DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Menggemaskan


__ADS_3

" Ma... maaf pak sepertinya aku tidak bisa" ucap Dira yang seketika membuat raut wajah Arlan berubah


Jlep


Arlan membuang pandangannya ke sembarang arah menahan rasa sakit hatinya atas penolakan Dira, seakan perjuangannya selama ini berakhir sia-sia. cinta yang mekar kini sudah harus layu sebelum dipetik


Arlan dengan wajah lesu langsung beranjak berdiri


" Maafkan saya pak!" ucap Dira


Arlan tersenyum kecut menahan gejolak hatinya yang hancur berkeping-keping


Dengan langkah gontai Arlan berjalan ke arah pintu keluar untuk menenangkan hati dan perasaannya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja


" Pak Arlan mau kemana?" tanya Dira


Arlan menghentikan langkahnya " Aku ingin keluar dulu sebentar" jawab Arlan tanpa menoleh


" Pak Arlan marah?" tanya Dira lagi namun Arlan bergeming dan mengabaikan pertanyaan Dira begitu saja, Arlan kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan yang menyesakkan hatinya itu


" Aku minta maaf pak, maaf karena aku.... " Dira menjeda ucapannya


" Aku tidak bisa menolak lamaran pak Arlan" ucap Dira yang seketika mampu menghentikan tangan Arlan yang hendak membuka pintu


Arlan membalikkan badannya dan menoleh ke arah Dira yang terlihat sedang tersenyum kearahnya


" Aku tidak bisa menolak jika pak Arlan memang berniat serius ingin menikahi ku" ucap Dira tersenyum malu-malu


Arlan membulatkan matanya sempurna setelah mendengar ucapan Dira


" Ka..kamu tadi bilang apa?" tanya Arlan yang takut salah mendengar, ia pun berjalan melangkahkan kakinya mendekati Dira


" Jangan tanya lagi aku malu menjawabnya" Dira menutup wajahnya dengan bantal


Arlan terkekeh melihat tingkah Dira yang nampak lucu dan menggemaskan, disingkirkannya bantal yang menutupi wajah Dira oleh Arlan dan ditatapnya wajah gadis cantik yang sudah mengisi seluruh ruang hatinya itu


" Apa aku enggak salah dengar? kamu serius bersedia menikah dengan ku?" tanya Arlan dengan suara yang sangat lembut


Dira yang ditatap oleh Arlan tak bisa lagi menyembunyikan wajah merah meronanya, dengan anggukan kecil Dira menjawabnya


" Iya aku bersedia" jawab Dira lalu menundukkan wajahnya kembali


" Alhamdulillah, terima kasih sayang sudah mau menerima ku. secepatnya aku akan segera membicarakan hubungan kita ini dengan Al dan juga pak Kusuma" tutur Arlan dengan penuh semangat


Dira mengangguk tanda setuju, apapun yang Arlan putuskan ia akan menerimanya saja, bagi Dira bisa dicintai oleh orang seperti Arlan tidak pernah ada dalam mimpinya, ini suatu keberuntungan baginya karena dia tidak pernah berani bermimpi sejauh ini, bisa dekat saja dia sudah merasa bersyukur dan sekarang malah dilamar sungguh Dira merasa amat sangat bersyukur.


"Menjadi orang baik kelak akan mendapatkan kebaikan itu sendiri, begitu pun sebaliknya jika berbuat jahat maka kehancuranlah yang kelak akan di dapatkan, kini aku percaya dengan kata-kata itu dan aku pun bersyukur karena bisa lepas dari Nola dan bisa berteman dengan orang sebaik Ayla, karena dia aku bisa bertemu dengan orang-orang yang baik dan selalu mendapat yang terbaik, terima kasih ya Allah" batin Dira


" Loh kok melamun?" Arlan menepuk bahu Dira


" Eh? iya kenapa?" Dira terkesiap dari lamunannya


" Melamunin apa sih, hem?" tanya Arlan yang semakin gemas dengan Dira dan ingin rasanya menikahi gadis itu detik itu juga


" Emmm... tidak ada, aku hanya merasa bersyukur saja, tidak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran saya kalau pak Arlan akan melamar saya, bisa menjadi teman dan berdekatan dengan orang seperti bapak saja sudah menjadi suatu keberuntungan buat saya" ucap Dira dengan senyum yang menghias wajahnya tapi matanya berkaca-kaca


