
Sudah hampir seminggu Dira dalam keadaan tidak sadarkan diri, sedangkan Ayla kini sudah diperbolehkan pulang.
Setiap hari Ayla terus merasa bersalah dengan keadaan yang menimpa Dira, gara-gara untuk melindungi dirinya gadis itu bahkan kini sedang bertaruh nyawa di ruang ICU dengan berbagai macam alat medis di sekujur tubuhnya.
" Mas aku ingin melihat keadaan Dira" rengek Ayla pada sang suami
" Sebaiknya besok saja sayang, kemarin kamu juga kan sudah dari rumah sakit menjenguknya" ucap Al yang tidak ingin isterinya terlalu capek dengan perut besarnya
" Tidak mas, aku mau hari ini melihat keadaan Dira, jika bukan karena ingin melindungi ku Dira juga tidak mungkin menjadi seperti ini mas, ini semua salahku yang tidak bisa melindungi diriku sendiri" Ucap Ayla dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri sayang, semua sudah takdir" ucap Al berusaha memenangkan hati sang isteri
" Iya mas tapi kapan Dira akan sadar mas, aku takut kalau Dira_" Ayla tidak sanggup melanjutkan kata-katanya
" Kita doakan saja yang terbaik sayang, yakin Dira pasti akan segera sadar dan akan kembali sehat" ucap Al
" Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Dira aku sungguh merasa sangat bersalah mas"
" Jangan bicara seperti itu, yakin Dira pasti akan segera sembuh, kamu jangan pernah berhenti berdoa dan minta pertolongan Allah" Al merangkul bahu sang isteri
" Iya mas"
" Yaudah, yuk kita sarapan dulu" Ayla mengangguk
" Mas!"
" Hem" jawab Al saat keduanya hendak menuruni anak tangga
" Kasihan juga dengan kak Arlan ya mas, hatinya pasti sangat sedih" ucap Ayla
" Arlan?" tanya Al dengan kening yang mengkerut
Ayla mengangguk " Akhir-akhir kak Arlan terlihat tidak begitu bersemangat mas bahkan hampir setiap malam dia berada di rumah sakit menunggu Dira sadar" tutur Ayla
" Dari mana kamu tahu sayang kalau Arlan setiap malam menunggu Dira di rumah sakit?" tanya Al
" Mina yang memberitahu ku mas, bahkan dia menyuruh Mina untuk pulang dan kak Arlan sendiri yang sepanjang malam menunggu Dira"
" Apa Arlan menyukai wanita itu?"
" Sepertinya memang begitu mas, sudah lama aku melihat kak Arlan mencuri perhatian Dira dan beberapa ini pun aku perhatikan kak Arlan seperti tidak bersemangat seperti biasanya, tatapan matanya pun sendu dia pasti merasa sangat sedih mas dengan keadaan Dira saat ini" tutur Ayla menjelaskan
" Biar nanti aku tanyakan padanya, kenapa dia tidak jujur saja dengan perasaannya itu dari awal" ucap Arlan
" Mungkin dia belum memiliki keberanian itu mas"
" Kenapa tidak berani, kalau cinta itu harus berani berjuang sebelum menyesal setelah cinta itu benar-benar pergi meninggalkannya"
" Iya mas benar"
" Jadi bagaimana mas bolehkan aku pergi menjenguk Dira hari ini?" tanya Ayla beralih kembali ke awal pembicaraannya
" Iya boleh, nanti jam makan siang mas jemput!" ucap Al
" Terima kasih ya mas" ucap Ayla dengan riang dan Al pun mengangguk seraya tersenyum
Saat ini Ayla dan Al tengah berada di meja makan bersama papa Kusuma dan juga mama Ambar untuk menikmati sarapan pagi mereka bersama.
