
Ezio yang sudah mengantarkan Alzam pulang, dia langsung masuk ke dalam rumah bersama Zarina.
Ezio lalu menghubungi Barry untuk membelikannya buku dongeng dan bacaan yang baru, walau di rak bukunya sudah ada.
Selesai menghubungi Barry, Ezio mengajak Zarina mandi sore, dan untung saja di dalam ruang walk ini closet miliknya, masih banyak baju milik Zarina.
" Zarina mandi yuk sama Papi ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Tidak mau, Zalina mau belenang Papi, di sana ",, jawab Zarina sambil menunjuk kolam renang.
" Tapi ini sudah sore sayang, besok saja ya?? ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Tidak mau, Zalina mau belenang ",, jawab Zarina sambil merengek.
" Sebentar akan Papi tanyakan dulu ya sama Ayah, nanti takutnya Zarina masuk angin ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Duduk dulu di sini sayang ",, kata Ezio sambil mendudukkan Zarina di atas sofa.
Ezio lalu mencoba menghubungi Alzam yang masih berada di jalan.
Dan Alzam yang mendengar ponselnya berdering, terlebih lagi dari Ezio, dia langsung saja mengangkatnya.
" Halo Tuan Ezio?? ",, sapa Alzam kepada Ezio.
" Halo juga Tuan Alzam ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Ada apa ya Tuan Ezio,?? apa Zarina rewel?? ",, tanya Alzam kepada Ezio.
Tanpa mereka berdua sadari, mereka menjadi dekat dan sering berkomunikasi untuk membahas Zarina.
" Iya Tuan Alzam Chafik, dia minta berenang, padahal ini sudah sore ",, jawab Ezio kepada Zarina.
" Tidak apa-apa, ajaklah berenang dulu Tuan, hanya sebentar saja, dan sebelum berenang, seluruh badan Zarina olesi dengan minyak, supaya dia tidak masuk angin, telapak tangan sama kakinya jangan lupa Tuan ",, kata Alzam kepada Ezio.
" Setelah berenang, berikanlah satu sendok obat paracetamol untuk mencegahnya masuk angin, karena Zarina jika sudah berenang, dia pasti akan sangat susah sekali untuk di ajak selesai ",, kata Alzam lagi kepada Ezio.
" Ok Tuan Alzam, saya mengerti, terimakasih atas penjelasannya ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Iya sama-sama ",, jawab Alzam, dan akhirnya panggilan mereka lalu terputus juga.
Ezio yang sudah mengerti apa yang harus dia lakukan, dia langsung saja menyuruh para asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minyak, handuk, dan juga sirup paracetamol.
" Ok, Princess Papi sudah siap, ayo kita berenang, eeh tapi tunggu dulu, Papi mau ganti baju dulu ya sayang ",, kata Ezio kepada Alzam.
Zarina hanya mengangguk saja kepada Ezio, dan Ezio lalu menyuruh asisten rumah tangganya untuk menjaga Zarina sebentar.
Ezio yang sudah siap, lalu mengajak Zarina berenang, dan bermain air dengan sangat riang gembira.
Ezio sangat menikmati sekali momen dia ketika berenang bersama Zarina, dan Ezio juga menjaga Zarina dengan sangat ketat sekali, supaya tidak tenggelam.
Ezio menyuruh beberapa pekerjanya untuk mengabadikan momen kebahagiaannya bersama Zarina ke dalam ponselnya, karena itu bisa menjadi kenang-kenangannya bersama Zarina.
__ADS_1
Beralih ke Alzam sejenak.
Alzam akhirnya sampai juga di rumah Emmy dan Casper.
Ketika Syahlaa dan yang lainnya melihat Alzam sudah datang, mereka langsung mencari keberadaannya Zarina.
" Zarina mana Ayah?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
" Zarina malam ini tidur di rumah Tuan Ezio Mama ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Kenapa Ayah ijinkan, nanti jika Tuan Ezio ..... ",, perkataan Syahlaa langsung di potong oleh Alzam.
" Tidak apa-apa Mama, tenanglah, berikanlah Tuan Ezio kesempatan, dia Ayahnya, lagi pula waktu kebersamaan dia dengan Zarina, hanya sedikit saja dibandingkan dengan kita ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Iya baiklah, lalu kapan Tuan Ezio akan mengembalikan Zarina kepada kita Ayah?? ",, tanya Syahlaa lagi kepada Alzam.
Casper, Emmy, Rain dan juga Faiha, hanya mendengarkan saja apa yang sedang di perbincangkan Syahlaa bersama Alzam.
" Besok, jika kita akan kembali ke Indonesia ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya diam saja, dan dia berdoa, semoga saja benar jika Ezio akan mengembalikan Zarina jika mereka akan kembali ke Indonesia.
Ketika dirasa waktu sudah hampir gelap, Rain, Alzam dan Syahlaa serta Faiha, akhirnya berpamitan pulang kepada Casper dan Emmy, untuk kembali ke apartemen milik Rain.
Sesampainya di apartemen milik Rain, mereka semua memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk mandi, karena mereka ingin segera menunaikan sholat maghrib berjamaah.
Beralih ke Ezio lagi yang masih asik berenang dengan Zarina.
" Sayang, ini sudah mau gelap, kita sudah yuk berenangnya, nanti kalau masuk angin bagaimana, nanti Papi bisa di marahi sama Mama ",, kata Ezio kepada Zarina.
" No sayang, ayo, besok lagi ya, janji deh, besok Zarina akan Papi ajak berenang lagi ",, kata Ezio kepada Zarina.