" Kamu ini bicara apa sih, hem? justru aku beruntung bisa mencintaimu dan bisa bersama mu. kau banyak memberi warna dalam hidupku kecerobohan mu selama ini selalu saja membuat ku gemas dan terhibur ingin rasanya aku mengurungmu di rumah setiap hari dan tidak aku izinkan keluar jika tidak bersama ku" tutur Arlan


Dira mengerucutkan bibirnya " Tega sekali aku dikurung di rumah, bagaimana aku kuliah dan bekerja kalau begitu sikap bapak" gumam Dira


Arlan yang mendengar gumaman Dira langsung tergelak " Ya habis kamu itu ngegemesin" Arlan mencubit hidung Dira


" Aww... sakit pak" keluh Dira mengusap hidungnya


" Kalau masih panggil pak lagi aku cubit lagi hidung mu!" ancam Arlan

__ADS_1


" Ya terus harus panggil apa?" tanya Dira dengan wajah bingungnya


" Ya apa saja, tapi tidak dengan sebutan pak, karena aku ini bukan bapak kamu. masa calon suami dipanggilnya pak sih" sahut Arlan


" Ya terus apa?" Dira bingung sendiri


" Ya bisa sayang, cintaku atau my honey" sahut Arlan tersenyum genit


" Ishhh... apa itu tidak berlebihan, seperti anak abg saja" protes Dira yang merasa risih sendiri dengan nama panggilan-panggilan macam itu


" Ya terus kamu maunya panggil apa?" Arlan balik bertanya


" Emmm... bagaimana kalau aku panggil mas aja, boleh?" tanya Dira


" Mas?" Arlan diam sejenak dan sedetik kemudian tersenyum setuju dengan panggilan itu


" Iya aku setuju" Jawab Arlan


Setelah perbincangan hangat diantara keduanya tiba-tiba Dira merasakan lapar


" Kenapa?" tanya Arlan yang melihat Dira memegangi perutnya


" Lapar?" tebak Arlan


Dira tersenyum malu-malu lalu mengangguk pelan, Arlan semakin dibuat gemas dengan sikap Dira yang malu-malu seperti itu


" Oh ya ampun sayang, bagaimana kalau kita menikah hari ini saja, rasanya aku sudah tidak tahan melihat mu yang menggemaskan seperti ini" ucap Arlan membuat Dira melotot


" Pak Arlan ap_?" belum selesai dengan kalimatnya Dira langsung bungkam setelah mendapat tatapan tajam dari Arlan


" He.. he... iya maaf, maksud ku mas. Jangan marah gitu serem tau, aku kan belum terbiasa dengan panggilan itu"ucap Dira cengengesan


" Lagian pak ehh.. mas, kenapa bicara seperti itu sih membuat aku merinding aja mendengarnya" lanjutnya


" Mas kenapa sih malah senyam-senyum kayak gitu?" tanya Dira yang nampak heran dengan sikap Arlan yang terlihat senyam-senyum sendiri


" Tidak apa-apa sayang" sahut Arlan


" Sayang? sedari tadi pak.. ehh mas panggil sayang terus, sepertinya sudah biasa ya panggil pacarnya kayak gitu?" tanya Dira yang merasa risih aja dari tadi Arlan terus memanggilnya sayang


" Maksudnya?" Arlan mengerutkan keningnya


" Ya panggil sayang sama pacarnya" sahut Dira


Arlan tertawa mendengar ucapan Dira " Pacar? Memang kenapa, kok kamu bisa berpikir seperti itu?" Arlan kembali bertanya


" Ya karena mas seperti orang yang sudah terbiasa aja manggil sayang-sayang tanpa sungkan" jawab Dira jujur apa adanya


Arlan semakin dibuat ketawa dengan kepolosan dan juga kejujuran Dira yang membuatnya semakin ingin cepat-cepat menikahinya


" Aku memang sudah terbiasa memanggil sayang kepada wanita yang sangat aku sayangi tapi waktu itu belum menjadi pacar aku karena dia hampir 1 bulan lebih koma, hampir setiap hari aku memanggilnya sayang tapi dia tidak merespon dan tidak mendengar suara ku memanggilnya sayang, kasihan sekali ya aku" seloroh Arlan sedikit terkekeh


" Jadi kalau kamu merasa aku tidak ada rasa sungkan memanggilmu sayang ya karena aku memang sudah terbiasa memanggil sayang kepada wanita yang sangat aku cintai saat ini dan selamanya" lanjutnya membuat Dira berkaca-kaca merasa sangat terharu dengan ungkapan hati Arlan