" Ayla bagaimana keadaan Dira?" tanya mama Ambar disela sarapannya
" Masih belum ada perkembangan mah, masih belum sadar" jawab Ayla dengan raut wajah sendu
" Sungguh kasihan nasib gadis itu" ucap mama Ambar membuat Ayla semakin merasa bersalah
" Iya mah, Ayla berhutang nyawa pada Dira seandainya Dira tidak melindungi Ayla entah bagaimana nasib Ayla sekarang mah" ucap Ayla sendu
" Iya mama juga enggak menyangka kalau Dira sampai seberani dan senekat itu, berani mempertaruhkan nyawanya demi melindungimu dan juga cucu mama, kita semua berhutang budi dengan gadis itu" ucap mama Ambar yang diangguki oleh papa Kusuma
" Mama benar, setidaknya sebagai balas Budi kita harus mensejahterakan keluarganya" ucap papa Kusuma
" Iya pah apalagi Dira hanya memiliki kakek dan neneknya yang sejak kecil merawatnya" ucap Ayla
" Al kamu bantu kakek dan neneknya!" ucap papa Kusuma
" Iya pah" sahut Al
" Apa mereka sudah tahu kondisi cucunya saat ini?" tanya papa Kusuma
" Sepertinya belum pah, Arlan belum memberitahu mereka katanya takut nenek dan kakeknya syok jika mengetahui keadaan Dira dalam keadaan seperti ini apalagi mereka juga baru pulih dari sakitnya" tutur Al menjelaskan
" Oh ya ampun kasihan sekali mereka" ucap Mama Ambar
Usai sarapan Al dan papa Kusuma pamit untuk berangkat ke kantor sedangkan mama Ambar pamit pergi ke rumah adiknya yang sebentar lagi akan mengadakan pesta pernikahan putrinya dan Ayla sendiri berdiam di rumah bersama bi Nani
__ADS_1
" Kamu jaga diri di rumah ya sayang, mama pergi ke rumah tante Ana dulu ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi mama kalau tidak suami kamu!" ucap mama Ambar sebelum pergi
" Iya mah" sahut Ayla
Setelah mama Ambar pergi Ayla kembali lagi ke kamarnya untuk beristirahat
Tidak berapa lama terdengar suara bel rumah berbunyi dan dengan cepat bi Nani pun segera membukakan pintu untuk melihat siapa tamu yang datang
Ceklek
Bi Nani membuka pintu dan saat pintu sudah terbuka sepasang suami isteri paruh baya sudah berdiri di depan pintu bersama putrinya
" Tuan.. nyonya, silahkan masuk!" ucap bi Nani mempersilahkan tamu tersebut masuk
" Bi apa Ayla nya ada?" tanya tuan Emir yang datang berkunjung bersama isteri dan anaknya
" Ada tuan" jawab bi Nina
" Apa kemarin Ayla beneran bi masuk rumah sakit?" tanya tuan Emir
" Benar tuan, sebentar saya panggilkan neng Ayla nya. silahkan duduk dulu tuan" ucap bi Nani sopan
" Terima kasih bi" ucap tuan Emir
" Pak, Bu.. ngapain sih kita pakai kesini segala?" kesal Laura yang tidak tahu kalau bapak dan ibunya akan mengajaknya ke rumah Ayla.
" Sudah kamu diam saja!" ucap tuan Emir
Laura mendengus kesal dan memutar bola matanya malas
Tidak berapa lama Ayla pun muncul menghampiri paman dan bibinya dengan wajah senang
" Paman!" sapa Ayla yang langsung menyalami punggung tangan pamannya lalu beralih pada bibinya
" Bagaimana keadaan kamu nak? paman dengar kamu kemarin masuk rumah sakit?" tanya paman Emir
" Alhamdulillah baik paman, iya paman Ayla sempat masuk rumah sakit memang dan Alhamdulillah tidak ada luka serius tapi justru teman Ayla yang sekarang masih dalam keadaan kritis" sahut Ayla
" Kritis kenapa?" tanya paman Emir dengan terkejut " Apa sebenarnya yang terjadi?"
