Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
91. Kagum


__ADS_3

Resah hatiku menepi


*Mengingat semua yang terlewati


Saat kau masih ada di sisi


Mendekapmu dalam hangatnya cintamu


lambat sang waktu berganti


Endapkan laraku di sini


Coba tuk lupakan bayangan dirimu


Yang selalu saja memaksa tuk merindumu


Sekian lama aku mencoba


menepikan diriku di redupnya hatiku


Letih menahan perih yang kurasakan


Walau kutahu ku masih mendambamu


Lihatlah aku di sini


Melawan getirnya takdirku sendiri


Tanpamu aku lemah dan tiada berarti


Sekian lama aku mencoba


Menepikan diriku diredupnya hatiku


Letih menahan perih yang kurasakan


Walau kutahu ku masih mendambamu


Sekian lama aku mencoba


Menepikan diriku diredupnya hatiku


Letih menahan perih yang kurasakan


Walau kutahu ku masih mendambamu *


Sebuah Lagu dari band yang cukup terkenal di tanah air dibawakan begitu epik oleh penyanyi cafe. Yang mampu menghipnotis hampir seluruh pengunjung cafe, tak terkecuali Ratih.


''Sudah kagumnya?'' sengit Rega karena


Ratih yang begitu menikmati alunan lagu yang dilantunkan penyanyi cafe. Bukan cuma. lagunya yang dinikmati tapi juga penyanyinya. ''Ilermu netes.'' sambung Rega. buru-buru Ratih mengusap mulutnya yang ternyata masih kering. Tatapan horor dilayangkan ke Rega. Si penerima tatapan horor cuma cengar cengir. Sangat susah seorang Casanova sekelas Rega untuk menaklukkan gadis biasa seperti Ratih. Entah sejak kapan rasa cinta untuk Ratih muncul dihatinya yang pasti saat ini tidak ada perempuan lain yang diinginkannya selain Ratih. Menggoda Ratih, melihatnya misuh-misuh adalah kesenangan tersendiri untuknya.


Setelah pertemuan dengan budhe Rega, Ratih meminta untuk tinggal dulu di cafe kakinya terasa pegal dan capek. Perjalanan Semarang Jakarta sudah membuatnya capek, walau dia hanya duduk dan terkadang tertidur. Sampai Jakarta dia langsung ke kampus impiannya untung di sana dia cuma sebentar cuma menyerahkan berkas-berkasnya saja karena semua sudah diurus kerabat Rega yang kebetulan bertempat tinggal dekat kampus.


''Paan seh! resek bener." sungut Ratih.


"Cuma nyanyi doang aku juga bisa kalex."


"Nyanyi apa? koplo? paling juga cendol dawet. Tapi tuh penyanyi sangat-sangat penuh penghayatan kayak dia sendiri yang mengalami. Aku yang cuma mendengarkan sampai bisa merasakan betapa dalam cinta yang dia miliki sampai gak bisa melupakan. Sepertinya dia kehilangan orang yang benar-benar dia sayang. Mana orangnya manis banget. Andai dia permen sudah aku jilat.''


''Manisan juga aku banyak-banyak. Tampang urakan gitu.'' Rega tak terima perempuan yang telah dia setujui untuk menjadi calon tunangannya itu memuji lelaki lain dihadapannya.

__ADS_1


''Iya situ manis. Manisan Pala!'' geram Ratih.


''Tapi aku gak mau kamu bilang manis, Tih.'' pelan Rega.


''Idih. Ngarep. Kenapa?" Ratih bertanya


"Kasihan kamu, nanti berebut sama semut."


"Wong edyian! semut noh! yang berebut aku sih ogah." melihat Ratih yang kembali misuh-misuh Rega ngakak senang.


''Ga? kalau kita langsung pulang malam ini, kamu gak capek?'' bukannya apa-apa Ratih saja merasa capek apalagi Rega yang nyetir.


