
" Teruslah berdoa tunjukkan betapa besarnya rasa sayang dan cinta mu terhadap calon istrimu itu semoga setelah ini Dira akan segera membuka matanya!" ucap sang dokter lalu pamit pergi di ikuti beberapa suster yang memang datang bersamanya
Setelah kepergian dokter Syarif, Arlan pun segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan Dira dan seketika mata Arlan pun terbelalak
Deg
Degup jantung Arlan berpacu sangat cepat, dengan langkah perlahan Arlan berjalan menghampiri brankar Dira dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Ka...kamu akhirnya sadar" ucap Arlan yang tidak dapat menyembunyikan rona bahagianya melihat wanita yang sudah mengusik hatinya kini sudah sadar
" Pa..pak Ar.. lan" ucap Dira dengan suara lemah layaknya seperti sebuah bisikkan
Arlan mengangguk pelan seraya tersenyum lembut menampilkan rona bahagia yang begitu kentara diwajah lusuhnya karena sudah beberapa hari meluangkan waktunya untuk menemani Dira di rumah sakit
" Apa ada yang terasa sakit?" tanya Arlan dengan penuh perhatian
Dira mengangguk pelan, ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya dan juga sedikit kaku karena sudah lama tidak bergerak
" Mungkin rasa sakit itu pengaruh dari kamu yang terlalu lama tidak sadarkan diri" ucap Arlan
" Biar aku panggilkan dokter ya" seru Arlan namun Dira menggeleng
" Ti... tidak u.. sah pak" Cegah Dira
" Baiklah aku tidak akan memanggil dokter"
" Apa kamu mau minum?" tanya Arlan menawarkan Dira minum
" I.. iya " jawab Dira pelan
" Apa bisa bangun?" Dira menggeleng
" Ba..dan ku sa..kit " Jawab Dira terbata
" Biar aku bantu" Arlan dengan perlahan ingin membantu Dira untuk bersandar namun baru diangkat sedikit Dira sudah meringis mengeluh sakit
" Aaaa.." pekik Dira yang tidak kuasa menahan rasa sakit di punggungnya
Arlan terkejut mendengar pekikan Dira yang kesakitan
" Apa sakit?" tanya Arlan dan Dira mengangguk pelan
" Kalau begitu bersandar saja di tempat tidur biar aku tinggikan dulu tempat tidurnya" usul Arlan dan Dira mengangguk
Kini Dira hanya bisa bersandar di tempat tidur yang sudah sedikit ditinggikan oleh Arlan, kondisi punggung Dira belum pulih dan dia masih merasakan sakit yang teramat sangat ketika sedikit bergeser jadi belum bisa menggerakkan badannya dengan baik hanya tangan dan kakinya saja sementara tubuhnya yang lain terasa sangat kaku dan sakit jika digerakkan
" Minum dulu" Arlan dengan telaten memberikan Dira minum menggunakan sedotan
" Sudah?" tanyanya setelah Dira sedikit mendorong botol minum yang disodorkan kepadanya
" Te..ri..ma.. kasih!" ucap Dira
Ceklek
Pintu ruangan pun tiba-tiba terbuka dari luar, Al dan Ayla yang sedari tadi menunggu Arlan di luar karena merasa tidak sabar ingin mengetahui keadaan Dira pun akhirnya memilih langsung masuk begitu saja tanpa bertanya lagi
" Dira!" ucap Ayla yang begitu terkejut melihat kondisi Dira yang sudah dalam keadaan sadar
" Loe udah sadar Dira, syukurlah akhirnya loe sadar juga Dira" ucap Ayla dengan air mata yang sudah berlinang karena merasa sangat bahagia
" Mas, Dira akhirnya sadar juga" ucap Ayla lagi dengan perasaan bahagia
" Iya sayang" sahut Al yang juga turut merasa senang
" Ay" ucap Dira dengan suara pelannya
" Loe tahu Dira, gue sangat mengkhawatirkan keadaan loe yang sudah hampir seminggu lebih tidak sadarkan diri" ucap Ayla
__ADS_1
" Ap..pa loe dan bayi loe baik.. baik a..ja Ay?" tanya Dira yang justru mencemaskan keadaan Ayla
" Gue baik, sangat baik malah, kandungan gue juga sehat. terima kasih Dira karena loe udah ngelindungi gue dan juga kandungan gue bahkan loe juga sampai mengorbankan nyawa loe sendiri, jika bukan karena loe yang sudah mengorbankan diri loe sampai jadi seperti ini mungkin saat ini gue yang sedang berada di posisi loe sekarang, terimakasih Dira loe adalah penyelamat gue dan juga anak gue" ucap Ayla yang sudah semakin terisak