" Demi menyelamatkan Ayla dan juga calon bayi Ayla teman Ayla mengorbankan dirinya hingga mendapatkan pukulan dan tendangan dari para penjahat yang sudah menculik kami paman" tutur Ayla menceritakan penculikan yang menimpanya
" Oh ya ampun, kamu sampai mengalami hal seburuk itu nak?" ucap paman Emir iba
" Ya kalau orang jahat pasti akan mendapatkan balasan kejahatan juga" ucap Laura tiba-tiba yang sontak langsung membuat Ayla menoleh ke arahnya begitu juga dengan bapak dan ibunya Laura
" Laura, jaga bicara kamu!" bentak paman Emir
" Laura, loe?" Ayla nampak terkejut saat netranya menatap ke arah Laura dengan tubuh yang terlihat lebih berisi
" Apa? enggak usah menatap gue kayak gitu kalau bukan karena bapak sama ibu yang memaksa, gue juga malas datang ke sini" ketus Laura
" Loe_?" mata Ayla tidak lepas dari perut Laura yang terlihat sedikit membuncit
" Enggak usah heran loe, ini perut gue bisa kayak gini juga akibat ulah laki loe kalau loe mau tau hah" ucap Laura dengan sinis
Ayla bukannya terkejut malah tertawa lucu " Kenapa Loe malah ketawa?" tanya Laura heran
" Loe lucu, maksud loe apa ngomong perut loe besar gitu akibat ulah mas Al?"
" Ya loe pikir aja sendiri" ketus Laura
" Gue lagi malas mikir" sahut Ayla terkekeh
" Kalau gitu biar gue perjelas otak loe yang cetek itu" sungut Laura
" Perut gue besar karena gue hamil anak kak Al dan datang kesini mau meminta pertanggungjawabannya, ngerti loe!" ucap Laura ngasal karena terlanjur malu pada Ayla dengan kehamilannya itu
" Laura... Laura.. loe pikir gue akan percaya gitu aja sama omongan loe" ucap Ayla tertawa renyah
" Laura, kamu apa-apaan bicara seperti itu kepada Ayla jika sampai nak Al dengar omong kosong mu itu bisa fatal akibatnya!" tegur paman Emir pada Laura
" Tidak apa-apa paman, biarkan saja Laura berbicara sesukanya. Ayla tidak akan mengambil hati ucapan Laura dan mas Al juga sudah tahu pastinya tentang hal ini" ucap Ayla dan Laura menatapnya tajam
" Laura, loe sebaiknya jangan asal bicara seperti itu, gue kasihan sama loe, ucapan loe itu bisa jadi bumerang buat diri loe sendiri nantinya apa enggak merasa kasihan dengan calon anak loe itu!" pesan Ayla mengingatkan
" Enggak usah sok nasehatin gue deh loe" ucap Laura mendengus kesal
" Bukan ingin menasehati tapi ucapan loe tadi itu bisa membuat seseorang salah paham yang nantinya akan merugikan diri loe sendiri"
" Apa maksud loe?"
" Loe tahu dengan jelas bagaimana karakter ayah dari anak yang loe kandung itukan?"
__ADS_1
Deg
Degup jantung Laura berdegup sangat kencang pasalnya kedua orang tuanya hanya tahu kalau dirinya hamil disebabkan karena korban dari pemerkosaan.
" Apa maksud kamu bicara seperti itu Ayla?" tanya Mira yang juga merasa terkejut dengan ucapan Ayla
" Apa kamu tahu siapa ayah dari bayi itu?" tanyanya lagi
" Apa jangan-jangan benar kalau nak Alveer yang sudah menghamili Laura?" tanya Mira dengan suara yang sudah mulai meninggi
" Bu kamu bicara omong kosong apalagi sih?" bentak paman Emir
" Kita datang ke sini itu untuk menjenguk Ayla bukan malah membuat keributan seperti ini" lanjutnya
" Tapi pak ibu juga ingin tahu pak siapa sebenarnya ayah dari anak yang dikandung putri kita" ucap Mira dengan mata yang sudah mengembun
" Tapi yang jelas bukan mas Al bi, apa Laura tidak mengatakannya pada kalian?"
" Cukup, loe jangan ikut campur dengan urusan gue!" bentak Laura yang sejujurnya sudah sangat ketar ketir takut kedua orang tuanya kembali menanyakan hal itu kepadanya.
