
''Siapa, Yang?'' tanya Vano yang baru dari toilet, dan melihat dua lelaki berlalu pergi dari Naina.
''Sa, udah selesai panggilan alamnya?'' Naina tidak menjawab pertanyaan Vano malah bertanya balik dan menggeser duduknya agar Vano duduk di sebelahnya.
''Siapa?'' tanya Vano lagi. Dia tidak melihat muka dua lelaki tadi, karena posisi dua lelaki itu membelakanginya.
''Itu lho, mahasiswa yang ngecamp bareng kita di Gedong Songo, Dimas. Kamu ingat? kalau yang satunya baru kenal tadi. Namanya Raga, mirip ya? sama Rega.'' jelas Naina.
''Oh.'' ucap Vano, tadi saja minta penjelasan, dikasih penjelasan jawabnya hanya ber oh ria saja.
''Dua kali Aku ketemu Dimas, yang ditanyakan selalu Ara. Mungkin gak sih, Dia suka Ara?''
''Urusan suka kan datangnya dari hati Yang, gak bisa dipaksakan. Lihat saja Rega, gimana patah hatinya dia gebetannya tiba-tiba menikah. Tapi kamu tidak memberitahukan pada Dimas kalau Ara sudah nikah kan?''
''Gak lah! penting gitu? tapi Sa, aku salut lho sama Rega dia bisa tetap ada untuk Ara disaat-saat terpuruknya Ara. Walau kadang aku kasihan lihat dia, saat menatap sendu Ara.
''Itu juga sama-sama dengan kita, yuk? katanya mau cari hadiah untuk Ara, keburu sore.'' ajak Vano dan mereka segera pergi dari gerai waralaba untuk melanjutkan tujuan awal mereka pergi ke mall.
''Yang dari sini kita langsung ke rumah Ara atau pulang dulu? '' tanya Vano pada Naina setelah mendapatkan hadiah pepisahan untuk Ara.
''Pulang dulu saja, mandi-mandi dulu. Takutnya Ara sama suaminya sudah cantik dan ganteng, kitanya kucel lagi.'' jawab enteng Naina.
''Yang, kamu mau? nyusul Ara.''
''Nyusul kemana? pindah ke Jakarta?'' tanya polos Naina.
''Nyusul nikah, Yang?!'' seketika Naina menghentikan langkahnya, membuat Vano ikutan berhenti. Naina menatap horor Vano'' GAK MAU!''
*****
Tibalah Ara dengan diantar Gatra di komplek pemakaman pahlawan, tempat papanya dimakamkan. Selama tujuh hari kemaren Ara selalu datang ke makam papanya di sore hari untuk tahlilan.
Kali ini Ara datang di pagi menjelang siang, tujuannya untuk berpamitan. Ara akan pindah mengikuti suami pilihan papanya.
''Pah, Ara datang lagi untuk pamit pada papa, Ara mau pindah pah, mengikuti suami yang sudah papa pilihkan untuk Ara. Doakan Ara untuk bisa menjalani hidup Ara tanpa papa, hiks hiks hiks.'' setegar apapun Ara berusaha, airmatanya akan selalu tumpah bila berada di makam papanya.
''Pah, ini terakhir Ara datang entah kapan lagi Ara bisa mengunjungi papa.'' Ara mengusap nisan papanya
__ADS_1
Gatra ikut berjongkok menemani istrinya, dirangkulnya pundak Ara agar lebih tenang.
Om, Gatra ijin untuk bawa Ara bersama Gatra. Gatra akan berusaha menjaganya, seperti yang om amanahkan. Sebisa Gatra akan membahagiakan Ara. Om yang tenang di sana.
Sinar matahari sudah mulai tak bersahabat. Gatra mengajak Ara untuk pulang.
Sesampainya di rumah Ara dan Gatra sudah ditunggu utusan Pak Rt untuk menyampaikan surat pindah domisili Ara.
Ara memberikan surat pindah domisilinya pada Gatra. Sungguh Ara tidak tahu menahu tentang urusan perijinan perpindahan penduduk. Akan pindah ke Jakarta sebelah mana saja Dia tidak tahu.
''Mas Gatra bisa simpan surat pindah domisili Ara?'' pinta Ara setelah utusan Rt pulang.
''Sini biar Mas simpan, biar besok diuruskan sama Farel.'' lagi-lagi Gatra akan merepotkan Farel.
Sore hari, Ratih dan Rega sudah terlebih dahulu datang ke rumah Ara, baru setengah jam kemudian disusul Naina dan Vano.