" Maaf" kata Dira dengan sendu


" Maaf untuk apa?" tanya Arlan menautkan alisnya


" Maaf karena tidak merespon mu saat itu" jawab Dira


Arlan menarik Dira kedalam pelukannya " Tidak ada yang perlu dimaafkan karena itu bukan sebuah kesalahan, jelas saja kamu tidak merespon ku karena kamu sedang asik dengan dunia mu saat itu" ucap Arlan setelah mengurai pelukannya


" Sudah jangan bersedih lagi, aku tidak ingin melihat mu menangis, hem" Arlan menghapus air mata Dira yang meluncur begitu saja


" Ya udah sekarang kamu istirahat dulu ya, aku akan keluar sebentar, kamu mau makan apa Hem?" tanya Arlan seraya menyelipkan rambut Dira di telinganya

__ADS_1


" Apa saja mas" jawab Dira


" Memangnya kamu tidak ingin makan sesuatu hem?" tanya Arlan perhatian


" Emmm... sepertinya tidak ada, apa saja yang mas berikan nanti aku akan makan" jawab Dira


" Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang ya" Dira mengangguk dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya


Setelah Arlan pergi tidak berapa lama Sasa dan Mina datang menjenguk


Ceklek


"Assalamualaikum" ucap Sasa dan Mina saat memasuki ruang rawat inap Dira


" Wa'alaikum salam" jawab Dira


" Duh kayaknya sudah sehat nih" ucap Sasa sambil tersenyum


" Alhamdulillah, besok juga sudah diperbolehkan pulang" sahut Dira


" Syukurlah kalau begitu, kita berdua senang mendengarnya" timpal Mina


" Loe sendirian Ra?" tanya Sasa yang tidak melihat keberadaan Arlan yang biasanya selalu menjaga dan menemani Dira


" Iya Dir, kemana pak Arlan? biasanya setia banget nemenin loe" sambung Mina


" Sedang pergi" jawab Dira dan kedua wanita yang kini sudah menjadi sahabatnya hanya merespon dengan anggukan kepala


" Loe udah makan, nih kita bawain loe makanan" ucap Sasa seraya meletakkan kantong kresek diatas nakas


" Ya ampun jadi ngerepotin, seharusnya kalian tidak usah bawa-bawaan segala, kalian datang aja juga aku sudah merasa senang" ucap Dira


" Enggak perlu merasa sungkan, kami tau loe pasti bosan makan makanan dari rumah sakit terus" ucap Mina


" He.... he... iya juga sih emang" ucap Dira cengar-cengir


" Udah buru dimakan sebelum dingin, tadi tuh kita belinya di warungnya bu Atin" ucap Sasa


" Wahh... pasti enak ini sih ayam bakar buatan bu Atin, gue kangen banget tau. Terima kasih ya kalian memang yang terbaik" ucap Dira penuh haru


" Kita kan sahabat, jadi santai aja lah" ucap Sasa yang diangguki Mina


Dira dengan lahapnya memakan makanan yang dibawakan oleh Sasa dan Mina, ayam bakar bu Atin memang makanan favorit mereka berempat terkadang mereka berkumpul bersama di warung makan bu Atin


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dari luar membuat ketiga gadis itu langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka


" Pak Arlan" sapa Sasa dan Mina bersamaan saat melihat pak Arlan yang masuk


" Oh ada kalian" ucap Arlan seraya berjalan mendekati brankar Dira


Sasa yang tengah duduk di kursi samping Dira pun langsung beranjak dari duduknya dan bergeser ke arah sebelahnya


" Maaf mas, aku sudah makan duluan, tadi Sasa dan Mina membawakan aku makanan" ucap Dira yang merasa tidak enak hati dengan Arlan


" Tidak apa-apa, ini bisa dimakan nanti kalau kamu merasa lapar lagi ya" ucap Arlan


" Kamu lanjutkan saja ngobrolnya, aku mau menyelesaikan pekerjaan aku dulu ya" lanjutnya


" Iya mas" sahut Dira


Arlan melangkah menuju sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur Dira, ia membuka laptopnya memeriksa beberapa email yang masuk yang di kirim oleh Mayang sekretaris Al dan juga Desi


Sasa dan Mina menjadi canggung sendiri, dengan keberadaan Arlan diruangan itu membuat mereka menjadi salah tingkah dan tidak bisa bebas bicara seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2