
Bugh....Bugh....
Tak henti-hentinya bunda terus memukuli anak lelaki satu-satunya. Gatra yang merasa bersalah hanya mampu diam saja.
Ara telah dipindahkan ke ruang perawatan. Sesaat sebelum dipindahkan ke ruang perawatan Ara membuka matanya. Merasa asing dengan tempat dimana dia berada. Kenapa ada bunda disampingnya, itulah yang bisa dia tangkap. Bunda langsung masuk ke dalam ICU begitu tahu Ara yang sedang berada di dalam, dan sedikit keterangan dengan apa yang dialami oleh Ara dari dokter Winda
''Bagaimana keadaanmu Nak?'' tanya bunda lembut. Diusapnya Surai hitam Ara tatapan sendu melihat kondisi Ara yang akibat polah anaknya. Rasa bersalah menggelayut di hati. Walau tidak salah apa yang dilakukan Gatra tapi ....sudahlah yang penting sekarang Ara sudah membaik.
''Bunda.'' sejenak Ara mengingat adegan demi adegan yang dia lakukan bersama Gatra. Wajahnya bersemu merah, malu.Kenapa ada bunda disebelahnya, kemana Mas Gatranya. Bukankah semalaman Gatra tak sedikitpun melepaskan Ara, selalu dalam dekapan Gatra yang sangat nyaman.'' Ara dimana ini Bun? Mas Gatra mana bun?'' kamar yang asing bukan kamar Gatra.
''Sayang, kamu ada di rumah sakit, tadi kamu demam tinggi makanya Masmu membawamu ke sini, karena kamu tidak sadarkan diri.'' terang bunda
''Ara demam?'' beo Ara yang tak menyadari dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. ''Kok bisa?'' lirih Ara meraba keningnya sendiri terasa tidak panas, kapan demamnya. Memang tubuhnya terasa remuk redam, tapi apa iya sampai demam? dan harus sampai rumah sakit.
Bunda tersenyum lega melihat Ara yang sudah membaik, tinggal membuat perhitungan dengan Gatra.
Gatra hanya meringis menahan sakit akibat pukulan dari bundanya. Setelah mendengar penjelasan dari Iwan dan dokter Winda tentang demamnya Ara karena ulahnya, wajarlah jika bunda mengamuk.
''Bunda tahu Tra, Ara itu hak kamu. Sebagai laki-laki dewasa hidup dengan
pasangan halalnya pasti susah untuk mengabaikan, tapi kenapa kamu langsung gaspol. Selamanya Ara akan jadi istri kamu pelan-pelan dikit napa? nggak akan habis Ara kamu makan, kayak gak ada hari esok saja.Ternyata ini hasil dari ketidaktenangan bunda ketika kamu ijin untuk tidak makan malam bersama kami. Ara itu masih kecil, masih polos untung saja cuma demam bagaimana bila merembet kemana-mana. Bunda ini sudah ada janji untuk jaga Ara di depan Randy.'' masih saja bunda mengomeli Gatra. Padahal Gatra sudah tidak sabar untuk segera bertemu Ara.Sedari tadi ada saja halangannya, mulai dari harus ke ruangan Iwan dan pertanyaan-pertanyaan konyol Iwan plus ledekannya untung teman kamu Wan. Mengurus administrasi Ara yang ternyata dia tidak membawa apa-apa untuk saja ada bunda sehingga bisa menjadi penjamin Ara.
Seandainya bunda tidak datang sudah pasti apa yang jadi prasangka dokter Winda tidak terbantahkan. Dan siap-siap Gatra menjadi tersangka tindakan tindakan senonoh terhadap Ara, walau kenyataannya benar adanya. Walau sudah tahu statusnya pada Ara tatapan sengit dokter Winda pada Gatra masih belum berubah.
__ADS_1
''Maaf Bun, Gatra memang salah.'' satu kalimat permintaan maaf Gatra pada bunda. '' Boleh Gatra bertemu Rara, Bun?'' sambung Gatra lagi lembut karena tak mungkin membalas kemarahan bunda.
''Sudah sana masuk! dari tadi Ara sudah menanyakan dan mencari kamu.'' Kasihan juga anak itu dari tadi aku marah-marahi terus.Dia pasti juga tertekan dengan kejadian ini.