" Laura hanya bilang dia adalah korban pemerkosaan" jawab paman Emir
" Oh begitu, aku juga tidak tahu pasti dia adalah korban pemerkosaan atau bukan yang aku tahu saat itu Laura tiba-tiba meminta pertanggungjawaban kepada mas Al, dia mengatakan kalau mas Al yang sudah melakukannya, padahal waktu itu Ayla dan mas Al baru saja pulang dari luar kota dan parahnya Laura ketika itu tengah berada di kamar hotel rekan bisnisnya mas Al, seorang pengusaha yang cukup sukses namun juga cukup berbahaya" tutur Ayla
" Berbahaya bagaimana maksud kamu?" tanya paman El
" Kata mas Al orang itu cukup kejam, tidak suka kehidupannya terusik jika dia sudah menginginkan sesuatu akan dengan segala cara ia lakukan untuk mendapatkannya termasuk jika dia tahu Laura hamil anaknya, walaupun dia juga suka bermain perempuan jika sudah bosan dengan mudah dia campakkan tapi bisa saja kan dia juga menginginkan anaknya itu atau bisa jadi juga tidak ingin wanita lain mengandung benihnya. Ayla dan mas Al juga sungguh heran kenapa Laura bisa berhubungan dengan orang seperti itu" ucap Ayla yang membuat paman dan bibinya tercengang setelah mendengar penjelasan Ayla
Laura menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia merasa geram dengan Ayla yang sudah menceritakan hal yang sebenarnya kepada bapak dan ibunya tapi rasa takut tiba-tiba mencuat jika saja apa yang dikatakan Ayla ada benarnya, bagaimana kalau laki-laki itu tahu kalau dirinya hamil
" Laura kamu_!" marah Mira dengan sorot mata kecewa
" Maafkan Laura bu, sumpah bu Laura juga enggak tahu kalau akhirnya akan seperti ini" lirih Laura
" Ayla loe jahat kenapa loe mengatakan semua ini?" marah Laura kepada Ayla
" Karena gue enggak mau ada kesalahpahaman dan loe bicara yang bukan-bukan lagi tentang mas Al" sahut Ayla tak kalah marah
" Sudahlah bu, kita bicarakan ini dirumah saja tidak enak bicara disini apalagi niat kedatangan kita itu untuk menjenguk Ayla" tutur paman Emir
"Ayla paman minta maaf ya kedatangan paman malah membuat kamu terganggu" ucap paman Emir merasa bersalah
" Tidak apa-apa paman, Ayla juga minta maaf karena sudah membuat Laura marah" ucap Ayla
" Yaudah kalau gitu kita pulang saja sekarang, dan kamu Laura harus menceritakan yang sebenarnya jangan ada kebohongan lagi!" ucap Mira tegas kepada Laura
Laura mendelik tajam dan menatap marah pada Ayla
" Jangan melihat gue seperti itu, kesalahan yang sudah loe perbuat sendiri jangan lagi dilimpahkan kepada orang lain yang tidak tahu apa-apa, loe yang sudah membuat kesalahan itu jadi pahit dan getirnya harus bisa loe telan sendiri" ucap Ayla yang membuat Laura semakin geram
" Jangan banyak bicara loe, gue muak dengan wajah sok polos loe?" marah Laura
" Cukup Laura, kamu tuh seharusnya belajar dari kesalahan yang sudah kamu perbuat bukan terus menerus menyalahkan orang lain dan tidak mau mengakui kesalahan kamu sendiri" bentak paman Emir kepada putrinya itu
" Sudahlah ayok kita pulang saja!" paman Emir sudah berdiri dan diikuti oleh Mira.
" Ayo kita pulang!" Mira menarik tangan Laura
" Kami pamit pulang Ayla, sekali lagi paman minta maaf" ucap paman Emir
" Iya paman, tidak apa-apa"
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam, hati-hati paman!" ucap Ayla seraya menyalami punggung tangan pamannya
Mira sudah lebih dulu keluar dari rumah itu dengan tangan menarik lengan Laura
" Bu lepasin tangan Laura bu ini sakit" keluh Laura
" Dasar anak tidak tahu diri, bikin malu aja!" marah Mira
" Ibu sudah membangga- banggakan kamu selama ini di depan Ayla tapi kamu malah menjatuhkan harga diri kamu sendiri di hadapannya"
" Bu_!"
" Cukup, ibu sudah tidak mau mendengar kata-kata kamu lagi!" kesal Mira yang langsung masuk ke dalam mobil
Laura dengan gontai pun masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang.
Tidak berapa lama paman Emir keluar dari rumah besar itu bersama Ayla.
Setelah mengantar pamannya sampai depan rumah Ayla pun segera masuk kembali ke dalam rumah setelah mobil pamannya pergi
__ADS_1