''Terus mau mu gimana? kita nginep dan istirahat dulu di hotel? aku sih Ayuk saja. Bakalan cepet kita nikahnya.'' jawab enteng Rega


Cetak


''Aduh!'' Rega mengaduh karena jidat lebarnya kena jitak Ratih


'' Gak usah ngadi-adi! kalaupun harus nginap dan istirahat aku mau nginap dan istirahat di apartemen Ara.'' sungut Ratih.


Sungguh hiburan yang menyenangkan menggoda Ratih. Rasa lelahnya menguap setiap Ratih merespon jengkel.


''Tentu saja aku juga capek Tih, tubuhku letih, lemas dan lunglai bagai tak berdaya.'' Rega mendramatisir rasa capeknya.


Melihat keseriusan wajah Rega Ratih merasa kasihan. Rega rela bercapek-capek juga demi dirinya dan dia juga gak ingin nanti terjadi sesuatu di jalan.


''Kita nginep ditempat Ara saja ya, kalau kamu capek gak usah dipaksakan. Entar malah terjadi sesuatu di jalan. Kamu sih tadi sok-sokan nolak ajakan budhemu untuk mampir ke rumahnya.''


''Bukannya kamu yang gak mau nginap di rumah budhe?'' untuk sekedar mampir Ratih memang mau tapi karena budhe menawarkan untuk menginap Ratih menolaknya dengan alasan sudah janji mau menginap di rumah Ara.


''Kalau cuma mampir sih aku mau, tapi tadi budhemu kan nyuruhnya nginep. Ya gak enaklah aku. Kalau kamu mau nginep di rumah budhe boleh saja tapi antarkan dulu aku ke apartemen Ara aku mau nginep di sana.''


Perjuangan masih panjang bukan tabungan uang saja yang banyak untuk mendapatkanmu Ratih, tapi juga tabungan sabar.


''Eh... kok kita tidur di mobil? maksudmu gimana? gagal paham akunya.''


''Ada Sepupu aku Doni, dia mau nebeng bareng ke Semarang. tapi baru bisanya nanti malam, sekalian saja aku minta dia untuk nyopir jadi kita nanti gantian bisa tidur. Kalau kita tidur semua tidur kasihan Doninya.''Ratih manggut-manggut mendengar cerita Rega.


''Kenapa malam sekali berangkatnya Ga?''


''Emang kamu mau kalau kita berangkat sorean sampai Semarang masih pagi buta lalu membangunkan orang rumah yang masih pada lelap tidurnya? Ingat tadi pagi kan? kita terpaksa tidur di SPBU dan parkiran kampus karena pagi buta kita sudah sampai. Kamu yang sungkan untuk langsung ke rumah saudara karena masih terlalu pagi untuk bertamu.''


Ya...ya.. seterah kamu saja Ga, aku ke toilet dulu ya? habis ini kita beneran ke tempat Ara ya?''


''Hemm.''


Ratih bangkit menuju ke toilet. Belum lama masuk kedalam toilet Ratih sudah keluar lagi.


''Ga!... Ga!...'' setengah teriak Ratih memanggil Rega. Sayang siempunya nama tidak mendengar karena asik memainkan game di ponselnya.


''Ada apa mbak.'' seorang laki-laki datang menghampiri Ratih


''Hah!'' Ratih gelagepan ''ada apa ya, Mas?'' Ratih jadi bertanya balik.


''Elo tadi manggil gue.''


''Manggil siapa?'' Ratih makin bingung ini kan penyanyi yang barusan.


''Elo manggil gue!'' suara si pria mulai meninggi


''Situ Rega?''

__ADS_1


''Bukan, gue Raga!'' jawab si pria makin ketus karena tangsi ternyata dia yang salah.


Eh, bocah pamit ke toilet malah ngobrol siapa? Eh si penyanyi. Minta disamperin ini.