" Ay, ja..ngan me..nangis ya, ti..dak baik untuk kesehatan loe dan juga bayi loe" ucap Dira yang sangat mencemaskan keadaan kandungan Ayla
Ayla langsung mengangguk dan mengusap air matanya " Gue enggak akan menangis lagi, tapi loe juga harus janji ya untuk cepat kembali sehat" ucap Ayla dan Dira mengangguk seraya tersenyum lembut
" Pak Arlan, kenapa menangis?" tanya Dira pelan saat melihat Arlan yang sedang mengusap sudut matanya
" Aku enggak kenapa-napa, cuma kelilipan" ucap Arlan sedikit mengelak
" Sudah jangan gengsi, jangan sampai nyesel terus nangis guling-guling pas Dira dilamar cowok lain" goda Al membuat Arlan menoleh dan melototi Al dengan tajam
" Apa lihat-lihat, udah berani sekarang melototi gue hah? enggak takut gaji loe gue potong?" ancam Al membuat Arlan memutar bola matanya jengah
" Mas enggak usah godain kak Arlan gitu" ucap Ayla mencubit pinggang Al
" Aww... sakit sayang" keluh Al
" Sudah mas jangan ledekin kak Arlan terus, kasihan kan!" seru Ayla
" Iya, mas enggak akan meledeknya lagi!" jawab Al membuat Arlan tersenyum tipis karena merasa dibela oleh Ayla
" Oiya, Dira apa kamu ingin bertemu dengan kakek dan nenek kamu?" tanya Al
" Mereka pasti mencemaskan keadaan kamu yang sudah lama tidak pulang" lanjutnya
"Gue udah bilang pada mereka kalau saat ini Dira sedang dikirim kerja keluar kota" sahut Arlan yang sontak seluruh mata menoleh ke arahnya
" Loe bilang kepada kakek dan neneknya Dira begitu?"tanya Al dan Arlan mengangguk pelan
" Parah loe" Al geleng-geleng kepala
" Sorry Dira aku enggak bermaksud berbohong tapi saat aku datang ke rumah mu aku tidak tega menyampaikan keadaan kamu yang sebenarnya kepada mereka" jawab Arlan menjelaskan
" Tidak apa-apa, itu justru lebih baik dari pada mereka tahu keadaan ku yang seperti ini!" ucap Dira
" Baiklah kalau memang itu keputusan mu" ucap Al
" Sayang sebaiknya sekarang kita pulang saja yuk, kamu tidak boleh terlalu capek dan harus banyak istirahat. Dira juga sudah sadar jadi kamu bisa sedikit lega bukan!" ucap Al dan Ayla pun mengangguk
" Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya Dira, semoga kamu cepat sehat dan cepat bisa beraktivitas kembali" ucap Ayla sebelum pulang
" Amin, terima kasih Ay" ucap Dira
" Al gue minta izin enggak ke kantor ya beberapa hari kedepan" ucap Arlan memberanikan diri untuk meminta izin kepada Al
Al memicingkan matanya menatap tajam ke arah Arlan
" Mas, kak Arlan juga butuh waktu privasi selama ini juga kan kak Arlan sudah banyak bekerja dan tidak pernah meminta izinkan?" Al menggeleng
" Jadi biarkan kak Arlan memiliki waktunya sendiri untuk menyelesaikan masalah pribadinya mas" tutur Ayla berusaha untuk membujuk suaminya agar mengerti dengan posisi Arlan saat ini
" Baiklah, loe gue kasih waktu tiga hari tapi tetap kerjaan loe akan gue kirim lewat email" ucap Al memberi keputusan yang langsung disambut dengan senyum oleh Arlan
" Iya, nanti akan gue kerjakan loe tenang aja" ucap Arlan
" Yaudah gue pulang dulu" ucap Al
" iya, terima kasih" ucap Arlan
Setelah Al dan Ayla pulang kini hanya tinggal Dira dan Arlan yang berada di dalam ruangan itu
Arlan dan Dira keduanya nampak canggung, tidak ada pembicaraan pada keduanya
" Dira apa kamu mau makan buah?" tanya Arlan
__ADS_1
" Emm.. boleh" jawab Dira
Arlan mengambil satu buah jeruk yang berada di atas nakas lalu mengupasnya
" Ini" Arlan menyuapi jeruk yang sudah dikupasnya pada Dira
" Terima kasih" ucap Dira dengan senyum malu-malu
Setelah selesai makan jeruk Dira ingin menggerakkan tubuhnya, setidaknya ingin duduk walaupun sebentar namun lagi-lagi Dira memikik merasa punggungnya begitu sakit
"Akh..!"
