tanya Gea dengan wajah pura-pura terkejut senang, walau kata-katanya tergagap.
''Belum.'' jawaban putus asa Raga.
Ada desahan lega dari Gea. Setidaknya masih ada masa baginya untuk berusaha membuat Raga berpaling padanya.
Tidak bisakah elu melupakan Ara, Ga. Mungkin Ara sudah melupakanmu dan tidak mau bertemu lagi denganmu.
''Lalu?''
''Tadi gue sama Dimas sempat bertemu dengan salah satu cewek yang ada di foto bersama Ara. Sayangnya dia ngelak, gak mau kasih informasi apapun tentang Ara. Dia bilang Ara tidak satu sekolah dengannya. Tapi gue yakin dia menyembunyikan sesuatu tentang Ara. Dan Dimas sudah mengetahui dimana tuh cewek sekolah, dan dia akan segera mencari tahu tentang keberadaan Ara. Gue tahu tuh cewek pasti bohong kalau tidak berhubungan dengan Ara.''
Jadi elu belum bertemu dengan Ara, Ga? Semesta saja tidak mendukungmu untuk kalian bertemu, kumohon hentikan saja usahamu itu Ga. Semakin elu berusaha menemukan Ara, semakin sakin hatiku, Ga.
"Elu sedih Ge, gue belum bisa menemukan Ara?'' tanya Raga pada Gea tanpa menoleh. Dikiranya diamnya Gea karena gagalnya dirinya bertemu Ara.
Gea tersenyum kecut mendapati pertanyaan Raga.
*
*
*
*
Ada yang masih nungguin Raga gak?
Yuk! di komen.
__ADS_1
Maaf lama upnya.