Bunda senang mengetahui Ara yang tersadar langsung mencari Gatra, berarti Ara melakukannya memang karena dia sudah benar-benar menerima Gatra sebagai suaminya. Bahagianya bunda karena anak dan menantunya sudah bisa saling menerima dan saling mencinta. Bunda berinisiatif untuk membeli makanan untuk Gatra dan Ara pasti mereka berdua belum sempat sarapan. Apalagi penampilan Gatra yang kucel dan berantakan. Bunda juga menelpon Farel meminta bantuannya untuk membawakan Gatra baju ganti karena saking paniknya Gatra hanya memakai pakaian seadaanya bahkan ponsel dan dompetnya Gatra tidak membawa.
Gatra memasuki ruang perawatan Ara. Menyesal telah membuat Ara menjadi penghuni kamar rawat rumah sakit. tatapan matanya bersirobok dengan mata Ara.Raut kesedihan menyelimuti Gatra.
Berbeda dengan Ara yang wajah pucatnya bersemu merah karena kedatangan Gatra. Ara malu benar-benar malu bertatap muka dengan Gatra. Malu karena bayangan aksi liarnya semalam bersama Gatra.
''Rara sayangnya Mas, maaf.'' lirih Gatra ketika jarak diantara mereka telah terkikis. Gatra menggenggam erat tangan kanan Ara yang terbebas dari selang infus.
Ara mengerutkan dahi. ''Kenapa Mas minta maaf?'' tanya Ara yang tidak mengerti.
''Mas..... kenapa? Mas menangis?'' satu tangan yang terpasang infus menyeka air mata di pipi Gatra.
''Maaf...maaf . Sayang, Mas sudah menyakiti Rara.'' Satu tangan mengelus puncak kepala Ara dan tak hentinya juga menciumi tangan Ara yang ada di genggamannya.
''Ara gak papa kok Mas, kata bunda tadi Ara panas. Tapi Ara gak ngerasa tuh, cuma badan Ara rasanya remuk semua.'' jawab polos Ara.
''Maaf sayang Mas nyesel. Mas gak akan buat Ara sakit lagi.''
''Mas Gatra nyesel karena Ara pengen jadi istri Mas yang sesungguhnya? Mas Gatra gak suka.'' Ara menarik tangannya dari genggaman Gatra. Rupanya Ara telah salah paham dengan ucapan Gatra.
__ADS_1
''Bukan. Bukan begitu sayang, Mas suka.'' Gatra menggenggam erat tangan yang hampir lepas. '' Rara adalah anugrah terindah yang diberikan kepada Mas. Sangat berharga.''
''Kenapa Mas menyesal?''
''Karena Mas menyakiti Rara.''
''Ara gak sakit kok. pegang kening Ara.'' Ara mengarahkan tangan Gatra ke keningnya. '' Gak panas kan?'' ada senyum kelegaan di wajah Gatra. Demamnya sudah lewat. Terus dan terus dipandangi wajah pucat tapi nampak berseri milik gadis kecilnya yang sudah tidak gadis lagi itu, karena sudah dia pe rawani semalam. Gadis kecil yang dulu sepat dia tolak untuk dinikahi tapi kini berhasil menguasai hatinya. ''Kenapa lihatin Ara terus.''
''Karena Mas sayang Rara. I love you Ra, Mutiara Dinanti nya Gatra Rahendra Sukma.'' yang jelas saja membuat si pemilik wajah pucat itu merona merah. Suaminya menembaknya seperti anak muda sedang pacaran saja.
''Mas kita pulang saja yuk! Ara gak betah di sini.'' Ara merajuk karena ranjang yang ditempati terasa sempit untuk ditiduri dia dan Gatra.
Ternyata Gatra ikutan naik ke ranjang Ara dan tidur menyamping dengan satu tangannya sebagai bantal untuk kepala Ara. Tubuhnya yang juga lelah atau terbawa suasana atau rasa kantuk yang menyerang hingga Gatra menurut dan mau saja saat Ara menawarinya untuk ikut tidur disampingnya.
''Mas, tubuh Ara rasanya lengket semua pengen mandi. Yang terakhir tadi kita belum mandi lagi, Mas.''
Mereka mandi bersama sebelum subuh, yang katanya mau mandi besar sebelum melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim nyatanya menjadi mandi lama karena dilakukan bersama. Bisa jadi salah satu penyebab Ara demam.
''Bener Rara sudah sehat?'' yakin Gatra tanpa melepaskan pelukannya. Memeluk Ara saat tidur sudah menjadi candu bagi Gatra.
''Beneran. Kita pulang ya Mas? Mas.'' Ara mendongakkan wajahnya karena tak ada jawaban dari Gatra. Terdengar dengkuran halus, rupanya Gatra telah tertidur. '' Ya, kok malah tertidur.''
Tak lama Arapun ikutan tidur menyusul Gatra ke alam mimpi.
__ADS_1