" Kamu kenapa? apa yang terasa sakit?" tanya Arlan yang terlihat sedikit panik
" Punggungku sakit sekali" ucap Dira yang tanpa sadar menitikkan air matanya karena merasa sakit yang teramat sangat
" Apa sakit sekali?" Arlan benar-benar tidak tega melihat Dira kesakitan
Dira mengangguk karena rasa sakit di punggungnya begitu menusuk-nusuk
" Aku panggilkan dokter ya?" Dira hanya mengangguk pelan karena rasa sakit itu semakin kuat menyerangnya
Arlan menekan tombol untuk memanggil perawat
" Permisi pak ..maaf bu Dira apa ada keluhan?" tanya seorang perawat yang masuk ke dalam ruang rawat Dira
" Suster punggung ku terasa sakit" jawab Dira dengan suara terbata
" Iya suster, setiap kali ingin bangun Dira merasakan sakit di punggungnya bahkan dia sampai menangis saking sakitnya" tutur Arlan menambahkan
" Baik kalau begitu saya permisi dulu sebentar untuk memberitahu keluhan yang dirasakan oleh ibu Dira kepada dokter Syarif" ucap suster tersebut
" Iya sus, terima kasih" ucap Arlan
Suster itu pun keluar dan beberapa menit kemudian dia sudah kembali lagi masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dokter Syarif
" Selamat sore bu Dira!" sapa dokter Syarif saat memasuki ruang rawat Dira
" Selamat sore dokter" jawab Dira pelan sambil sesekali meringis menahan sakit
" Apa keluhannya bu Dira?" tanya dokter Syarif
Dira menjelaskan apa yang tengah dirasakannya kepada dokter Syarif, mengenai sakit punggungnya yang begitu menusuk hingga untuk sekedar duduk pun dia tidak bisa
" Sebaiknya ibu Dira menjalani pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ortopedi, biar dapat penanganan yang lebih tepat dan akurat" ucap dokter Syarif
" Apa sebenarnya yang terjadi dokter? kenapa Dira sampai merasakan sakit di bagian punggungnya ?" tanya Arlan yang lupa jika Dira pernah mendapatkan pukulan dan tendangan keras dari penjahat yang ingin melukai Ayla
" Sepertinya luka akibat pukulan dan tendangan yang begitu keras pada punggung pasien yang menyebabkan pasien cidera punggung saat ini dan hak itu harus segera mendapatkan penanganan yang serius. sore ini juga saya akan merujuknya untuk ke bagian dokter ortopedi biar pasien diperiksa secara intensif" ucap dokter Syarif
" Lakukan yang terbaik untuk Dira dokter!" ucap Arlan dan dokter Syarif pun mengangguk
" Kami akan berusaha semampu kami pak Arlan" balas dokter Syarif
" Terima kasih dokter" Arlan tersenyum ramah
Setelah dokter Syarif keluar beberapa menit kemudian dua orang suster masuk ke dalam ruangan Dira
" Mari ibu Dira saatnya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut!" ucap salah satu suster tersebut
" Silahkan suster" ucap Arlan dan Dira hanya mengangguk pelan
Kerena tidak bisa menggerakkan tubuhnya lebih tepatnya punggungnya yang terasa sakit kedua suster tersebut pun membawa Dira dengan brankarnya
" Maaf pak anda sebaiknya tunggu saja diluar!" ucap suster tersebut saat Arlan hendak melangkah masuk ke ruang dokter ortopedi mengikuti Dira
" Baik suster" jawab Arlan
__ADS_1
Dira menjalani beberapa periksaan mengenai cidera punggung yang tengah dirasakannya.
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan Dira diberi obat pereda nyeri dan juga harus menjalani rangkaian terapi untuk memulihkan cidera punggungnya tersebut