Zarina langsung mengangguk patuh, ketika mendengar sang Papi berkata tegas kepadanya.
" Pintar Princess Papi, ayo sekarang kita mandi ",, kata Ezio.
Ezio lalu mengajak Zarina untuk masuk ke dalam kamarnya, dan dengan telaten Ezio memandikan Zarina dengan sangat hati-hati sekali.
Selesai mandi, dan Ezio masih memakai bathrobenya, dia langsung memakaikan Zarina dengan baju hangat, supaya tidak masuk angin.
" Zarina sudah cantik, sekarang gantian Papi yang mandi dulu ya sayang ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Iya Papi ",, jawab Zarina.
Ezio langsung masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Zarina sendirian di dalam kamar, karena Zarina merasa lapar, dia lalu beranjak ke luar dari dalam kamar, menuju ke dalam dapur yang ada di rumah super mewah milik sang Ayah.
" Nona Zarina mau ke mana?? ",, tanya asisten rumah tangga yang melihat Zarina turun dari atas tangga.
" Zalina lapar Bibi ",, jawab Zarina dengan suara lucunya.
" Oh lapar, ayo sini ikut Bibi, akan Bibi ambilkan roti coklat yang lezat untuk Zarina ",, jawab sang asisten rumah tangga kepada Zarina.
__ADS_1
Zarina menurut, dan dia di suruh menunggu sebentar di ruang Keluarga, sambil menonton film kartu yang ada di dalam televisi.
" Tunggu sebentar ya Nona ",, kata asisten rumah tangga tadi kepada Zarina.
Zarina hanya diam saja, karena dia sedang fokus dengan film kartun yang dilihatnya.
Zarina menonton televisi di temani beberapa asisten rumah tangga dan anak buah sang Papi, karena mereka tidak mau jika terjadi apa-apa dengan anak majikannya itu, karena jika Zarina terluka sedikit saja, nyawa mereka pasti bisa melayang di tangan Ezio.
Ezio yang sudah selesai mandi, dia langsung saja ingin berganti baju, namun ketika dia ingin masuk ke dalam ruang walk in closetnya, dia tidak melihat keberadaan Zarina di dalam kamarnya.
" Zarina ",, panggil Ezio.
Panggilan pertama dan ke dua serta ke tiga, tidak mendapatkan sahutan sama sekali dari Zarina, dan hal itu membuat Ezio menjadi sangat kebingungan sekali.
Ezio langsung saja bergegas ke luar dari dalam kamar, dengan keadaan masih menggunakan bathrobe mandinya.
" Zarina ",, panggil Ezio lagi dengan suara yang sedikit keras.
Ezio terus menuruni tangga, dan ketika dia membelokkan kakinya ke arah ruang Keluarga, hatinya langsung merasa tenang, karena sudah melihat Zarina sedang memakan kue coklat sambil menonton televisi.
" Papi kira kamu ada di mana sayang, Zarina membuat Papi khawatir saja, besok lagi bilang ya sayang jika mau ke luar kamar, biar Papi tidak khawatir ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Iya Papi ",, jawab Zarina sambil mengangguk dengan mengunyah roti coklatnya.
" Kalian semua temani Zarina lagi, saya mau ganti baju dulu ",, perintah Ezio kepada semua pekerjanya yang ada di situ.
" Baik Tuan ",, jawab serempak dari semua pekerja kepada Ezio.
" Papi ganti baju dulu ya sayang, jangan ke mana-mana lagi, ok ",, kata Ezio kepada Zarina.
Zarina langsung menganggukkan kepalanya dengan lucu kepada sang Papi.
Ezio langsung segera bantu baju, setelah selesai ganti baju, Ezio langsung ikut duduk di ruang Keluarga bersama Zarina dan menikmati kue coklat itu bersama-sama.
Semua pekerja yang tadinya menunggu Zarina, setelah kedatangannya, Ezio menyuruh semua pekerjanya untuk pergi, karena dia ingin berduaan dengan sang putri tanpa diganggu oleh siapapun.
Zarina yang sudah merasa kenyang, dia lalu tiduran di paha sang Papi sambil menonton film kartun di televisi.
Tangan Ezio pelan-pelan menepuk sayang tubuh sang putri, dan ketika seperti sudah tidak ada pergerakan dari Zarina, Ezio langsung mengintip ke arah wajah Zarina yang ternyata sudah tidur.
Ezio lalu menggendong Zarina untuk dia pindahkan ke dalam kamar, sebelum dia masuk ke dalam kamar, Ezio berpesan kepada asisten rumah tangganya, untuk menyimpan terlebih dahulu makan malamnya, karena dia ingin makan nanti bersama sang putri jika dia sudah bangun.
Malam itu, adalah malam istimewa bagi Ezio, karena dia bisa tidur bersama sang putri yang sangat dirindukannya sejak kemarin.
Ezio ingin menebus kesalahannya dulu dengan memberikan kebahagiaan yang Zarina butuhkan, bahkan Ezio tidak kepikiran ingin mencari ibu sambung atau wanita lain untuk menjadi istrinya.
Karena prioritas Ezio sekarang di dalam hidupnya, cuma ingin membahagiakan Zarina seorang, walau dia harus hidup menduda selamanya.
Sebab Ezio takut jika dia menikah lagi, istrinya tidak akan bisa menyayangi Zarina seperti dia menyayanginya.
Dan Ezio juga tidak mau, jika kasih sayangnya akan terbagi dengan istri barunya atau anaknya nanti kalau dia menikah lagi.
__ADS_1
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...