Rega bangkit dari duduknya karena melihat Ratih yang ternyata tidak sedang berada di toilet. Walau berjarak tapi sangat jelas posisi Ratih dan Raga dihadapan Rega.


Ratihpun kembali berteriak memanggil Rega yang berjalan kearahnya.


''Paan seh Yang?'' Jiwa posesif Rega meronta, untung ditempat umum dan Ratih juga butuh untuk nyelametin mukanya dari laki-laki yang namanya hampir mirip dengan Rega.


''Saya manggil dia.'' tunjuk Ratih ke Rega dengan dagunya. ''Namanya Rega.''


''Sorry gue yang salah.'' Raga segera akan berlalu tapi terhenti karena ucapan Rega dan Ratih.


''Kamu jangan dibiasakan teriak-teriak di tempat umum dan ramai dong Tih? manggilnya yang mesra. Manggil Mas kenapa? seperti Ara manggil suaminya.


''Idih! ngarep. Kalau Ara jelas! suaminya lebih tua darinya. Kalau kita kan seumuran. Ngapain aku manggil kamu Mas."


" Dibiasakan donk Tih, Aku kan juga lebih tua dari kamu."


"Lebih tua apaan cuma seminggu doang. .Ngomong terus aku jadi lupa kan? mau apa. Ga tolong ambilkan roti bantal ditasku ya?''


Rega balik ke kursinya, mencari apa yang diminta Ratih. Roti bantal apaan seh gak ada roti apalagi makanan dalam tas ini.


Rega memilih membawa tas Ratih ke siempunya.


''Nih cari sendiri gak ada roti didalamnya.''


Ratih menerima tasnya segera mencari apa yang dibutuhkan dan langsung ketemu. Sudah jadwalnya Ratih datang bulan makanya dia sudah persiapan. Cuma gak nyangka kalau datangnya lagi di cafe.


''Bilang kek pembalut! pakai istilah roti bantal segala.'' gerutu Rega. Dan Ratih hanya nyengir dan berlalu ke toilet.


Melihat Ratih Raga seperti tidak asing. Tapi dimana dia pernah melihat Ratih.


Cewek itu mukanya seperti pernah gue lihat .Tapi dimana?dan mereka menyebut nama Ara. Ada hubungan apa ini? mungkinkah ?


Raga duduk termenung berusaha mengumpulkan kepingan Pacel.


''Bro!" seorang teman kuliahnya datang membuyarkan lamunannya.


"Serius amat." sambung temannya lagi.


Raga hanya diam saja. Sudah kebiasaanya kan dari dulu selalu tenang dan datar.


"Gimana tawaran gue yang kemaren? elo mau kan bantuin gue dan temen-temen gue buat ngisi acara di almamater SMA gue.'' Dika teman Raga ini meminta bantuan untuk menjadi vokalis band masa dia SMA.


''Emang vokalis Lo kemana? lagian gue bukan lulusan SMA Lo.''


''Doi dapat beasiswa sekolah di Jepang.Makanya susah untuk pulang sekedar menghibur dan memberi motivasi pada adek kelas. Dan cuma suara Lo yang cocok dengan band kita. Jadi..... mau ya? gak masalah kalau cuma Lo yang bukan lulusan SMA gue.''


''Kapan acaranya.'' akhirnya Raga menyerah dan setuju untuk membantu.


''Saat pengumuman kelulusan sekitar dua bulan lagi. Gak lama paling juga satu dua lagu, soalnya akan ada band dari alumni yang lainnya juga.''


''Bukan acara perpisahan?''


''Bukan. Kalau perpisahan dan sebagainya mereka punya sendiri. Ini acara tahunan dari alumni diatas mereka untuk menghibur dan penyambutan pada mereka ke dunia yang lebih luas lagi. Ok berarti Lo mau kan?''


''Cuma satu dua lagu.''


''Ya, cuma dua lagu.''

__ADS_1


''Ok''


__ADS_2