Mereka berlima berkumpul di ruang tengah. Mereka bercanda dan tertawa, lebih tepatnya menertawakan ulah Ratih dan Rega yang masih saja tidak bisa akur kalau berkumpul.
Tadinya Bunda ikut bergabung dengan mereka, dengan alasan lelah Bunda undur diri masuk ke kamar. Padahal cuma alasan Bunda saja agar Ara lebih punya waktu dengan teman-temannya sebelum esok Dia pindah.
Begitupun Gatra, dia lebih memilih duduk santai di taman kecil samping rumah sambil sesekali mengawasi Ara, karena taman samping rumah dan ruang tengah hanya dibatasi sekat kaca. Gatra khawatir karena di situ ada Rega bocah laki-laki yang pernah nembak Ara.
''Lagi nyantai, Om.?'' sapa Raga setelah duduk.
Lah bocah seenak jinat manggil gue om.
''Hemm''
''Kata Ara, Dia pindahnya besok Om?'' tanya Rega.
Gatra mengalihkan pandangannya dari Hp ke Rega.'' Jam sebelas siang, kenapa?''
''Kirain sore atau malam kan Aku bisa ngantar.''
ditatapnya Rega lekat-lekat.'' Terima kasih, Kamu di sekolah saja belajar yang bener.''
Gatra yang hendak masuk ke dalam terhenti oleh pertanyaan Rega. ''Om, kenal Ara sudah berapa lama? kok sampai bisa Papanya Ara percaya untuk menikahkan Ara denganmu.''
__ADS_1
Gatra duduk kembali, senyum seringai nampak di wajahnya.
''Kenapa? kepo ya?'' dan Regapun mengangguk.
Dengan suara pelan Gatra bicara '' Gue ketemu, kenal dan menikah dengan Ara gak ada satu hari.''
''Hah!! maksudnya?'' kaget dan bingung Rega.
'' Kami jumpa dan kenal baru dalam hitungan jam dan langsung dinikahkan. Dan Kamu juga meyaksikan pernikahan kami kan?''
'' Kenapa, Om Gatra mau menikah dengan Ara? kasihan Ara masih sekolah, diantara kami berlima saja dia yang paling muda.''
''Kenapa Gue harus nolak menikahi Ara? Dia cantik, baik, solehah pinter juga. Kamupun juga gak akan nolak kan? kalau diposisiku.'' ujar Gatra
''Ya. Tapi sayangnya Ara yang nolak saya. Ara membuat saya mundur sebelum maju berjuang. Berkali-kali saya patah hati karena penolakannya. Hatiku semakin hancur lebur ketika mendengar dan melihat langsung Papanya Ara dan Om Gatra mengijab kobul atas Ara. Sejak saat itu saya sadar bahwa cinta tak harus memiliki, Om Gatra tenang saja saya tidak akan dan tak akan pernah jadi pebinor. Sudah lebih dari cukup Ara masih bisa menganggap saya sebagai sahabat. Yah... walau hati ini kadang masih sebel kenapa Ara nikah muda dengan lelaki tua.''
Lah dasar bocah, kenapa jadi Elu curhat ke Gue. Sudah curhat colongan ke Gue dan untung Gue dengerin, pakai ngatain Gue lelaki tua segala.
'' Sebagai sahabat Saya nitip Ara, tolong jangan sia-siakan. Kalau Om Gatra sudah tidak sanggup jagain Ara, bawa Ara ke Kami sahabatnya.''
''Elo tenang saja BOCAH, sebagai suami Gue pastikan kebahagiaan Ara. Apalagi pernikahan ini amanah langsung dari Om Randy.'' Gatra begitu gemesss dengan omongan Rega yang panjang kali lebar sama dengan luas.
''Ga, ngapain kamu di sini? Aku sama Naina udah mau pulang. '' Vano menghampiri Rega untuk diajak pulang. Selain hari sudah mau magrib, juga Naina sudah ditelepon mamanya untuk segera pulang.
''Teman Elu lagi curcol. Tenang sudah selesai kok.'' kali ini Gatra benar-benar berlalu dari hadapan Rega.
''Om, seharusnya yang Om cemburuin itu bukan saya, tapi sosok yang menghuni hati Ara. Yang membuat Ara untuk menolak setiap lelaki yang menghampirinya.
DEG
Siapa sosok itu, Halah dasar bocah mau memprovokasi Elu ya.
*
*
*
__ADS_1
*